Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Rasa Aman yang Berbahaya

Rumah itu kembali sunyi setelah Reyhan pergi.

Sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Bukan sunyi kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi rasa waspada. Aku duduk di sofa ruang tengah, memeluk bantal kecil sambil menatap pintu depan yang sejak tadi terasa terlalu sering kuberi perhatian.

Ia bilang akan kembali.

Tapi di dunia seperti ini, janji bukanlah jaminan.

Seorang pria berdiri tidak jauh dariku—pengawal. Wajahnya datar, matanya tajam mengamati setiap sudut ruangan.

“Berapa lama dia pergi?” tanyaku akhirnya.

“Tidak ada waktu pasti, Nyonya,” jawabnya sopan. “Tuan Reyhan selalu menyelesaikan urusannya secepat mungkin.”

Aku mengangguk pelan. Kata urusannya terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang barusan melibatkan tembakan dan darah.

Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Di luar, hujan mulai turun pelan. Rintiknya memukul kaca, menciptakan irama yang menenangkan—atau justru membuatku semakin gelisah.

Aku memikirkan Reyhan.

Cara ia menarikku menjauh dari bahaya. Tatapan matanya saat memeriksa tubuhku. Nada suaranya ketika berkata aku akan aman selama ia hidup.

Kenapa kata-kata itu terasa terlalu dalam untuk seseorang yang katanya tidak ingin perasaan?

Pintu depan terbuka sekitar satu jam kemudian. Aku langsung menoleh.

Reyhan masuk dengan langkah cepat. Jasnya sudah berganti, wajahnya tetap keras, tapi aku bisa melihat kelelahan di sorot matanya.

Tanpa sadar, kakiku melangkah mendekat. “Kamu kembali.”

Ia berhenti, menatapku. “Kamu menunggu.”

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

“Aku khawatir,” jawabku jujur.

Ia menatapku beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan. “Situasi sudah terkendali.”

“Orang-orang itu?” tanyaku.

“Tidak akan mendekat lagi dalam waktu dekat,” jawabnya singkat. “Aku sudah memastikan.”

Aku mengangguk, meski tidak benar-benar mengerti apa arti memastikan di dunianya.

Reyhan melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. “Kamu makan?”

Aku menggeleng. “Tidak lapar.”

Ia menatapku tajam. “Kamu harus makan.”

Nada itu—lagi-lagi perintah.

“Aku tidak lapar,” ulangku, kali ini lebih pelan.

Ia mendekat. Terlalu dekat. Aku bisa merasakan kehadirannya seperti dinding yang mengurung. “Ini bukan soal lapar. Ini soal bertahan.”

Aku menelan ludah, lalu mengangguk kecil. “Baik.”

Beberapa menit kemudian, kami duduk berhadapan di meja makan kecil. Makanan terhidang rapi, tapi aku hanya mengaduk-aduknya.

“Kenapa kamu ikut ke kantorku tadi?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mendongak. “Aku sudah menjawabnya.”

“Jawabanmu tidak cukup,” katanya.

Aku meletakkan sendok. “Karena aku tidak mau dibutakan. Kalau aku terjebak di hidupmu, aku ingin tahu seperti apa hidup itu.”

Ia terdiam. “Kamu tidak seharusnya tahu.”

“Kenapa?” tantangku. “Karena aku lemah?”

Ia menatapku lama. “Karena kamu berbeda.”

Kata itu membuat dadaku bergetar. “Berbeda bagaimana?”

“Karena dunia ini akan menghancurkan orang sepertimu,” jawabnya pelan. “Dan aku tidak ingin—”

Ia berhenti.

“Tidak ingin apa?” desakku.

Ia berdiri mendadak. “Lupakan.”

Aku mengerutkan kening. “Reyhan—”

Ponselnya bergetar. Ia mengangkatnya, membaca pesan singkat. Wajahnya langsung mengeras.

“Kirana?” tanyaku tanpa sadar.

Ia menoleh cepat. “Apa?”

“Kamu berubah setiap namanya disebut,” lanjutku, menyesali kata-kataku sendiri.

Reyhan menatapku dingin. “Hati-hati dengan apa yang kamu katakan.”

“Dia penting bagimu,” kataku pelan, lebih sebagai pernyataan daripada tuduhan.

Ia mendekat. “Dia partner bisnis. Tidak lebih.”

“Partner yang menatap istrimu seperti musuh,” balasku.

Udara di antara kami menegang.

“Cemburu?” tanyanya dingin.

Aku tersentak. “Tidak.”

“Bagus,” katanya cepat. “Karena itu akan mempersulit segalanya.”

Dadaku terasa nyeri. “Aku tidak berhak merasa apa pun, begitu?”

“Kamu berhak merasa,” jawabnya pelan. “Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasaimu.”

Aku tertawa kecil, pahit. “Kamu bilang jangan jatuh cinta padamu. Tapi kamu juga tidak memberiku ruang untuk tidak peduli.”

Ia menatapku tajam. “Apa maksudmu?”

“Kamu melindungiku,” kataku. “Kamu mengaturku. Kamu marah saat aku dalam bahaya. Itu bukan sikap orang yang tidak peduli.”

Ia terdiam.

“Aku tidak minta ini,” lanjutku lirih. “Aku hanya ingin kejujuran.”

Ia menghela napas berat. “Kejujuran tidak selalu menyelamatkan.”

“Tapi kebohongan selalu melukai,” balasku.

Kami saling menatap dalam diam. Ada sesuatu yang bergetar di udara—tegang, rapuh, dan berbahaya.

Ketukan di pintu memecah suasana. Seorang pengawal masuk. “Tuan, Kirana ada di luar. Dia memaksa masuk.”

Aku membeku.

Reyhan mengumpat pelan. “Biarkan dia masuk.”

Aku berdiri refleks. “Mungkin aku sebaiknya—”

“Tidak,” potongnya. “Kamu tetap di sini.”

Pintu terbuka. Kirana masuk dengan langkah anggun. Matanya langsung tertuju padaku, lalu ke Reyhan.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya, jelas mengabaikanku.

“Aku baik,” jawab Reyhan singkat.

“Kamu menghilang tanpa kabar,” katanya. “Aku khawatir.”

Tatapannya beralih ke arahku. “Sepertinya istrimu sudah terbiasa membuat masalah.”

Aku menegakkan punggung. “Aku tidak minta diculik atau ditembaki.”

“Kirana,” kata Reyhan dingin. “Jaga ucapanmu.”

Ia menatap Reyhan, terkejut. “Sejak kapan kamu membelanya?”

“Sejak dia menjadi istriku,” jawab Reyhan tanpa ragu.

Kirana tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Menarik. Aku tidak menyangka kamu akan sejauh ini.”

“Apa maksudmu?” tanya Reyhan.

“Tidak ada,” jawabnya. “Aku hanya ingin mengingatkan—perasaan adalah kelemahan.”

Ia melirikku lagi sebelum berbalik pergi.

Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang.

“Kamu tidak perlu menghadapinya sendirian,” kataku pelan.

Reyhan menoleh. “Apa?”

“Apa pun yang kamu lawan,” lanjutku, “aku sudah terlanjur di sisimu.”

Ia menatapku lama, ekspresinya sulit dibaca.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan,” ujarnya.

“Mungkin,” jawabku. “Tapi aku sungguh-sungguh.”

Ia melangkah mendekat. Jarak kami menyempit. Tangannya terangkat, berhenti di pinggangku—tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tertahan.

“Jangan memberiku alasan untuk tidak melepaskanmu,” katanya pelan.

Aku menatap matanya. “Dan jangan memberiku alasan untuk bertahan.”

Detik itu, aku sadar—

rasa aman yang kurasakan bersamanya adalah hal paling berbahaya yang bisa terjadi.

Karena jika aku benar-benar jatuh cinta…

aku tidak tahu apakah aku akan selamat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel