Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

July 27, 2017

06.45 am

Jongin mempercepat langkahnya setelah melewati lobi perusahaan. Tas hitamnya dicengkeram lebih kuat, sesekali melirik kearah jam tangan berwarna coklat yang melingkar dipergelangan kirinya.

Pada detik berikutnya pria itu berlari tergopoh mengingat pukul 7 tinggal 3 menit lagi, dan sialnya hari ini ia ada jadwal untuk evaluasi rapat kemarin bersama CEO-nya.

Matilah ia! Sehun pasti tak akan memaafkannya seperti biasa. Pria itu akan menemuinya dengan pandangan sedingin gunung es dan ucapan setajam pisau, lalu tugas sebanyak tumpukan jerami siap menunggunya semalaman.

Oh ayolah!

Tangannya memencet panel lift tergesa, kemudian menunggu dengan tidak sabar. Butuh beberapa menit setelah bunyi ding! terdengar dan pintu terbuka. Kaki panjangnya mulai berlari membuat beberapa pegawai lain menatap sang sekertaris presdir yang tergesa. Semua pegawai juga memikirkannya,

'Ia akan habis pagi ini oleh Tuan Oh!'

Jongin membuka pintu ruangan Sehun pelan. Berusaha sesiaga mungkin menerima death glare dari sang atasan.

"Maaf membuatmu menunggu Hoejangnim-" Membungkukkan badannya sembilan puluh derajat setelah memasuki ruangan. Sehun hanya menatapnya datar, menghela nafas panjang kemudian membuang pandangannya.

"Baiklah, tak apa." Jongin gelagapan. Ia melirik Sehun diantara tubuhnya yang masih membungkuk canggung.

"Kau akan terus begitu? Duduklah." Kali ini Jongin terkejut bukan main, biasanya Sehun akan membiarkan dirinya membungkuk dengan durasi 5 menit lebih lalu menyuruhnya keluar dengan dingin. But, what's happen?

Jongin mempertegak posisi tubuhnya lalu duduk dengan canggung disamping Sehun. Sesekali melirik pria diseberangnya yang kini tengah membolak-balik kertas dengan serius.

"Bisa berikan file-nya?"

"Ah, baik-" Jongin tersenyum canggung seraya mengangsurkan beberapa map biru kepada Sehun. Masih penasaran mengenai sikap Sehun yang sangat jauh dari perkiraan.

"Kau hanya akan menatapku?" Sehun berbicara dingin tanpa melihat Jongin membuatnya gelagapan dan terkekeh kecil.

"Kufikir kau akan membunuhku." Gumamnya lirih yang masih jelas terdengar ditelinga atasannya tersebut, Sehun meliriknya.

"Apa maksudmu?"

Jongin terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyesali ucapannya yang baru saja meluncur.

"Eum, karena terlambat pagi ini. Kufikir anda akan menghabisiku?" Jujurnya disusul tawa garing mencairkan suasana yang malah mendapat tatapan datar Sehun.

"Amarah tak pernah menyelesaikan persoalan dengan baik."

Jongin memandang Sehun lekat-lekat. Hey? Sejak kapan pria berdarah dingin dan berjiwa iblis itu kini memiliki frasa-frasa puitis dalam kalimatnya?

Sepertinya Sehun tengah kerasukan jin pagi ini. Semua yang ia lakukan jauh berbeda dengan ia yang biasanya.

Lalu Jongin tersadar, dibalik beberapa map biru yang masih sibuk ditinjau, ia dapat melihat pria itu tersenyum tipis,

Senang atas apa yang baru saja ia katakan.

----

10.45 pm

Pria itu berjalan tertatih kearah pintu. Seluruh tubuhnya terasa ngilu, terutama perutnya yang kini serasa kram sekaligus rasa perih mencengkram tak tertahan.

Kaos putih dibalik tubuhnya mulai menyebarkan warna merah pekat berbau anyir yang begitu khas.

Ia harus kemari. Seluruh amunisinya ada dirumah ini, lagipula bukan kali pertama ia datang dengan keadaan seperti ini.

Retinanya menajam, sedang kaki panjangnya kini mulai memasuki ruang tamu besar dihadapannya.

----

Yoona melempar pandangannya menyapu dinding ruangan dilapisi marmer hitam mewah yang pastinya berharga puluhan juta won. Kembali bergidik, kamar mandi ini masih saja terasa begitu luas bahkan setelah dua minggu lebih menggunakannya.

Ia menyelesaikan kegiatannya, menyalakan air shower yang disetel pelan. Membuatnya meluncurkan bulir-bulir air menjatuhi tubuh rampingnya. Tangannya meraih bathrobe yang berada disisi kanan dan mengenakannya.

Yoona menghentikan langkahnya setelah alarm diotaknya mengingatkan gadis itu bahwa tasnya lupa ia tempatkan, dan kini masih berada dilantai satu. Sepulang bekerja dari hotel tadi, ia sempat tertidur sebentar disofa ruang tamu dan lupa membawanya naik kekamar.

Ada celana training yang biasa Yoona gunakan didalamnya. Bibirnya mencebik mengingat betapa ceroboh dirinya. Ia berjalan keluar kamar dan kini menuruni tangga menuju kelantai satu untuk mengambil barangnya.

Langkahnya yang terus saja datar kini terhenti seketika.

Tubuhnya menegang mendapati pemandangan yang berjarak tak jauh darinya, bola matanya membesar bersamaan dengan jantungnya yang berpacu cepat.

Ia dapat melihat Sehun tengah sibuk dengan tubuhnya, mengobati beberapa luka sayatan diantara perutnya, ia tampak sedikit rikuh karena tangannya sendiri yang mengoperasikan pekerjaannya. Sedang noda darah yang mulai mengering nampak diantara sofa yang kini tengah ditempati pria bertubuh tinggi tersebut.

Yoona baru saja membuka bibirnya ketika pria itu mendapati keberadaannya.

"Apa yang terjadi?!" Suara gadis itu mulai meninggi akibat keterkejutannya, dengan sedikit tergopoh ia berjalan mendekati Sehun yang masih menatapnya kebingungan.

"Kau? Apa, ah tunggu-" perintahnya penuh nada gusar. Sehun melemparkan pandang bertanya kepada Yoona yang sialnya tidak tidak ditangkap gadis itu.

"Minggir."

Sehun dengan patuh menyingkir, matanya mengikuti gerak cekatan Yoona kini tengah berfokus mengambil alih pekerjaannya. Ia mengeluarkan jarum, gunting, dan kain kasa dari kotak berwarna putih diatas meja yang sudah sejak kapan berada disana.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun bertanya ragu-ragu. Rasa perih yang melilit tubuhnya telah kalah telak oleh rasa penasaran.

"Aku sering melihat ayahku melakukannya, jadi diamlah." Sehun mengernyit. Untuk pertama kalinya gadis itu berbicara penuh perintah padanya, bahkan sama sekali tak melihat sudut wajah Sehun.

Tak ada pertanyaan lagi. Sehun melirik sekilas ketika Yoona mulai menjahit beberapa bagian perutnya yang terluka parah, tubuhnya terasa mual sekarang, seolah sulur-sulur tidak terlihat membetot ulu hatinya.

Beberapa saat, Yoona membentuk kain kasa menjadi simpul dan menempelkannya dengan hati-hati. Pandangan Sehun kini terlempar kearah Yoona, ia dapat melihat ujung-ujung rambutnya yang masih basah. Aroma mawar tiba-tiba saja menerpa Sehun mengalahkan baur anyir darah dari tubuhnya. Dan... hey, ia masih mengenakan bathrobe-nya!

Sehun dapat melihat belahan dada gadis itu ketika tubuhnya sedikit menunduk untuk menjahit perutnya, ia bersumpah ini adalah kali pertama jantungnya berdetak lebih cepat melihatnya.

Harusnya tidak- karena Sehun sudah begitu biasa melihat pemandangan seperti itu dibar. Tapi tidak sekarang, ini membuat Sehun merutuki diri sendiri dan terus menyumpah dalam hati.

Nah, pemikiran macam apa itu?

Sehun tersentak pada detik berikutnya. Menyadari bahwa tak seharusnya ia memandangi aset gadis itu ketika ia tengah sibuk mengobatinya dengan tulus.

"Tegakkan tubuhmu." Yoona menoleh, kali ini Sehun yang memerintahnya membuatnya kebingungan. Ia melihat pria itu dengan tatapan 'apa?' namun Sehun hanya mengalihkan pandangannya datar.

"Kubilang lakukan saja?" Desisnya penuh penekanan, membuat Yoona mengernyit lalu memperbaiki posisinya, melakukan perintah Sehun yang tak tahu apa maksudnya.

Yoona penasaran. Pria itu sama sekali tak terlihat merintih kesakitan atau mengerang setidaknya? Ia punya luka yang cukup parah. Ia baru saja akan membalutnya dengan perban yang lain untuk menyelesaikan pekerjaan akhirnya, namun tangan Sehun kini mengambilnya.

"Biar aku." Ucapnya pelan seraya memutar perban itu melilit tubuhnya sendiri. Hening menyelimuti, Yoona sesekali melirik Sehun.

"Bagaimana bisa?" Yoona membuka suaranya lirih. Iya atau tidak- kenyataannya ia memang penasaran.

"Musuhku."

"Kamu berkelahi?"

"Yeah,"

Yoona membasahi bibirnya, kemudian menggigitnya sambil bergidik ngeri. Perkelahian macam apa yang membuatnya seperti ini?

"Kufikir kamu punya bodyguard-" cicitnya sambil menerawang, tentu kan? Orang sekaya Sehun harusnya tak tersentuh karena punya banyak pengawal.

Kali ini Sehun terkekeh. Yoona selalu saja seperti gadis kecil yang mengajukan pertanyaan tak penting. Ah satu lagi, dia tak pernah menyukai anak kecil.

"Ayolah, aku bukan anak lelaki dibangku dasar."

Yoona mengerucutkan bibirnya. Sehun selalu saja menyebalkan tiap kali membuka mulutnya.

"Kenapa berkelahi?"

"Agar menang."

Yoona tersenyum kecut. Ia membersihkan beberapa kasa yang sudah digunakannya. Sehun sepertinya tak pernah berniat serius ketika berbicara dengannya.

"Lalu kamu menang?" tanyanya polos

Sudut bibir Sehun terangkat.

"Sepertinya?" Sahutnya bangga. Tentu- Sehun tak mengada-ada, Sehun memang harus menang Im Yoona. Ia harus menang melawan musuh-musuhnya para pemilik perusahaan ilegal yang sibuk beroperasi mengalahkan dirinya. Itu tugas biasa kan?

"Kalau begitu tak perlu menang lagi."

"Kalau akan menyakiti diri sendiri." Tukas Yoona datar. Ia berbicara tanpa menatap Sehun.

"Baiklah,"

"Tapi lain kali harusnya berfikir lagi sebelum menolong, bukankah harusnya pakai baju dahulu?" Giliran Sehun yang menasehatinya. Membuat Yoona terlonjak dan mendapati tubuhnya masih memakai mantel kamar mandi berwarna biru tua.

Matanya menelisik dan mendapati tasnya teronggok dibawah meja. Yoona menyambarnya,

"Aku mau ambil ini kok-" Sergahnya ketus kearah Sehun, gadis itu berlari terbirit menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan pria itu yang masih duduk tegap diatas sofa.

Yang baru saja nampak seperti wanita dewasa ketika serius mengobatinya lalu berlari terbirit seperti gadis remaja dimasa pubertasnya. Ia rasa Yoona punya keduanya.

Sehun terkekeh. Tawanya meledak didalam hati melihat tingkah gadis itu. Yoona benar-benar membuatnya lupa tentang luka yang didapatnya malam ini.

Benar-benar luar biasa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel