
Ringkasan
Demi melunasi utang peninggalan ayahnya dan membiayai pengobatan sang ibu, Alana Prameswari menerima tawaran yang tak masuk akal. Ia harus menikah dengan Nathan Adikara, CEO muda yang terkenal dingin dan sulit didekati. Pernikahan itu bukan karena cinta. Nathan hanya membutuhkan seorang istri selama 365 hari agar bisa memenuhi syarat wasiat kakeknya untuk mewarisi seluruh perusahaan keluarga. Sebagai imbalannya, Alana akan menerima uang yang cukup untuk mengubah hidup keluarganya. Mereka membuat tiga aturan sederhana: Jangan saling mencampuri urusan pribadi. Jangan membuka rahasia kontrak kepada siapa pun. Jangan pernah jatuh cinta. Hari demi hari, kebersamaan mereka perlahan mengikis tembok yang selama ini melindungi hati Nathan. Sementara Alana mulai melihat sisi lembut pria yang selama ini disalahpahami semua orang. Namun, tepat ketika cinta mulai tumbuh, mantan tunangan Nathan kembali dengan membawa rahasia yang dapat membatalkan warisan perusahaan. Di saat yang sama, Alana mengetahui bahwa alasan Nathan memilihnya sebagai istri kontrak ternyata bukanlah sebuah kebetulan. Saat hitungan menuju hari ke-365 semakin dekat, keduanya harus memilih. Menepati kontrak yang telah mereka sepakati... atau menghancurkan semua aturan demi mempertahankan cinta yang tak pernah mereka rencanakan. "Kontrak memiliki tanggal berakhir. Tapi bagaimana jika cinta justru dimulai saat waktunya habis?"
Bab 1 – Tawaran yang Mengubah Segalanya Hujan
turun sejak sore, membasahi jalanan kota hingga lampu-lampu kendaraan memantulkan cahaya yang berkilauan di atas aspal. Langit kelabu seolah menjadi cerminan hidup Alana Prameswari, yang saat ini terduduk di bangku lorong rumah sakit sambil menggenggam map berisi tagihan pengobatan.
Tangannya bergetar.
Tatapannya terpaku pada angka yang tertera di lembar terakhir.
Rp487.500.000
Napasnya tercekat.
Nominal itu terlalu besar. Bahkan jika ia bekerja siang dan malam selama bertahun-tahun, ia belum tentu mampu melunasinya.
Suara pintu ruang perawatan terbuka perlahan.
Seorang dokter paruh baya keluar sambil melepas masker.
"Saudari Alana?"
Alana segera berdiri.
"Iya, Dok."
"Kondisi ibu Anda sudah lebih stabil, tetapi beliau tetap membutuhkan operasi secepatnya. Kalau terus ditunda, risiko komplikasinya semakin besar."
Alana menundukkan kepala.
"Saya mengerti, Dok."
Dokter itu menghela napas.
"Kami juga memahami kondisi keluarga Anda. Namun rumah sakit memiliki prosedur."
"Saya akan mencari uangnya."
Dokter mengangguk pelan sebelum meninggalkannya.
Begitu dokter menghilang di ujung lorong, lutut Alana melemas.
Ia kembali duduk.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Sejak ayahnya meninggal enam bulan lalu karena kecelakaan kerja, hidup mereka berubah drastis.
Ayah meninggalkan utang perusahaan yang ternyata jauh lebih besar daripada yang diketahui keluarga.
Rumah hampir disita.
Tabungan habis.
Kini ibunya terbaring di rumah sakit.
Sedangkan dirinya...
Ia hanya seorang desainer interior junior dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membayar cicilan rumah.
"Maafkan Alana, Bu..."
Suara lirih itu tenggelam oleh hujan.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul membuat wajahnya langsung pucat.
Pak Bram.
Penagih utang.
Dengan tangan gemetar ia menerima panggilan.
"Halo..."
"Besok adalah batas terakhir."
Suara berat di seberang terdengar dingin.
"Pak... beri saya sedikit waktu lagi."
"Ayahmu sudah diberi waktu enam bulan."
"Saya benar-benar sedang berusaha."
"Bukan urusan saya."
Klik.
Telepon terputus.
Alana memejamkan mata.
Dadanya sesak.
Belum sempat ia mengatur napas, layar ponselnya kembali menyala.
Kali ini nomor yang tidak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya, tetapi entah mengapa memilih mengangkat.
"Selamat malam. Apakah saya sedang berbicara dengan Nona Alana Prameswari?"
"Iya."
"Saya Raka, asisten pribadi Tuan Nathan Adikara."
Alana mengernyit.
"Maaf... siapa?"
"Nathan Adikara."
Nama itu terdengar asing.
"Saya tidak mengenalnya."
"Tuan Nathan ingin bertemu Anda malam ini."
"Maaf, pasti Anda salah orang."
"Tidak."
Jawaban pria itu terdengar mantap.
"Kami memiliki data lengkap Anda."
Jantung Alana berdetak lebih cepat.
"Ada apa?"
"Itu akan dijelaskan langsung oleh Tuan Nathan."
"Saya tidak tertarik."
"Pertemuan ini berkaitan dengan utang keluarga Anda."
Kalimat itu membuat Alana membeku.
"Bagaimana Anda tahu?"
"Silakan datang ke Hotel Arunika, lantai dua puluh satu. Mobil kami akan menjemput Anda dalam lima belas menit."
Telepon langsung terputus.
Alana menatap layar ponselnya lama.
Siapa sebenarnya Nathan Adikara?
Bagaimana mungkin orang asing mengetahui keadaan keluarganya?
---
Empat puluh menit kemudian...
Mobil sedan hitam berhenti di depan hotel bintang lima.
Alana menelan ludah.
Sepanjang hidupnya, ia belum pernah menginjakkan kaki di tempat semewah ini.
Asisten yang tadi menelepon membukakan pintu.
"Silakan."
Lift membawa mereka menuju lantai paling atas.
Pintu terbuka.
Ruangan itu sangat luas.
Didominasi kaca tinggi yang memperlihatkan panorama kota di malam hari.
Di dekat jendela berdiri seorang pria mengenakan jas hitam.
Tubuh tinggi.
Bahu tegap.
Rambut hitam rapi.
Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya begitu dingin hingga membuat siapa pun enggan mendekat.
Tanpa menoleh, pria itu berkata,
"Duduk."
Nada suaranya datar.
Alana menggenggam tas erat.
"Maaf... Anda Tuan Nathan?"
Pria itu akhirnya berbalik.
Tatapan matanya tajam.
"Iya."
Untuk beberapa detik, ruangan dipenuhi keheningan.
Nathan mempersilakan asistennya keluar.
Kini hanya mereka berdua.
"Apa Anda tahu mengapa saya mengundang Anda?"
Alana menggeleng.
"Tidak."
Nathan berjalan mendekat.
Kemudian meletakkan sebuah map di atas meja.
"Buka."
Dengan ragu Alana membuka map itu.
Matanya membelalak.
Di dalamnya terdapat seluruh data keluarganya.
Tagihan rumah sakit.
Utang ayahnya.
Riwayat pekerjaannya.
Bahkan salinan kartu identitasnya.
"Apa maksud semua ini?"
Nathan tetap tenang.
"Saya selalu mencari tahu orang sebelum mengajaknya bekerja sama."
"Bekerja sama?"
Nathan duduk.
"Langsung saja."
Ia menyandarkan tubuh ke kursi.
"Saya akan melunasi seluruh utang keluarga Anda."
Alana terdiam.
"Termasuk biaya operasi ibu Anda."
Tangannya semakin gemetar.
"Apa..."
Nathan melanjutkan,
"Saya juga akan memberi Anda uang lima miliar rupiah."
Alana merasa seperti salah dengar.
"Lima... miliar?"
Nathan mengangguk.
"Sebagai imbalannya..."
Ia mengeluarkan sebuah dokumen lain.
Sampulnya bertuliskan:
PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK
Alana membeku.
"Apa ini?"
Nathan menatapnya lurus.
"Menikahlah dengan saya."
Ruangan terasa sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar samar dari balik kaca.
Alana menatap pria itu tak percaya.
"Anda sedang bercanda?"
"Tidak."
"Kenapa saya?"
"Itu bukan pertanyaan yang perlu Anda ketahui sekarang."
"Saya bahkan tidak mengenal Anda."
"Itu tidak penting."
Alana berdiri.
"Maaf. Saya tidak akan menjual hidup saya."
Ia berbalik hendak pergi.
Namun Nathan berkata pelan,
"Kalau Anda keluar dari ruangan ini..."
Langkah Alana berhenti.
"...siapa yang akan membayar operasi ibu Anda?"
Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hatinya.
Perlahan ia memejamkan mata.
Nathan kembali berbicara.
"Kontrak hanya berlangsung selama tiga ratus enam puluh lima hari."
"Tidak akan ada hubungan suami istri jika Anda tidak menginginkannya."
"Setelah satu tahun..."
"Kita bercerai."
Alana menoleh.
"Kenapa Anda membutuhkan istri kontrak?"
Nathan terdiam beberapa saat.
"Lelaki seusia saya harus menikah untuk memenuhi syarat wasiat kakek saya."
"Itu saja?"
"Itu saja."
Alana merasa ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.
Tatapan Nathan terlalu tenang.
Seolah-olah semua ini sudah ia rencanakan sejak lama.
"Apa saya boleh memikirkannya?"
"Tentu."
Nathan mendorong map kontrak ke arahnya.
"Besok pukul sepuluh pagi."
"Itu batas waktunya."
"Jika Anda datang..."
"Kita menikah."
"Jika tidak..."
"Saya akan menganggap Anda menolak."
Alana menggigit bibir.
Ia membawa map itu keluar ruangan.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau.
Menikah dengan pria asing?
Selama satu tahun?
Mustahil.
Namun bayangan wajah ibunya di rumah sakit terus menghantuinya.
Malam itu, Alana duduk sendirian di kamar.
Di hadapannya terbentang dua pilihan.
Menolak tawaran Nathan...
dan kehilangan kesempatan menyelamatkan ibunya.
Atau...
menerima pernikahan yang bahkan tidak pernah ia impikan.
Perlahan ia membuka halaman terakhir kontrak.
Di sana tertulis satu kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
> "Selama masa kontrak, kedua belah pihak dilarang saling jatuh cinta."
Alana tersenyum pahit.
"Mana mungkin..."
Ia menutup map itu.
Namun ia tidak menyadari...
Di tempat lain, Nathan berdiri di depan jendela kantornya sambil memandangi foto lama yang selama ini ia simpan rapat.
Di foto itu terdapat seorang gadis remaja yang tersenyum cerah.
Gadis itu...
adalah Alana.
Nathan menggenggam foto tersebut erat.
"Maaf, Alana."
"Untuk kali ini..."
"Aku terpaksa menyeretmu masuk ke dalam hidupku."
Bersambung...
