Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Istri yang Tak Diinginkan

Mobil hitam itu melaju tanpa suara, seperti bayangan yang menelan jalanan malam. Aku duduk kaku di kursi penumpang, tanganku saling mencengkeram di pangkuan, sementara pria yang kini resmi menjadi suamiku menyetir dengan ekspresi datar.

Tidak ada sepatah kata pun sejak kami meninggalkan gedung pernikahan.

Keheningan di dalam mobil terasa menekan. Bukan keheningan nyaman, melainkan sunyi yang mengandung ancaman. Aku bisa merasakan kehadirannya tanpa perlu menoleh—dingin, kokoh, dan terlalu dekat.

Lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah Reyhan. Rahangnya mengeras, matanya fokus ke depan, seolah aku sama sekali tidak ada.

Dan mungkin memang begitu.

Aku hanyalah syarat.

Alat tukar.

Istri di atas kertas.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi besar. Tinggi, hitam, dan terlihat seperti benteng. Gerbang itu terbuka perlahan, memperlihatkan rumah megah bergaya modern yang berdiri kokoh di tengah halaman luas.

Bukan rumah.

Ini penjara.

Jantungku berdegup kencang saat mobil memasuki halaman. Beberapa pria berbadan besar berdiri berjaga. Tatapan mereka tajam, penuh kewaspadaan. Aku merinding.

Reyhan mematikan mesin dan turun tanpa menungguku. Pintu di sisiku terbuka beberapa detik kemudian—bukan oleh Reyhan, melainkan oleh seorang pria lain.

“Silakan, Nyonya,” katanya sopan, tapi matanya mengamatiku terlalu lama.

Nyonya.

Kata itu terasa asing dan salah.

Aku turun dengan langkah ragu. Begitu kakiku menyentuh tanah, pintu utama rumah terbuka. Reyhan berdiri di sana, menungguku dengan tangan di saku jasnya.

“Masuk,” katanya singkat.

Nada suaranya bukan ajakan. Itu perintah.

Aku mengikuti langkahnya ke dalam. Interior rumah itu luas dan dingin, didominasi warna hitam dan abu-abu. Tidak ada sentuhan hangat, tidak ada tanda kehidupan seorang keluarga.

Tempat ini mencerminkan pemiliknya.

“Mulai hari ini, kamu tinggal di sini,” ujar Reyhan sambil melepas jasnya dan menyerahkannya pada seorang pelayan. “Kamar kamu sudah disiapkan.”

“Kamar kita?” tanyaku refleks, sebelum sempat menahan diri.

Ia berhenti melangkah dan menoleh pelan. Tatapannya membuat tengkukku dingin.

“Jangan salah paham,” katanya datar. “Kita tidak berbagi kamar.”

Aku terdiam, perasaan campur aduk menyerang bersamaan. Lega… tapi juga terluka.

“Pernikahan ini hanya formalitas,” lanjutnya. “Kamu tidak lebih dari tanggung jawab yang harus kujaga.”

Aku mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kenapa menikahiku?”

Ia mendekat satu langkah. Tingginya membuatku otomatis mundur setengah langkah.

“Karena ayahmu berutang nyawa,” jawabnya pelan. “Dan kamu jaminannya.”

Kata-kata itu menusuk. “Jadi selama ini aku hanya sandera?”

“Sebut saja apa pun yang membuatmu lebih mudah menerimanya,” balasnya dingin.

Aku mengangkat dagu, menatapnya berani meski hatiku gemetar. “Aku bukan perempuan lemah yang bisa kamu atur seenaknya.”

Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum—lebih seperti ejekan. “Kita lihat saja berapa lama keberanian itu bertahan.”

Ia memberi isyarat pada seorang wanita paruh baya. “Bawa dia ke kamarnya.”

Wanita itu mengangguk hormat. “Baik, Tuan.”

Aku mengikuti langkah wanita itu menaiki tangga. Setiap anak tangga terasa berat. Dadaku sesak, pikiranku kacau.

Kamar itu luas, lebih besar dari kamarku di rumah ayah. Ranjang besar, jendela lebar, kamar mandi dalam. Segalanya mewah—tapi tidak ada satu pun yang membuatku merasa nyaman.

Begitu pintu tertutup, aku akhirnya menghembuskan napas panjang.

Aku benar-benar sendirian sekarang.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap cincin di jariku. Cincin pernikahan yang terasa seperti belenggu. Air mataku jatuh satu per satu.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis, sampai akhirnya suara ketukan terdengar di pintu.

Aku menghapus air mata dengan cepat. “Masuk.”

Pintu terbuka, memperlihatkan Reyhan berdiri dengan kemeja hitam terbuka satu kancing. Rambutnya sedikit berantakan, auranya tetap mengintimidasi.

“Kita perlu bicara,” katanya.

Jantungku berdegup cepat. “Tentang apa?”

Tentang aturan, ingin kukatakan. Tentang batas. Tentang hidupku yang sekarang di bawah kendalinya.

Ia masuk dan menutup pintu. Matanya menyapu ruangan sebelum kembali menatapku. “Ada beberapa hal yang harus kamu pahami.”

Aku berdiri, menjaga jarak. “Aku mendengarkan.”

“Pertama,” katanya tenang, “jangan ikut campur urusanku.”

“Urusan apa?” tanyaku refleks.

Ia menatapku tajam. “Semua.”

Aku mengangguk pelan.

“Kedua, kamu bebas melakukan apa pun di rumah ini—selama tidak melanggar aturanku.”

“Apa aturannya?”

“Jangan mencoba kabur,” jawabnya tanpa ragu.

Darahku serasa membeku.

“Dan yang ketiga,” lanjutnya sambil mendekat perlahan, “jangan jatuh cinta padaku.”

Aku terkekeh pahit. “Kamu terlalu percaya diri.”

Ia berhenti tepat di hadapanku. Jarak kami terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya, melihat jelas sorot matanya yang gelap.

“Aku hanya tidak ingin masalah,” katanya pelan. “Perasaan membuat orang lemah.”

“Kalau begitu,” balasku, menelan ludah, “kita sepakat.”

Ia menatapku beberapa detik, seolah mencari sesuatu di wajahku. Lalu tanpa peringatan, tangannya terangkat—membuatku refleks memejamkan mata.

Namun ia hanya menyibakkan rambutku yang jatuh ke wajah.

Aku tersentak, menatapnya kaget.

“Biasakan dirimu,” katanya pelan. “Karena mulai hari ini, semua orang akan menganggapmu milikku.”

Ia mundur selangkah dan berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. “Istirahatlah. Besok hidupmu benar-benar berubah.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri kaku, jantungku berdegup tak beraturan.

Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan—hidup sebagai istri Reyhan, atau fakta bahwa sebagian kecil diriku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan.

Ketertarikan.

Dan itu membuatku takut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel