Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 — Tanda Tangan yang Mengubah Segalanya

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai apartemen sederhana milik Alana. Namun, kehangatan pagi tidak mampu mengusir kegelisahan yang memenuhi dadanya. Hampir semalaman ia tidak memejamkan mata. Setiap kali mengingat dokumen kontrak yang kini tersimpan di dalam tasnya, jantungnya kembali berdegup tidak beraturan.

Ia memandang ibunya yang masih tertidur di kamar. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih tenang setelah semalam meminum obat. Alana tersenyum tipis, lalu menarik selimut agar menutupi tubuh ibunya dengan lebih rapi.

"Maafkan Alana, Bu," bisiknya pelan. "Kalau ini satu-satunya cara supaya Ibu bisa sembuh, Alana akan melakukannya."

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Nathan Adikara.

"Mobil sudah menunggu di depan apartemen. Lima menit."

Tak ada sapaan. Tak ada basa-basi.

Begitulah Nathan.

Dingin.

Singkat.

Dan selalu terdengar seperti perintah.

Alana menarik napas panjang, mengenakan blazer krem yang paling rapi yang ia miliki, lalu berpamitan kepada ibunya yang masih tertidur. Ia tidak tega membangunkan sang ibu hanya untuk mengatakan bahwa hari ini hidupnya akan berubah selamanya.

---

Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gedung apartemen.

Sopir berseragam membuka pintu.

"Silakan, Nona Alana."

Begitu masuk, ia melihat Nathan sudah duduk di kursi belakang. Pria itu sedang membaca laporan di tablet tanpa mengangkat kepala.

"Pagi."

"Hm."

Hanya itu jawaban Nathan.

Suasana kembali sunyi.

Selama perjalanan hampir empat puluh menit, tidak ada percakapan sedikit pun. Alana beberapa kali ingin membuka pembicaraan, tetapi tatapan Nathan yang tetap fokus pada pekerjaannya membuatnya mengurungkan niat.

Baru ketika mobil memasuki kawasan elit di pusat kota, Nathan menutup tabletnya.

"Hari ini kita akan ke kantor notaris."

Alana mengangguk.

"Setelah itu?"

"Kita menikah."

Jawaban itu membuat Alana terdiam.

Sesederhana itu.

Seolah pernikahan hanyalah salah satu agenda rapat.

Nathan melirik sekilas.

"Masih ingin mundur?"

Alana menggenggam ujung tasnya.

"Aku sudah mengambil keputusan."

"Bagus."

Nathan kembali memandang ke luar jendela.

---

Kantor notaris yang mereka datangi tampak megah dan elegan.

Di ruang rapat kecil, seorang notaris berusia sekitar lima puluh tahun telah menunggu bersama dua saksi.

"Selamat pagi, Tuan Nathan. Nona Alana."

Nathan duduk lebih dulu.

Alana mengikuti.

Dokumen setebal hampir lima puluh halaman diletakkan di hadapan mereka.

"Silakan dibaca kembali sebelum ditandatangani."

Alana membuka halaman pertama.

Matanya berhenti pada tulisan besar di bagian atas.

PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK

Tangannya mulai berkeringat.

Ia membaca setiap pasal sekali lagi.

Selama tiga ratus enam puluh lima hari mereka akan hidup sebagai suami istri.

Tidak boleh membocorkan isi kontrak.

Tidak boleh menuntut harta.

Tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi di luar kesepakatan.

Dan setelah satu tahun...

Perceraian.

Nathan memperhatikan Alana.

"Kalau ada yang ingin ditanyakan, sekarang."

Alana menggeleng.

"Tidak."

Notaris tersenyum ramah.

"Kalau begitu, silakan tanda tangan."

Nathan mengambil pena lebih dulu.

Tanpa ragu sedikit pun, ia membubuhkan tanda tangannya.

Selesai.

Kini giliran Alana.

Tangannya gemetar.

Ia memandang tanda tangan Nathan.

Lalu memejamkan mata selama beberapa detik.

Demi Ibu.

Goresan pena akhirnya memenuhi kolom namanya.

Dalam hitungan detik...

Nasib mereka resmi terikat.

---

Setelah semua dokumen selesai, Nathan berdiri.

"Ayo."

"Hanya begitu?"

Nathan mengangguk.

"Kontrak selesai. Sekarang akad."

Alana benar-benar merasa sedang bermimpi.

---

Prosesi pernikahan berlangsung di sebuah rumah pribadi milik keluarga Adikara.

Sederhana.

Hanya dihadiri notaris, penghulu, dua saksi, pengacara keluarga, dan beberapa orang kepercayaan Nathan.

Tidak ada dekorasi mewah.

Tidak ada musik.

Tidak ada senyum bahagia.

Semuanya berlangsung seperti sebuah urusan bisnis.

Ketika ijab kabul selesai diucapkan dengan lantang oleh Nathan, suasana mendadak sunyi.

Penghulu tersenyum.

"Sah."

Satu kata itu membuat Alana sulit bernapas.

Kini ia benar-benar menjadi istri Nathan Adikara.

Meskipun hanya di atas kontrak.

Nathan menoleh.

"Selamat."

Alana tersenyum tipis.

"Selamat juga."

Tak ada pelukan.

Tak ada genggaman tangan.

Tak ada kebahagiaan yang biasa terlihat dalam sebuah pernikahan.

Hanya dua orang asing yang kini resmi menjadi suami istri.

---

Begitu acara selesai, sebuah mobil kembali mengantar mereka.

"Bukan ke apartemen?" tanya Alana saat menyadari arah kendaraan berbeda.

"Kita ke rumah."

"Rumah?"

"Mulai hari ini kau tinggal bersamaku."

"Tapi barang-barangku..."

"Nanti ada orang yang mengambilnya."

Nada Nathan tetap datar.

Alana menghela napas.

Ia baru menyadari bahwa hidupnya benar-benar tidak lagi sama.

---

Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah.

Gerbang besi terbuka perlahan.

Taman luas dengan air mancur menyambut mereka.

Alana terpana.

Rumah itu lebih menyerupai hotel bintang lima daripada rumah tinggal.

Pelayan berjajar di pintu masuk.

"Selamat datang, Tuan Nathan."

Nathan turun lebih dulu.

"Ini Alana."

Semua pelayan langsung membungkuk.

"Selamat datang, Nyonya."

Alana merasa canggung.

Belum pernah seumur hidup ada orang memanggilnya seperti itu.

Nathan berjalan masuk tanpa menoleh.

"Ikut."

---

Di lantai dua, Nathan membuka salah satu pintu.

"Kamar ini milikmu."

Alana masuk.

Ruangan itu sangat luas.

Tempat tidur king size.

Lemari pakaian besar.

Balkon menghadap taman.

Bahkan kamar mandinya lebih besar daripada kamar apartemennya.

"Ini..."

"Kurang?"

Alana cepat menggeleng.

"Tidak."

Nathan menyerahkan sebuah kartu.

"Gunakan ini."

Alana melihat sebuah kartu kredit hitam.

"Aku tidak bisa menerimanya."

"Itu kebutuhanmu."

"Tapi..."

"Batasnya tidak terbatas."

Alana langsung mengembalikan kartu itu.

"Aku tidak menikahimu karena uang."

Nathan menatapnya beberapa saat.

Tatapan itu untuk pertama kalinya berubah.

Bukan dingin.

Melainkan penasaran.

"Aneh."

"Maksudmu?"

"Kebanyakan wanita akan senang."

"Aku bukan kebanyakan wanita."

Nathan mengambil kembali kartu tersebut.

"Kalau berubah pikiran, bilang."

Lalu ia keluar.

Meninggalkan Alana sendirian.

---

Sore harinya, seorang wanita paruh baya masuk membawa koper.

"Perkenalkan, saya Bu Rina. Kepala pelayan."

Beliau tersenyum hangat.

"Selamat datang, Nyonya."

"Terima kasih."

"Maaf kalau Tuan Nathan terlihat dingin."

Alana tersenyum kecil.

"Semua orang bilang begitu."

"Padahal sebenarnya beliau tidak seburuk yang terlihat."

Alana hanya mengangguk.

Entahlah.

Ia baru mengenal Nathan dua hari.

Masih terlalu dini untuk menilai pria itu.

---

Malam menjelang.

Nathan belum pulang dari kantor.

Alana duduk sendirian di balkon sambil memandang langit.

Angin malam berembus lembut.

Ia membuka galeri ponsel.

Foto dirinya bersama sang ibu memenuhi layar.

Air matanya hampir jatuh.

"Tahan."

Ia mengusap cepat sudut matanya.

"Semua ini akan selesai dalam satu tahun."

Namun jauh di lubuk hatinya...

Ia mulai bertanya.

Benarkah hubungan seperti ini bisa berakhir tanpa meninggalkan luka?

---

Pukul sembilan malam.

Suara mobil memasuki halaman.

Nathan pulang.

Pria itu langsung menuju ruang makan.

Melihat Alana sedang duduk membaca buku.

"Kau belum tidur?"

"Aku menunggumu."

Nathan berhenti melangkah.

"Menungguku?"

"Kita sekarang tinggal serumah. Kupikir... makan malam bersama bukan ide yang buruk."

Nathan memandang meja makan.

Masih tersaji makanan hangat.

Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada seseorang yang menunggunya pulang.

Tanpa berkata apa pun, Nathan menarik kursi dan duduk.

Mereka makan dalam diam.

Namun untuk pertama kalinya...

Kesunyian itu tidak terasa canggung.

---

Saat Alana hendak kembali ke kamarnya, Nathan memanggil.

"Alana."

Ia menoleh.

"Besok malam ada acara keluarga."

Alana mengangguk.

"Lalu?"

Nathan mengembuskan napas pelan.

"Mulai besok... semua orang akan tahu kau istriku."

Jantung Alana kembali berdegup kencang.

Ia belum siap menghadapi keluarga besar Nathan.

Apalagi jika mereka mengetahui latar belakangnya yang sederhana.

Di sisi lain, Nathan memandang punggung Alana yang perlahan menjauh.

Entah mengapa...

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, rumah besar itu tidak lagi terasa begitu kosong.

Sementara di sudut lain kota, sepasang mata sedang menatap foto pernikahan sederhana Nathan yang baru saja dikirim seseorang melalui ponsel.

Wanita itu mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.

"Jadi... kau benar-benar menikah, Nathan."

Senyumnya perlahan berubah menjadi seringai.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu..."

"Perempuan itu juga tidak akan bisa."

Bersambung ke Bab 3...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel