Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mengajukan Banding

“Bagaimana? Apa aku kirim sekarang pada kakakmu?” Fella menggeleng. Dia benar—benar akan dibunuh oleh kakaknya kalau kakaknya tahu dia semalam mabuk dan melakukan hal itu.

“Kakak lagi ngancam aku? Kak Erick … udah deh. Jangan bohong. Begini ya! Anggap saja semalam aku itu lagi mabuk, toh kakak nggak rugi apa—apa kan!” jawab Fella sedikit acuh tak acuh, dia merasa Erick memang sedang membohonginya.

Dia yakin, hotel itu tempat yang aman. Tidak mungkin ada privasi yang disebar tanpa izin akses yang berwenang.

“Tidak dirugikan katamu?” Erick mendekat lagi dan berbisik, “kau tahu, kalau dihitung-hitung, kerugian itu tidak akan bisa kau lunasi. Apalagi kalau kakakmu tah-” Fella membekap mulutnya lagi.

“Kakak … sudah … nggak usah bohong. Aku tahu, hotel itu tempat umum, belum tentu privasi orang disebarkan secara bebas!” ucap Fella masih dengan kepercayaan diri penuh dan sewot.

Erick melepaskan bekapannya, “Kamu tidak percaya? Perlu kita lihat lagi? Sekedar info, kamarku itu adalah kamar khusus yang biasa aku tempati. Tidak bisa sembarang orang masuk dan dilengkapi dengan cctv pribadiku!” Fella membulatkan mata.

Dia masih belum sepenuhnya mengingat kejadian semalam karena tadi pagi dia bangun dengan kepala pusing saat mendengar telepon dari Deira. Dia langsung mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan hadiah, tapi Deira tidak merasa memberikan hadiah.

Karena panik, Fella buru-buru kabur dari ranjang itu. Saat dia terbangun, dia sedang memeluk tubuh seorang laki-laki dan dia sempat tersenyum bahagia karena laki-laki tersebut memberikan pelayanan terbaik. Tubuh mereka berdua yang berada dalam satu selimut sudah tanpa busana.

Fella juga tidak bisa membohongi dirinya kalau pagi tadi dia mengagumi laki-laki yang ada di ranjang itu.

“Apa kakak bilang? Nggak mungkin, kakak pasti sedang berbohong kan?!” Fella masih tidak percaya. Namun, Erick tidak memberikan jawaban, dia malah menarik Fella ke sudut ruangan dan membawanya masuk ke sana.

Saat ditarik Fella berusaha menolak, tapi cengkraman Erick sangat kuat.

“Agh! Sakit, Kak!” Erick baru melepaskan saat mereka sudah masuk di ruangan tersebut. Erick mengunci dan menariknya ke sofa.

“Kakak, aku akan teriak kalau kakak macam-macam sama aku. Aku bisa jamin, kak Justin pasti akan mengamuk!” Fella tidak kalah akal dalam memberikan ancaman.

“Jangan se yakin itu ….” Erick mengeluarkan ponselnya dan dia memutar video didalam sana.

“Ahh ahh ahh umm sakit, ah tapi enak banget! Tolong pelan-pelan, sayang ah … kamu kuat banget!” Seketika wajah Fella memerah. Mirip udang rebus dan mabuknya semalam.

Dia berdiri dan berusaha mengambil ponselnya, tapi Erick tidak akan memberikannya dengan mudah, “Meskipun kamu berhasil menghapus, back up video tentu sudah aku simpan dengan baik!” seringai Erick.

Posisi tubuh Erick sekarang sedang berada dibawah kukungan kaki Fella yang naik ke tubuhnya demi merebut ponsel.

“Kak Erick repot-repot menjebakku seperti ini buat apa sih, Kak? Tolong cepat hapus. Kak Justin benar-benar akan membunuhku kalau tahu!” akhirnya Fella menyerah.

Dla harus mengubah strategi. Mundur untuk menang.

“Enak aja, ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Kau sudah berada dalam genggaman mana mungkin aku lepaskan begitu saja,” Erick berbicara dalam hati sambil membelai wajah Fella yang frustasi.

“Repot katamu, tidak untukku!” tegasnya, dia mendorong tubuh Fella dan bangkit dari sofa.

“Agghhh! Bagaimana ini? Aku benar-benar akan dibunuh kak Justin!” gumam Fella, dia segera mengejar Erick yang keluar lebih dulu dari ruangan.

“Kakak, Kak, Kak Erick, tunggu!” Fella harus mendapatkan video aslinya.

“Loh, Rick? Kalian sedang apa disini?” suara Justin langsung memecah suasana. Fella langsung diam, dia tidak berani bersikap yang macam-macam sebelum mendapatkan video aslinya.

“Dia merengek minta minum. Aku melarang, tapi dia malah marah!”

Jantung Fella hampir melompat, dia melirik Erick yang kembali bersikap dingin dan ketus padanya.

“Iihh … dasar cowok brengsek! Dia sedang menjebakku. Awas saja, kalau aku sudah mendapatkan video itu, aku akan mencekik lehernya!” Fella mengeratkan gigi saat mendengar ucapan Erick yang sengaja memfitnahnya.

“Nggak, Kak Justin, bohong. Kak Erick bohong. Aku sama sekali nggak minum. Kakak boleh cek sendiri nih!” tanpa ragu Fella memajukan wajahnya agar Justin bisa mencium aromanya.

Justin mengendus, “Kau bikin ulah?” tuding Justin yang tidak mempercayai ucapan Fella.

“Nggak, Kak, sumpah. Aku nggak ngapa-ngapain kok!” Fella mengangkat tiga jari untuk bersumpah.

“Pokoknya kakak hanya izinkan kamu magang di perusahaan Erick. Kalau kamu berniat cari alasan yang nggak-nggak kakak nggak akan izinkan!” ultimatum dari Justin sudah menjadi final, Fella hanya boleh magang di perusahaan Erick.

Sedangkan sekarang Fella memang berniat untuk membatalkan. Dia tidak ingin magang kesana karena takut akan dimanfaatkan oleh Erick.

Diam-diam Erick tersenyum puas dengan keputusan Justin, ‘Kau nggak akan bisa kabur dariku lagi, Fella!” seringai penuh kemenangan dari Erick menatap Fella sambil melipat kedua tangannya.

“Eum, sorry ya, Rick. Adek gue emang terlalu dimanja. Makanya gue ekstra banget jagain dia. Lo tau sendiri, gue ama bokap sibuk banget ngurus perusahaan, jadi gue cuma bisa tenang kalau adek gue dititip sama elo!”

Justin berbalik dan berbicara dengan serius pada Erick, “dan sepertinya gue bakal sering ngerepotin elo, Rick,” Erick menautkan kening, Fella ketar-ketir sendiri.

“Jangan bilang, kalau Kak Justin mau ada urusan di luar lagi dan …,” Fella baru saja berbicara dengan hatinya sambil berpikir, “tadi James telepon, kayaknya dadakan banget, pesawat gue besok pagi-pagi. Karena sekarang ada elo, gue titip adek gue. Urusan finansial elo boleh hitung aja setelah gue balik!” tambah Justin.

“Tuh … kan benar, aaaagggghhhh … bagaimana ini? Aku pasti akan ditindas olehnya lagi!” wajah Fella cemberut.

“Fella, mulai besok pagi, ahh nggak-nggak, malam ini saja, kita pulang setelah itu kakak akan antar kamu ke tempat Erick. Kakak akan tenang kalau kamu dijagain sama Erick?”

Fella menggeleng, “Kak, daripada di tempat kak Erick nggak lebih baik untuk sementara aku tinggal di rumah Deira aja!” tentu saja Fella akan menolak, dia harus menjauh. Apalagi keputusan kakaknya sudah final. Fella berpikir tidak ingin bertemu Erick di perusahaan setiap hari dan di rumahnya.

Erick menatap tajam Fella saat dia mengajukan permintaan.

“Nggak, kakak nggak percaya sama Deira. Semalam saja kau sudah menginap di rumahnya. Kakak yakin, semalam kau dan Josh pasti keluar malam. Meskipun dia tunangan kecilmu, tapi belum resmi ya, Fella. Kamu tetap harus bisa menjaga jarak dengannya,” Justin sedang bersikap layaknya kakak yang baik.

Erick mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Justin.

“Kakak, kalau nuduh jangan sembarang. Aku semalam habis belajar mempersiapkan proposal untuk reset magang sama Deira trus aku ketiduran disana. Lagian, bukannya lebih aman kalau aku sementara tinggal bersama Deira saja!” Fella tetap berusaha mengajukan banding. Dia memegangi tangan kakaknya berharap Justin berubah pikiran.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel