Pustaka
Bahasa Indonesia

Wanita Idaman CEO

101.0K · Tamat
Ani Mahidayani
95
Bab
2.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Temani aku malam ini atau kamu aku pecat! Kamu masih ingatkan dengan kontrak kerjamu?" ucap Krisna Alko seperti membawa Dyta ketika sedang melakukan tanda tangan kontrak. Akan sulit mencari pilihan lain bagi Dyta ketika sedang melakukan negosiasi dengan Alko. Tampak Dyta yang semakin gugup, jantungnya berdebar hebat. Dyta tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang selama ini menjadi bosnya, untuk pertama kalinya menuntut sesuatu yang di luar tugas dan tanggung jawab Dyta sebagai sekretaris dan asisten pribadinya. Akankah Dyta menuruti semua keinginan bosnya?

Cinta Pada Pandangan PertamaWanita CantikTuan MudaRomansa

Temani Aku Malam Ini

Bab 1. Temani Aku Malam Ini

   Lelaki muda yang cerdas, memiliki postur tubuh yang tegap, atletis, tampan, dan selalu berpenampilan rapi. Dia memiliki hidung mancung dengan tai lalat di ujung hidung dan garis rahang yang tegas, kulitnya kuning langsat dengan kharisma yang memang menawan. Lelaki itu bernama Krisna Alko. Diumurnya yang baru dua puluh tiga tahun, dia sudah meraih puncak kesuksesan.

   Kesuksesan yang benar-benar nyata. Sejak beberapa tahun terakhir Alko telah membawa perusahaan Alko Group menempati peringkat satu sebagai perusahaan yang mampu meraih omset tertinggi.

    Tapi, tentunya kesuksesan Alko tidak bisa diraih jika dia hanya kerja sendiri. Kesuksesan itu diraihnya karena dia memiliki tim yang hebat dan punya tangan kanan yang bisa dipercaya.

   Dyta Stevaniya adalah sekretaris kepercayaan Alko. Dia adalah perempuan di balik kesuksesan Alko. Dia adalah seorang perempuan yang pintar, cerdas, pantang menyerah, berintegritas tinggi, memiliki sejumlah ide-ide yang cemerlang, dan memang dapat diandalkan. Perempuan itu bukan hanya tipe pekerja keras, tapi juga tipe pekerja cerdas.

   Mulai sejak kecil, Dyta memang sudah dididik untuk menjadi sekretaris Alko Group. Takdir hidup Dyta seperti sudah ditentukan oleh almarhum ibunya. Dyta sangat berbeda dengan gadis lain pada umumnya. Jika gadis lain seusianya masih bisa bersenang-senang dan bermain-main, maka Dyta sudah harus belajar dengan cara yang benar, berbicara pun dengan cara yang benar, dan ketika melakukan apapun harus sudah mengikuti cara yang dilakukan kaum kelas atas.

   Hidup Dyta mulai kecil sampai kuliah sudah dihadapkan dengan komputer dan gawai untuk kepentingan bisnis. Bagaimana dia bisa mengetik dan membaca dengan cepat. Dyta dituntut untuk pintar mengalisa grafik, membaca tabel, merekap berbagai data, menyusun file yang benar.

   Dyta juga dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik. Waktu itu seluruh biaya pendidikan Dyta telah ditanggung oleh Alko Group. Semua ini sekaligus sebagai permintaan ibunya yang terakhir.

   Mama dari Dyta  adalah sekretaris dan tangan kanan dari Alko Group. Dia merupakan single parent yang membesarkan Dyta seorang diri. Dyta besar tanpa kasih sayang seorang ayah, namun bisa hidup serba kecukupan dengan kasih sayang seorang ibu.

    Meskipun memiliki karakter yang tegas, mamanya Dyta memiliki cukup kasih sayang untuk seorang Dyta. Hidup perempuan itu seperti khusus untuk Dyta dan Alko Group.

   Mamanya Dyta meninggal ketika Dyta masih duduk di bangku SMA. Ibunya betul-betul sosok perempuan yang cerdas. Maka, Dyta benar-benar mewarisi kecerdasan ibunya.

***

   Malam sudah hampir menunjukkan pukul dua puluh satu. Terlihat Alko yang melangkah ke ruang eksklusifnya yang bertuliskan CEO di depan pintunya.

   Wajah tampan Alko terlihat kelelahan sepulang dari pesta perayaan ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga .

   Sebenarnya Alko kurang begitu suka dengan pesta. Sejak dia dilantik menjadi Direktur Utama Alko Group untuk menggantikan ayahnya, dia tidak pernah menghambur-hamburkan waktu seperti pemuda lainnya. Alko selalu memilih untuk kerja dan kerja. Tidak heran jika akhirnya dia membawa Alko Group mencapai puncak kemajuan dan kejayaan.

    Ketika Dyta masih di bangku kuliah, Alko didampingi sekretaris yang lain sampai Dyta benar-benar siap untuk bekerja.

    Dan inilah yang sekarang terjadi. Setelah bekerja bersama selama tiga tahun, sesuatu yang tak pernah diduga pun terjadi.

***

   Dyta mengikuti Alko di belakangnya sambil membawakan tas kerjanya Alko. Saat itu keadaan kantor Alko sudah sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang masih ada di kantor kecuali petugas secirity.

   Tok.... Tok.... Tok

    Langkah kaki Alko terdengar di seluruh ruangan. Dyta mengikuti langkah kaki Alko dengan begitu baiknya. Langkah kaki yang tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lambat. Begitu sampai di ruangannya, Alko segera duduk di kursi empuknya. Setephen merenggangkan otot-ototnya yang memang tampak begitu kelelahan.

   Dyta pelan-pelan maju, kemudian sedikit menunduk di hadapan Alko.

   "Apa Anda kembali ke kantor untuk bekerja, Tuan Alko? Maaf, jika saya terlalu berani. Tapi sebaiknya Anda beristirahat. Jadwal Tuan hari ini sangat padat."

   Alko lalu mengangkat tangannya bertanda meminta Dyta untuk berhenti berbicara. Wajahnya terlihat datar, sambil menghembuskan nafas pelan.

  "Kamu tidak usah panggilkan sopir, Dyta. Aku akan pulang untuk menyetir sendiri." Suaranya terdengar lelah.

  "Iya, Tuan." Jawab Dyta terdengar polos.

   "Hasil rekap data untuk proyek baru Perusahaan kita apa sudah selesai?"

   "Sudah, Tuan. Tadi saya sudah kirim email ke Tuan, tinggal menunggu keputusan Tuan saja."

   "Bagaimana dengan meeting bersama CEO Smart Group untuk membahas kerja sama kita?"

   "Semuanya sudah diatur besok jam sembilan pagi, Tuan."

   "Untuk permasalahan produksi perusahaan?"

   "Saya sudah melakukan investigasi, kita tinggal menunggu kabar terakhir saja. Soal waktu dan tempatnya nanti akan diinfokan kepada Tuan."

   "Apa masih ada masalah yang lain lagi?"

   "Tidak ada, Tuan."

   "Rencana makan siang dengan para kolega?"

   "Sesuai jadwal, Tuan. Akan dilaksanakan dua hari lagi. Dan semuanya sudah disetujui."

   "Oiya. Kamu sampaikan juga pertemuan dengan duta dari Amerika. Tadi aku mendapat kabar dari mereka."

   "Baik, Tuan. Nanti saya masukkan ke dalam agenda jadwal, Tuan."

   "Jangan lupa kamu perjelas acara meeting yang terkait dengan proyek baru kita!"

   "Siap, Tuan. Saya akan atur dan persiapkan semuanya."

   "Tapi jangan lebih dari sepekan. Kita harus melakukan semuanya dengan lebih cepat!"

   "Siap, Tuan!"

   Alko kemudian diam untuk beberapa saat sambil mengusap-usap dagunya."

  "Apa lagi yang bisa saya bantu, Tuan?"

  "Menemaniku tidur."

  "Hah? Apa?"

  "Menemaniku tidur malam ini."

  "What? Maaf, Tuan." Dyta kemudian menunduk dan merendahkan volume suaranya. Dyta sangat terkejut mendengar permintaan terakhir bosnya.

   "Apa maksud Tuan dengan semua ini?" Dyta merasa bingung kemudian memiringkan kepalanya.

   Alko kemudian mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Dyta.

   "Kenapa? Kamu membenciku?"

   "Bu..., bukan begitu, Tuan. Tapi....,"

   "Berarti kamu menyukaiku, kan?"

   "Hah?" Dyta mengerutkan keningnya.

   "Kamu cukup menjawab iya atau tidak!" ucap Alko tegas.

   "Apa tidak sebaiknya saya mencarikan perempuan untuk Tuan?"

   "Tidak usah. Karena aku hanya menginginkan kamu."

   "Saya? Ternyata Tuan pandai juga berhumor." Dyta berharap Alko hanya bercanda.

   "Aku serius!"

   Alko berbicara tegas dengan tatapan matanya yang serius. Bos muda itu sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.

   "Temani aku malam ini atau kamu aku pecat. Kamu masih ingat kan dengan kontrak kerjamu?" ucap Alko seperti membawa Dyta ketika sedang melakukan tanda tangan kontrak.

   Akan sulit mencari pilihan lain ketika Dyta sedang melakukan negosiasi dengan Alko.

   Tampak Dyta yang semakin gugup. Jantungnya berdebar hebat. Dyta tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang selama ini menjadi bosnya, untuk pertama kalinya menuntut sesuatu yang di luar tugas dan tanggung jawab Dyta sebagai sekretaris dan asisten pribadinya.

   Dyta memang sudah terbiasa mengurusi segala hal yang bersifat pribadi bagi Alko. Di antaranya baju yang akan dikenakan Alko, menemani Alko untuk berolahraga, menemani sarapan, makan siang dan juga makan malam.

   Keperluan pribadi Alko yang lain yang biasa dikerjakan oleh Dyta yaitu memasang dasi dan jas di pagi hari. Juga membantu Alko untuk beristirahat jika pulang dalam keadaan mabuk, hingga mengantarkan pergi ke dokter pribadi, dan masih banyak keperluan pribadi lainnya yang dilakukan Dyta.

   Alko masih menatap Dyta yang kini terlihat bingung dengan menggigit bibir bawahnya. Sangat jelas Dyta terlihat gugup dan takut. Setephen masih menunggu jawaban Dyta.

Apa jawaban yang akan diberikan Dyta untuk Alko?