
Ringkasan
Fella bersedih karena mengetahui tunangannya berselingkuh. Dia dan Deira pergi ke bar dan mabuk. Karena takut ketahuan mabuk, dia pergi menginap di hotel. Siapa sangka dia salah masuk kamar dan menghabiskan malam pertama dengan Erick. Tidak menyangka, Erick adalah teman kakakknya yang dijanjikan akan magang di perusahaannya. Erick yang diam—diam sudah terpikat olehnya sengaja mengancam Fella akan memberitahu kakakknya dengan video panas mereka. Yang Fella tidak tahu, ada rahasia yang Erick sembunyikan. Mau tidak mau, Fella melakukan kesepakatan. Kesepakatan panas yang membuat mereka saling terjebak dan saling mengisi satu sama lain.
Perkenalan
“Fella, kenalin dulu, ini dia, Erick Carlton, teman kakak yang kemarin kakak ceritakan.”
Fella membeku di tengah pesta yang sedang berlangsung. Tangannya sudah menyiapkan kado yang dipilih dengan sangat teliti dua hari lalu, tapi kini hatinya mendadak bingung. Tubuhnya kaku dan canggung.
Bertatapan langsung dengan orang yang direkomendasikan oleh kakaknya. Kakaknya bilang, temannya itu baru kembali dari luar negeri. Kebetulan dia sedang mengurus cabang di dalam negeri. Perusahan global Erick sudah tersebar di dalam dan luar negeri, jadi Justin bisa tenang merekomendasikan perusahaan yang dikelola Erick sebagai tempat magang adiknya.
Demi tugas akhir dari kampus, dia diharuskan magang selama 3 bulan disalah satu perusahaan sebagai reset dan penilaian akhir tugas kampus. Dia harus mendapatkan nilai baik. Bukan tidak bisa magang di perusahaan kakaknya, tapi Fella berpikir di tempat lain akan lebih menantang dan seru apalagi tanpa pengawasan kakaknya.
Laki—laki bertubuh tinggi, berperawakan tegap dengan wajah luar biasa tampan bak pahatan model manusia itu menatapnya dengan tajam. Siapapun yang ditatap pasti akan langsung jatuh cinta. Nyatanya, itu tidak berlaku dengan Fella, dia bingung harus bersikap bagaimana terhadap laki—laki itu.
‘Hey, kenapa diam saja, kemari, Kakak kenalin kamu!” Fella menelan air liurnya, tubuhnya mendadak tidak ingin bergerak.
Padahal di mobil tadi dia sudah sangat bersemangat untuk merayu teman kakaknya itu. Kata kakaknya, temannya itu dingin dan susah didekati. Wanita model bagaimanapun yang menggoda, kalau dia tidak suka, tidak akan disentuh.
Itu juga menjadi salah satu alasan Justin merekomendasikan temannya. Dia yakin. Erick akan menjaga adiknya seperti dia yang menjaganya. Erick adalah sahabat terbaik Justin.
Justin menarik tangan Fella agar lebih mendekat, “Rick, ini adek gue yang gue certain kemarin. Gue minta tolong ya!” ucap Justin seraya menyuruh Fella untuk memberikan kado di tangannya, “dia sampai bela—belain nyariin kado juga tuh!” tambahnya, Justin memberikan kode agar Fella memberikan kado itu.
Tidak ada kata, hanya tatapan penuh makna. Erick menerima kado pemberian Fella. “Umm … ha—llo, Kak Erick, se—selamat datang kembali, Aku, Fella, adiknya Kak Justin,” lagi—lagi Fella bersikap canggung mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
Tatapan dingin Erick semakin membuat bulu kuduknya berdiri. Seram sekali, pikir Fella.
Pesta yang dibuat kali ini hanya pesta penyambutan Erick yang baru tiba. Yang datang hanya beberapa teman dan ada juga rekanan bisnis Erick yang turut serta.
Fella merasakan tangan dinginnya saat menyapa untuk berkenalan, “Erick Carlton, hallo juga adiknya, Justin!” satu sudut bibirnya terangkat, Fella buru—buru menarik tangannya.
“Gimana, Bro? Elo nggak masalah kan kalau adek gue magang di tempat Lo, 3 bulan doang. Terserah nanti Lo mau kasih dia jabatan apa, yang penting kalau dia dititip sama Lo, gue tenang!” karena ditelepon kemarin Justin belum mendapatkan persetujuan, dia harus mengkonfirmasi ulang permintaannya.
Kembali Erick tidak menjawab, dia malah mengambil satu gelas minuman dan meneguknya. Rasanya jantung Fella akan meledak. Dia ingin segera kabur dari acara itu, tapi tidak mungkin dia lakukan karena sebelum ini dialah yang merenggek kakaknya untuk dicarikan tempat magang yang bagus.
Fella meremas sendiri gaun yang dipakainya. Bahkan untuk pesta penyambutan malam ini dia sampai berdandan dengan sempurna. Dia terlihat sebagai adik yang polos, penurut dan baik. Memang seperti itulah yang Justin tahu.
Sayangnya tatapan itu seperti mendapat ejekan dari Erick. Saat berhadapan dengannya tadi, Erick menatapnya dari ujung rambut hingga kaki.
“Hey, Bro, apa kabar?” seorang laki—laki menepuk pundak Justin.
“Woy, Simon, Lo juga datang?” Justin berjabat tangan dan berpelukan. Layaknya acara penyambutan Erick bisa dibilang sebagai ajang reuni. Justin melirik wanita yang berjalan bersama dengan Simon, “eh, kamu datang juga, Meta!” ucap Justin, wajahnya sedikit berubah saat menatap Meta, wanita itu menjabat tangan Justin.
“Kita ngobrol disana bareng yang lain, yuk!” ajak Simon, Justin melirik Erick yang memang dia terkenal dingin pada semua orang. Dia tidak akan mau diajak gabung dengan siapapun meskipun malam ini pesta penyambutannya.
“Rick, Elo, mau ikut gabung nggak?” tepat seperti dugaan Justin, dia menggeleng sambil meneguk minumannya lagi, “kalau begitu, gue titip Fella, kasih jus, dia tidak bisa minum minuman beralkohol!” pesan Justin sebelum punggungnya benar—benar pergi gabung dengan teman lainnya.
Fella tidak bisa protes. Memang dia yang memaksa ikut demi permintaannya untuk magang, jadi kesempatan itu tidak akan dia lewatkan.
“Mati aku!” bisik Fella dalam hati, air liurnya ditelan kembali saat Erick mendekat dengan gelas jus yang dibawanya. Kakinya spontan mundur saat Erick bergerak kearahnya.
“Tidak bisa minum yang beralkohol?” ucapnya sambil menyodorkan gelas jus yang dibawanya, Fella mengerjapkan mata, mundur lagi dan hampir terjatuh, Erick menariknya ke dalam pelukan, “lalu siapa yang semalam mabuk dan berada diatas tubuhku?!” mata Fella membulat, dia meronta mencoba melepaskan pelukan Erick yang semakin erat.
“Padahal gigitan semalam masih banyak ditubuhku, atau mungkin kau lupa karena buru—buru kabur setelah melakukannya?!’ Fella mendorongnya. Wajahnya memerah. Erick menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Se—se—semalam, aku, aku, itu … hanya gak sengaja. Aku kesal karena melihat pacarku selingkuh!” jawab Fella frustasi saat disudutkan seperti itu.
“Jadi? Kau hanya menjadikanku sebagai alat?” Fella mengangkat kedua tangannya seraya berkata itu tidak benar dengan kedua tangannya yang digoyang—goyangkan dihadapan Erick.
“Bu—Bukan seperti itu, Kakk ….” Erick menyeringai saat mendengar ucapan terakhir Fella.
“Kak?” dia membuang kasar napasnya lalu mendekat kembali pada Fella, “kau berteriak diatas tubuhku penuh kenikmatan, inikah bentuk pertanggung jawabanmu?” dengus Erick, dia kembali mencengkram pinggang Fella.
“Ah, Kak, sakit!” Erick tersenyum sinis karena Fella berusaha melepaskan cengkraman di pinggangnya.
“Sakit? Bukannya, semalam kau bilang, sakitnya enak!” spontan Fella membekap mulutnya. Dia tidak ingin siapapun mendengar ucapan Erick tadi. Namun, saat dibekap mulutnya, Erick dengan sengaja mengeluarkan lidah untuk menjilat tangan Fella.
“Kakak!” kini Fella berteriak kesal dan menghentakkan kaki tanpa sadar. Erick menyinggungkan senyuman smirknya.
“Kau, dasar gadis nakal. Hebat sekali. Ck, ck, bagaimana kalau Justin tahu kalau sikap aslimu itu seperti semalam? Kira—kira apa yang akan dia lakukan padamu?” Fella kembali membulatkan mata.
“Kak Erick, nggak usah aneh—aneh deh. Kak Justin itu orang yang paling menyayangiku. Dia nggak mungkin percaya begitu saja dengan ucapanmu!” Fella menjawab dengan penuh percaya diri.
“Kau seyakin itu?” seringainya melawan balik pernyataan Fella.
“Maksudnya?” keningnya berkerut saat Erick mengeluarkan ponselnya.
“Kira—kira … keputusan apa yang akan diambil Justin kalau dia sampai melihat video kita bersama ya?” seraya mengangkat ponsel dan bersiap akan mengirimkan sesuatu.
