Alko Hotel (3)
Bab 5. Alko Hotel (3)
Mata Dyta terus waspada terhadap setiap gerakan Alko. Alko kembali tersenyum. Dia memegang dagu Dyta dan mengangkatnya lembut.
Alko memandang Dyta dengan penuh kekaguman. Mata Dyta pun tak sengaja menangkap sorot mata Alko. Mereka akhirnya bertatapan dengan sangat dekat. Jantung Dyta juga semakin berdetak kencang. Nafasnya juga semakin tidak beraturan. Hembusan nafas Dyta bahkan terasa sampai di wajah Alko.
Alko kembali mendekatkan wajahnya. Mata Alko berubah arah untuk menatap bibir Dyta. Tanpa sengaja Dyta akhirnya memindahkan wajahnya ke bibir Alko.
Alko juga semakin mendekatkan wajahnya. Dyta juga tidak bisa menghindar lagi. Gadis itu hanya bisa menutup matanya rapat-rapat. Dyta sudah pasrah dengan apa pun yang terjadi. Mungkin ini akan menjadi ciuman pertama bagi Dyta, meskipun Dyta tidak akan pernah tahu bagaimana cara untuk berciuman. Kali ini, Dyta hanya bisa pasrah merasakan hembusan nafas Alko yang semakin mendekat.
Deg! Deg! Deg!
Lalu, BRUKKKK!!!
"Hah?"
Dyta segera membuka matanya. Tubuh Alko oleng dan terjatuh di lengan Dyta.
Akhirnya, Dyta bernafas lega. Ciuman Alko belum sempat mendarat di bibirnya. Alko sepertinya sudah sangat mabuk dan hilang kesadarannya. Rencana Dyta akhirnya berhasil juga. Alko terjatuh dan tertidur di lengan Dyta dengan wajah yang sangat polos.
Dyta menatapnya lekat-lekat. Terlihat dalam tatapan Dyta wajah Alko yang sangat tampan. Dyta menyapu rambut Alko ke atas. Dyta kemudian mengusap wajah Alko. Dyta ingin memastikan apakah Alko benar-benar tertidur atau hanya pura-pura tidur. Seperti yang selama ini diketahui Dyta bahwa Alko memang sangat lemah dalam alkohol.
Dyta akhirnya mengumpulkan seluruh kekuatannya dan mencoba memapah Alko.
Tapi, ternyata tubuh Alko terasa sangat berat. Seluruh tubuh Alko seperti terbuat dari baja.
Dyta kembali mengatur nafasnya dan mencoba untuk berdiri.
"Ah! Ternyata berat banget!" Dyta akhirnya terduduk di pinggiran meja.
"Tuan, Tuan!" Dyta menepuk-nepuk wajah Alko.
"Hah?" Alko sedikit tersadar. Tubuhnya sedikit meringan. Dyta segera melingkarkan tangan Alko ke lehernya. Dyta membalik tubuh Alko yang setengah sadar, kemudian memapahnya hingga sampai ke atas ranjang.
"Aduuuhhhh!!!" Dyta tidak kuasa lagi menahan berat tubuh Alko. Mereka akhirnya bersama-sama terjatuh ke atas ranjang. Tubuh Dyta menimpa tubuh Alko.
Mata Dyta segera membelalak lebar begitu menyadari posisi mereka. Telinga Dyta tersandar di dada bidang Alko. Dyta menelan salivanya, kemudian mencoba untuk bangun.
"Ahh!!!" setengah sadar Alko membalikkan badannya dan membawa Dyta ke dalam pelukannya.
"Ihhh." Dyta meringis. Posisi mereka kini terbaring menyamping.
"Husss, hussss, tidurlah, Tuan!" ucap Dyta pelan seperti sedang meninabobokkan anak kecil.
Alko terlihat mulai nyaman. Dia tampak mulai tenang dan berhenti mengigau.
Mendapat kesempatan seperti itu, Dyta segera menggeser kepalanya ke bawah. Dia mencoba keluar dari pelukan Alko.
Dyta akhirnya berhasil berdiri dan keluar dari ranjang tanpa sepengetahuan Alko. Dyta merapikan bajunya dan ternyata.... "sobek? Pasti karena pergulatannya dengan Alki. Maafkan aku, Sandra!" ucap Dyta sambil melihat jahitan bajunya yang sobek yang ada di belahan rok.
Tubuh Alko tergeletak menyamping. Dyta menatapnya sejenak sambil memiringkan kepalanya. Gadis itu tersenyum, kemudian menarik bahu Alko. Dyta mengatur posisi bantal di kepala Alko dan mengubah posisi tidur Alko agar menjadi terlentang.
Dyta juga melepaskan dasi yang dikenakan Alko, kemudian berpindah ke ikat pinggang bosnya itu. Dengan hati-hati, Dyta melepaskan ikat pinggang Alko. Dyta melakukan semua itu agar Alko bisa tertidur nyenyak. Selanjutnya, Dyta menggulung rapi dasi dan ikat pinggang Alko dan menaruhnya di atas meja.
Dyta kembali memutar tubuhnya dan mengarah ke bagian kaki Alko. Dyta membungkuk dan melepaskan sepatu Alko, kemudian menata sepatu itu pada tempatnya.
Alko tampak terbaring semakin nyaman. Dyta kemudian mengatur suhu paling nyaman sesuai yang biasa digunakan Alko ketika sedang beristirahat di kantornya.
Setelah semua yang dilakukan Dyta selesai, dia kembali menatap Alko. Laki-laki yang selama ini menjadi bosnya dan selalu bersamanya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa mengikuti keinginan Tuan. Saya berharap besok Tuan tidak marah."
Dyta kemudian meraih selimut dan menyelimuti tubuh Alko. Gadis itu lalu melangkah untuk membereskan pecahan gelas yang tadi dijatuhkannya. Dyta hanya tidak ingin Alko terluka jika nanti terbangun dan melangkah.
Setelah dirasa semua selesai, Dyta mengambil tasnya. Dia kembali mendekati Alko dan menatap wajahnya yang masih tertidur dengan damai.
"Selamat ulang tahun, Tuan Krisna Alko. Selamat malam, sampai berjumpa lagi besok," Dyta sedikit membungkukkan badannya untuk memberikan hormat, sebagaimana yang dia lakukan jika berpamitan dengan Alko.
Dyta berjalan keluar, mematikan lampu hotel, menutup pintu dan pergi dengan langkah pelan.
Sepanjang langkahnya di koridor, Dyta lebih banyak melamun. Dia tersenyum tipis mengingat kejadian yang dialaminya. Dyta tidak habis pikir dan seakan tidak sadar dengan semua yang dialaminya.
Dyta kembali memilih untuk tidak peduli. Dia mengangkat bahunya dan kembali pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya, matahari bersinar dengan cerah dan sebagian cahayanya yang terasa menghangat masuk menembus celah-celah jendela.
Alki mengencangkan otot-ototnya. Dia mulai tersadar dan terbangun. Dia meraba-raba tempat tidurnya yang ternyata hanya ada dirinya sendiri. Alko mengeryitkan keningnya, kemudian membuka matanya pelan-pelan.
Alko merasakan kepalanya pusing dan sakit. Semua karena Alko terlalu banyak minum alkohol.
Alko menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur. Dia memperhatikan sekelilingnya dan mengingat-ingat kejadian semalam.
"Hemmm! Dyta, gadis yang pintar. Ternyata dia hanya mengerjaiku."
"Kita lihat saja setelah ini. Kamu tidak akan aku biarkan begitu saja!" Alko membuang nafas panjangnya.
