Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Alko Hotel (1)

Bab 3. Alko Hotel (1)

    "Kenapa?"

    "Derajat kami tidak sebanding. Dibandingkan dengan dia, aku hanyalah butiran debu."

   "Kamu tidak boleh ngomong seperti itu Dyta. Kamu jangan terlalu meremehkan dirimu sendiri...."

    "Yang jelas tidak semudah itu dia mendapatkan aku."

    "Lalu, malam ini kamu akan datang ke sana? Kamu akan bilang, tidak mau menemaninya malam ini? Jika iya, kamu akan dipecat. Kariermu akan berakhir malam ini! Lalu, selamat tinggal Alko Group!"

    "Dia tidak akan memecatku. Aku sudah punya rencana."

    "Baiklah! Tapi ada baiknya kamu tahan rencanamu itu. Sekarang, kita coba dress yang cocok buat kamu!"

***

    Dyta melangkah menuju ruang ganti di boutique milik Sandra. Sandra memilihkan beberapa pakaian untuknya.

    "Sandra, apa kamu tidak punya dress yang sedikit lebih tertutup?"

    "Kamu menginginkan pakaian tertutup untuk malam pertama? Sebaiknya jangan! Berdandanlah yang seksi! Apa kamu mau semua yang kamu rencanakan dicurigai Alko dari awal? Dia itu bukan sembarang bos, Dyta! Dan, kamu pasti tahu itu! Jadi, tunjukkan keseriusanmu Dyta!"

   "Oke. Aku setuju sama kamu!"

   "Tubuhmu yang indah itu, menurutku tidak apa jika sedikit dipamerkan. Hanya saja...., akan lebih tepat jika tubuhmu lebih kurus sedikit lagi....!"

   "Aku ini seorang sekretaris. Beda dengan seorang model. Apa menurutmu aku masih kurang kurus?"

    "Maaf, cantik! Aku lupa kalau kamu seorang sekretaris. Sekarang, kamu bilang padaku, apa rencanamu?" tanya Sandra sambil membenarkan beberapa bagian dress dari Dyta.

   "Kamu tahu, Sandra? Alko itu sangat lemah dengan alkohol. Alko selalu menjaga pola hidup sehat. Makanya fisiknya sangat sehat dan ideal. Tapi, malam ini, dia menyuruhku untuk membawa anggur. Aku akan membuatnya mabuk, maka aku akan pergi ke sana malam ini."

   "Kamu memang benar-benar pintar! Kamu sudah dapat anggurnya kan?" Sandra tersenyum dengan bangga.

   Dyta kemudian membelalakkan matanya.

   "Eh, belum!" ucap Dyta panik.

   Dyta kemudian melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan.

   "OMG! TERNYATA SEKARANG SUDAH HAMPIR JAM SEBELAS! BISA CELAKA AKU!"

   "Jangan khawatir, Dyta! Aku masih ada simpanan anggur."

   "Kamu serius?"

   "Tapi ini anggur terbaik untuk persediaan beberapa tahun yang lalu dan harganya juga mahal. Waktu itu aku order dari Paris." Sandra memberikan penjelasan.

    "Berapa pun harganya, bagiku tidak masalah. Aku transfer esok hari!"

   "Siap! Anggur terbaik akan segera datang."

   "Kamu memang terbaik, Sandra!"

   "Pasti, cantik!"

***

   Sandra kemudian mengeluarkan sebotol anggur dari tempat penyimpanannya.

    "Terima kasih, Sandra! Aku pamit!" ucap Dyta singkat, kemudian berjalan dengan langkah tergesa-gesa.

    "Hei, Dyta! Hati-hati! Ingat, jangan sampai merusak dress nya!"

    Dyta tidak memberikan jawaban, tetapi dia menunjukkan jempolnya.

   Sementara, Sandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dyta yang pergi dengan terburu-buru.

  "Kamu lihat saja Dyta, apa kamu akan sanggup menolak bos muda sehebat dia? Aku sudah tidak sabar menunggu ceritamu besok."

***

   Dyta kemudian menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi demi berpacu dengan waktu.

   Setibanya di hotel, Dyta justru berlari sambil menenteng sepatunya yang berhak tinggi itu. Nafasnya terengah-engah sesampainya di meja resepsionis.

   "Tuan Alko, ada di kamar nomor berapa?"

   "Di kamar 1909. Ini kuncinya, Nona Dyta. Tuan Alko sudah menunggu Anda!"

   Dyta segera mengambil kartu kunci elektronik dari tangan resepsionis. Dia mengucapkan terima kasih, kemudian segera berlalu. Sejenak, Dyta menatap jam dinding dan segera berlari menenteng sepatu dan anggur.

***

   "Cepatlah! Cepatlah, Dyta!" kata Dyta sambil merasakan kegelisahannya.

   "Kenapa buru-buru, Nona?" tanya seorang pria dari belakang Dyta.

   Dyta menoleh ke belakang ke arah suara yang memanggilnya. Pria yang menanya Dyta itu tampak manis dengan lesung pipitnya. Pria itu membawa jas hitam di lengannya. Tanpa sengaja Dyta melihat kartu nama yang tergantung di jasnya.

     "Hah?"

     Ting! Pintu lift segera terbuka.

     Begitu pintu lift terbuka, pria itu mengulurkan tangannya ke depan. Pria itu mempersilakan Dyta masuk terlebih dahulu.

   "Terima kasih," kata Dyta tersenyum singkat.

   Hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Pria itu menerbitkan senyuman kecilnya ketika melihat Dyta bertelanjang kaki serta tangannya yang menenteng tas, anggur, dan sepatu.

   "Lantainya cukup dingin! Sebaiknya kenakan sepatu Anda nona."

   "Ah tidak masalah!" Dyta tersenyum, kemudian kembali memandang ke depan.

   "Coba aku bantu!"

   "Apa?"

   Pria itu mengambil sepatu dari tangan Dyta kemudian menunduk.

   "Eh! Jangan!" cegah Dyta.

   Tapi pria itu terus mengangkat kaki Dyta, dan memasangkan.

   "Begini lebih baik, Nona!"

   Pria itu mendongak melihat Dyta sambil tersenyum.

   Wajah Dyta memerah. Gadis itu menunduk sambil menyibakkan rambut ke telinganya.

   "Terima kasih."

   Ting! Lift terbuka di lantai 17.

   "Aku turun di sini."

   "Oh, iya." Jawab Dyta sambil menunduk.

   Pria itu kemudian keluar dari lift. Dyta menatap punggung pria itu, kemudian mengangkat bahunya.

    "Baik juga dia. Terima kasih pria yang tidak aku kenal.

   Ting! Pintu lift terbuka.

   Dyta melirik jam tangannya.

   Pukul 23.55. OMG! TINGGAL LIMA MENIT LAGI! Dan habislah riwayatku!"

   Dyta segera berlari meninggalkan lift. Dia langsung menuju kamar eksklusif di dekat koridor hotel.

   Deg deg deg

   Nafas Dyta terengah-engah.

   Dyta tiba di depan pintu kamar 1909.

   Kembali Dyta menghembuskan nafasnya lewat mulut. Gadis itu mencoba menstabilkan nafasnya untuk menenangkan diri.

   "Seandainya pria tadi tidak membantuku, aku tidak mungkin bisa mengatur nafas sekarang." Dyta membatin.

***

   Tok tok tok

    Dyta mengetuk pintu sebanyak tiga kali, kemudian membuka pintu kamar tersebut dengan kunci elektronik yang ada di tangannya.

   Thit...! Lampu hijau menyala, bertanda pintu sudah bisa dibuka.

   Kembali Dyta menarik nafasnya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tangannya terasa dingin dan kaku. Pelan-pelan Dyta membuka pintu tersebut.

   Ceklek!

   Pintu pun terbuka.

   "Hah?" Dyta terkejut sambil memegang dadanya.

   Alko sudah berdiri dengan tegap, dan masih mengenakan kemeja yang tadi. Alko melihat jam tangannya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Dyta.

   "Kamu sudah terlambat beberapa menit dari waktu yang aku tentukan."

   Dyta mengerutkan keningnya. Gadis itu melangkah pelan sambil menunduk.

   "Maaf, Tuan Alko. Tadi winenya habis. Jadi saya harus mencarinya dulu sebelum berangkat ke sini," ucap Dyta memberikan penjelasan.

   Dyta memaksakan wajahnya agar bisa tersenyum meskipun dengan rasa yang bersalah. Dyta mengangkat botol wine yang dipegang tangan kanannya dan menunjukkannya pada Alko.

  "Kamu tahu, aku juga tidak pernah mau menerima alasan!"

   "Maafkan saya, Tuan!" Dyta semakin menunduk.

   Alko menarik nafasnya dalam-dalam. Dia menatap Dyta dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

   "Hem... Kamu cantik!" ucap Alko sambil menerbitkan senyum kecil.

   "Hah?" Dyta segera menatap ke arah Alko.

   Ini adalah kali pertama Alko memujinya setelah bekerja selama 5 tahun.

   Alko masih menatap Dyta sambil mengangguk pelan.

   "Karena malam ini kamu sangat cantik dan seksi, maka aku memaafkanmu."

   "Terima kasih atas pengertian, Tuan." Ucap Dyta sambil menunduk hormat.

   Alko tersenyum sambil melangkah pelan mendekati Dyta.

   Deg!!!!

   Dyta merasa takut untuk mengangkat wajahnya. Seketika badannya merasa kaku dan tak sanggup untuk bergerak. Seluruh tubuhnya pun merasa gemetar. Dyta juga semakin gugup ketika melihat langkah Setephen kian mendekat.

   DEG DEG DEG!

  

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel