Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 2

Tara masih merasa kakinya agak goyah saat ia berjalan cepat keluar dari ruang baca 3B. Lampu neon sudah menyala normal lagi, dan suara langkah security semakin dekat. Reza berjalan di sampingnya, keduanya berusaha terlihat biasa saja meski napas Tara masih agak tersengal dan ada rasa hangat yang masih menetes pelan di dalam celana dalamnya. Mereka tidak bicara banyak sampai keluar gedung.

"Kamu pulang dulu ya," bisik Reza sambil menyentuh lengan Tara sebentar. "Aku ikut nanti, biar nggak kelihatan." Tara hanya mengangguk, jantungnya masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju kos kampus yang hanya lima menit dari sana. Malam ini udaranya agak sejuk, tapi tubuhnya masih panas. Setiap langkah terasa aneh karena ada cairan Reza yang masih di dalam dirinya, membuat celana dalamnya lembab.

Sesampainya di kos, Tara langsung mandi cepat. Air hangat mengguyur tubuhnya yang curvy, dan ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi. Reza mengangkat kakinya, menjepitnya ke rak buku, menjilatnya sampai basah, lalu menancapkan cock-nya dengan kuat. Tara menggigit bibirnya sendiri di bawah shower. Ia belum pernah klimaks sekuat itu dalam waktu lama. Setelah mandi, ia pakai kaos oversized dan celana pendek tipis, lalu merebahkan diri di kasur. Teman sekamarnya, Sinta, sudah tidur di kamar sebelah. Kos ini memang kecil, hanya dua kamar tidur dan satu ruang tamu kecil yang juga dipakai sebagai tempat belajar.

Tara baru saja hendak tidur ketika ada ketukan pelan di pintu. Ia bangun dan membuka. Reza berdiri di sana dengan dua gelas kopi panas di tangan. Jam menunjukkan pukul 01.15 dini hari.

"Kamu belum tidur?" tanya Reza pelan sambil tersenyum. "Aku bawa kopi. Biar nggak ngantuk." Tara tertawa kecil, merasa agak awkward tapi juga senang. Ia membiarkan Reza masuk. Mereka duduk di meja belajar kecil di kamar Tara. Meja itu cukup besar untuk dua orang, dengan laptop dan buku-buku thesis berserakan.

"Tadi... agak gila ya," kata Tara sambil mengaduk kopinya. "Kita baru ketemu, langsung begitu." Reza mengangkat bahu, senyumnya playful. "Kamu yang bikin aku nggak bisa tahan. Bibirmu pas lagi ngomong soal thesis itu... entah kenapa bikin aku pengen cium." Tara merasa pipinya agak panas. Mereka ngobrol ringan dulu soal kelas besok, tapi suasana cepat berubah. Reza duduk di kursi, Tara di ujung meja. Kaki mereka saling menyentuh. Reza menyentuh lutut Tara, lalu tangannya naik pelan ke paha.

"Kamu masih basah?" tanya Reza langsung, suaranya rendah. Tara menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Sedikit." Reza menarik Tara ke pangkuannya. Tara naik tanpa banyak bicara, duduk menghadap Reza dengan kaki di kanan-kiri pinggulnya. Mereka mulai berciuman lagi. Ciuman ini lebih lambat dari tadi, tapi tetap panas. Lidah Reza menjelajah mulut Tara, tangannya merayap ke bawah kaos Tara dan meremas payudara yang penuh. Puting Tara sudah keras, Reza mengusapnya dengan ibu jari.

Tara merasa cock Reza sudah keras lagi di balik celana jeansnya. Ia menggeser pinggulnya, menggosokkan dirinya ke benjolan itu. Reza mengangkat kaos Tara, lalu menariknya lepas. Payudara Tara yang besar dan berat terbebas. Reza langsung menunduk dan mengisap puting kiri, lidahnya melingkar sambil tangan kanannya meremas payudara kanan. Tara mendesah pelan, tangannya meraih rambut Reza.

"Buka celanamu," bisik Tara. Reza membuka kancing jeansnya cepat, mengeluarkan cock yang sudah tegak dan mengkilap di ujungnya. Tara mengangkat pinggulnya sedikit, menurunkan celana pendeknya, lalu menurunkan diri perlahan. Cock Reza masuk ke dalam vagina Tara yang masih agak sensitif dari tadi malam. Tara menahan napas saat merasakan peregangan itu. Ia mulai bergerak naik-turun pelan, riding cowgirl dengan ritme yang semakin cepat.

Reza memegang pinggul Tara, membantunya bergerak. "Kamu enak banget," desisnya. "Vaginamu masih panas dan basah." Tara menggigit bibir, pinggulnya bergerak lebih keras. Suara basah dari vagina Tara yang menjepit cock Reza terdengar jelas di kamar kecil itu. Setiap kali Tara turun, cock Reza masuk sampai ke pangkal, menyentuh titik dalam yang membuat Tara gemetar. Reza meremas payudara Tara lebih kuat, lalu tangannya turun ke pantat dan memukulnya ringan. Plak. Suara kecil itu membuat Tara semakin basah.

"Kamu suka dipukul pantatnya?" tanya Reza sambil tersenyum nakal. Tara mengangguk, "Sedikit." Reza memukul lagi, kali ini agak lebih keras. Tara mendesah, riding lebih cepat. Cairan vagina Tara membasahi paha Reza dan kursi di bawah mereka. Reza menarik Tara lebih dekat, mencium lehernya, lalu berbisik kotor di telinga. "Bayangin kalau teman sekamarmu bangun dan lihat kamu lagi naik-turun di cockku seperti ini." Tara tertawa kecil meski napasnya tersengal, "Jangan bilang gitu, nanti aku makin basah." Reza tertawa pelan, lalu berdiri sambil masih membawa Tara di pangkuannya. Ia membalikkan Tara, menekuknya di atas meja belajar. Tara sekarang dalam posisi doggy style, dada menempel di meja yang dingin, pantat terangkat.

Reza memasukkan cock-nya dari belakang dalam satu dorongan kuat. Tara menekan wajah ke meja supaya tidak berisik. Reza menarik rambut Tara pelan, memiringkan kepalanya. Dorongan dari belakang terasa lebih dalam. Reza menggerakkan pinggulnya cepat, cock-nya keluar-masuk dengan suara basah yang keras. Tangan Reza meraih pinggul Tara, jarinya meninggalkan bekas merah. Tara merasa klimaksnya mendekat lagi. Vagina-nya berkontraksi, cairan bening menyembur keluar dan membasahi paha Reza. Reza tidak berhenti, ia terus menancap sampai Tara klimaks kedua. Setelah itu, Reza menarik cock-nya keluar dan menyemburkan cum ke punggung bawah Tara, cairan putih kental menetes di kulitnya.

Mereka berdua tertawa pelan sambil terengah. Reza membantu Tara berdiri, lalu mereka berbaring di kasur Tara yang kecil. Tubuh mereka masih telanjang, keringat masih menempel. Reza memeluk Tara dari belakang, tangannya mengusap pinggulnya pelan. "Ini cuma fun ya," kata Reza. "Nggak ada drama kuliah, nggak ada komitmen ribet." Tara mengangguk, merasa nyaman di pelukan itu. "Iya, cuma fun. Tapi enak." Mereka tertawa lagi, Reza mencium pundak Tara.

Tiba-tiba pintu kamar Tara berderit pelan. Sinta berdiri di ambang pintu, mata masih setengah terpejam. "Tara? Kamu ngomong sama siapa tadi?" Suara Sinta mengantuk. Tara dan Reza langsung membeku di kasur, telanjang dan masih saling berpelukan. Sinta belum sepenuhnya sadar, tapi pintu sudah terbuka lebar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel