Chndra Salon dan Boutique
Bab 2. Candra Salon dan Boutique
"Gimana? Iya atau tidak? Kamu tahu kan, aku tidak suka menunggu?"
Dyta masih belum menjawab.
"Dyta?"
Dyta masih tetap diam. Dia bingung dengan jawaban yang akan diberikan. Tangannya terasa dingin dan kaku. Pada hal biasanya dia selalu lincah dan cepat dalam mengerjakan segala hal.
Alko kemudian melancarkan tatapan seriusnya, lalu mengangguk.
"Kamu tidak mau menjawab? Sekarang aku sudah paham. Kamu pasti sudah memiliki kekasih." Alko tersenyum kecewa di ujung ucapannya.
"Itu tidak benar!" jawab Dyta refleks.
"Maksud saya...., saya belum memiliki kekasih Tuan."
Alko kembali menyandarkan tubuhnya, ekspresi wajahnya kembali ceria. Alko semakin bertambah tertarik. Dia terlihat memenangkan negosiasi yang dilakukannya.
"Jadi, benar kamu belum memiliki kekasih?"
"Iya, Tuan. Tapi bukan berarti...."
"Siapkan kamar paling nyaman di Alko Hotel. Sediakan juga anggur dan spa di kamar mandi! Aku suka dengan aroma Lavender. Kamu pergunakan Credit Card pribadiku yang kamu pegang. Silakan kamu kenakan dress dan berdandanlah yang cantik. Silakan kamu lakukan dari sekarang dan aku tunggu di sana sebelum jam dua belas malam. Terima kasih Dyta atas pekerjaanmu hari ini."
Dyta membelalakkan matanya karena terkejut. Alko segera beranjak untuk berdiri dengan senyum penuh kemenangan. Dyta masih terdiam. Tetap mematung dengan posisinya yang belum berubah. Dan perlahan Alko mendekat ke arahnya. Dyta tampak semakin gemetar, bahkan saking gemetarnya, Dyta sampai meremas jasnya Alko yang disampirkan di lengannya.
Alko mendekat dengan tatapannya yang menggoda. Dia mendekat dan merapat ke telinga Dyta. Nafas bos muda itu berhembus hangat yang membuat seluruh tubuh Dyta jadi merinding.
"Bisa kupastikan bahwa kita berdua akan benar-benar menikmati malam ini. Anggap saja semua ini sebagai hadiah ulang tahunmu untukku. Aku merasa sangat puas bekerja denganmu selama lima tahun terakhir ini. Sudah saatnya kita merayakan berdua bukan?"
Cleguk....
Dyta hanya bisa menahan salivanya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Lidah Dyta tiba-tiba juga merasa kelu. Dyta terdiam masih sambil menutup matanya.
Alko kemudian tersenyum sambil menarik jas yang ada di tangan Dyta. Dyta jadi terkejut, lalu membuka matanya. Dengan refleks, Dyta menatap ke arah Alko.
Dyta semakin terkejut ketika wajah Alko sudah sangat dekat dengan wajahnya. Beberapa saat kemudian juga terbersit pikiran kotor dan nakal di kepala Dyta ketika melihat daya tarik Alko yang begitu menggoda. Bibirnya tampak mengkilap dan basah berwarna merah muda serta sangat lembut. Aroma tubuhnya yang menyengat begitu memikat. Pahatan wajah Alko nyaris sempurna sebagai seorang lelaki. Untuk beberapa saat, mereka berdua terdiam sejenak dan saling pandang.
Nafas Dyta pun menjadi tidak beraturan. Mungkin memang Alko merupakan sosok laki-laki paling tampan dan paling sempurna dari semua lelaki yang pernah ditemui Dyta selama ini. Mungkin tanpa disadari Dyta, jauh di dalam hatinya juga menginginkan Alko tidak hanya sekedar sebagai atasan dan bawahan.
Selain itu juga tidak bisa dipungkiri bahwa Dyta juga seorang perempuan normal yang sama-sama memiliki hasrat. Apa lagi selama ini hidup Dyta hanya didedikasikan untuk belajar dan bekerja. Jadi wajar jika Dyta juga merindukan sentuhan seorang lelaki.
"Jangan, Dyta! Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri!" Batin Dyta mencoba mengendalikan semua godaan yang sedang bermain di bawah sadarnya.
Dyta mencoba menarik nafasnya, berusaha untuk kembali pada nalar sehatnya.
Alko melepaskan tatapannya. Dia melangkah berbalik arah dan kembali mengenakan jasnya. Dia berjalan pelan, kemudian meninggalkan ruangan.
Dyta hanya bisa menatap punggung Setephen yang tegap, keluar dari ruangan.
***
"Ya Tuhan?"
Mata Dyta masih membelalak menatap pintu yang sudah tertutup. Dyta mencoba mencerna perintah yang tadi diberikan bosnya itu.
Alko, sang bos Dyta terlihat tidak main-main. Dia tampak serius dengan ucapannya.
TING!
Dyta sedikit bergeming, sebuah pesan masuk di ponselnya. Dyta terperanjat ketika membacanya.
Tidak boleh terlambat.
Saking gemetarnya, Dyta hampir saja membanting ponselnya. Gadis itu kemudian menelan salivanya.
"OMG!" Apa yang sekarang harus aku lakukan?"
Dyta hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Gadis itu mencoba memulihkan seluruh kesadarannya. Dyta mulai bermonolog sendiri.
"Apa Krisna Alko sudah tidak waras?"
"Apa yang sebenarnya ada di pikiran Krisna Alko?"
"Sleeping dengannya?"
"Hah?" Dyta membuang nafas kesalnya.
"Aku tahu dia memang sangat menggoda, tapi..., tapi apa yang sedang aku pikirkan? Akan jadi malapetaka jika aku tidak segera melaksanakan perintahnya!"
Dyta tiba-tiba merasa panik. Dia segera mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan.
*Percakapan telepon*
"Hallo, Alko Hotel? Atas nama Tuan Krisna Alko. Tolong persiapkan kamar terbaik! Tuan Krisna Alko akan menginap di sana malam ini. Persiapkan juga mini spa dengan aroma Lavender. Apakah di sana tersedia anggur?"
"Habis? Bagaimana di sana bisa kehabisan anggur?"
"OMG! Sediakan semua yang saya sebutkan tadi! Tuan Krisna Alko sedang menuju ke sana."
Dyta masih menggenggam ponselnya dengan perasaan panik. Dia sibuk memikirkan langkah selanjutnya.
"Pesan hotel, sudah. Spa dan kamar terbaik juga sudah! Maka tinggal anggur dan dress?"
Dyta menyapu rambutnya dengan perasaan frustrasi.
"OMG! Di mana malam-malam begini aku harus mencari dress?"
Dyta kemudian melepaskan nafas panjang.
"Tenanglah Dyta...., kamu pasti bisa melalui semua ini...."
***
Dyta meninggalkan ruangan dengan langkah yang setengah berlari. Salah satu tangannya menenteng tas. Kepalanya dimiringkan, menahan ponsel di telinganya.
*Bertelepon lagi*
"Ayolah Candra, aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kamu tahu bukan, bagaimana Tuan Alko? Dia orangnya keras kepala. Please...., Candra!"
"Terima kasih, Candra. Kamu memang benar-benar hebat!"
***
*Candra Salon and boutique*
"Tinggal sentuhan terakhir, dan kamu akan menjadi bidadari tercantik di seluruh dunia."
"Tercantik di seluruh dunia? Memang kamu bandingkan aku dengan apa?"
"Dyta sayang, tentu saja kamu paling cantik di antara mereka yang tercantik!"
"Jangan bercanda!"
"Memang ada acara apa kamu harus berdandan cantik tengah malam begini? Bukankah menurutmu kemarin acara ulang tahun Tuan Alko akan berakhir tidak lebih dari jam sepuluh malam?" tanya Candra sekaligus teman dekat Dyta.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja dia mengajakku ke hotel dan menyuruhku berdandan yang cantik!"
"What???"
Candra sangat terkejut mendengar jawaban Dyta. Sama terkejutnya seperti saat Dyta mendengar semua itu.
"Ekspresiku juga sama denganmu saat mendengar hal itu." Jawab Dyta sambil menopang dagunya dan mengangkat alis.
"Hahahaha!!!!"
"Kamu tampak berbeda dari biasanya Candra?"
"Selama ini aku kira dia itu homo. Kamu pernah bilang kalau dia tidak pernah dekat dengan perempuan. Rupanya justru dia menginginkanmu. Ini akan menjadi gosip aktual!"
"Hah??? Semua kata-katamu ngelantur!"
"Ya, maaf...., maaf." Candra meminta maaf dan kembali mengarahkan kamera wajah Dyta ke depan cermin. Candra mencoba menegakkan wajah Dyta.
"Kamu sangat cantik, Dyta! Sangat wajar jika Tuan Alko menyukaimu. Siapa yang tidak jatuh cinta pada Bidadari secantik kamu?"
"Kamu terlalu berlebihan!" Jawab Dyta sambil tersenyum malu.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Yang jelas, tidak semudah yang dia bayangkan untuk mendapatkan aku!"
"Apa kamu sedikit pun tidak tertarik padanya?"
"Aku ini masih normal, Candra!"
"Ada baiknya, kamu pikirkan semuanya! Dia itu bos tampan dan mapan, juga sukses!"
"Ah, aku belum memikirkan semua itu!"
"Kenapa?"
