bab 3
Sinta berdiri di ambang pintu dengan mata masih setengah terpejam, rambut acak-acakan karena baru bangun. “Tara… kamu ngomong sama siapa? Kok kayak ada suara orang…”Tara merasa jantungnya hampir copot. Tubuhnya telanjang bulat di bawah selimut tipis, Reza persis di belakangnya dalam posisi memeluk, cock-nya yang masih setengah tegang menempel di pantat Tara. Untung selimut menutupi sampai dada mereka.“Eh… nggak ada siapa-siapa, Sin. Aku… mimpi buruk tadi, ngigau sendiri,” jawab Tara cepat, suaranya agak gemetar. Reza di belakangnya diam seperti patung, tapi Tara bisa merasakan dadanya bergetar menahan tawa.Sinta mengucek mata. “Oh… ya udah. Aku kira ada orang. Malam ya.” Dia menutup pintu pelan. Langkahnya menjauh ke kamarnya sendiri.Begitu pintu tertutup, Tara langsung menarik napas lega dan memukul lengan Reza pelan. “Gila! Hampir ketahuan. Kamu nggak usah ketawa!”Reza tertawa kecil sambil mencium tengkuk Tara. “Seru kan? Adrenalinnya beda.” Tangannya merayap ke payudara Tara lagi, meremas pelan. “Mau lanjut? Atau besok aja?”Tara menggeleng sambil tersenyum. “Besok. Aku capek banget. Kamu pulang dulu deh, sebelum Sinta curiga beneran.”Reza mencium bibir Tara lama sebelum akhirnya berpakaian dan keluar lewat pintu belakang kos. Tara merebahkan diri lagi, tubuhnya masih terasa penuh dan lengket. Malam itu ia tidur dengan senyum kecil, meski besok pagi thesis tetap menanti.Pagi harinya kampus sudah ramai seperti biasa. Tara dan Reza bertemu di kantin fakultas seperti tidak ada apa-apa. Mereka ngobrol santai soal jadwal kelas, tapi tatapan mereka bilang lain. Reza sesekali menyentuh paha Tara di bawah meja, membuat Tara gelisah.“Lab Teknik lantai 3 kosong siang ini,” bisik Reza saat mereka berpisah. “Aku nunggu kamu jam 12.30.”Tara hanya mengangguk kecil, pipinya agak panas.Jam 12.30 tepat, Tara menyelinap ke lab yang memang sepi. Hanya ada dua mahasiswa lain di ujung ruangan yang pakai headphone tebal. Reza sudah menunggu di meja pojok, pura-pura fokus ke laptop.Tara duduk di sebelahnya. “Kamu ini beneran kerjaan cuma mikirin mesum ya tiap hari,” goda Tara pelan.Reza tersenyum nakal. “Cuma sama kamu.” Tangannya langsung merayap ke bawah meja, menyusup ke rok Tara. Jarinya mengusap celana dalam yang sudah mulai lembab. “Basah lagi? Dari pagi kepikiran tadi malam?”Tara menggigit bibir, berpura-pura membaca jurnal. Reza menarik celana dalam ke samping, lalu dua jarinya masuk pelan ke vagina Tara yang hangat. Gerakannya pelan tapi dalam, mengaduk cairan yang langsung keluar banyak. Tara mencengkeram pinggir meja kuat-kuat, napasnya mulai berat.“Reza… pelan,” bisiknya.Reza malah menambah gerakan ibu jarinya di clit, melingkar cepat. Tara merasa lututnya lemas. Beberapa menit kemudian orgasme kecil datang diam-diam. Vagina Tara berkontraksi kuat di sekitar jari Reza, cairan bening mengalir ke telapak tangannya. Reza menarik jari, lalu dengan santai menjilatnya sambil melihat Tara.“Enak. Sore nanti lanjut di belakang gedung ya,” katanya pelan.Tara hanya bisa memelotot sambil napas ngos-ngosan.Malam pukul 21.45, area belakang gedung Fakultas Manajemen gelap dan sepi. Hanya lampu taman yang redup. Reza sudah menunggu di balik pohon besar. Begitu Tara datang, ia langsung menariknya ke tembok, menekuk tubuh Tara menghadap bata dingin.Rok Tara diangkat sampai pinggang. Reza membuka resleting celananya cepat. Cock-nya sudah keras maksimal, ujungnya basah precum. Ia mengusapkan kepala cock di celah basah Tara beberapa kali sebelum mendorong masuk dalam satu gerakan kuat.“Ahh… dalam banget,” desah Tara pelan. Reza menutup mulut Tara dengan satu tangan sambil mulai memompa dari belakang. Setiap dorongan keras membuat pantat Tara bergoyang. Suara basah “plok-plok-plok” pelan terdengar di malam sepi.“Kamu suka ya ditidurin di tempat gini? Berisiko,” bisik Reza sambil menggigit bahu Tara. Tangan satunya meremas payudara Tara dari dalam baju, memilin putingnya.Tara hanya mengangguk, matanya setengah terpejam menikmati sensasi cock tebal yang mengisi penuh vaginanya. Reza mempercepat irama, pinggulnya membentur pantat Tara kuat-kuat. Tara klimaks lebih dulu, tubuhnya gemetar hebat, cairannya menyembur sedikit ke paha Reza.Reza mendesah rendah saat ia juga mencapai puncak. Semburan sperma hangat memenuhi vagina Tara sampai penuh. Beberapa tetes menetes ke lantai saat ia menarik keluar. Mereka buru-buru merapikan baju sambil tertawa kecil.“Besok rooftop kos, gantian,” kata Tara sambil membersihkan paha dengan tisu.“Deal,” jawab Reza sambil mencium keningnya.Keesokan sore di rooftop kos kampus yang jarang dipakai, angin sepoi bertiup. Reza bersandar di tembok pembatas. Tara berlutut di depannya, celana Reza sudah turun ke lutut.Tara memegang cock Reza yang tebal dengan kedua tangan. Ia menjilat dari bawah ke atas pelan, lalu memasukkan kepalanya ke mulut. Lidahnya berputar di sekitar kepala cock sambil tangannya mengocok batang yang sudah basah air liur.“Fuck… enak banget, Tar,” desah Reza sambil memegang rambut Tara.Tara semakin dalam, mencoba menelan sebanyak mungkin sampai cock menyentuh tenggorokannya. Ia menggerakkan kepala naik-turun dengan ritme cepat, suara isapan basah dan desahan Reza memenuhi rooftop. Reza menahan kepala Tara saat mau keluar.“Mau di mulut boleh?” tanya Reza.Tara mengangguk. Sperma kental menyembur kuat ke dalam mulutnya. Tara menelan sebagian besar, sisanya menetes di dagu dan payudaranya. Ia membersihkan cock Reza dengan lidah sampai bersih, lalu tersenyum nakal ke atas.“Enak?” tanya Tara sambil berdiri.Reza menariknya ke pelukan. “Kamu semakin jago. Aku suka.”Mereka duduk berdampingan, minum kopi dari thermos. Obrolan kembali ringan soal thesis, dosen killer, dan rencana liburan. Tara bersandar di bahu Reza.“Kadang aku takut ini cuma fun terus berhenti tiba-tiba,” kata Tara pelan.Reza mengusap rambutnya. “Sekarang masih asyik kan? Kalau mau lebih, kita bicara. No drama.”Tara tersenyum. “Iya. Rutinitas gila ini… aku suka.”Hari-hari selanjutnya rutinitas mereka semakin intens dan berani. Pagi kadang quickie cepat di kamar mandi kos, siang di lab atau ruang kosong, malam di rooftop atau belakang gedung. Setiap kali selalu ada tawa, bercanda soal kuliah, dan dirty talk yang bikin suasana makin panas.Suatu sore mereka kembali ke ruang baca 3B — tempat pertama mereka bertemu. Di rak buku paling belakang, Reza duduk di kursi dan Tara naik ke pangkuannya menghadap depan. Rok disingkap, celana dalam ditarik ke samping. Mereka bergerak pelan agar kursi tidak berderit.Tara menggigit bahu Reza saat klimaks datang. Reza menyembur di dalamnya lagi, lalu mereka saling peluk sebentar sebelum buru-buru rapi.“Ruang baca ini jadi saksi kita terus,” bisik Tara sambil tertawa pelan.Reza mencium bibirnya dalam. “Dan aku nggak bosan.”Rutinitas kampus yang dulu biasa kini penuh warna, nafsu, dan sedikit perasaan yang mulai tumbuh pelan di antara mereka berdua. Masih santai, masih fun, tapi semakin sulit untuk berhenti.
