Pustaka
Bahasa Indonesia

The Worst

73.0K · Tamat
Ara31
50
Bab
12.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

"Tolong aku" Tangan itu meraihnya, jemari dingin terasa diantara kulitnya. Membuat Sehun berhenti dan menatap sosok gadis yang hampir dilecehkan oleh Chanyeol dihadapannya baru saja. Gadis itu menatapnya dalam, seolah meminta pertolongan. Tapi Chanyeol dengan jelas mengatakan bahwa gadis itu telah ia beli untuk bekerja di barnya. Jadi, bukankah tak ada alasan bagi Sehun untuk menolongnya? Tentu saja. Sehun hanya kebetulan kemari untuk membahas bisnisnya, dan karena ia tak punya alasan yang lebih besar untuk melakukan sesuatu daripada uang. Hatinya telah mati rasa atas simpati dan macam rasa. Tapi rasanya, malam itu Sehun baru saja menyadari kesalahannya. Karena ternyata ada yang lebih dalam daripada jurang, lautan atau bahkan angkasa didunia ini. Yaitu sorot mata seseorang yang mampu membuat hatimu bergetar. Yang membuatmu ingin menyelam walau bola matanya bukanlah warna lautan. Tenggelam dan tersesat disana. Karena Sehun rasa ia tenggelam dalam tatap Yoona. Haruskah ia menyelamatkannya? Jatuh padanya dengan fakta bahwa ada kenyataan lebih besar lain yang pahit tengah menantinya.

PresdirCinta Pada Pandangan PertamaPengkhianatanRomansaBillionaire

Bab 1

Kebebasan macam apa paling sempurna?

Kebahagiaan macam apa paling diinginkan?

Ikhlas dalam hidup yang seperti apa paling diidamkan?

Bukankah segalanya memang penuh tanya pada semesta?

12 July, 2017

11.46 pm

Kakinya terus berlari.

Walau semakin kelu dan kian lemah.

Tetes cairan merah pekat berbau anyir terus jatuh seiring langkah kaki yang dipaksa pergi. Membuatnya membasahi jalanan lengang dimalam hari.

Cahaya lampu temaram ditepi jalan membuat iris matanya tampak berkilat-kilat.

Hatinya bergejolak.

'Jangan jatuh disini. Kumohon'

Gadis itu memaksa raga-nya yang semakin ringkih untuk terus berlari. Walau tahu tenaganya semakin melemah bersama nafas yang semakin memburu.

BRUK!

Ia tersungkur. Cukup keras pada aspal kasar yang berada dibawahnya. Matanya perih dengan pandangan yang serasa berputar tak menentu membuat tubuhnya jatuh tak berdaya.

Gawat- ia bahkan tak kuat hanya sekedar berdiri.

Beberapa sosok lain mengangkat tubuh lemahnya dengan kasar. Menyeringai dengan tatapan berapi seolah berhasil menangkap sang mangsa. Mengambil alih segala tenaga pada raganya dan menjadikan malam sebagai saksi bisu bagi ketidakadilan paling buruk didunia.

----

"Ayolah"

Desak seorang pria pelan sambil meneguk bir miliknya. Menyesap cerutu rokok berwarna coklat tua kemudian menyandarkan punggung lebarnya pada kursi hitam berdesain mewah dengan gagang kayu yang memperlihatkan serat mahalnya.

Sehun berdecih mendengarnya.

Beringsut menatap lawan bicaranya dengan tatapan tak suka. Ia sama sekali tak tertarik dengan bir mahal atau dua orang gadis berpenampilan terbuka yang tengah bergelayut diantara bahu sempurnanya.

Chanyeol tergelak. Ia tertawa remeh dengan suara dalam miliknya. Memberi isyarat kepada para perempuan bawahannya tersebut agar pergi dari tubuh Sehun.

"Lalu untuk apa kemari jika tidak bersenang dahulu Tuan Oh?" Kembali membuka suaranya yang terdengar tak bersahabat ditelinga Sehun.

Suara dentuman musik dari luar ruangan cukup jelas terdengar. Ritmenya semakin cepat memacu siapapun agar menari bersamanya.

Tapi tidak dengan Sehun.

Pria itu membenarkan letak jasnya yang terasa sedikit lusuh karena terlalu lama duduk. Ia datang kemari untuk membahas bisnis. Akan membeli beberapa hektar tanah Chanyeol bagi projek ekspansi perusahaannya.

"Baiklah, kalau begitu langsung saja mulai diskusinya" Merasa tak ada jawaban, Chanyeol kembali membuka suaranya.

Sebenarnya, ia tak suka harus berurusan dengan Sehun. Seorang CEO sukses dan ternama di Korea, memiliki kerajaan bisnis yang menduduki peringkat atas dengan segala kekuasaannya. But yeah- orang sepertinya selalu terjamin dalam bekerja sama, bahkan akan memberi uang dengan mudah jika hanya membeli sebidang tanahnya.

Sehun tersenyum puas. Ia akan mendapatkan wilayah strategis itu sebentar lagi. Walau harus berurusan dengan Park Chanyeol, pemilik bar tempat seluruh kegiatan malam di Seoul.

"Kenapa tak suruh orangmu saja menemuiku?" Chanyeol menyesap cerutunya kembali, kemudian melepaskan asapnya begitu saja.

"Dan membiarkanmu membodohinya?" ejek Sehun dengan raut wajah tak peduli. Chanyeol tertawa, kemudian meneguk bagian bir terakhirnya pada gelas dingin diatas meja.

Menjilat bagian bibir bawahnya yang terasa basah.

"Baiklah, beritahu saja berapa tawaranmu"

----

01.12 am

Sayup-sayup suara dentuman musik terdengar, memenuhi ruangan dan mulai menusuk pada gendang telinga. Ia mengerjap-ngerjapkan bola matanya lemah.

Memaksa seluruh cahaya temaram memasuki retina miliknya. Ia telah berada diatas ranjang berukuran sedang yang cukup usang. Pandangannya penuh tanya.

Hey, dimana dia?

"Kau sudah bangun?" Sebuah suara berhasil menyentaknya begitu saja dari lamunan. Dapat dianalisis bahwa itu milik seorang perempuan juga.

"Minumlah, Yoona?" Ia memutar lehernya, mendapati seorang perempuan membawakan segelas air putih untuknya. Memanggil namanya ragu.

"Kau berada di bar" Kembali menjawab pertanyaannya sebelum sempat ia berbicara. Perempuan itu tahu pasti seluruh keingintahuan Yoona yang masih kebingungan.

Yoona menatap tak suka kearahnya. Perempuan itu memakai pakaian tipis dan menerawang, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas dan leluasa dipandang. Ia pasti salah satu pekerja bar disini?

"Aku akan kembali lagi nanti." Ujarnya kembali karena Yoona sama sekali tak bereaksi dengan keberadaannya. Ia maklum dengan gadis itu.

Yoona melenguh. Kakinya terasa sakit dan begitu perih. Cahaya lampu diruangan tempatnya ini sangat redup dan begitu samar, ia menengok dan melihat kakinya berlumur darah. Tentu saja, akibat berlari dengan kaki telanjang sangat fatal.

Ia tersenyum miris.

Mencoba berdiri walau tertatih. Bagaimanapun ini bukan tempatnya. Membayangkan rasa harus tinggal pada dunia malam adalah hal paling buruk. Ia harus pergi!

Yoona berlari. Menerobos pintu ruangannya begitu saja. Yea, ia harus keluar dari sini. Pandangannya sedikit kebingungan. Jadi inilah bar itu? Seumur hidupnya baru pertama kali memasuki tempat terkutuk ini.

Dipenuhi gadis-gadis seksi dan para pria dalam kondisi mabuk, menari bersama kemudian saling memuaskan hasrat bejatnya. Cih, ini gila.

Dengan cepat ia melangkahkan kaki, berlari pergi.

"Hey!! Mau kemana dia?!"

Seseorang berteriak keras. Membuat Yoona menengok dan melihat beberapa pria mulai mengejarnya, bersama perempuan tadi.

Gawat- ini buruk.

Yoona berlari tergesa. Menabrak orang dan menyenggol beberapa meja penuh bir. Ini mengingatkan Yoona pada labirin, beberapa jalan mengantarkannya pada lorong gelap yang lain, sisanya berujung pada dinding buntu tanpa pintu.

"Tangkap dia!!"

Suaranya membelah udara walau tak cukup kuat menandingi musik bar. Yoona kembali menengok kebelakang melihat orang-orang itu masih mengejarnya, kembali menatap kedepan dan menubruk sosok lain dengan keras.

Salah satu dari mereka. Seorang pria menangkap Yoona dari depan dengan sempurna.

Tangannya mencekal lengan Yoona kuat dan menyeretnya cukup kasar. Dapat Yoona lihat sekilas perempuan tadi tersenyum penuh kemenangan menatapnya yang dengan mudah ditangkap.

----

"Bos, ia mencoba kabur lagi"

Alis sebelah Chanyeol terangkat. Tak mengerti apa maksud bawahannya yang tengah memberi laporan. Bahkan sampai memasuki ruangnya dengan tergesa

Pandangannya mengikuti ketika seorang gadis diseret paksa memasuki ruangannya. Ia tampak sangat lemah namun dengan sarat mata penuh amarah.

Chanyeol tersenyum.

Ia menaruh cerutunya diatas meja. Menyeringai seakan memuji atas kerja keras para bawahannya.

Terbalik- Pandangan Sehun kini beralih pada gadis itu juga. Menunggu apa yang selanjutnya akan diperbuat Chanyeol yang tiba-tiba menghentikan pembicaraan bisnis mereka.

Dari cahaya temaram diruangan ini. Mata Sehun masih dapat menangkap sosok gadis tersebut, rambut coklat panjangnya tergerai sempurna walau sebenarnya sedikit berantakan. Pakaiannya telah lusuh, peluhnya terus menetes dan bekas darah yang mulai mengering pada kakinya.

"Coba lihat siapa yang kita punya?" Chanyeol tersenyum, menghampiri gadis itu dengan tatapan lapar.

Yoona melepas kasar tangan para bawahan Chanyeol yang masih menahannya. Ia mendongak dan melihat Chanyeol penuh benci. Cukup tahu siapa pria buruk dihadapannya ini, pastilah ia bosnya.

"Jadi gadis kecil ini yang mencoba kabur lagi?" Ejeknya tepat ditelinga Yoona membuat hatinya bergetar. Jujur saja, ia takut jika harus berhadapan dengan Chanyeol, apalagi dengan keadaan lemah seperti ini.

Yoona tersenyum mengejek, melemparkan tatapan benci kesekian kalinya.

"Keparat kau, brengsek." Umpat gadis itu angkuh diantara tenaganya, sembari mengatur nafas yang kian memburu dengan iris mata nanar. Chanyeol terkekeh mendengarnya, memajukan kepalanya dan memposisikan dirinya tepat ditengkuk telanjang Yoona. Berfikir akan mencumbunya mungkin menyenangkan.

Tak peduli orang-orang dalam ruangan yang kini tengah menatapnya. Termasuk Oh Sehun.

"Begitukah? Tapi keparat ini sudah membelimu jalang kecil-" Desis Chanyeol penuh kemenangan, nafasnya dengan jelas dapat Yoona rasakan menerpanya.

PLAK!

Benar. Yoona menamparnya dengan keras. Ucapan Chanyeol menohoknya hingga ke ulu hati. Membelinya? Apa-apaan ini?

Chanyeol tersenyum setelah mendapat tamparan gratis, ia menjilat darah yang keluar dari sudut bibirnya. Kali ini matanya memerah penuh amarah

"Berani sekali kamu sayang"

BRAT! KREK!

Sukses besar Chanyeol menarik dress krem selutut bagian bawah Yoona. Membuatnya robek dan kini memperlihatkan paha mulusnya menjadi tontonan gratis bagi siapa saja disana. Bahkan Yoona sendiri yang belum pernah sekalipun mengeksposnya pada siapapun.

Yoona tersentak. Keterlaluan! Apa yang telah pria itu lakukan padanya? Yang pasti tengah mempermalukan harga dirinya.

Mata hitamnya menyala.

"Lihat apa yang bisa aku lakukan padamu hm? menelanjangimu disini mungkin juga akan mudah?"

"Jadi jangan coba melawanku, sayang."

Chanyeol menyeringai puas. Ia membenarkan dengan lembut letak poni rambut yoona sedikit kesamping karena mulai menutupi matanya.

Yoona tercekat. Benar-benar telah dipermalukan pada seluruh manusia diruangan ini. Sarat matanya nanar dan penuh sesak akan air mata. Ia ingin menangis, tapi bersumpah tak akan menunjukkannya dihadapan siapapun. Jadi ia menahannya.

Dapat ia lihat seorang pria yang tengah duduk tak jauh darinya tengah menatapnya juga, tatapan yang sulit diartikan.

Sehun membuang nafasnya kasar.

Pria itu berdiri dan mengancingkan jasnya. Ia akan tinggalkan tempat buruk ini. Membuang pandangannya yang sedetik lalu masih pada Yoona.

"Aku akan pergi dahulu"

Ujarnya dengan datar dan nada rendah. Ia tak ingin menyaksikan bermacam adegan tak manusiawi disini. Sehun juga tak peduli. Biar Chanyeol selesaikan urusannya dahulu, lagipula ini telah larut.

Namun,

Sebuah tangan menahannya.

Tangan sedingin es tersebut dapat Sehun rasakan menggenggam jemarinya begitu erat. Membuat langkahnya terhenti sebelum selangkah lagi berada tepat diambang pintu.

Sehun menoleh. Ia memandangnya.

Yoona yang menahannya. Pandangan keduanya bertemu pada detik kedua, membuat Sehun dapat merasakan mata sehitam malam tersebut tengah menatapnya penuh luka.

"Tolong aku-" lirihnya penuh sesak namun masih dapat didengar olehnya. Sehun dapat merasakannya. Air mata gadis itu menetes tepat pada jemarinya. Pandangannya sendu namun meneduhkan

Terus memandang bola matanya, membuat pria itu merasa jatuh pada jurang tak berdasar.

Ia memutuskan kontak mata pada sepersekian detik berikutnya.

"Cih, apa kau mencoba merayunya juga?" Chanyeol tersenyum mengejek.

"Seret dia kekamarku." Interupsi Chanyeol pada bawahannya agar cepat bergerak. Membuat para pria disamping Yoona bersiap menariknya untuk melaksanakan perintah Chanyeol. Menarik gadis itu pergi dari sana. Namun, suara berat lain menyela, rendah dan penuh penekanan.

Yang semua orang ketahui sebagai pria yang sama tak berperasaannya seperti Chanyeol. Tapi ini sesuatu yang lain, Sehun menyuara.

"Berhenti."

"Jangan menyentuhnya."