Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 5

Minggu sore menjelang malam, sinar matahari jingga menyusup lewat jendela kamar yang sedikit terbuka. Kasur masih acak-acakan dari seharian penuh aktivitas. Tara berbaring menyamping, kepalanya di dada Reza yang naik-turun pelan. Tubuh mereka masih lengket keringat dan sisa-sisa cairan dari ronde-ronde sebelumnya. Reza mengusap punggung Tara dengan gerakan lambat, jarinya sesekali menyentuh tulang belakangnya yang licin.“Weekend ini bikin aku mikir,” kata Reza pelan, suaranya rendah dan santai.Tara mendongak, dagunya bertumpu di dada Reza. “Mikir apa?”Reza tersenyum tipis, tangannya terus mengusap punggung Tara. “Kita bilang cuma fun, no drama. Tapi… aku nggak kebayang weekend depan tanpa kamu. Rasanya aneh.”Tara diam sebentar, lalu tertawa kecil. “Aku juga sih. Padahal thesis masih numpuk, tapi tiap kali di kampus atau kos, aku langsung kepikiran kamu. Bahaya nih.”Mereka tertawa bersama. Reza menarik Tara lebih dekat, mencium keningnya lama. “Kita ke rooftop yuk? Angin sore enak, sekalian ngobrol yang agak serius tapi nggak terlalu serius.”Tara mengangguk.

Mereka berpakaian santai — Tara pakai kaos oversized tanpa bra dan celana pendek tipis, Reza hanya pakai celana training longgar. Mereka naik ke rooftop kos yang sudah familiar. Angin malam mulai bertiup sejuk, lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Mereka duduk berdampingan di lantai, punggung bersandar ke tembok pembatas.“Jadi… mau lanjut apa kita?” tanya Tara langsung, tapi nada suaranya ringan.Reza memegang tangan Tara, jempolnya mengusap punggung tangannya. “Aku suka apa yang kita punya sekarang. Santai, panas, nyaman. Tapi aku nggak mau kita ketemu orang lain. Eksklusif, tapi tetap fun. No drama kuliah. Gimana?”Tara tersenyum lebar, merasa ada beban kecil yang terangkat. “Aku setuju. Kamu udah bikin aku ketagihan.” Ia mendekat, mencium bibir Reza pelan. “Tapi tetap boleh godain aku di lab atau ruang baca ya?”Reza tertawa. “Deal. Asal security nggak nangkep kita.”Mereka duduk di sana hampir satu jam, ngobrol soal thesis, rencana liburan semester, dosen yang nyebelin, sambil sesekali ciuman kecil dan tangan saling usap. Perasaan yang dulu hanya nafsu murni, kini mulai bercampur kehangatan yang lebih dalam. Tapi mereka berdua sepakat menjaganya tetap ringan.

Kembali ke kamar, suasana sudah malam. Jendela kamar Tara sengaja dibiarkan terbuka lebar, angin malam masuk membawa aroma hujan yang mulai turun tipis di luar. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya redup dari lampu taman kos yang masuk.Reza menarik Tara ke kasur dengan lembut. Kali ini tidak ada buru-buru. Ia membuka kaos Tara pelan, mencium bahunya, lehernya, lalu turun ke payudara yang penuh. Lidahnya melingkar di puting Tara yang langsung mengeras. Tara mendesah pelan, tangannya meremas rambut Reza.

Reza terus turun, mencium perut Tara, lalu melepaskan celana pendeknya. Ia membuka paha Tara lebar, posisi kepalanya tepat di antara kedua kaki yang curvy itu. “Malam ini aku mau nikmatin kamu dulu lama-lama,” bisiknya sambil tersenyum nakal.Lidah Reza menyentuh clit Tara dengan lembut dulu, menjilat pelan dari bawah ke atas. Tara menggeliat, tangannya mencengkeram sprei. Reza semakin dalam — lidahnya datar dan lebar menjilat seluruh celah basah Tara, lalu mengisap clit-nya dengan tekanan yang pas. Suara isapan basah terdengar jelas di kamar yang sepi, bercampur desahan Tara yang semakin keras.“Reza… ahh… enak sekali,” erang Tara. Pinggulnya naik turun pelan mengikuti gerakan lidah Reza.

Reza memasukkan dua jarinya perlahan sambil terus menjilat clit. Gerakannya mengaduk di dalam, menyentuh titik G Tara berulang-ulang. Tara merasa tekanan di perut bawahnya semakin kuat. Reza mempercepat lidahnya, mengisap clit lebih kuat. Tiba-tiba tubuh Tara mengejang hebat.“Reza… aku keluar!” desahnya.

Cairan bening menyembur kecil dari vagina Tara, membasahi dagu dan mulut Reza. Ia tidak berhenti, terus menjilat pelan sampai getaran Tara reda. Tara napasnya tersengal, wajahnya merah, tubuhnya berkeringat tipis.

Reza naik ke atas, mencium Tara dalam. Tara bisa merasakan rasa dirinya sendiri di bibir Reza. Mereka berciuman lama, lembut, lidah saling usap penuh kasih sayang.Reza membalikkan tubuh Tara ke samping (side fuck). Ia berbaring di belakang Tara, mengangkat satu kaki Tara ke atas, lalu memasukkan cock-nya yang sudah sangat keras dari belakang. Posisi ini membuat penetrasi terasa sangat dalam dan intim. Reza bergerak pelan, satu tangannya memeluk Tara dari belakang, tangan satunya meremas payudara.Mereka bergerak dalam irama yang sama, seperti menari pelan. Setiap dorongan Reza disambut desahan Tara yang lembut. “Lihat aku,” bisik Reza. Tara menoleh, mata mereka bertemu. Reza mencium bibir Tara sambil terus bergerak.Setelah beberapa menit, Reza membalik Tara ke posisi missionary. Ia masuk lagi dengan satu dorongan panjang dan dalam. Kali ini mereka saling pandang terus. Reza bergerak lambat tapi kuat, cock-nya keluar-masuk penuh perasaan. Tara melingkarkan kaki di pinggang Reza, tangannya memeluk lehernya.“Kamu bikin aku ngerasa… spesial,” bisik Tara di antara ciuman.Reza tersenyum, keringat menetes dari dahinya ke dada Tara. “Kamu memang spesial buat aku.”Irama mereka semakin sinkron. Tara merasa klimaks ketiga malam itu mendekat. Vagina-nya berkontraksi kuat di sekitar cock Reza. “Bareng ya…” pintanya.Reza mengangguk. Ia mempercepat sedikit, tapi tetap dalam dan penuh perasaan. Tara mencapai puncak duluan, tubuhnya mengejang, matanya setengah terpejam tapi tetap menatap Reza. Beberapa detik kemudian Reza mendesah panjang, menyemburkan sperma hangat dan banyak di dalam Tara. Mereka klimaks bersama, saling peluk erat sampai getaran reda.Reza tidak langsung keluar. Ia tetap di dalam Tara sambil mencium bibirnya berkali-kali, lembut dan penuh sayang. Akhirnya ia menarik diri pelan. Campuran cairan mereka mengalir keluar dari vagina Tara, membasahi sprei.

Mereka berbaring telanjang, saling berpelukan. Jendela masih terbuka, angin malam menyapu tubuh mereka yang panas. Tara tertawa kecil sambil mengusap dada Reza.“Jadi resmi ya sekarang? Friends with benefits… tapi eksklusif.”Reza tertawa bersama. “Iya. Resmi tapi santai. Kalau ada yang berubah, kita bicara lagi. No pressure.”Tara mengangguk, mencium dada Reza. “Aku suka. Banget.”Mereka tertidur dalam pelukan, tubuh telanjang saling menempel, senyum kecil masih tersisa di wajah masing-masing. Di luar, hujan semakin deras, tapi di dalam kamar Tara, semuanya terasa hangat dan pas.

Ruang baca 3B mungkin tempat mereka pertama bertemu, tapi kamar kos kecil ini yang menjadi saksi bagaimana “hanya fun” berubah menjadi sesuatu yang lebih indah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel