Digigit
“Aku hanya ingin membebaskan diriku. Setelah malam ini, Fella yang polos dan bodoh itu sudah nggak ada!” Fella berkata, tapi wajahnya penuh dengan kesedihan.
“Fella, kau serius? Agh! Nggak. Nggak. Pokoknya aku nggak setuju. Aku lebih takut melihat wajah Justin yang akan menghajarku nanti!” Deira tetap menolak keinginan sahabatnya.
“Kau pengianat! Kau lebih membela kakakku daripada aku yang sudah diselingkuhi ini!” renggeknya.
Deira menghela napasnya, “Aku benar—benar akan mati dihajar kakakmu itu kalau dia tahu aku mabuk bersamamu,” jelas Deira yang merasa dilemma.
Setelah pertunjukan panas dan menyakitkan hati itu, Fella dan Deira segera meninggalkan villa.
“Eh, ngomong—ngomong, bagaimana kau bisa tahu tempat ini?” tentu saja Deira penasaran. Dia mendapatkan telepon dadakan dan memintanya menjemput di dekat mini market rumah Fella.
“Menurutmu?” Fella jadi mengerti, pesan provokasi tadi bukan hanya salah kirim, tapi itu pasti rencana Angela agar Fella mengetahui hubungan mereka.
“Dasar wanita munafik. Ular berbisa. Dia terlihat sangat baik didepan kita, tapi dia malah makan pacar teman juga!” oceh Deira, dia tidak habis pikir, selama ini Fella sangat baik padanya.
Karena Fella tahu Angela dari keluarga kurang mampu. Tidak ingin membuat Angela merasa tersisih saat bersama mereka, jadi Fella selalu membantu apapun yang Angela butuhkan. Ditambah selama ini Josh juga tidak pernah melarangnya, Fella pikir, berbuat baik tidak perlu memandang status.
“Sudahlah, aku nggak mau mikirin dulu. Aku mau menenangkan diri,” kata Fella, dia masih menerima pelukan persahabatan dari Deira.
“Trus kalau kau mabuk gimana? Kau tahu kan, aku juga nggak mungkin bisa bawa kamu menginap dirumah kalau kau mabuk,” Deira sedang mempertimbangkan lagi permintaan sahabatnya.
Fella, Deira juga Josh adalah teman dari kecil. Mereka dekat karena pernah satu sekolah hingga masa kuliah mereka ini.
Persahabatan Angela berlangsung saat masa sekolah menengah. Kehadiran Angela diantara mereka sebagai teman baru. Nisa dibilang, awalnya dulu Josh tidak menyukainya. Namun, entah semenjak kapan mereka bisa sampai seperti tadi.
“Aku bisa menginap di hotel, tapi kalau kak Justin tanya, kau harus bantu aku!” tentu saja itu bantuan untuk berbohong.
“Hah! Sudahlah. Sekali ini saja aku turuti! Pokoknya nggak boleh diulangi. Kalau nggak aku benar—benar bisa mati ditangan kakakmu,” Deira akhirnya mengabulkan permintaan sahabatnya.
Deira mengajak Fella ke bar langganan. Dia suka minum, tapi tidak sampai mabuk. Dia tahu batasnya, tapi Fella memang tidak suka minum. Hari ini dia lakukan karena ingin menghilangkan kesedihan dan itu dipahami oleh Deira.
“Pesan satu botol lagi emm ini enak sekali ugk!” Fella sudah menghabiskan satu botol anggur. Untuk kali ini semua minuman dan sewa hotel akan dibayar Deira, kalau kartu Fella terlacak di bar dan hotel, Deira yakin, Justin akan langsung membunuhnya.
“Sudah, nggak usah tambah. Ayo kita ke sebelah sekarang!” Deira merasa Fella sudah benar—benar mabuk. Wajahnya sudah mirip seperti udang rebus dan jalan nya sudah terhuyung.
Deira memapahnya keluar bar dan langsung masuk hotel. Saat Deira memesan dan melakukan pembayaran teleponnya berbunyi. Orangtua Diera menelpon berarti sudah melebihi jam malam. Dia harus segera pulang.
“Fella, mamaku sudah telepon! Kau bisa sendiri masuk kamarnya kan? Ini kartunya!” Deira meletakan kartu tadi di tangannya setelah membawa Fella berhenti di depan lorong kamar, “petugas bilang ambill arah kiri dan pintu kelima untuk kamarmu, hey, kau dengarkan?” Fella hanya mengangguk saat menerima kartu yang diberikan oleh Deira.
“Umm, pergilah. Aku tahu, besok aku hubungi!” ucap Fella berjalan terhuyung setelah kepergian Deira.
Fella berjalan menelusuri lorong, lalu mulai berhitung, “Sa tu … du a … ti ga … em pat … li ma … ini kamarku!” gerutu Fella sambil meletakkan kartu tadi pada akses pintu, tapi tetap tidak terbuka, “apa rusak?” dia memegang knop pintu, menggerakkan berulang, tapi tetap tidak terbuka lalu dia menggedornya, pintu terbuka, Fella terhuyung masuk ke dalam dan langsung menutup pintunya.
“Emm … apa ini? Kok keras dan kenyal!” tangannya menyentuh sesuatu yang dingin, basah, empuk dan kenyal. Fella menggerakan tangannya tanpa sadar diatas benda kenyal dan empuk tersebut, “emm … nyaman sekali, aku benar—benar suka yang seperti ini … eiiihhh!!!!!!” Fella terkejut.
Dia berdiri terhuyung, tapi tangannya dicengkram seseorang, “Berani sekali kau menyentuhku, mau mati!” suara itu keras dan tegas, tapi dengan kondisi Fella saat ini dia hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Ya ampun … Deira, kamu beneran sahabat terbaikku. Ini pasti hadiah dari kamu kan!” oceh Fella sudah tidak jelas, dia malah mendorong orang tadi ke ranjang.
Sekarang tubuh orang itu, tepatnya laki—laki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan handuk di pinggang, posisinya saat ini, dia sedang dinaiki oleh Fella. Fella berada diatas tubuh orang itu sambil terus menggerayangi tubuhnya.
“Kamu tampan sekali!” Fella menyentuh wajah, hidung dan bibirnya, “ini … apa benar—benar enak ya kalau digigit!” sesaat laki—laki itu terdiam, dia juga terkejut, tapi ketika melihat gadis dihadapannya sedang beraksi segurat senyuman penuh arti tercipta.
“Apa kau mau mencobanya?” suara laki—laki itu bergetar, ketika tangan gadis itu sedang memainkan bibirnya dengan tangan, “tadi aku lihat, Josh sangat menyukai bibir Angela, apa ciuman itu benar—benar enak!” satu gerakan dari bibir laki—laki itu kecut saat mendengar gadis itu sedang mengoceh diatas tubuhnya.
“Kalau penasaran, kau bisa mencobanya sendiri!” tantangan provokasi kembali tercipta, Fella merasa tubuhnya semakin panas. Akibat minuman itu benar—benar membuatnya kehilangan kendali. Perlahan dia mendekat dan grauk. Laki—laki itu terkejut, Fella benar—benar menggigit nya.
“Kalau mau gigit, tempatnya masih banyak, ada disini, disini, disini, disini!” ucap laki—laki itu mengarahkan tangan Fella selain di bibir, juga di leher, dada kiri kanan dan bagian perutnya.
“Benar—benar boleh?” laki—laki itu mengangguk pelan, “coba saja, aku nggak akan melawan atau berteriak!’ ucapnya meyakinkan Fella yang sedang mabuk.
“Dasar gadis nakal. Berani sekali dia mabuk, untungnya bertemu denganku!” dengusnya dalam hati dan polosnya Fella sangat percaya dengan ucapan laki—laki itu.
Dia mulai bergerak diatas tubuh laki—laki itu dengan bebas. Memulai aksi gigitannya lagi. Dia mulai dengan mengulang di bibir, kemudian hidungnya berjalan hingga leher, mengendus lalu menggigitnya perlahan kemudian turun kearah otot dadanya yang menggiurkan.
Fella sendiri tidak tahan, dia menelan air liurnya. Memulai lagi rasa penasarannya dengan menggigit bagian otot dada kanan kiri laki—laki tadi secara bergantian. Dia memang sama sekali tidak berteriak hingga Fella yang menurunkan wajah itu secara tidak sengaja, dia ingin menggigit bagian perut yang diucapkannya tadi. Dua benda milik Fella malah ikut tergesek di dada laki—laki itu.
