Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Alko Hotel (2)

Bab 4. Alko Hotel (2)

   Alko sudah tiba di depan Dyta. Jarak tubuh mereka teramat dekat. Saking dekatnya, sampai-sampai kepala Dyta yang menunduk hampir menyentuh dada Alko.

   Alko memiringkan kepala dan tubuhnya, mencoba mengejar wajah Dyta.

   Dyta masih terus menunduk sambil menutup matanya.

   Deg! Deg!

   Jantung Dyta berdebar semakin kencang. Dia hampir saja tidak bisa bernafas.

   "Kenapa kamu terus menunduk?" tanya Alko.

   Dyta masih tidak mengangkat wajahnya. Dia terlalu takut untuk menatap wajah Alko.

   Alko kian mendekat dan mengarahkan tangannya ke botol wine yang dipegang Dyta.

   Seketika Dyta terkejut dan meremas botol wine itu.

  "Biarkan aku yang menuangkannya buat kamu!" ucap Alko pelan dengan suara khas miliknya.

   Dyta melepaskan genggamannya di botol itu. Alko tersenyum samar, kemudian mengambil botol anggur dan kembali berjalan menjauhi Dyta.

   Akhirnya, Dyta memperoleh kesempatan untuk bernafas juga. Namun, jantungnya masih tetap berpacu dengan cepat.

   Alko berjalan dan mengambil gelas di atas nakas.

   Dyta mengangkat wajahnya.

   Alko menuangkan wine tersebut ke dalam gelas. Cairan itu kemudian memutar di dalam gelas. Alko menuangkannya setengah.

   Setelah menuangkan wine ke dalam dua gelas, Alko mengambilnya dan menyerahkan kepada Dyta.

   "Terima kasih, Tuan." Dyta meraih gelas itu.

   "Kenapa kamu tampak gugup? Tidak seperti biasanya?"

   "Tidak, Tuan."

   "Apa aku membuatmu tidak fokus? Sedari tadi aku melihat ekspresimu tidak seperti biasanya."

   "Eh, maaf Tuan."

   Alko kembali tersenyum. Dia mengulurkan gelasnya ke depan.

   Dyta juga tersenyum tipis, kemudian mengangkat gelasnya. Mengetukkan gelasnya pelan ke gelas milik Alko.

   Alko tersenyum samar, lalu meminum anggur di tangannya dengan tatapan yang menggoda pada Dyta.

   "Uhuk! Uhuk!" Dyta tersedak ketika meminum anggurnya.

   Dyta terlalu gugup dengan situasi yang dihadapinya. Apa lagi tatapan Alko selalu menggodanya. Dyta benar-benar merasa salah tingkah.

    "Dyta? Kamu tidak apa-apa?" tanya Alko sambil meraih gelas dari tangan Dyta dan menaruhnya di atas nakas.

    Setephen segera mengambil tissue di meja samping dan memberikannya pada Dyta.

   "Maaf, Tuan! Saya tidak apa-apa!" ucap Dyta sambil meraih tissue di tangan Alko dan mengusapkan di mulutnya.

   Melihat tingkah Dyta, Alko tertawa, wajahnya tampak berseri sambil memperlihatkan susunan giginya yang putih bersih.

   Dyta kemudian teringat sesuatu. Secepat kilat, dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

   "Oiya, Tuan. Ini untuk Tuan. Maaf, saya hampir lupa...."

   "Ini apa?"

   "Selamat ulang tahun, Tuan Krisna Alko. Maaf, saya tidak tahu harus memberi Tuan hadiah apa? Ini bikinan saya sendiri," kata Dyta dengan ragu sambil mengulurkan tangannya.

    Alko mengerutkan keningnya. Dia tersenyum tipis sambil mengambil kotak itu dari tangan Dyta.

   Dyta menggigit bibir bawahnya. Gadis itu tampak semakin gugup. Dia merasa takut Alko tidak suka dengan hadiah sederhana darinya.

   Dyta sadar kalau gajinya yang terkumpul beberapa bulan tidak akan sanggup untuk membeli hadiah buat Alko. Maka akhirnya, Dyta memutuskan untuk merajut sebuah gelang dengan tangannya sendiri. Setidaknya itu akan menjadi sesuatu yang eksklusif dan tidak akan bisa ditemukan di tempat lain.

    "Sebuah gelang?"

    "Tuan tidak perlu mengenakannya jika memang tidak suka." Dyta mengerutkan keningnya karena merasa takut.

   "Aku suka kok!"

   "Apa?"

   "Iya, aku bilang aku suka."

   Wajah Dyta tiba-tiba jadi berbinar.

   "Syukurlah, kalau Tuan menyukainya."

   "Ini!" Alko mengulurkan kotak yang sudah dibukanya.

   "Hah?" kembali Dyta menatap bingung.

   "Pakaikan untukku!"

   "Baik, Tuan."

   Dyta tersenyum sambil mengangguk. Dia kemudian mengambil kotak tersebut dari tangan Alko. Setelah kotak ada di tangan Dyta, Alko segera mengulurkan tangannya.

   Dyta mengeluarkan gelang yang terbuat dari benang katun itu, kemudian memasangkannya ke pergelangan tangan Alko. Wajah Dyta terlihat begitu serius. Sedang Alko larut menikmati pemandangan yang ada di depannya. Dia terus menatap wajah Dyta sambil menerbitkan senyum.

   "Sudah selesai, Tuan."

   "Hah? Terima kasih." Alko mengerjap dan melepas tatapannya dari wajah Dyta. Alko memperhatikan gelang yang ada di tangannya.

   "Bagaimana untuk hadiah yang lain?"

   "Hadiah apa?"

   "Kenapa sekarang kamu jadi pelupa?"

   "Maaf, Tuan! Maksud Tuan apa?"

   "Lalu menurutmu untuk apa malam-malam kita di sini?"

   Dyta membelalakkan matanya, jadi sadar dengan isyarat perkataan Alko.

   Dia tersenyum tipis, kemudian mengangguk.

   "Maaf, Tuan! Saya sedikit gugup. Apa bisa kita minum wine nya lagi?" Dyta segera mengambil gelas yang digunakan tadi dan berjalan melewati Alko. Meraih botol wine dan menuangkannya ke dalam gelas.

   Alko memutar badannya menatap ke arah Dyta.

   Dyta menuangkan anggur hingga setengah gelas, kemudian menyerahkannya pada Alko. Alko mengerutkan dahinya. Dyta masih mengulurkan gelas yang ada di tangannya berharap agar Alko segera menyambutnya.

   Alko pun dengan terpaksa mengambil gelas itu dan meminumnya.

   Dyta kemudian menyembunyikan senyum penuh kemenangan.

   Setengah gelas yang pertama sudah habis. Dyta menuangkan kembali pada gelas yang kedua. Alko semakin mengerutkan dahinya.

   "Lagi?"

   "Anggur ini sangat baik dan berkualitas, Tuan. Sayang jika tidak dihabiskan," ucap Dyta dengan senyumnya yang menggoda.

   Alko akhirnya meminum lagi gelas yang ketiga. Dyta juga terlihat semakin semangat. Gadis itu sudah bisa memprediksi bahwa usahanya akan berhasil.

   Tapi, Alko mulai merasakan semuanya tidak nyaman dan udara tiba-tiba menjadi gerah. Alko melonggarkan dasinya dan membuka kancing bajunya. Alko kemudian meletakkan gelas di atas meja dan berlanjut untuk meraih pinggang Dyta.

   Mata Dyta seketika membulat. Dia merasa kaget dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Alko. Salah satu tangannya dengan refleks memegang botol anggur. Tapi, Alko meraih botol itu dan merampasnya dari tangan Dyta. Alko menatap Dyta dengan tatapan yang serius, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Dyta.

   "Apa kamu tadi sengaja ingin membuatku mabuk?"

   "Ti..., tidak, Tuan!" ucap Dyta gugup.

   "Kamu benar-benar gadis pintar dan cerdik! Sampai-sampai kamu merasa gugup."

   Dyta kemudian menelan salivanya. Perasaannya kini merasa campur aduk. Alko menatap wajah Dyta lekat-lekat. Tapi, Dyta tetap menatap penuh kewaspadaan.

   Alko semakin mendekatkan wajahnya. Tapi, Dyta segera melangkah mundur. Alko terus memeluk erat pinggang Dyta dan mencondongkan tubuhnya. Dyta masih terus mundur sampai salah satu bagian pahanya menyentuh meja. Dan, Dyta terhenti.

   Alko memiringkan kepalanya dan mengarahkan hidungnya pada leher Dyta. Dia mengulurkan tangannya ke depan. Menaruh gelas dan botol anggur yang di tangannya ke atas meja. Dyta masih terus mundur dari wajah Alko yang juga mengejarnya. Tanpa sengaja tangan Dyta menyambar gelas yang tadi diletakkan Alko di atas meja.

   BRUKKKK!!!!

   "Eh!"

   Alko dan Dyta sama-sama memalingkan pandangannya ke arah gelas yang jatuh. Satu serangan sudah berhasil dicancel Dyta. Lalu apakah Dyta benar-benar bisa bebas dan terlepas?

   Tubuh Dyta kini sudah terkunci dalam dekapan Alki. Tubuh Alko yang kekar membuat Dyta tidak bisa bergerak.

   Alko melepaskan pelukannya. Salah satu tangan Dyta yang memegang gelas tampak gemetar. Alko tersenyum tipis, kemudian meraih gelas itu dari tangan Dyta. Dan, Alko meletakkan kembali gelas itu di atas meja.

   Dyta terlihat semakin gugup. Dia merasa seperti kehilangan akal. Sedang Alko terus memojokkannya.

  

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel