
Ringkasan
berbagai cerita berhasrat untuk anda... bisa request...
Bab 1: dua mahasiswa
Tara menghela napas panjang sambil menatap layar laptop yang sudah mulai blur di matanya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.40, dan ruang baca 3B yang biasanya ramai sekarang hanya tinggal dia sendirian. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah-olah juga lelah seperti dirinya. Thesis manajemen yang sedang ia kerjakan sudah hampir selesai, tapi entah kenapa malam ini konsentrasinya buyar. Ia menggeser duduknya, rok ketatnya naik sedikit di paha tebal yang agak berpeluh karena AC yang sudah mati sejak dua jam lalu.
Pintu ruangan berderit pelan. Tara menoleh. Seorang pria masuk, membawa laptop dan secangkir kopi instan yang masih mengepul. Tingginya sekitar 180 cm, bahunya lebar, dan dari cara jalannya terlihat santai tapi percaya diri. Ia langsung duduk di meja sebelah Tara tanpa banyak bicara, hanya mengangguk sopan.
"Malam juga," kata Tara pelan, mencoba ramah.
"Malam," jawab pria itu sambil tersenyum tipis. "Reza. S2 Teknik. Kamu?"
"Tara. Manajemen. Biasanya nggak ada yang lembur sampai jam segini di sini."
Reza tertawa kecil. "Biasanya juga nggak ada yang secantik kamu sendirian di ruang baca jam segini."
Tara mengangkat alis, tapi senyumnya muncul sendiri. Mereka mulai ngobrol santai soal thesis masing-masing. Reza ternyata juga lagi stuck di bab analisis datanya. Obrolan berjalan mudah, dan entah kapan mulai berubah jadi godaan kecil. Reza bilang Tara punya bibir yang "membuat orang susah konsentrasi". Tara balas bilang Reza punya tangan yang kelihatan kuat untuk "mengerjakan hal lain selain coding".
Listrik berkedip dua kali, lalu mati total. Ruangan gelap gulita kecuali cahaya redup dari laptop mereka. Suasana langsung berubah. Tara bisa mendengar napasnya sendiri yang agak berat. Reza berdiri pelan, mendekat, dan tanpa banyak kata lagi, ia membungkuk dan mencium Tara.
Ciuman itu panas dan langsung dalam. Lidah Reza menjelajah mulut Tara dengan rakus. Tara membalas dengan sama panasnya, tangannya naik ke dada Reza yang keras di balik kaos tipis. Reza menarik Tara berdiri, lalu mendorongnya pelan ke sudut ruangan yang paling gelap, di antara dua rak buku tinggi.
"Kita harus cepat," bisik Reza sambil tangannya sudah merayap ke bawah rok Tara. Jarinya menyentuh celana dalam yang sudah lembab. "Kamu basah banget."
Tara hanya mampu mengangguk. Reza berlutut sebentar, menarik celana dalam Tara ke bawah, lalu menjilat langsung ke clit-nya. Lidahnya lebar dan panas, menjilat dari bawah ke atas berulang kali. Tara menekan punggung ke rak buku, kakinya sedikit gemetar. Reza menjilat lebih dalam, lidahnya masuk sedikit ke dalam vagina Tara yang sudah sangat basah, lalu mengisap clit-nya kuat-kuat. Tara menutup mulut dengan telapak tangan sendiri supaya tidak berisik, tapi suara desisan kecil tetap keluar dari hidungnya.
Reza berdiri lagi. Ia membuka celana jeansnya cepat, mengeluarkan cock yang sudah keras dan mengkilap di ujungnya. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengangkat satu kaki Tara, menyangganya di lengannya, lalu mendorong cock-nya masuk ke dalam vagina Tara dalam satu dorongan kuat. Tara tersentak, mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada suara keluar karena Reza langsung menutupnya dengan telapak tangan.
"Shhh… pelan-pelan," bisik Reza di telinga Tara sambil mulai menggerakkan pinggulnya. Dorongan pertama kuat dan dalam, langsung menyentuh titik sensitif di dalam. Tara merasa vagina-nya meregang mengikuti ukuran cock Reza yang tebal. Setiap kali Reza mendorong masuk, Tara bisa mendengar suara basah dari cairan vagina-nya yang sudah sangat banyak. Suara "plop… plop… plop" yang pelan tapi jelas terdengar di ruangan gelap.
Reza menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Satu tangannya masih menutup mulut Tara, tangan satunya lagi memegang pinggul Tara erat. Tara merasa lututnya lemas, tapi Reza menyangganya dengan kuat. Setiap dorongan terasa lebih dalam dari sebelumnya. Tara bisa merasakan dinding vagina-nya menjepit cock Reza erat setiap kali ditarik keluar sedikit lalu didorong masuk lagi.
"Kamu enak banget," desis Reza di telinga Tara. "Vaginamu panas dan basah sekali."
Tara hanya bisa mengangguk lemah. Klimaksnya datang tiba-tiba dan kuat. Tubuhnya bergetar hebat, vagina-nya berkontraksi berulang kali menjepit cock Reza. Cairan bening keluar dari vagina-nya, membasahi paha Reza dan lantai di bawah mereka. Reza tidak berhenti. Ia terus mendorong lebih cepat, mengejar klimaksnya sendiri. Setelah beberapa kali dorongan kuat, ia mendorong cock-nya sampai ke pangkal, dan Tara merasakan semburan hangat di dalam vagina-nya. Reza cum banyak, cairan kentalnya memenuhi Tara sampai sedikit keluar dan menetes di paha dalam Tara.
Mereka berdua diam beberapa detik, napas masih tersengal. Reza menarik cock-nya pelan. Campuran cairan cum dan vagina Tara menetes keluar, membasahi lantai. Mereka buru-buru merapikan pakaian. Tara masih merasa lemas, kakinya agak goyah. Reza membantu menurunkan roknya.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki di koridor. Suara kunci dan radio security kampus semakin dekat.
"Shit," bisik Reza. "Security."
Mereka saling pandang, jantung berdegup kencang. Lampu listrik menyala lagi tepat saat pintu ruang baca dibuka pelan.
