bab 4
Setelah sore di rooftop yang membuat Tara pulang dengan dagu dan payudara masih agak lengket, akhir pekan akhirnya tiba. Kos kampus biasanya ramai, tapi kali ini hampir sepi total. Banyak mahasiswa pulang ke rumah orang tua atau pergi liburan singkat.
Sinta juga pulang kampung sejak Jumat pagi, meninggalkan kamar Tara dan ruang tamu hanya untuk mereka berdua. Reza datang Sabtu pagi dengan tas berisi makanan, minuman, dan sekotak kondom cadangan yang langsung ditertawakan Tara.“Kamu ini sudah rencana matang banget ya,” goda Tara sambil menarik Reza masuk.
Reza tersenyum lebar, tangannya langsung memeluk pinggang Tara dari belakang. “Weekend ini aku mau habisin waktu sama kamu. No thesis, no kuliah, cuma kita.”Mereka mulai dengan sarapan sederhana di meja yang sama tempat mereka bercinta kali pertama. Tapi suasana cepat panas. Reza menarik Tara ke pangkuannya lagi, mencium lehernya yang masih harum sabun. “Mandi bareng yuk. Aku sudah bayangin sejak kemarin.”Tara tertawa kecil tapi langsung mengangguk. Mereka berjalan ke kamar mandi kecil kos sambil saling melepas baju di koridor. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Reza langsung menyalakan shower air hangat. Air mengguyur tubuh mereka berdua.Reza mengangkat Tara dengan mudah. Tubuh atletisnya membuat Tara merasa ringan. Tara melingkarkan kaki di pinggang Reza, punggungnya bersandar ke dinding keramik yang dingin. Reza menciumnya dalam, lidah mereka saling menari di bawah guyuran air. Tangan Reza meremas pantat Tara yang basah dan licin, lalu ia mengarahkan cock-nya yang sudah keras tegak ke vagina Tara.“Pelan dulu…” bisik Tara.Reza mendorong masuk perlahan. Kepala cock-nya yang tebal meregang dinding vagina Tara yang sudah basah bukan hanya karena air shower. Tara mendesah panjang, kuku jemarinya mencengkeram bahu Reza. Begitu masuk sepenuhnya, Reza mulai menggerakkan pinggulnya. Dorongan naik-turun sambil mengangkat tubuh Tara naik-turun di cock-nya.
Air shower membuat segalanya semakin licin. Suara plok-plok basah bercampur dengan desahan mereka yang semakin keras karena tidak ada orang lain di kos. Reza mengisap puting Tara bergantian, lidahnya melingkar di puncak yang mengeras karena air dingin-hangat. Tara meremas rambut Reza, pinggulnya ikut bergerak menyambut setiap dorongan.“Enak… Reza… lebih dalam,” erang Tara.
Reza mempercepat ritme. Ia menekan Tara lebih kuat ke dinding, cock-nya keluar-masuk dengan cepat. Tara klimaks pertama di bawah shower, tubuhnya mengejang hebat, vagina-nya menggenggam cock Reza yang bergerak ritmis. Reza terus memompa sampai ia juga meledak, menyemburkan sperma hangat di dalam Tara. Campuran cairan mereka menetes bersama air shower ke lantai.
Mereka tertawa sambil saling peluk di bawah guyuran air, membersihkan tubuh masing-masing dengan sabun. Tapi mandi itu tidak berakhir di situ. Setelah kering, Reza menggendong Tara kembali ke kamar dan melemparnya pelan ke kasur.Siang harinya mereka menghabiskan waktu dengan lazy sex yang panjang dan tanpa buru-buru. Reza berbaring telentang, Tara naik ke atasnya dalam posisi cowgirl lambat. Ia menggerakkan pinggulnya pelan-pelan, merasakan setiap inci cock Reza yang mengisi penuh dirinya. Payudara Tara yang besar bergoyang lembut mengikuti gerakan.Reza memegang pinggul Tara, sesekali meremas payudaranya. “Kamu cantik banget kalau lagi di atas gini,” katanya sambil tersenyum.Tara membungkuk, mencium Reza dalam sambil terus bergerak. Mereka berganti posisi ke missionary. Reza mendorong dalam dan pelan, mata mereka saling pandang. Setiap dorongan disertai ciuman lembut di bibir, leher, dan dada. Tara merasakan klimaks kedua datang perlahan, seperti gelombang hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia memeluk Reza erat saat orgasme datang, kakinya melingkar di pinggang Reza.Reza belum selesai. Ia membalikkan Tara ke posisi doggy di tengah kasur. Tangan Tara mencengkeram sprei, pantatnya terangkat tinggi. Reza memasuki vaginanya dari belakang dengan satu dorongan panjang. Kali ini lebih dalam. Ia menarik rambut Tara pelan sambil memompa, tangan satunya meraih ke depan untuk mengusap clit Tara.“Reza… ahh… enak sekali,” desah Tara. Suara basah percintaan mereka memenuhi kamar kecil. Reza mempercepat, lalu melambat lagi, sengaja menggoda. Mereka berganti posisi oral bolak-balik. Tara berlutut, mengisap cock Reza dengan rakus sambil tangannya memijat bola-bolanya. Reza balas menjilat vagina Tara sampai basah berlebihan, lidahnya masuk dalam dan mengisap clit kuat-kuat hingga Tara squirting kecil, cairan bening menyembur ke dagu Reza.
Mereka tertawa lemas. “Kamu bikin kasur basah banget,” goda Reza.“Salah kamu sendiri,” balas Tara sambil mencubit perut Reza.
Creampie pertama siang itu terjadi saat Tara riding lagi di atas. Ia menurunkan tubuhnya kuat-kuat sampai cock Reza masuk paling dalam, lalu meremas otot vaginanya. Reza mendesah panjang, sperma kental menyembur memenuhi rahim Tara. Cairan putih menetes keluar saat Tara bangun, mengalir di paha dalamnya.
Mereka istirahat sebentar, makan mi instan dan minum air dingin, lalu lanjut lagi.Malam harinya, suasana semakin panas. Setelah makan malam sederhana, Reza menarik Tara ke balkon kos yang kecil dan gelap. Angin malam sejuk bertiup, lampu kota terlihat samar di kejauhan. Tidak ada siapa-siapa di sekitar.
Reza membungkukkan Tara di pagar balkon, rok tidur Tara diangkat sampai pinggang. Tanpa celana dalam. Ia memasuki vaginanya Tara dari belakang dalam posisi doggy berdiri. Tara mencengkeram pagar, mendesah pelan saat cock Reza memenuhinya lagi.“Kalau ada yang lihat dari bawah…” bisik Tara sambil tertawa gugup.“Biarkan saja,” jawab Reza sambil mulai memompa. Tangan Reza meremas payudara Tara dari belakang, pinggulnya membentur pantat Tara dengan irama sedang tapi kuat. Suara basah mereka bercampur dengan angin malam. Tara klimaks di balkon, kakinya gemetar sampai Reza harus memeluknya erat supaya tidak jatuh.Reza menyemburkan cum di dalam lagi sebelum mereka buru-buru masuk ke dalam karena dingin.Kembali ke kasur, mereka lanjut round terakhir yang paling santai. Missionary dalam sambil berpelukan erat, cowgirl lambat dengan banyak ciuman, lalu side fuck sambil saling memeluk. Tubuh mereka lengket keringat dan cairan, tapi tidak ada yang peduli.Reza menjilat Tara sekali lagi sampai ia klimaks kecil, lalu Tara membalas dengan blowjob pelan sampai Reza cum di mulutnya. Tara menelan sebagian, sisanya diusapkan ke payudaranya sambil tersenyum nakal.Mereka berbaring telanjang saling berpelukan di kasur yang acak-acakan. Napas masih tersengal, tapi hati terasa hangat.“Weekend ini… gila,” kata Tara pelan sambil mengusap dada Reza. “Aku nggak nyangka bisa sesantai ini.”Reza mencium kening Tara. “Aku juga. Biasanya weekend cuma tidur atau ngerjain thesis. Sekarang malah capek karena hal lain.”Mereka tertawa bersama. Reza menarik selimut menutupi tubuh mereka. “Besok Minggu masih seharian. Mau lanjut?”Tara mengangguk di dada Reza. “Mau. Tapi pelan-pelan aja. Aku sudah pegal semua.”Malam itu mereka tidur nyenyak, tubuh saling menempel.
