Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 – Satu Atap, Dua Dunia

Hujan masih turun ketika mobil Nathan memasuki halaman mansion keluarga Wijaya. Lampu-lampu taman memantulkan kilauan di atas jalan berbatu, sementara Alana menatap keluar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dibanding saat mereka berangkat.

Ucapan Nenek Margaret terus terngiang di kepalanya.

"Mulai malam ini kalian tidur sekamar."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Alana, itu adalah awal dari masalah baru.

Nathan mematikan mesin mobil.

"Kita sudah sampai."

Alana mengangguk pelan.

Mereka turun bersamaan. Beberapa pelayan langsung membuka pintu utama dan membungkuk hormat.

"Selamat malam, Tuan Nathan. Nyonya Alana."

Sapaan "Nyonya Alana" masih terdengar asing di telinga gadis itu.

Nathan berjalan lebih dulu tanpa menoleh.

"Ayo."

Alana mengekor sambil menggenggam tas kecilnya erat.

Begitu memasuki rumah, mereka kembali bertemu Nenek Margaret yang rupanya sengaja menunggu di ruang keluarga.

"Wah, pasangan pengantin baru akhirnya pulang."

Nathan tersenyum tipis.

"Nenek belum tidur?"

"Aku ingin memastikan cucuku benar-benar mengantar istrinya masuk kamar."

Alana hampir tersedak ludah.

Nathan menghela napas pelan.

"Nenek..."

"Jangan membantah. Aku sudah menyuruh pelayan memindahkan semua barang Alana ke kamar utama."

Mata Nathan membelalak.

"Secepat itu?"

"Tentu."

Nenek Margaret tersenyum penuh kemenangan.

"Aku tidak ingin ada alasan."

Beliau kemudian berdiri dan menggenggam tangan Alana.

"Kalau Nathan mengganggumu, laporkan padaku."

Alana tertawa canggung.

"Baik, Nek."

"Dan Nathan..."

"Iya?"

"Kalau sampai istrimu menangis, kartu kreditmu akan kublokir."

Nathan mengusap wajahnya frustasi.

"Nenek mengancam lagi."

"Itu bukan ancaman. Itu janji."

Beliau terkekeh sebelum akhirnya berjalan menuju kamarnya.

Suasana kembali sunyi.

Nathan mengembuskan napas panjang.

"Ayo."

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua.

Setiap langkah membuat jantung Alana berdegup semakin cepat.

Saat pintu kamar utama dibuka, Alana langsung terpana.

Ruangan itu jauh lebih besar daripada apartemennya.

Tempat tidur king size berada di tengah ruangan dengan sprei putih bersih.

Di sisi kanan terdapat sofa panjang menghadap perapian modern.

Dinding kaca memperlihatkan taman belakang yang diterangi lampu-lampu kecil.

Lemari pakaian memenuhi satu sisi ruangan.

Sementara beberapa koper miliknya sudah tersusun rapi di dekat walk-in closet.

"Pelayan benar-benar bekerja cepat."

Nathan meletakkan jasnya di kursi.

Alana berdiri kikuk di dekat pintu.

"Apa... aku benar-benar harus tidur di sini?"

Nathan menoleh.

"Aku juga tidak punya pilihan."

Ia membuka lemari lalu mengambil selimut tambahan.

"Kau tidur di ranjang."

"Lalu Anda?"

"Aku di sofa."

Alana langsung menggeleng.

"Tidak."

Nathan mengernyit.

"Kenapa?"

"Sofanya sempit."

"Lalu?"

"Kita bisa... berbagi ranjang."

Nathan membeku.

Alana baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan.

"W-wait! Maksudku..."

Wajahnya langsung memerah.

"Aku bukan bermaksud seperti itu!"

Nathan hampir tertawa.

"Aku tahu."

Ia berjalan mendekat.

"Ranjang ini cukup besar untuk empat orang."

Alana mundur satu langkah.

"Kita buat batas."

"Batas?"

Nathan mengambil beberapa bantal lalu menyusunnya di tengah ranjang.

"Nih."

Alana menatap deretan bantal yang membelah tempat tidur menjadi dua wilayah.

Nathan tersenyum tipis.

"Tembok Besar China versi kasur."

Alana tak bisa menahan tawanya.

"Lucu juga."

"Kalau kau melewati batas..."

Alana langsung gugup.

Nathan melanjutkan kalimatnya dengan wajah datar.

"...kau harus membayar denda."

"Hah?"

"Satu gelas kopi buatku."

Alana memukul pelan lengannya.

"Kirain apa."

Nathan tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, suasana di antara mereka terasa sedikit lebih ringan.

---

Setelah berganti pakaian, Alana keluar dari kamar mandi dengan piyama berwarna krem.

Nathan yang sedang membaca laptop sempat terdiam.

Ia buru-buru mengalihkan pandangan.

"Sudah selesai?"

"Iya."

Nathan berdiri.

"Giliranku."

Beberapa menit kemudian, pria itu keluar mengenakan kaus hitam polos dan celana training.

Penampilannya jauh berbeda dari sosok CEO yang selalu memakai jas.

Terlihat lebih santai.

Lebih muda.

Dan... jauh lebih tampan.

Alana langsung memalingkan wajah ketika sadar dirinya terlalu lama memperhatikan.

Nathan mematikan lampu utama.

Hanya lampu tidur yang masih menyala.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Mereka berbaring membelakangi satu sama lain.

Ruangan menjadi sunyi.

Namun lima menit...

Sepuluh menit...

Tak satu pun bisa tidur.

Nathan akhirnya membuka suara.

"Masih bangun?"

"Iya."

"Gugup?"

"Sedikit."

Nathan tersenyum tipis.

"Aku juga."

Alana menoleh kaget.

"Serius?"

Nathan mengangguk.

"Ini pertama kalinya aku tidur sekamar dengan perempuan."

Alana membelalak.

"Saya kira..."

Nathan memotong.

"Apa?"

"Anda sudah sering."

Nathan tertawa pelan.

"Rumor memang lebih cepat menyebar daripada fakta."

Alana tersenyum kecil.

Malam itu, tanpa mereka sadari, percakapan sederhana mulai mengikis jarak yang selama ini membatasi keduanya.

---

Keesokan paginya...

Jam menunjukkan pukul enam.

Nathan terbangun lebih dulu.

Saat membuka mata, ia mendapati pemandangan yang membuatnya terdiam.

Alana ternyata berpindah posisi saat tidur.

Deretan bantal pembatas sudah berantakan.

Kepala gadis itu kini berada sangat dekat dengannya.

Satu tangannya bahkan memegang lengan Nathan seperti memeluk boneka.

Nathan membeku.

"Alana..."

Tak ada jawaban.

Ia mencoba menarik lengannya perlahan.

Namun justru Alana memeluknya lebih erat.

Nathan menghela napas.

"Astaga..."

Saat itu juga pintu kamar diketuk.

Tok... tok...

"Tuan muda?"

Suara pelayan.

Nathan panik.

"Iya?"

"Boleh saya masuk?"

"Jangan!"

Terlambat.

Pintu sudah terbuka.

Pelayan itu langsung menutup mulutnya melihat posisi mereka.

"Wah..."

Nathan buru-buru melepaskan pelukan Alana.

"Bukan seperti yang kau pikirkan."

Pelayan itu tersenyum lebar.

"Saya mengerti."

"Tidak. Kau tidak mengerti."

Pelayan itu buru-buru keluar.

"Lanjutkan saja, Tuan."

Pintu kembali tertutup.

Nathan memijat pelipisnya.

"Habis sudah."

---

Setengah jam kemudian.

Saat sarapan.

Semua pelayan tampak tersenyum aneh kepada mereka.

Alana merasa bingung.

"Ada apa?"

Nathan hanya diam.

Tak lama kemudian Nenek Margaret datang sambil tersenyum sangat lebar.

"Wah..."

Nathan langsung curiga.

"Nenek sudah dengar?"

"Tentu."

Nathan menatap pelayan yang tadi masuk kamar.

"Kau..."

Pelayan itu langsung menunduk.

"Maaf, Tuan."

Nenek Margaret tertawa.

"Kalian benar-benar pasangan yang manis."

Alana semakin bingung.

"Ada apa sebenarnya?"

Nathan menghela napas pasrah.

"Tadi pagi..."

Setelah mendengar cerita lengkapnya, wajah Alana berubah merah seperti tomat.

"Apa?!"

Ia langsung menutup wajah.

"Saya benar-benar memeluk Anda?"

Nathan mengangguk.

"Sepertinya."

Alana ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

Nenek Margaret tertawa sampai mengusap air mata.

"Kalau begini, mungkin aku akan segera punya cicit."

"Nenek!"

Nathan dan Alana berseru bersamaan.

Mereka saling berpandangan.

Lalu sama-sama tertawa.

Tanpa disadari, tawa itu terasa jauh lebih tulus dibanding hari-hari sebelumnya.

Namun, kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.

Di luar pagar mansion, sebuah mobil hitam berhenti.

Seorang wanita berpenampilan elegan turun sambil melepas kacamata hitamnya.

Tatapannya dingin mengarah ke rumah keluarga Wijaya.

Ia menggenggam sebuah foto Nathan.

"Lima tahun aku menunggu..."

Suara wanita itu lirih namun penuh tekad.

"Dan sekarang kau malah menikah dengan perempuan lain?"

Senyumnya perlahan berubah menjadi seringai.

"Kalau begitu... aku akan merebutmu kembali."

Ia melangkah menuju gerbang mansion.

Sementara di dalam rumah, Nathan dan Alana sama sekali belum menyadari bahwa badai baru telah datang.

Bersambung ke Bab 6 – Mantan yang Datang Membawa Kekacauan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel