Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 – Rahasia di Balik Tatapan Dingin

Suasana di dalam mobil terasa sunyi sepanjang perjalanan pulang. Lampu-lampu kota berlalu begitu saja di balik kaca jendela, sementara Alana memilih memandang ke luar daripada menatap Nathan yang duduk di sampingnya.

Ucapan Vanessa terus terngiang di kepalanya.

"Aku mengenalnya lebih dari sepuluh tahun."

"Seharusnya aku yang menjadi istrinya."

Alana mengembuskan napas pelan.

Ia sadar, dirinya tidak berhak merasa terganggu. Hubungannya dengan Nathan hanyalah sebuah kontrak. Tidak lebih.

Namun, entah mengapa, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Nathan yang sedari tadi memejamkan mata akhirnya membuka suara.

"Kau diam sejak tadi."

Alana tersenyum tipis.

"Hanya lelah."

"Kau memikirkan Vanessa."

Itu bukan pertanyaan.

Melainkan sebuah kesimpulan.

Alana menoleh.

"Kamu selalu bisa menebak isi pikiranku?"

Nathan mengangkat bahu.

"Ekspresimu mudah dibaca."

Alana terkekeh pelan.

"Kalau begitu, menurutmu sekarang aku sedang memikirkan apa?"

Nathan menatapnya beberapa detik.

"Kau sedang bertanya-tanya kenapa aku tidak menikahi Vanessa."

Alana terdiam.

Lagi-lagi pria itu benar.

Nathan kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

"Aku tidak akan menjawabnya."

"Kenapa?"

"Belum waktunya."

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Alana semakin besar.

---

Sesampainya di rumah, Bu Rina langsung menyambut mereka.

"Selamat malam, Tuan, Nyonya."

Nathan hanya mengangguk.

"Ada surat yang tadi dikirim."

Bu Rina menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat.

Nathan membukanya sekilas.

Wajahnya langsung berubah serius.

"Ada apa?" tanya Alana.

"Bukan urusanmu."

Jawaban singkat itu membuat Alana mengangguk pelan.

Ia hampir lupa.

Mereka memang tinggal serumah.

Tetapi kehidupan Nathan tetap bukan bagian dari dirinya.

Nathan segera masuk ke ruang kerja dan mengunci pintu.

---

Di dalam ruang kerja, Nathan membaca isi surat itu dengan wajah datar.

Namun rahangnya mengeras.

Surat itu hanya berisi satu kalimat.

"Rahasiamu tidak akan selamanya aman."

Tanpa nama pengirim.

Tanpa alamat.

Nathan meremas kertas itu hingga kusut.

Sudah bertahun-tahun ia berharap masa lalunya tetap terkubur.

Tetapi kini...

Seseorang mulai mengusiknya lagi.

---

Di lantai atas, Alana berdiri di balkon kamarnya.

Udara malam terasa dingin.

Pikirannya kembali melayang pada ibunya.

Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi rumah sakit.

Syukurlah, kondisi sang ibu stabil.

Mendengar kabar itu, Alana akhirnya bisa bernapas lega.

"Semoga Ibu cepat sembuh."

Ia tersenyum sendiri.

Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Nathan berdiri di depan pintu.

"Aku mengganggu?"

"Tidak."

Nathan menyerahkan sebuah map.

"Apa ini?"

"Berkas transfer."

Alana membukanya.

Matanya langsung membelalak.

Seluruh biaya operasi ibunya telah dilunasi.

Bahkan masih ada dana tambahan untuk perawatan pascaoperasi.

Air mata Alana langsung menggenang.

"Kamu..."

Nathan memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Itu bagian dari kontrak."

"Terima kasih."

Nathan tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan lalu berbalik.

" Nathan."

Pria itu berhenti melangkah.

"Terima kasih... bukan karena kontraknya."

Nathan tidak membalas.

Namun saat berjalan meninggalkan kamar, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Senyum yang bahkan tidak ia sadari.

---

Keesokan paginya.

Nathan sudah bersiap berangkat ke kantor.

Alana yang baru turun langsung menyapanya.

"Selamat pagi."

"Pagi."

"Kamu selalu berangkat sepagi ini?"

"Ada rapat."

Alana mengangguk.

Bu Rina datang membawa bekal makan siang.

Nathan menerimanya.

Alana memperhatikan.

"Kamu bawa bekal?"

Nathan menatap kotak makan itu.

"Bu Rina memaksa."

Bu Rina terkekeh.

"Kalau tidak dipaksa, Tuan hanya minum kopi seharian."

Alana spontan menatap Nathan.

"Itu tidak sehat."

Nathan terlihat sedikit terkejut.

Sudah lama tidak ada yang mengomelinya soal kesehatan.

"Aku baik-baik saja."

"Tidak."

Alana menggeleng.

"Perutmu tidak akan baik-baik saja kalau terus begitu."

Nathan tidak menjawab.

Namun sebelum pergi, ia benar-benar membawa bekal itu.

Bu Rina tersenyum puas.

"Nyonya hebat."

"Apa maksudnya?"

"Sudah bertahun-tahun saya menyuruh Tuan membawa bekal."

"Beliau tidak pernah mau."

"Tapi hari ini..."

"Beliau menurut."

Alana hanya tersenyum kecil.

Ia tidak menganggap itu sesuatu yang istimewa.

---

Di kantor Adikara Group.

Nathan baru saja selesai rapat ketika sekretarisnya masuk.

"Tuan."

"Ada apa?"

"Nona Vanessa datang."

Nathan menghela napas.

"Suruh pulang."

"Beliau tidak mau."

Belum selesai sekretaris berbicara, pintu ruang kerja sudah terbuka.

Vanessa masuk tanpa izin.

"Kau semakin sulit ditemui."

Nathan tetap duduk.

"Aku sedang bekerja."

"Aku hanya ingin bicara."

"Kita tidak punya hal yang perlu dibicarakan."

Vanessa meletakkan sebuah foto di atas meja.

Foto Nathan dan Alana saat keluar dari rumah keluarga semalam.

"Kau terlihat sangat melindunginya."

Nathan memandang foto itu sekilas.

"Lalu?"

"Kau mulai menyukainya?"

Nathan tertawa pelan.

Tawa yang justru terdengar dingin.

"Vanessa."

"Kau terlalu banyak mencampuri hidupku."

Vanessa menatap Nathan tajam.

"Jangan bilang kau lupa."

"Aku mengenalmu lebih lama daripada perempuan itu."

Nathan berdiri.

"Aku juga mengenal sifatmu lebih lama."

Ucapan itu membuat Vanessa membeku.

Nathan berjalan mendekat.

"Dengarkan baik-baik."

"Alana sekarang istriku."

"Jangan pernah mengganggunya."

Nada suaranya tetap tenang.

Namun cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa ia tidak sedang bercanda.

---

Sementara itu di mansion...

Alana memutuskan pergi ke rumah sakit.

Begitu memasuki ruang perawatan, ibunya langsung tersenyum.

"Kamu datang."

"Ibu bagaimana?"

"Jauh lebih baik."

Alana duduk di samping tempat tidur.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah ibunya terlihat lebih segar.

"Dokter bilang operasi bisa dilakukan minggu depan."

Mata Alana berkaca-kaca.

"Syukurlah."

Ibunya menggenggam tangan Alana.

"Nak."

"Iya?"

"Suamimu orang baik."

Alana sedikit terkejut.

"Ibu tahu?"

"Tadi pagi dia datang."

Alana membelalak.

"Nathan datang ke sini?"

Ibunya mengangguk.

"Dia bilang tidak usah mengkhawatirkan biaya rumah sakit."

"Dia juga berjanji akan menjagamu."

Jantung Alana berdetak lebih cepat.

Nathan...

Datang tanpa memberitahunya.

---

Saat sore tiba, Alana kembali ke rumah.

Nathan ternyata sudah lebih dulu pulang.

Pria itu sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca laporan.

"Kamu ke rumah sakit?"

Nathan mengangguk.

"Ibu bilang."

"Kenapa tidak bilang padaku?"

Nathan menutup mapnya.

"Aku sedang lewat."

Padahal kenyataannya...

Rumah sakit itu berada di arah yang berlawanan dari kantornya.

Namun Nathan tidak merasa perlu menjelaskan.

Alana duduk di sofa seberangnya.

"Ibu sangat senang."

Nathan hanya mengangguk.

Beberapa detik kemudian Alana berkata pelan,

"Aku mulai bingung."

Nathan mengangkat pandangan.

"Bingung?"

"Kamu selalu bilang semua ini hanya kontrak."

"Iya."

"Tapi kamu memperlakukan keluargaku dengan sangat baik."

Nathan terdiam.

Ia tidak langsung menjawab.

Karena bahkan dirinya sendiri mulai mempertanyakan alasan di balik setiap tindakan yang ia lakukan.

Awalnya ia hanya ingin menjalankan isi kontrak.

Tetapi kini...

Ia mulai melakukan banyak hal yang bahkan tidak tertulis dalam perjanjian.

Nathan akhirnya berkata pelan,

"Aku hanya menepati janjiku."

Alana tersenyum hangat.

"Kalau begitu..."

"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik."

Kalimat itu membuat Nathan kehilangan kata-kata.

Ia hanya mampu memandangi senyum Alana.

Tanpa disadari, dinding yang selama bertahun-tahun mengelilingi hatinya mulai retak sedikit demi sedikit.

Namun di tempat lain...

Seseorang sedang memperhatikan foto kebersamaan Nathan dan Alana dari layar laptop.

Pria itu tersenyum tipis.

"Jadi akhirnya kalian bertemu lagi..."

"Tapi Nathan..."

"Kau tidak akan bisa menyembunyikan kebenaran selamanya."

Ia mengambil sebuah map tua yang penuh dengan foto-foto masa lalu.

Di salah satunya terlihat Nathan remaja berdiri tidak jauh dari seorang gadis SMA yang sedang tertawa bersama teman-temannya.

Gadis itu...

adalah Alana.

Pria misterius itu menutup map tersebut sambil tersenyum penuh arti.

"Permainan baru saja dimulai."

Bersambung ke Bab 5...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel