Pustaka
Bahasa Indonesia

menikah dengan musuh ayahku

33.0K · Ongoing
Candra
39
Bab
21
View
9.0
Rating

Ringkasan

Nadia tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam satu malam. Ayahnya—musuh besar seorang penguasa gelap—memaksanya menikah demi melunasi dosa masa lalu. Pria itu bernama Reyhan, pemimpin kelompok hitam yang ditakuti kota. Bagi Reyhan, pernikahan itu bukan cinta. Itu balas dendam. Namun seiring waktu, kebencian berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: perasaan. Ketika rahasia masa lalu terbongkar, Nadia harus memilih—bertahan dalam pernikahan penuh luka, atau melawan takdir yang memaksanya jatuh cinta pada pria yang seharusnya ia benci.

RomansaTuan MudaCinta PaksaKeluarga

Bab 1 Pernikahan Tanpa Pilihan

Aku tidak pernah membayangkan hari pernikahanku akan terasa seperti hari eksekusi.

Gaun putih ini terasa terlalu berat di tubuhku. Bukan karena bahannya, tapi karena maknanya. Cermin di hadapanku memantulkan wajah seorang gadis yang seharusnya bahagia—namun matanya kosong, bibirnya pucat, dan dadanya sesak seolah udara enggan masuk.

Namaku Nadia Amara.

Dan hari ini, aku akan menikah dengan pria yang bahkan tak pernah kuinginkan dalam hidupku.

Tanganku bergetar saat kugenggam pinggiran gaun. Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar tergesa, bercampur dengan bisikan para pelayan yang sibuk menyiapkan pesta megah. Pesta yang katanya pernikahan impian. Pesta yang bagiku adalah mimpi buruk.

Pintu kamar terbuka perlahan.

“Ayah…” suaraku keluar lirih saat melihat sosok pria paruh baya itu berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tampak lelah, keriput di sekitar matanya semakin jelas. Namun tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada rasa bersalah.

“Apa semuanya sudah siap?” tanyanya datar.

Aku menoleh, menahan air mata yang sejak tadi mengancam jatuh. “Ayah… aku mohon. Kita masih bisa membatalkan ini.”

Ia terdiam sejenak, lalu melangkah masuk dan menutup pintu. Tatapannya tajam, dingin, dan asing. Bukan tatapan seorang ayah yang biasanya mengusap kepalaku ketika aku takut.

“Tidak ada yang bisa dibatalkan,” jawabnya pelan namun tegas. “Ini satu-satunya cara.”

“Satu-satunya cara untuk apa?” suaraku meninggi tanpa bisa kutahan. “Untuk menyelamatkan ayah sendiri? Dengan mengorbankan aku?”

Napasnya terdengar berat. Ia memalingkan wajah, seolah enggan menatapku terlalu lama. “Kamu tidak mengerti dunia yang ayah hadapi.”

“Dan ayah tidak pernah mencoba membuatku mengerti!” balasku. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipi. “Aku bukan barang yang bisa ayah tukar untuk melunasi dosa masa lalu.”

Ia mengepalkan tangan. “Kalau kamu tidak menikah dengannya hari ini, kamu tidak akan selamat, Nadia.”

Kata-kata itu membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.

“Maksud ayah…?”

Ia menatapku kembali, kali ini dengan tatapan yang membuatku merinding. “Reyhan bukan orang yang bisa ditolak. Dia tidak meminta. Dia memerintah.”

Nama itu seperti pisau yang menancap di dadaku.

Reyhan Alviano.

Pria yang selama ini hanya kudengar dari bisikan orang-orang. Pemimpin kelompok gelap. Pria berkuasa yang namanya saja sudah cukup membuat banyak orang memilih diam daripada hidup.

“Kenapa harus aku?” tanyaku lirih. “Kenapa ayah menyerahkanku pada monster seperti dia?”

Ayahku mendekat, suaranya diturunkan. “Karena kamu satu-satunya yang dia minta.”

Hatiku hancur.

Aku tertawa kecil, getir. “Jadi aku tebusan?”

“Kamu istrinya,” jawab ayahku cepat. “Istri sah. Dia berjanji tidak akan menyentuhmu dengan kasar.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Ayah benar-benar percaya janji pria seperti dia?”

Tidak ada jawaban.

Keheningan itu menjadi jawaban paling menyakitkan.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu. Seorang pelayan wanita masuk dengan wajah tegang. “Tuan… tamu utama sudah tiba.”

Dadaku terasa semakin sesak.

Dia datang.

Ayah menepuk pundakku sekali, gerakan yang terasa asing dan canggung. “Kuatkan dirimu, Nadia. Ini demi keluarga kita.”

Aku ingin berteriak. Ingin berlari. Ingin menghancurkan gaun ini dan kabur sejauh mungkin. Tapi kakiku seperti tertanam di lantai.

Aku tidak punya pilihan.

Beberapa menit kemudian, aku digiring keluar menuju aula utama. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, tamu-tamu berpakaian elegan memenuhi ruangan. Musik lembut mengalun, seolah ini benar-benar perayaan bahagia.

Namun saat aku melihatnya—

Waktu seakan berhenti.

Seorang pria berdiri di depan altar. Tinggi, bahunya bidang, jas hitamnya pas membungkus tubuhnya. Rambutnya disisir rapi, rahangnya tegas, dan matanya…

Gelap.

Tatapan itu menembusku tanpa usaha, membuat tubuhku dingin seketika. Tatapan seorang pemburu yang yakin mangsanya tidak akan lari.

Reyhan Alviano.

Ia menoleh sedikit, dan mata kami bertemu.

Aku tersentak.

Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Hanya ketenangan berbahaya—seolah pernikahan ini hanyalah formalitas baginya.

Saat aku berdiri di sampingnya, aroma maskulin yang asing menusuk inderaku. Ia tidak menatapku, seolah aku tidak lebih dari udara.

Prosesi berjalan cepat. Kata-kata penghulu terdengar samar di telingaku. Aku bahkan tidak sadar kapan cincin itu melingkar di jariku.

“Apakah Anda bersedia…?”

Aku ragu. Suaraku tercekat. Namun sebelum aku sempat berkata apa pun—

“Dia bersedia,” suara Reyhan terdengar tenang namun penuh tekanan.

Semua mata tertuju pada kami.

Aku menoleh menatapnya, marah dan takut bercampur menjadi satu. “Aku belum—”

Tangannya menggenggam tanganku. Kuat. Tidak menyakitkan, tapi cukup untuk memperingatkan.

Matanya menatapku untuk pertama kalinya dari jarak sedekat ini. “Ucapkan,” katanya pelan, hanya cukup untuk kudengar. “Atau ayahmu menanggung akibatnya.”

Aku membeku.

Air mata kembali menggenang, tapi aku menelannya dalam-dalam.

“Aku… bersedia,” ucapku dengan suara hampir tak terdengar.

Ketukan palu menandai sahnya pernikahan kami.

Sorak-sorai terdengar. Tepuk tangan menggema. Semua orang tersenyum, mengucapkan selamat.

Sementara aku—

Resmi menjadi istri pria yang paling kutakuti.

Reyhan melepaskan tanganku, lalu berbisik dingin di telingaku, “Mulai hari ini, hidupmu milikku.”

Aku menatap lurus ke depan, air mata jatuh tanpa suara.

Hari ini aku menikah.

Bukan karena cinta.

Bukan karena pilihan.

Tapi karena aku dijadikan harga dari dosa ayahku.

Dan aku tahu…

pernikahan ini baru awal dari neraka yang sesungguhnya.