Benar-benar Marah
Bab 7. Benar-benar Marah
"Dyta?"
Dyta masih terdiam termangu.
"Kenapa kamu memperhatikan aku seperti itu?" Alko tersenyum lalu melangkah perlahan mendekati Dyta.
Dyta masih tetap dengan posisi diamnya. Alko semakin mendekat.
"Apa kita mesti ke kantor hari ini?" Alko melingkarkan tangannya di pinggang Dyta yang ramping.
Tatapan Alko sangat tajam dan menggoda.
Alko memberikan sedikit remasan di pinggang Dyta Stevaniya. Laki-laki itu menarik Dyta agar semakin menempel dalam dekapannya.
Dyta hanya bisa diam sambil mengedipkan matanya. Alko menerbitkan senyuman kemudian memajukan wajahnya. Pertahanan diri Dyta hampir saja goyah seandainya dia tidak mendengar sesuatu.
Kring! Kring!
Ternyata ponsel Dyta berbunyi.
"A..., ada telepon, Tuan?" Dyta bersuara.
"Biarkan saja!" Setephen terus mendekatkan wajahnya.
"Tapi bunyi telepon itu menunjukkan nada penting untuk panggilan khusus, Tuan?"
"Ya sudah, kamu angkat!" Alko membuang nafas kesal dan melepaskan pinggang Dyta.
"Syukurlah, bisa selamat," ucap Dyta di dalam hati.
Dyta segera membalikkan badan dan menerima telepon dari kliennya Alko.
Alko mendekat ke arah tempat tidur dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Dyta.
"Apa? Mengeluarkan produk yang sama? Bagaimana bisa? Apa mungkin ada kebocoran data? Baiklah, akan saya sampaikan pada bos saya." Wajah Dyta seketika berubah cemas setelah menerima kabar tersebut. Dia segera membalikkan badannya ke arah Alko.
"Tuan Alko! Ada ma...., masalah" Dyta berkata sambil menutup wajahnya.
Alko berkacak pinggang. Kancing kemeja bagian atasnya sebagian masih terbuka. Namun, celananya sudah tertutup semua. Alko juga sudah mengenakan ikat pinggangnya.
"Kenapa denganmu?" tanya Alko malas.
Dyta kemudian membuka matanya.
"Apa Tuan baru saja mengenakan pakaian Tuan yang saya taruh di sini?"
"Memangnya kenapa?" jawab Alko cuek.
"Tadi kamu sedang teleponan di kamarku. Apa ada yang salah dengan semua itu sekretaris Dyta?"
"Ti..., tidak Tuan. Maaf Tuan, saya hanya khawatir saja. Saya kira...."
"Menurutmu kenapa?"
"Ti..., tidak ada apa-apa, Pak."
"Ada masalah apa?" tanya Alko serius sambil mengancingkan kerah bajunya.
Dyta dengan sigap segera maju dan mengambil dasi yang diletakkannya di samping jas. Dyta kemudian mengalungkan dasi itu ke leher Alko dan memasangkannya dengan serius.
"Itu tadi telepon dari sekretaris Jack, Tuan. Katanya ada yang menduplikasi produk dari perusahaan kita."
Selesai memasangkan dasi Alko, Dyta segera bergerak untuk mengambil jas sambil melanjutkan penjelasan yang diberikannya kepada Alko. Setephen kemudian membalikkan tubuhnya, menyambut jas yang sudah dibuka Dyta.
"Segera kamu siapkan meeting dengan seluruh tim yang terkait dengan masalah tadi!" titah Setephen dengan nada serius.
"Siap, Tuan!"
Dyta segera menyiapkan keperluan yang lain dan mengikuti Alko dari belakang.
Mereka kemudian naik lift bersama. Suasana tiba-tiba juga menjadi hening. Sikap Alko kembali dingin dan serius seperti biasanya. Alko tampak profesional dan begitu berwibawa. Kali ini dia tidak membahas masalah yang ada di luar perusahaan.
Dyta terdiam dan hanya bisa menatap Alko dari samping. Bagaimana bisa Alko berubah dengan sangat cepat. Saat itu Alko berubah sangat tenang dan dingin. Sementara semalam dan beberapa menit sebelumnya hampir membuat jantung Dyta menjadi copot.
"Sekretaris Dyta, daripada kamu terus menatapku seperti itu, lebih baik kamu melakukan tindakan selanjutnya untuk kasus ini. Atau mungkin masih ada yang ingin kamu tanyakan? Apakah kamu sudah mengatur meeting yang aku perintahkan tadi? Dari tadi aku tidak mendengar kamu melakukan panggilan telepon. Aku ingin mereka semua sudah siap di ruangan meeting ketika aku tiba nanti."
Dyta menarik nafasnya karena terkejut. Seketika Dyta merasa tertampar oleh kalimat yang baru saja diungkapkan Alko.
"Maaf, Tuan! Akan segera saya atur," ucap Dyta yang langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya. Karena terburu-buru, Dyta hampir saja menjatuhkan ponselnya.
Alko melirik singkat ke arah Dyta. Laki-laki itu menghembuskan nafas singkatnya dan kembali menatap ke depan. Kembali tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, kemudian berjalan ke arah mobil.
***
Alko duduk di belakang dan tengah serius dengan tablet yang ada di tangannya. Sementara Dyta tengah duduk di kursi kemudi. Dyta sambil menyetir mobil terus menelepon dengan earphone yang terpasang di telinganya. Dyta menyiapkan segala sesuatu sebelum Alko tiba di kantor.
"Selamat pagi pak Direktur," ucap para karyawannya yang sudah berpakaian rapi di depan pintu Alko Group.
Seorang laki-laki berjas membukakan pintu untuk Alko. Alko segera turun dari mobil sambil merapikan pakaiannya. Dyta juga ikut turun dari kursi kemudi. Dyta menyerahkan kunci mobil pada laki-laki berjas lainnya.
CMO dari Alko Group segera menyambut Alko. Alko berjalan di depan. Dyta mengikutinya dari belakang, dan selalu siap dengan notephone yang ada di tangannya. CMO Alko Group langsung memberikan laporan bahkan ketika mereka masih berjalan di lift tadi.
Alko orang yang sangat menjunjung efektivitas waktu. Dia tidak suka membuang-buang waktu jika ada masalah yang harus diselesaikannya. Sementara, tanpa harus menunggu perintah, Dyta langsung mencatat semua hal penting yang harus diberikan pada Alko.
***
Di Ruang Meeting
"Pokoknya masalah ini harus selesai dalam waktu 2 x 24 jam. Kalian tahu kan pentingnya proyek ini bagi Alko Group? Segera selidiki semuanya! Kenapa data perusahaan kita bisa bocor? Urus semuanya dengan benar! Jika masalah ini belum selesai juga sesuai batas waktu yang saya tentukan, maka kalian semua saya pecat! Kalian paham ?"
Alko berucap dengan tegas.
"Siap, Pak!" jawab semua karyawannya dengan kompak.
Alko segera mengakhiri rapat, kemudian langsung berdiri dan keluar pintu. Wajahnya menunjukkan raut kesal.
Dyta juga segera mengikutinya dari belakang.
Alko kembali ke ruangannya. Dia segera membuka tablet yang ada di atas mejanya. Wajahnya terlihat serius dengan pekerjaan yang sedang ditekuninya.
"Tuan Alko, ringkasan hasil meeting tadi sudah saya emailkan. Apakah Tuan ingin secangkir teh hangat?"
"Buatkan aku kopi saja!" ucap Alko tanpa melihat Dyta. Dia masih sibuk dengan tablet yang ada di hadapannya.
"Baik, Tuan."
"Sekalian kamu panggilkan Rina untuk ke sini."
"Baik, Tuan. Apa masih ada lagi yang perlu saya lakukan?"
"Tidak ada." Ucap Alko yang matanya tidak lepas dari tablet.
Dyta segera meninggalkan ruangan Alko. Dia segera membuat kopi dan mengambil beberapa makanan ringan, kemudian menatanya di atas piring. Hati Dyta merasa was-was, karena tahu mood Alko hari itu kurang begitu baik. Terlebih karena Alko belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh alkohol akibat mabuk semalam.
"Dia benar-benar laki-laki yang kuat. Sulit untuk dipercaya, bahwa dia masih bisa begitu serius bekerja ketika masih dalam pengaruh alkohol." Dyta bermonolog dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
"Sepertinya aku memang harus berusaha keras agar bisa mengimbanginya," batin Dyta.
Dyta segera kembali ke ruangan Alko sambil memegang baki yang berisi secangkir kopi dan beberapa makanan ringan.
****
Brengsek!!!!
"Apa-apaan ini? Membuat laporan seperti ini saja kamu tidak becus!!
Alko membentak sambil melemparkan dokumen itu ke lantai.
"Lanjutkan dengan menangis sambil merevisi diri sendiri!! Perbaiki laporan ini dalam waktu satu jam atau kariermu sampai di sini!"
Rina berlari keluar sambil melewati Dyta dengan menangis.
Dyta terkejut melihat semua yang terjadi. Alko memang orangnya tegas. Tapi baru kali ini dia berteriak sangat kesal dan tampak benar-benar marah.
