Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Dunia yang Tidak Pernah Kupilih

Aku terbangun dengan perasaan asing.

Bukan karena mimpi buruk—melainkan karena sunyi. Sunyi yang terlalu sempurna. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada teriakan tetangga, bahkan tidak ada kicau burung. Rumah ini seperti terisolasi dari dunia luar.

Aku menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu menghela napas panjang.

Ini bukan rumahku.

Ini rumah Reyhan.

Dan aku hanya tamu yang terjebak.

Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela. Dari lantai dua, halaman luas terlihat jelas. Beberapa pria berpakaian hitam tampak berjaga di berbagai sudut. Mereka berbicara singkat melalui alat komunikasi di telinga.

Pengawal.

Aku menelan ludah. Ayah tidak berlebihan. Reyhan memang hidup di dunia yang berbeda—dunia yang tidak mengenal kompromi.

Pintu kamar diketuk pelan.

“Masuk,” ucapku.

Seorang pelayan wanita masuk sambil membawa nampan. “Selamat pagi, Nyonya. Sarapan sudah disiapkan. Tuan Reyhan menunggu di ruang makan.”

Kata menunggu membuat perutku mengencang.

“Aku akan turun sebentar lagi,” jawabku.

Wanita itu mengangguk dan pergi.

Aku berganti pakaian sederhana—kemeja putih dan celana panjang hitam. Tidak ingin terlihat terlalu rapuh, tapi juga tidak ingin menarik perhatian berlebihan.

Saat aku menuruni tangga, aroma kopi langsung tercium. Ruang makan itu luas, didominasi meja panjang dari kayu gelap. Reyhan duduk di ujung meja, membaca sesuatu di tablet. Di sekelilingnya, dua pria lain duduk dengan jarak sopan.

Begitu aku masuk, semua mata tertuju padaku.

Reyhan mengangkat pandangan. “Duduk.”

Aku menurut, memilih kursi yang paling jauh darinya. Seorang pelayan langsung menuangkan teh hangat ke cangkirku.

Aku belum sempat menyentuh makanan ketika salah satu pria di meja itu bicara.

“Jadi ini istrinya?” katanya, menatapku terang-terangan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “Lebih muda dari yang kubayangkan.”

Aku tidak suka caranya menatapku.

“Namanya Nadia,” potong Reyhan dingin. “Dan kamu tidak perlu menilai.”

Pria itu terkekeh kecil. “Santai saja. Aku hanya penasaran. Reyhan jarang sekali membawa perempuan ke hidupnya.”

“Dia tidak dibawa,” balas Reyhan tanpa ekspresi. “Dia di sini karena perintahku.”

Kata-kata itu membuat tanganku mencengkeram sendok.

Aku manusia. Bukan benda.

Pria lain yang duduk di sebelahnya menatapku lebih sopan. “Aku Arga. Kami partner Reyhan.”

Aku mengangguk singkat. Tidak tahu harus berkata apa.

“Mulai hari ini,” lanjut Reyhan sambil meletakkan tabletnya, “tidak ada satu pun dari kalian yang melibatkan Nadia dalam urusan apa pun.”

Arga mengangguk. “Dimengerti.”

Pria pertama mendecakkan lidah. “Kau terlalu protektif untuk seseorang yang katanya hanya formalitas.”

Reyhan menatapnya tajam. “Aku tidak mengulang perintah.”

Suasana langsung membeku.

Aku menunduk, menyadari satu hal penting—di meja ini, Reyhan adalah hukum.

Sarapan berakhir tanpa banyak kata. Setelah dua pria itu pergi, Reyhan berdiri dan mengambil jasnya.

“Kamu ikut aku,” katanya tiba-tiba.

Aku tersentak. “Ke mana?”

“Kantor,” jawabnya singkat.

“Aku tidak—”

Ia menoleh. “Ini bukan permintaan.”

Aku menghela napas, lalu mengangguk. Menolak hanya akan memperburuk keadaan.

Perjalanan kali ini lebih panjang. Gedung tinggi berlapis kaca hitam menjulang di hadapanku. Tidak ada papan nama, tapi penjagaannya ketat.

Begitu masuk, aku bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Tegang. Terorganisir. Orang-orang berjalan cepat, berbicara singkat.

Aku menempel di sisi Reyhan, berusaha tidak terlihat terlalu canggung.

“Kenapa aku harus ikut?” tanyaku pelan saat lift tertutup.

Ia menatap lurus ke depan. “Supaya semua orang tahu posisimu.”

“Sebagai apa?” tanyaku.

“Sebagai milikku.”

Kata itu membuat jantungku berdegup keras.

Lift berhenti. Kami masuk ke ruangan besar dengan dinding kaca. Dari sana terlihat seluruh lantai. Reyhan duduk di kursinya, sementara aku berdiri ragu.

“Duduk,” katanya lagi.

Aku duduk di kursi tamu.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita masuk—tinggi, cantik, berpakaian elegan. Senyumnya memudar begitu melihatku.

“Reyhan,” sapanya lembut. “Aku tidak tahu kamu ada tamu.”

“Dia bukan tamu,” jawab Reyhan datar. “Istriku.”

Wanita itu membeku.

“Istri?” ulangnya, lalu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya tajam. Mengukur. Tidak ramah.

“Aku Kirana,” katanya singkat padaku.

“Nadia,” balasku.

Kirana kembali menatap Reyhan. “Kamu tidak memberitahuku.”

“Aku tidak perlu,” jawab Reyhan dingin.

Aku bisa merasakan ketegangan di udara. Jelas sekali—wanita ini bukan orang asing dalam hidup Reyhan.

“Aku hanya ingin memastikan,” kata Kirana akhirnya, “urusan kita tetap berjalan lancar.”

“Selama kamu profesional, tidak ada yang berubah,” jawab Reyhan.

Kirana mengangguk, lalu melirikku sekali lagi sebelum keluar.

Begitu pintu tertutup, aku menoleh ke Reyhan. “Dia siapa?”

“Bukan urusanmu.”

Jawaban itu membuat dadaku panas. “Aku istrimu. Setidaknya aku berhak tahu siapa saja yang ada di sekitarmu.”

Ia berdiri dan mendekat. “Statusmu tidak otomatis memberimu akses ke hidupku.”

Aku berdiri juga, menatapnya tanpa gentar. “Kalau begitu jangan menyeretku ke duniamu.”

Ia terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—dingin. “Kamu sudah ada di dalamnya sejak ayahmu berutang padaku.”

Kata-kata itu menghantamku keras.

Aku menggigit bibir, menahan amarah. “Aku tidak minta semua ini.”

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan justru itu masalahnya.”

Ia menatapku lama, seolah melihat sesuatu yang rumit. “Dunia ini tidak ramah pada orang sepertimu.”

“Aku tidak selemah yang kamu kira,” balasku.

Ia mengulurkan tangan, jarinya berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajahku. “Kalau begitu, bertahanlah.”

Aku menepis tangannya. “Aku akan.”

Tatapannya mengeras. “Kita lihat sampai kapan.”

Di luar ruangan, langkah kaki terdengar tergesa. Seorang pria masuk dengan wajah tegang.

“Tuan,” katanya cepat. “Ada masalah. Orang-orang Marco bergerak.”

Reyhan langsung berubah. Aura santainya lenyap, digantikan kewaspadaan penuh.

“Siapkan mobil,” perintahnya. “Sekarang.”

Ia menoleh padaku. “Kamu tetap di sini.”

“Tidak,” jawabku refleks.

Tatapan kami bertabrakan.

“Kali ini kamu dengar aku,” katanya tegas. “Ini berbahaya.”

Aku menelan ludah, menyadari untuk pertama kalinya—

Pernikahan ini bukan hanya tentang perasaan.

Ini tentang hidup dan mati.

Dan aku terjebak di tengahnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel