Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 – Istri yang Tidak Diinginkan

Sinar matahari pagi menembus tirai kamar yang menjuntai hingga lantai. Cahaya keemasan memenuhi ruangan luas itu, membangunkan Alana dari tidur yang gelisah.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya mengingat semuanya.

Rumah megah.

Pernikahan kontrak.

Nathan Adikara.

Semua itu bukan mimpi.

Alana mengembuskan napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. Tatapannya tertuju pada cincin sederhana yang melingkar di jari manisnya.

"Selamat pagi, Nyonya."

Suara lembut dari balik pintu membuat Alana menoleh.

Bu Rina masuk sambil membawa nampan berisi secangkir teh hangat.

"Tuan Nathan sudah berangkat?"

"Belum, beliau sedang sarapan."

Alana mengangguk.

"Ayo turun, Tuan tidak suka menunggu."

---

Nathan sudah duduk di meja makan ketika Alana tiba.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang membuat penampilannya semakin berwibawa.

Di depannya terbuka sebuah tablet yang menampilkan laporan keuangan perusahaan.

Tanpa mengangkat kepala, ia berkata,

"Duduk."

Alana menarik kursi di hadapannya.

Suasana kembali dipenuhi keheningan.

Nathan memang tidak banyak bicara.

Namun entah mengapa, diamnya tidak lagi terasa semenakutkan kemarin.

"Kau tidur nyenyak?"

Pertanyaan itu membuat Alana sedikit terkejut.

"Cukup."

Nathan mengangguk kecil.

"Bagus."

Beberapa detik kemudian ia kembali fokus pada tabletnya.

Alana menahan senyum.

Ternyata pria sedingin Nathan masih bisa menanyakan kabarnya, meski terdengar sekaku laporan rapat.

---

Setelah sarapan selesai, Nathan berdiri.

"Malam ini kita makan malam di rumah utama keluarga."

"Harus?"

Nathan menatapnya.

"Ya."

"Apa mereka tahu soal kontrak kita?"

"Tidak."

"Kalau mereka bertanya bagaimana kita bertemu?"

Nathan tampak sudah memperkirakan pertanyaan itu.

"Aku sudah menyiapkan jawabannya."

"Apa?"

"Kita bertemu di acara amal enam bulan lalu."

Alana mengernyit.

"Tapi itu bohong."

Nathan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Seluruh pernikahan ini dimulai dengan kebohongan."

Kalimat itu membuat Alana terdiam.

Nathan memang tidak pernah berusaha memperindah kenyataan.

---

Menjelang sore, sebuah butik terkenal mengirimkan beberapa gaun.

"Ini semua untuk saya?"

Bu Rina tersenyum.

"Tuan Nathan yang memilih."

Alana memandang deretan gaun mahal itu dengan tidak percaya.

Ia bahkan takut menyentuhnya.

Tak lama kemudian Nathan pulang lebih cepat dari biasanya.

"Coba yang warna biru."

Alana menoleh.

"Kau memilihnya?"

Nathan mengangguk singkat.

"Kenapa biru?"

"Itu cocok."

Jawabannya sederhana.

Namun cukup membuat pipi Alana menghangat.

---

Satu jam kemudian...

Nathan berdiri di ruang tamu sambil memeriksa jam tangan.

Suara langkah kaki dari tangga membuatnya mendongak.

Untuk sesaat...

Ia membeku.

Alana turun perlahan mengenakan gaun biru muda yang sederhana tetapi elegan.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.

Tanpa riasan berlebihan.

Tetapi justru itulah yang membuatnya terlihat begitu anggun.

Nathan menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

"Bagaimana?"

tanya Alana pelan.

Nathan berdeham kecil.

"Cukup."

Hanya satu kata.

Namun Bu Rina yang berdiri di belakang Alana tersenyum geli.

Ia tahu benar.

Kalau Nathan berkata "cukup", artinya ia sebenarnya sangat terkesan.

---

Mobil memasuki kawasan elite tempat keluarga Adikara tinggal.

Rumah utama jauh lebih besar daripada mansion Nathan.

Di halaman sudah terparkir belasan mobil mewah.

Alana mulai gugup.

Nathan menyadarinya.

Saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk, pria itu berkata pelan,

"Jangan takut."

"Aku tidak takut."

Nathan melirik sekilas.

"Kau sedang menggenggam tasmu terlalu erat."

Alana langsung melepaskan genggamannya.

Nathan ternyata memperhatikan hal sekecil itu.

---

Pintu rumah terbuka.

Seorang pelayan membungkuk.

"Tuan Nathan sudah datang."

Beberapa detik kemudian seluruh ruang tamu menjadi sunyi.

Puluhan pasang mata memandang ke arah mereka.

Alana bisa merasakan tatapan penasaran...

bahkan sebagian terlihat meremehkan.

Seorang wanita elegan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri.

Dialah ibu Nathan.

Clara Adikara.

Tatapannya langsung tertuju pada Alana.

"Jadi... ini perempuan yang kau nikahi?"

Nathan menjawab tenang.

"Iya."

Clara mendekat.

Tatapannya meneliti Alana dari ujung kepala hingga kaki.

"Kau cantik."

Belum sempat Alana mengucapkan terima kasih, Clara kembali berkata,

"Tapi cantik saja tidak cukup untuk menjadi bagian keluarga Adikara."

Ruangan langsung hening.

Nathan mengeraskan rahangnya.

"Ibu."

"Apa?"

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Alana tersenyum sopan.

"Saya mengerti, Tante."

"Tante?"

Clara tersenyum tipis.

"Panggil Mama."

Alana sedikit kikuk.

"Iya... Ma."

Nathan menoleh.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat Alana tetap tenang meski sedang ditekan.

---

Makan malam dimulai.

Semua orang duduk di meja panjang.

Nathan sengaja memilih kursi di samping Alana.

Seorang pria muda yang merupakan sepupu Nathan tersenyum sinis.

"Katanya Kak Nathan tidak percaya cinta."

"Lalu kenapa tiba-tiba menikah?"

Nathan menjawab tanpa ragu.

"Aku berubah pikiran."

"Secepat itu?"

Nathan mengambil segelas air.

"Lalu?"

Tak ada yang berani melanjutkan.

Semua orang tahu Nathan bukan tipe yang suka diinterogasi.

Namun Clara belum menyerah.

"Alana."

"Iya, Ma."

"Keluargamu bekerja di bidang apa?"

Pertanyaan itu membuat suasana kembali canggung.

Alana tersenyum tipis.

"Ayah saya sudah meninggal."

"Ibu saya sedang sakit."

"Saya bekerja sebagai desainer interior."

Clara mengangguk pelan.

"Hanya itu?"

"Ya."

Seseorang berbisik pelan.

"Berarti bukan dari keluarga berada."

Bisikan itu cukup pelan.

Tetapi tetap terdengar oleh Alana.

Ia menundukkan kepala.

Nathan meletakkan garpunya.

"Kalau ada yang ingin mengatakan sesuatu..."

Tatapan tajamnya menyapu seluruh meja.

"...katakan langsung."

Tak ada yang menjawab.

Nathan kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Alana menyadari satu hal.

Pria itu...

sedang membelanya.

---

Selesai makan malam, Clara memanggil Nathan ke ruang kerja.

Alana menunggu di taman belakang.

Angin malam terasa sejuk.

Namun pikirannya jauh dari tenang.

"Jadi kau Alana."

Suara wanita membuatnya menoleh.

Seorang perempuan cantik mengenakan gaun merah berdiri sambil tersenyum.

Namun senyumnya tidak sampai ke mata.

"Aku Vanessa."

Alana mengulurkan tangan.

"Halo."

Vanessa tidak menyambut uluran tangan itu.

Sebaliknya ia berkata,

"Aku mantan tunangan Nathan."

Jantung Alana seolah berhenti sesaat.

Vanessa tertawa kecil melihat perubahan ekspresi Alana.

"Kaget?"

"Aku..."

"Seharusnya aku yang menjadi istrinya."

Vanessa melangkah mendekat.

"Tapi entah dari mana kau muncul."

Alana menarik napas pelan.

"Masa lalu Nathan bukan urusanku."

Vanessa tersenyum sinis.

"Sayang sekali."

"Karena aku berniat menjadikannya urusanmu."

---

Di dalam ruang kerja...

Clara memandang putranya dengan wajah serius.

"Kau benar-benar menikahi perempuan itu demi warisan?"

Nathan diam.

"Jawab."

"Iya."

"Itu alasan satu-satunya?"

Nathan kembali diam.

Clara mengenal putranya.

Diam Nathan selalu berarti ada sesuatu yang disembunyikan.

"Kau mengenalnya sebelum ini?"

"Tidak."

Nathan menjawab terlalu cepat.

Namun Clara tidak sepenuhnya percaya.

---

Sementara itu...

Di taman belakang.

Vanessa mengeluarkan ponselnya.

Ia memperlihatkan sebuah foto.

Nathan dan Vanessa sedang bertunangan beberapa tahun lalu.

"Aku mengenalnya lebih dari sepuluh tahun."

Vanessa tersenyum penuh kemenangan.

"Menurutmu..."

"Siapa yang lebih mengenal Nathan?"

Alana menatap foto itu beberapa saat.

Lalu mengembalikan ponsel tersebut.

"Mungkin memang kamu."

"Tapi sekarang..."

Ia tersenyum lembut.

"...aku istrinya."

Senyum Vanessa langsung menghilang.

Belum pernah ada yang berani menjawabnya seperti itu.

"Jangan terlalu percaya diri."

"Aku hanya mengatakan fakta."

Vanessa mengepalkan tangan.

Dalam hati ia mulai membenci wanita sederhana di hadapannya.

---

Saat Nathan keluar dari rumah utama, ia melihat Vanessa berdiri sangat dekat dengan Alana.

Ekspresinya langsung berubah dingin.

"Ada apa?"

Vanessa tersenyum manis.

"Tidak ada."

"Aku hanya berkenalan dengan istrimu."

Nathan memandang Alana.

"Kita pulang."

Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam pergelangan tangan Alana dan membawanya menuju mobil.

Sepanjang perjalanan pulang...

Tak ada satu pun yang berbicara.

Hingga akhirnya Nathan memecah keheningan.

"Kalau Vanessa mengatakan sesuatu..."

"Jangan percaya."

Alana menoleh.

"Apa dia masih berarti untukmu?"

Nathan terdiam cukup lama.

"Lima tahun lalu mungkin."

"Sekarang?"

Nathan menatap lurus jalanan di depan.

"Tidak lagi."

Jawaban itu terdengar meyakinkan.

Namun Alana tidak tahu...

Di balik ketenangan wajah Nathan, ada rahasia besar yang belum siap ia ungkap.

Karena alasan sebenarnya ia memilih Alana sebagai istri kontrak...

bukan sekadar demi warisan.

Dan rahasia itu, jika sampai terbongkar, bisa menghancurkan hubungan mereka bahkan sebelum hari ke-365 tiba.

Bersambung ke Bab 4...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel