Alko Hotel (4)
Bab 6. Alko Hotel (4)
Ning Nong!!!! Bunyi bel pintu kamar Alko.
"Ahhhh!!!" Alko mendesah. Dia kembali meregangkan otot-ototnya, menyibak selimut dari tubuhnya, lalu berdiri sambil mengurut pelipisnya. Dia berjalan sedikit sempoyongan ke arah pintu.
Ceklek!
Alko membuka pintu kamarnya. Raut wajahnya tampak kusam karena efek samping alkohol. Rambutnya juga acak-acakan. Kemeja yang melekat di tubuhnya tampak kusut. Matanya kini memicing karena rasa pusing.
Dyta sedang berdiri di hadapannya. Gadis itu sudah rapi dan tampak segar dengan seragam kerja yang dikenakannya lengkap dengan ikatan berbentuk pita di krah bajunya. Gadis itu mengenakan rok berwarna abu-abu.
"Selamat pagi, Tuan Krisna Alko. Bagaimana kabar Tuan pagi ini?" ucap Dyta tersenyum ramah sambil memperlihatkan giginya yang putih bersih.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat baik-baik saja?" Alko balik bertanya dengan tatapan sinis.
Dyta tersenyum.
"Saya bawakan sarapan untuk Anda, Tuan!" ucap Dyta sambil membawa sebuah bungkusan yang dipegang oleh tangan kanannya.
Sementara tangan kiri Dyta sedang membawa satu set jas dan pakaian untuk Alko . Pakaian itu masih terbungkus dengan plastik. Dyta memang selalu siaga dengan semua kebutuhan Alko.
"Apa kamu tidak ada kunci sehingga harus menekan bel berulang kali?" wajah Alko tampak semakin kesal.
"Maaf, Tuan. Saya takut mengganggu privasi Anda," ucap Dyta sambil menunduk dan menurunkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Kamu seperti sedang menginstruksiku untuk bangun dan membukakan pintu untukmu pada saat aku sedang kayak gini!!! Sadarkah kamu dengan semua yang kamu lakukan?"
"Maaf, Tuan. Saya yang salah." Dyta semakin menunduk dan mengerucutkan wajahnya.
"Sekarang masuk!"
"Hah?"
"Memang kamu mau berdiri di situ terus?"
"Iya, Tuan!!" masih sambil menunduk, Dyta segera masuk melewati Alko dengan ragu-ragu.
Alko segera menutup pintu dan membalikkan badannya menatap Dyta yang menaruh jas di gantungan lemari.
"Mengapa semalam kamu kabur?"
"Apa?"
Alko tersenyum sinis lalu mendekati Dyta.
Dyta masih terdiam dengan posisinya. Gadis itu menatap Alko yang semakin mendekat.
Selama lima tahun bekerja dengan Alko, Dyta belum pernah merasa secanggung dan setakut itu kepada Alko.
Alko mendekatinya dengan mata yang tampak sayu. Alko terus maju dan mendekati tubuh Dyta. Matanya sangat lekat menatap tajam Dyta. Dyta mundur beberapa langkah, merasa ngeri dengan tatapan Alko.
Namun, Alko semakin maju dan Dyta juga semakin mengerutkan wajah.
"I..., ini sarapan untuk Anda, Tuan." Dyta mengangkat bungkusan yang ada di tangannya. Dyta membuat bungkusan itu tepat menyusup di antara wajahnya dan wajah Alko.
Kini pandangan Alko terhalangi oleh bungkusan dengan kertas putih itu. Dyta masih mengeryitkan keningnya. Tapi, akhirnya Alko mengalah dan memilih melangkah mundur. Alko kembali memijit pelipisnya.
Kembali Dyta menghela nafas lega. Gadis itu segera menyerahkan sarapan yang ada di tangannya.
Alko kembali duduk di tempat tidur sambil menyandarkan punggung dan kepalanya yang masih terasa pening.
Dyta mendekat dengan sarapan yang ada di tangannya.
Alko masih tampak meringis dan memijit kepalanya.
"Ini Tuan, silakan dimakan!" Dyta memberikan penawaran.
Alko mengangkat wajahnya. Tatapannya tampak datar. Dia mengambil air putih yang disuguhkan Dyta.
Alko meminum air putih tersebut dan menyerahkan gelasnya kembali pada Dyta.
Perlahan, Dyta duduk di pinggir tempat tidur. Dyta memperhatikan Alko yang tampak menderita dan tersiksa. Dyta sebenarnya juga merasa bersalah dengan ulahnya yang sudah membuat Alko jadi mabuk. Alis Dyta melengkung, dia mengangkat mangkuk yang berisi sarapan untuk Alko.
"Silakan dimakan dulu, Tuan! Ini akan bisa mengurangi rasa pusingnya, Tuan!"
Alko mengangkat wajahnya dan menatap datar ke arah Dyta. Laki-laki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Alko hanya menatapnya terus dan terus. Membuat Dyta semakin tersudut dengan tatapan itu.
Dengan berkedip beberapa kali, Dyta menyendok makanan itu, bermaksud untuk menyuapi Alko.
Jarak sendok yang berisi makanan itu sudah sangat dekat dengan mulut Alko. Namun, dia masih terdiam dan terus menatap Dyta.
"Ayo makan, Tuan!" Dyta membujuknya seperti membujuk anak kecil.
Alko masih belum merubah raut wajahnya, tetapi dia langsung membuka mulutnya.
Dyta akhirnya tersenyum dan segera menyuapi Alko.
Alko sudah menelan satu sendok suapan pertama.
"Kenapa semalam kamu harus lari? Apa benar kamu memang membenciku?"
Dyta seketika menghentikan gerakannya untuk mengaduk sarapan Alko. Tatapan Dyta tampak kosong menuju ke arah mangkuk yang dipegangnya.
Alko terdiam menunggu jawaban yang diberikan Dyta Stevaniya.
"Apa sekarang kamu sudah bisu?"
Dyta tersenyum, lalu memandang Alko.
"Sebaiknya Anda menghabiskan sarapan dulu, Tuan Krisna Alko, baru setelah itu kita bahas pertanyaan Tuan tadi. Kata orang tua dulu, tidak baik makan sambil berbicara."
"Ck!" Alko berdecak kemudian menghela nafas panjang.
"Kamu memang pintar! Selalu punya cara untuk menghindar."
"Lagi, Tuan!" Dyta kembali menyodorkan suapan agar Alko berhenti berbicara.
Setephen melirik sendok yang disodorkan Dyta dengan kesal. Matanya kembali menatap Dyta Stevaniya. Tapi Dyta tersenyum dan kembali memajukan sendok yang berisi suapan kesekian itu. Kembali Alko membuang nafas kesal dan menerima suapan Dyta dengan cepat, tetapi disertai tatapan malas.
Dyta tersenyum kecil penuh kemenangan.
Alko sudah menghabiskan sarapan pagi kemudian dia pergi mandi. Dyta kembali merapikan tempat itu. Dyta menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Alko hari itu.
Semuanya sudah lengkap. Sebuah kemeja berwarna abu-abu dan celana berwarna biru tua. Tak lupa dengan dasinya pula.
Dyta sudah menatanya dengan rapi di atas tempat tidur. Parfum yang eksklusif juga sudah disemprotkan pada beberapa titik di pakaian Setephen.
Dyta menghirup sejenak bau wangi parfum yang seketika menguar memenuhi ruangan.
Dyta tersenyum manis dengan hasil pekerjaan ketika Alko keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya. Alko keluar dari kamar mandi masih dengan telanjang dada.
"Kamu sudah menyiapkan pakaianku?"
Dyta memalingkan wajahnya untuk menatap Alko.
Dyta menelan salivanya, lalu berkedip cepat. Alko terlihat begitu sempurna dengan garis-garis ototnya yang menonjol. Tubuh bagian atas Alko masih sedikit basah dengan air. Kulit Alko juga mulus tanpa ada cacat dan cela. Dadanya juga terlihat bidang dan kekar. Dengan rambutnya yang masih basah, membuat tampang Alko begitu segar. Wangi fresh dari aroma sabun dan sampo seketika masuk ke hidung Dyta. Dyta tertegun menatap sosok laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya itu. Seorang laki-laki tampan yang memang sangat sempurna sebagai lelaki.
OMG, kenapa dia tampak sangat bersinar? Kenapa kesempatan semalam harus aku lewatkan? Batin Dyta yang masih terus menatap ke arah Alko. Bahkan mulut Dyta masih tetap terbuka, la takjub dengan pesona Alko.
"Dyta?" Alko memanggilnya.
