Bab 6 Garis yang Hampir Dilanggar
Malam turun perlahan, membawa sunyi yang terasa lebih berat dari biasanya.
Aku duduk di balkon kecil safe house, memeluk lutut sambil menatap langit yang gelap. Angin malam menyentuh kulitku, dingin tapi menenangkan. Setelah kepergian Kirana, suasana di dalam rumah berubah—lebih tegang, lebih sunyi, dan entah kenapa… lebih intim.
Aku tidak seharusnya merasa seperti ini.
Langkah kaki terdengar di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
“Masuk,” kata Reyhan pelan. “Udara dingin.”
“Aku baik-baik saja,” jawabku tanpa menoleh.
Ia berdiri di sampingku, menyandarkan tangan pada pagar balkon. Kami berdiri berdampingan, tapi jarak di antara kami terasa terlalu kecil untuk sekadar dua orang asing yang terikat pernikahan tanpa cinta.
“Kirana tidak seharusnya bicara seperti itu padamu,” ucapnya akhirnya.
Aku menoleh, terkejut. “Kamu tidak perlu membelaku.”
“Aku tahu,” jawabnya singkat. “Tapi aku melakukannya.”
Jawaban itu membuat jantungku berdegup aneh.
Aku menatap ke depan lagi. “Dia mencintaimu.”
Reyhan terdiam beberapa detik. “Tidak.”
“Kamu terlalu cepat menjawab.”
Ia menoleh, menatapku. “Karena aku yakin.”
“Apa kamu pernah mencintainya?” tanyaku pelan, takut pada jawabannya sendiri.
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya mengepal di pagar balkon. “Aku tidak membiarkan diriku sejauh itu.”
“Karena perasaan adalah kelemahan?” tanyaku mengulang kata Kirana.
“Karena perasaan membuatku lengah,” jawabnya jujur. “Dan kelengahan membunuh.”
Aku menelan ludah. Dunia Reyhan memang kejam, tapi caranya bertahan terasa lebih kejam lagi.
“Kamu tidak pernah memberi dirimu kesempatan,” kataku lirih.
Ia menatapku tajam. “Kamu bicara seolah mengenalku.”
“Mungkin aku ingin mengenalmu,” balasku spontan.
Keheningan menyelimuti kami. Tatapan kami bertemu, dan untuk pertama kalinya aku tidak melihat dingin di matanya—melainkan konflik.
“Kamu tidak seharusnya ingin itu,” katanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku bukan pria baik,” jawabnya pelan. “Dan kamu… terlalu bersih untuk dunia ini.”
Aku tersenyum pahit. “Kamu terus bilang begitu, tapi dunia ini sudah menarikku masuk. Olehmu.”
Ia menghela napas berat. “Aku mencoba melindungimu.”
“Dengan cara menjauh?” tanyaku.
“Dengan cara mengendalikan,” koreksinya.
Aku tertawa kecil. “Kamu tidak bisa mengendalikan perasaan.”
Ia mendekat satu langkah. Jarak kami kini hanya sejengkal. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, napasnya yang teratur namun berat.
“Jangan uji aku, Nadia,” katanya rendah.
“Kenapa?” balasku, suara bergetar. “Takut?”
Sorot matanya menggelap. Tangannya terangkat, jari-jarinya menyentuh daguku, mengangkat wajahku perlahan. Sentuhan itu ringan, hampir lembut—bertolak belakang dengan reputasinya.
“Takut,” akunya pelan. “Takut aku tidak berhenti.”
Napas kami saling bercampur. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku yakin ia bisa mendengarnya. Tatapannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku.
Aku tidak mundur.
Dan itu adalah kesalahan.
Ia menunduk perlahan. Terlalu perlahan. Memberiku cukup waktu untuk menghentikannya—tapi aku tidak melakukannya.
Detik itu terasa seperti keabadian.
Namun tepat sebelum bibir kami bersentuhan—
Reyhan berhenti.
Matanya terpejam sesaat, lalu ia mundur dengan napas berat, seolah baru saja menarik dirinya dari jurang.
“Masuk,” katanya kasar. “Sekarang.”
Aku berdiri kaku, dadaku naik turun cepat. Tanpa berkata apa pun, aku masuk ke dalam rumah, meninggalkannya di balkon.
Di kamarku, aku menutup pintu dan bersandar di sana. Tanganku menyentuh bibirku sendiri.
Aku hampir menciumnya.
Dan bagian terburuknya—aku menginginkannya.
Beberapa saat kemudian, ketukan terdengar di pintu. Jantungku melonjak.
“Ya?” tanyaku hati-hati.
“Aku,” suara Reyhan terdengar lebih rendah dari biasanya.
Aku membuka pintu sedikit. Ia berdiri di luar, wajahnya keras kembali, tapi matanya… tidak.
“Apa?” tanyaku.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Aku membuka pintu lebih lebar. Ia masuk, tapi menjaga jarak.
“Apa yang barusan terjadi,” katanya perlahan, “tidak boleh terulang.”
Aku memeluk diriku sendiri. “Aku tidak memaksamu.”
“Aku tahu,” jawabnya cepat. “Itu masalahnya.”
Aku menatapnya, bingung. “Maksudmu?”
“Aku menginginkannya,” katanya jujur. “Dan itu berbahaya.”
Kejujuran itu menghantamku lebih keras dari kebohongan mana pun.
“Kalau begitu kenapa berhenti?” tanyaku.
“Karena jika aku melangkah lebih jauh,” katanya, menatapku dalam, “aku tidak tahu apakah aku akan melindungimu… atau menghancurkanmu.”
Aku menelan ludah. “Aku bukan kaca.”
“Kamu bukan,” jawabnya. “Tapi aku palu.”
Aku terdiam.
“Kita akan menjaga jarak,” lanjutnya. “Untuk sementara.”
“Dan kalau aku tidak mau?” tanyaku pelan.
Ia mendekat satu langkah. “Maka aku yang akan menjauh.”
Itu lebih menyakitkan dari yang kuduga.
“Aku tidak ingin kamu menjauh,” kataku jujur.
“Aku tahu,” katanya. “Dan justru itu yang membuatku harus melakukannya.”
Ia berbalik menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika ia berhenti.
“Nadia,” katanya tanpa menoleh, “jangan jatuh cinta padaku.”
Aku menatap punggungnya, air mata menggenang.
“Sudah terlambat,” bisikku.
Ia tidak mendengar. Atau mungkin berpura-pura tidak.
Pintu tertutup, meninggalkanku sendirian dengan perasaan yang tidak bisa kutarik kembali.
Aku resmi melanggar satu-satunya aturan yang ia buat.
Dan aku tahu—
mulai malam ini, segalanya akan menjadi lebih rumit.
