Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Jaminan

“Nggak, Fella, maaf, kali ini kakak nggak bisa kabulkan. Karena kakak belum tahu berapa lama urusan disana. Kalau kakak cuma ngandelin papa, kamu juga tahu papa kayak apa?! Kebetulan Erick sementara juga ada disini, kakak percaya, dia pasti bisa menjaga kamu seperti kakak!”

Fella terdiam. Memang semenjak kepergian ibunya, papanya banyak berubah. Dia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan jarang memperhatikan Fella juga Justin.

Untuk masalah finansial, Fella memang tidak pernah kekurangan, tapi tetap saja dia akan merasa kesepian karena kurangnya perhatian dari keluarga.

Selama ini juga memang Justin yang ketat dan ekstra menjaganya. Meski tahu sudah bertunangan dengan Josh, entah kenapa Justin selalu mewanti-wanti adiknya untuk tidak terlalu dekat dengannya.

Justin tahu, adiknya sangat mencintai Josh, jadi dia lebih overprotektif terhadap hubungan asmara adiknya itu. Bahkan beberapa kali, Justin yang menerapkan agar Fella jangan terlalu banyak kontak fisik dengan Josh.

Alasan yang diberikan Justin selalu untuk menjaga nama baik keluarga dan berkali-kali Justin menyebutkan wanita akan lebih berharga jika melakukan itu setelah resmi. Namun, perasan kecil Fella sekarang merasa bersalah, dia sudah melanggar ucapan kakaknya.

Dia tidak bisa membayangkan kalau kakaknya tahu kejadian semalam nasibnya akan berakhir seperti apa.

“Rick, sorry, tapi acara penyambutan Lo bakal gue ganggu. Anggap aja gue hutang malam ini. Nanti setelah urusan gue dan James kelar gue lunasi,” Erick tidak berkomentar saat Justin berbicara, tapi dari tatapannya Justin tahu, Erick tidak menolak permintaannya.

“Kita bisa balik sekarang nggak? Cuma gue udah terlanjur janji mau antar Simon dan Meta pulang, jadi kita janjian aja di rumah gue, cuma gue mau ngerepotin Lo lagi buat ambil barang-barang Fella dulu dirumah!” ucap Justin, Fella sudah benar menarik napas panjang.

Kali ini dia benar-benar tidak akan bisa menolak setelah kakaknya membuat keputusan.

Hanya sekali anggukan dari Erick sudah membuat Justin mengeluarkan ponselnya, “Simon, gue tunggu elo dan Meta didepan sekarang kalau Lo masih mau gue antar balik!” setelah berkata, Justin memutuskan panggilan. Tidak lama Simon dan Meta keluar dari ruangan lain.

Justin langsung bergabung dengan mereka. Sedangkan Fella masih membeku. Rasanya dia seperti mimpi. Mimpi buruk tentunya.

Erick berinisiatif mendekat dan menarik pinggangnya. Tidak ada perlawanan lagi dari Meta.

“Kak!” Fella protes.

“Diamlah. Kalau kau banyak melakukan gerakan sekarang nanti kakakmu curiga!” pasrah, ya Fella hanya pasrah saat mendengar ucapannya. Tidak ada perlawanan.

“Kita mampir dulu membeli sesuatu di beberapa tempat, Markus!” saat pintu dibuka, Erick berkata pada orang kepercayaannya.

Fella ingin menoleh, tapi tubuhnya didorong masuk ke mobil. Ketika Erick duduk, Fella segera mengambilnya jarak. Erick mendesis kecil melihat tingkahnya.

“Kau, berani sekali menghindariku setelah apa yang kau perbuat. Seharusnya akulah yang marah padamu,” dengus Erick, dia tanpa ragu menarik pinggang Fella agar mendekat. Erick tidak suka, Fella menjauhinya.

“Kakak, nggak usah macam-macam ya. Aku bakal ngadu semua sama kak Justin kalau laki-laki,” belum sempat Fella melanjutkan ucapannya, Erick menarik tengkuk Fella lalu melahap bibirnya.

Fella syok.

“Kau benar-benar cerewet sekali!” Erick melepaskan lahapan tiba-tibanya barusan. Fella langsung gelagapan, “Kakak … kamu benar-benar jahat. Kamu lagi menindasku!” sudut bibir Fella berkerucut.

“Anggap saja itu sebagai jaminanmu. Aku tidak akan membocorkan video itu pada Justin asalkan kamu mau patuh dengan kemauanku!” ternyata provokasi tadi malah membuat Fella menghasilkan kesulitan.

“Astagaaa … apa lagi sih yang dia rencanakan? Apanya yang baik. Apanya yang bisa menjagaku. Kak Justin matanya sudah buta!” Fella mengumpat kakaknya dalam hati.

“Jaminan apa maksudnya, Kak Erick? Kakak nggak usah ajukan macam-macam ke aku … atau aku …,’ Fella sedang memikirkan ancaman yang kuat untuk membuat Erick takut.

“Atau? Atau apa!” tapi, Erick tidak terprovokasi, dia terlihat tenang dan diam-diam menyukai perlawanan Fella yang seperti itu.

Mobil berhenti, Fella melirik, pintu depan dibuka dan terlihat orang yang dipanggil Markus oleh Erick tadi pergi.

“Dia, mau kemana?” tatapan Fella penuh curiga.

“Menurutmu? Apa malam ini kita bisa seperti semalam lagi?” Fella membuka matanya. Erick malah tersenyum, “aku kan sudah bilang, anggap saja itu sebagai jaminanmu!”

Fella dikejutkan lagi oleh Erick yang menarik lagi tengkuknya. Sepertinya tadi Erick belum puas melahap bibir mungil milik Fella itu.

“Umm ah!” tanpa sadar Fella mendesah, Erick tersenyum puas. Dia berhasil membuat gejolak di dalam tubuhnya.

“Ka–kakak … uhm!” resleting gaun Fella diturunkan lalu Fella sudah berpindah dipangkuan. Berusaha keras menolak pun percuma. Kini Erick mengeluarkan salah satu benda kenyal yang sudah diincarnya sejak tadi.

Ujung lidah Erick sudah mulai membuat jilatan-jilatan kecil disana, “Ummm … kakak!” Fella meremas rambut Erick. Laki-laki itu sedang asik melumat dan memasukkan benda kenyal milik Fella ke dalam mulutnya.

Fella blingsatan. Tubuhnya bergetar hebat. Ini adalah pengalaman pertamanya yang tanpa sengaja diberikan kepada Erick dan laki-laki itu seperti bayi raksasa besar yang tidak akan pernah puas menyusu pada Fella.

“Umm … Fella, kamu benar-benar membuat aku gila!” Erick menghentikan hisapan di benda kenyal milik Fella, kini Erick menyambar bibirnya lagi. Menukar air liur dan saling membelit lidah.

“Ahh umm pantas saja Josh sangat menikmati momennya bersama Angela, ternyata ini benar-benar membuatku ikut gila juga!” rancu Fella dalam hati mengikuti arahan Erick yang menuntunnya saat berciuman.

Sambil berciuman penuh gairah, tangan Erick sudah mulai meraba ke bawah gaun Fella. Fella menggigit lidah Erick tanpa sadar karena sekarang dia benar-benar sadar dan tidak mabuk. Dia dapat merasakan semua titik sensitif juga sensasi yang dilakukan oleh Erick.

Tangan dingin Erick itu sekarang sedang menyusup ke dalam kain milik Fella, mengusap perlahan dan mencari-cari celah pada belahan bibir bawah milik Fella.

“Kakak shh ahh ….” Suara manja Fella jadi terdengar kembali di telinga Erick, dia tersenyum lagi. Puas saat melihat wajah Fella yang sudah diliputi oleh gairah.

“Sssstt … kamu sudah basah lagi, sayang!” desah Erick berbisik di telinga Fella. Wajah Fella kembali seperti udang rebus lagi.

Erick mengangkat tubuhnya perlahan, tangan Fella memeluk lehernya. Jelas Fella sudah merasakan pada bagian keperkasaan Erick yang mengeras, “Aku ketagihan yang semalam, jadi malam ini kamu akan aku pastikan puas dengan serviceku!” suara kain robek dari bawah gaun Fella dan dia tidak tahu kapan benda keras besar itu sudah membenam di dalam belahan bibir bawahnya.

“Tuan, apa ini sudah cukup!” tubuh Fella membeku. Dia malu setengah mati dengan posisinya saat ini. Fella membenamkan wajahnya di pundak Erick saat Markus membuka pintu depan dan mengangkat beberapa paperbag ditangannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel