Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Dekat dengan Bahaya

“Aku bilang tetap di sini.”

Suara Reyhan tegas, tidak memberi ruang untuk dibantah. Matanya menatapku tajam, seolah satu langkah salah dariku bisa berakibat fatal.

Namun justru nada itu yang memicu perlawanan di dalam dadaku.

“Aku tidak mau jadi boneka yang ditinggal tanpa penjelasan,” balasku. “Setidaknya katakan apa yang terjadi.”

Reyhan menghela napas pendek, jelas menahan emosi. “Ini bukan dunia yang aman untukmu, Nadia.”

“Dan kapan tepatnya dunia ini aman?” tanyaku pahit. “Sejak aku menikah denganmu?”

Ia terdiam sesaat. Wajahnya mengeras, lalu ia berpaling pada pria di depannya. “Bawa dia ke ruang dalam. Jangan biarkan siapa pun masuk.”

“Apa—”

Tanganku ditarik. Bukan kasar, tapi cepat dan pasti. Reyhan menggenggam pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari ruangan. Langkahnya panjang, langkahku nyaris tertatih mengikutinya.

Kami melewati lorong-lorong panjang. Beberapa pria bergerak cepat, sebagian membawa senjata yang tak mereka sembunyikan lagi. Jantungku berdegup keras.

Ini nyata.

Bahaya itu nyata.

Pintu logam terbuka. Reyhan mendorongku masuk ke sebuah ruangan kecil tanpa jendela. “Tunggu di sini.”

“Reyhan—”

Pintu tertutup.

Aku berdiri membeku, napasku memburu. Ruangan itu sunyi, hanya ada satu kursi dan lampu redup. Aku memeluk tubuhku sendiri, mencoba menenangkan gemetar yang tidak bisa kuhentikan.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama. Aku tidak tahu. Waktu terasa tidak bergerak di tempat seperti ini.

Tiba-tiba—

BRAK!

Suara dentuman keras terdengar dari kejauhan. Lalu suara tembakan.

Aku menjerit tertahan, menutup mulut dengan tangan. Lututku melemas, aku merosot ke lantai. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.

Aku ingin pulang.

Aku ingin keluar dari hidup ini.

Langkah kaki terdengar mendekat. Aku menegang, jantungku nyaris melompat keluar saat pintu terbuka tiba-tiba.

Reyhan berdiri di sana.

Jasnya berantakan, rahangnya mengeras, dan ada noda merah di lengan bajunya.

Darah.

“Apa kamu terluka?” tanyaku spontan, lupa pada rasa takutku sendiri.

Tatapannya menajam, seolah terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kamu kenapa?”

“Aku baik,” jawabku cepat. “Tapi kamu—”

“Bukan darahku,” potongnya.

Aku menghela napas lega tanpa sadar. Reyhan memperhatikanku beberapa detik, lalu mendekat dan berlutut di hadapanku. Gerakannya cepat, memeriksa bahuku, lenganku, wajahku.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku gugup.

“Memastikan kamu utuh,” jawabnya datar.

Jantungku berdetak aneh mendengar itu.

“Ada yang mencoba masuk lewat sisi barat,” lanjutnya sambil berdiri. “Mereka tahu kamu ada di gedung ini.”

Tubuhku membeku. “Mereka… mengincarku?”

“Mereka mengincarkanku,” jawabnya. “Kamu hanya bonus.”

Kata bonus itu membuatku bergidik.

“Kita harus pergi,” katanya. “Sekarang.”

Ia menggenggam tanganku lagi, kali ini lebih erat. Kami bergerak cepat melewati lorong belakang. Sirene berbunyi. Bau logam dan asap memenuhi udara.

Begitu kami keluar, sebuah mobil sudah menunggu. Reyhan mendorongku masuk ke kursi belakang, lalu masuk menyusul.

“Jalan!” perintahnya.

Mobil melesat, meninggalkan gedung itu. Aku menoleh ke belakang, melihat asap tipis mengepul dari kejauhan.

Tanganku gemetar hebat.

Reyhan duduk di sampingku, menatap lurus ke depan. Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum akhirnya ia bicara.

“Kamu tidak seharusnya berada di sana.”

“Kalau aku tidak ikut, aku tidak akan tahu seberapa berbahayanya hidupmu,” jawabku pelan.

Ia menoleh. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Kekhawatiran. Tipis, tapi nyata.

“Aku sudah memperingatkanmu,” katanya.

“Aku tidak menyesal,” balasku jujur. “Aku hanya… takut.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak mengejek.

“Kamu akan aman,” ucapnya singkat.

“Janji?” tanyaku tanpa sadar.

Ia menatapku lama. “Selama aku hidup.”

Kata-kata itu membuat dadaku sesak.

Mobil berhenti di sebuah tempat yang berbeda dari rumah utama. Lebih kecil, lebih tersembunyi. Reyhan turun lebih dulu, lalu membantuku keluar.

“Tempat apa ini?” tanyaku.

“Safe house,” jawabnya. “Hanya beberapa orang yang tahu.”

Kami masuk. Rumah itu sederhana tapi dijaga ketat. Reyhan menyuruhku duduk di sofa.

“Aku akan kembali,” katanya. “Jangan keluar dari rumah ini.”

“Ke mana kamu pergi?” tanyaku cepat.

“Menyelesaikan masalah.”

Aku berdiri. “Reyhan, jangan pergi.”

Kata-kata itu keluar begitu saja.

Ia berhenti, menoleh pelan. “Kenapa?”

Aku terdiam. Karena aku takut kehilangannya? Karena dia satu-satunya yang berdiri di antara aku dan dunia berbahaya ini?

“Aku tidak ingin sendirian,” jawabku jujur.

Tatapannya melembut sesaat—hanya sesaat. Ia mendekat, berdiri tepat di hadapanku.

“Kamu tidak sendirian,” katanya pelan. “Kamu istriku.”

Tangannya terangkat, berhenti di pipiku. Sentuhannya hangat, kontras dengan suaranya yang dingin.

“Dan itu berarti siapa pun yang menyentuhmu…”

Ia menunduk, suaranya berubah berbahaya.

“…mati.”

Ia menarik tangannya dan berbalik pergi.

Aku berdiri kaku, jantungku berdegup liar.

Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan—musuh Reyhan, atau fakta bahwa aku mulai merasa aman di dekat pria yang seharusnya paling kutakuti.r

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel