Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10

August 03, 2017

12.45 pm

Kembali menghela nafas panjang untuk kesekian kali, membiarkan seluruh pasokan oksigen memenuhi rongga paru-parunya. Ia lelah setelah setengah hari ini bekerja. Yoona meraih botol air mineral dari jangkauannya,

"Biar kubantu noona-" seorang pemuda lain yang berseragam sama dengannya menawarkan diri dengan sopan, Park Junwoo. Pemuda itu hanya tertawa kecil seraya mengangsurkan botol air yang telah ia bukakan untuk Yoona.

Gadis itu hanya meringis menerimanya, Junwoo pasti tahu ia tak bisa membuka tutup botol dengan kuat.

"Terimakasih"

"Tak masalah." Jawabnya seraya tersenyum simpul. Jika difikir, sekarang harusnya pemuda itu telah duduk dibangku kelas 3 SMU. Tapi karena keuangan keluarganya yang memburuk membuat pria kecil itu tak bisa melanjutkan pendidikannya, Yoona meringis tipis, nasib Junwoo tak jauh berbeda dengannya.

"Setelah mengepel koridor depan, mari makan bersama?" Tawarnya sopan, ia meraih beberapa peralatan kebersihan yang tadinya disandarkan pada dinding hotel.

Yoona mengangguk kecil. Baginya, Junwoo seperti adik lelaki yang sangat baik. Bahkan ia punya wajah tampan serta tubuh tinggi. Bukankah harusnya ia jadi model, alih-alih menjadi cleaning service?

Yoona juga tak mengetahuinya. Yang ia fikirkan sekarang hanyalah kembali bekerja dan mengumpulkan uang.

Tentu, ia sudah berhutang banyak pada Oh Sehun.

----

8.43 pm

Jongin tersenyum puas setelah CEO-nya baru saja mengakhiri rapat dengan sempurna. Sehun benar-benar berkharisma ketika berbicara, seakan-akan seluruh perhatian pegawai tersedot pada pesona miliknya. Ini sudah keribuan kalinya Jongin melihat Sehun melakukan presentasi didepan layar dan memberikan kontribusinya pada pekerjaan, tapi rasanya kinerja atasannya itu semakin baik saja setiap harinya.

Beberapa pegawai mulai mengemasi dokumennya dan bergantian meninggalkan ruangan, Sehun juga. Pria itu sempat menyalami Kyle sebelum ia berjalan keluar, dapat Jongin tatap pula raut masam tak suka dari Sehun seperti biasa.

"Lain kali coba tersenyum padanya, hoejangnim" Jongin membuka suara mengikuti langkah tegap Sehun yang berada beberapa cm didepannya. Pria itu hanya melirik Jongin kilas dan mengedikkan bahunya tak acuh,

"Dia menjengkelkan." Komentarnya singkat, selalu saja begitu. Sehun dan Kyle lebih tampak seperti musuh daripada mitra bisnis sejujurnya, seharusnya kontrak yang ada dapat menyatukan keduanya, tapi justru perdebatan mewarnai pertemuan bisnis tiap harinya.

Jongin menggeleng dan terkekeh.

"Nope. Kalian yang kekanakan" imbuhnya menyuarakan pikirannya. Padahal tak pernah ada masalah diantara mereka berdua sebelumnya, mungkin karena mereka punya sifat yang amat bertentangan membuatnya bagai minyak dan air yang tak bisa disatukan.

"Cari restoran didekat sini, kau tak lapar?" Jongin baru saja akan mengajak pria itu makan malam sebelum Sehun telah membuka mulutnya lebih dahulu. Pria itu tersenyum lebar dan mengangguk antusias.

"Sayang sekali, aku tak bawa dompet hari ini" Kini mulai menggoda dengan candaan yang dinilai Sehun garing dengan segala usahanya.

"The bill's on me."

Jongin sumringah, mungkin Sehun telah benar berubah. Ia jadi lebih memiliki belas kasihan padanya, lagipula jika difikir kapan lagi pria itu akan membayar tagihannya hm?

"Heol! Terimakasih hoejangnim" Ujar Jongin penuh semangat, bahkan ingin memeluk atasannya itu saking bahagianya. Sehun mengangguk tak peduli.

"Sama-sama. Aku hanya akan memotong gaji yang kau terima 500 ribu won bulan depan sebagai gantinya" Jongin membulatkan matanya. Oke, mungkin Sehun tak benar-benar berubah, ia masih saja menyebalkan.

"Ya! Tidakkah itu terlalu kejam? Hoejangnim-"

"Hoejangnim tunggu-"

Jongin berlari menghampiri Sehun karena pria itu mempercepat langkahnya. Terkekeh diantara geraknya, Sehun seakan baru menyadari bahwa mencandai sekertarisnya bukan hal yang buruk juga. Ia hanya tak pernah mencobanya.

Benar-benar berinteraksi dengan sekitarnya.

----

Suara gemericik air beberapa kali mulai terdengar, disusul dengan suara pisau dan beberapa peralatan dapur yang beradu.

Yoona menyelesaikan masakan buatannya beberapa menit setelahnya, kemudian membuat beberapa makanan penutup dengan rasa manis yang mendominasi. Tangannya kini mulai sibuk memindahkan beberapa mangkuk keatas meja makan yang berada tak jauh darinya.

Sehun bilang akan datang seminggu lagi semenjak peristiwa waktu itu, dan mungkin ini berlebihan karena Yoona benar-benar mengingatnya lalu menghitung hari kapan pria itu akan kemari, kerumahnya sendiri.

Senyumnya menguar diantara paras cantiknya tanpa sadar, ia sedikit tak sabar menunggu kedatangan pria dingin itu.

"Hey!"

"Apa yang kufikirkan sih?! tak boleh-" Ucapnya beberapa detik setelah tersadar dari lamunannya, menepuk pipinya sendiri karena merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.

Dan kembali tersadar ketika memandang meja makan hampir penuh oleh makanan yang sedari tadi ia sibuk membuatnya. Apa yang telah kau fikirkan hingga membuat makanan sebanyak ini Im Yoona?

"Apa aku akan menyambut raja? Astaga ini berlebihan" ujarnya tanpa sadar menggigit jari mungilnya sendiri. Ia hanya tak tahu apa makanan yang Sehun sukai, jadi ia membuat semuanya.

Oke, ini berlebihan.

Ia menepuk keningnya berulang kali menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. Melakukan beberapa hal berlebihan tanpa sadar.

Suara bel tiba-tiba saja menggema memenuhi ruangan. Berloncatan diantara fikiran Yoona yang kini tengah merutuki dirinya sendiri.

Itu pasti Oh Sehun

Yoona menggigit bibirnya rikuh. Akan terlihat sangat bodoh jika pria itu melihatnya menyiapkan semua ini untuknya. Bahkan makanan penutup? Ya ampun kau sudah gila Im Yoona.

Dengan langkah cepat gadis itu mengambil nampan lalu memindahkan beberapa mangkuk berisi makanan, memasukkannya kedalam rak untuk menguranginya.

----

Sehun melangkahkan kaki dihalaman luas rumah miliknya. Jongin baru saja pulang setelah mengantarnya barusan, dan ia memilih untuk diantara kemari daripada dihotel. Sudah seminggu. Ia harus menepati janji kan?

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Apa yang kau lakukan?" Kini Sehun sedikit terkejut mendapati Jongin berdiri disebelahnya. Ikut berjalan santai dan menyamai langkahnya dengan senyum lebar.

"Oh please, aku ingin melihatnya" Ucapnya penuh penasaran dan melirik geli kearah Sehun. Pria itu melayangkan tatapan tajam padanya.

"Apa?"

"Gadis itu." Jawab Jongin mantap.

"Kufikir aku tak akan bisa tidur semalaman karena penasaran, jika tak melihatnya." Sehun mengumpat keras dalam hati. Ia baru ingat bahwa tempo hari lalu bercerita tentang gadis yang ditebusnya di bar. Harusnya tidak. Tiba-tiba saja ia menyesal telah mencoba membuka diri pada Jongin. Sialan sekertarisnya itu.

Sehun hanya memasang wajah datarnya tanpa tanggapan. Baiklah, ia akan membiarkan Jongin melihat Yoona sebentar. Sebentar saja, garis bawahi itu.

Akhirnya membuka pintu setelah beberapa menit lalu Jongin memencet bel. Yoona terlihat sedikit tergopoh saat membuka pintu, seperti baru melakukan sesuatu? Entahlah.

Pandangannya bertemu untuk beberapa saat.

"Hai, uh maaf, perkenalkan, Kim Jongin sekertaris Oh Sehun." Jongin tersenyum sumringah membungkukkan badannya sopan memperkenalkan diri. Ia benar terpana melihat sosok Yoona. Gadis itu sangat cantik dan setiap pahatan pada wajahnya yang sempurna.

"Aku mungkin kelihatan lebih tampan, tapi Sehun adalah atasanku"

"Eh?" Yoona tertawa hambar menanggapi kenarsisan Jongin yang telah dimulai.

Pria itu menjulurkan tangannya berniat bersalaman. Maksudnya, itu tak buruk kan? Yoona tersenyum berniat meraihnya sebelum tangan Sehun mendahuluinya, pria itu menjabat tangan Jongin membuat sekertarisnya itu beraut masam

Padahal Jongin baru saja mulai mengagumi Yoona. Berani bertaruh bahwa Sehun juga mengakui kecantikannya.

"Im Yoona." Jawab Yoona sopan, sedikit terkejut karena Sehun datang dengan orang lain hari ini.

"Sudah? Pergi sekarang." Sehun bersuara dingin kearah Jongin yang masih mengagumi kecantikan Yoona tanpa sadar. Harusnya ia menendang sekertarisnya itu dari tadi.

"Oh ayolah hoejangnim-" Cicit Jongin memohon yang tak dapat sama sekali respon dari atasannya. Menyisakan suasana canggung dan hening ditengah ambang pintu.

Yoona memandang kedua tingkah pria itu kebingungan. Apa yang sedang mereka lakukan? Ia menelan ludahnya sedikit gugup lalu tertawa kecil guna mencairkan suasana.

"Ah, kebetulan aku baru saja memasak. Kalian sudah makan?"

"Wah tap-"

"Belum."

Jongin memandang kearah Sehun tak percaya. Sehun baru saja memotong ucapannya dan berkata tidak? Bagaimana bisa? Jelas-jelas mereka baru saja menghabiskan makan malam di restoran bersama dan itu dalam porsi yang cukup banyak. Jongin tertawa garing.

"Ah tentu- kami belum" bohongnya menyetujui ucapan Sehun.

Yoona tersenyum senang "Baguslah"

Sehun melangkahkan kaki, memasuki rumah terlebih dahulu. Meninggalkan Yoona dan Jongin yang menatapnya canggung,

Diam-diam Jongin tersenyum. Atasannya itu tengah berbohong karena tak tega membuat gadis itu kecewa.

Sehun yang selama ini bertanggung jawab dan penuh kharisma, berjiwa dingin dan penuh pesona mendadak terlihat menjadi pria biasa yang tengah jatuh hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel