Bab 8
10.36 pm
Yoona memutar badannya ketika suara pintu kembali terdengar diketuk. Tangannya menaruh cangkir berisi air putih yang tinggal seperempatnya. Perasaannya takut-takut mengira sosok Sehun-lah yang datang kembali bersama para wanitanya.
Atau mungkin tidak?
Ketukannya tak terlalu memaksa, ada beberapa jeda diantaranya yang lebih rapi. Kaki jenjang Yoona bergerak pelan, tangannya menyalakan lampu ruang tamu supaya tak terlalu gelap seperti biasanya. Jemarinya memutar kunci dan membuatnya bergerak mengarah pada suara pintu yang kini terbuka, ketika ia menariknya.
"A- ayah?"
Matanya membola sempurna. Perasaan Yoona berdebar lebih cepat mendapati sosok yang berdiri dihadapannya kini tengah menatapnya, dengan seringainya.
Rasanya semacam oksigen berkurang lebih cepat disekitarnya. Dan tentu saja Yoona tak pernah menginginkan pertemuan semacam ini.
Mengingat bagaimana ia diperlakukan tentu saja membuat uratnya mengeras menjalari tubuh miliknya.
"Hai putriku?"
Junghoon tersenyum ramah, menyapa anak gadisnya yang mungkin sudah sebulan ini tak pernah ditemuinya. Yoona masih saja pada diam, tak berniat membalasnya sedikitpun.
"Ah, kau tak ingin memberikan pelukan padaku?" Keluhnya berpura gusar.
"Darimana kau tahu?"
Junghoon tertawa mendengar cicitan Yoona yang penuh nada gusar diantaranya.
"Apa kau lupa bahwa aku adalah detektif ulung, hm?" desisnya yang lebih terdengar seperti kesombongan. Tentu saja, ayahnya memang memiliki kemampuan yang cukup hebat dalam melacak keberadaan seseorang. Dan akan sangat mudah hanya untuk menemukan dirinya.
Nafas Yoona kembali tercekat. Petir telah kembali menyala-nyala didalam tubuhnya.
"Kau jahat sekali, tinggal dirumah sebesar ini tanpa mengajakku?"
"Bahkan halamannya 3 kali lebih besar dari rumah kita." Tambahnya memberi majas pada tiap ungkapan dengan mata yang seolah-olah mengagumi tiap detail rumah Sehun.
Yoona hanya menelan ludahnya, merasa sangat membuang waktu tiap kali mendengar racauan ayahnya.
"Pergi."
Junghoon mengangkat alisnya penasaran. Walau beberapa keriput telah bermunculan dibalik wajahnya, tapi nyalinya masih saja terlalu besar. Ia terkekeh.
"Begitu caramu bersikap padaku? Dasar berandal kecil." Dengusnya kesal. Maju beberapa langkah seiring Yoona yang kini memundurkan tubuhnya.
"Baiklah, aku langsung saja pada intinya." Sorot matanya tajam. And right, ini bukanlah perlakuan yang benar antara seorang ayah dengan anaknya.
"Kau pasti punya banyak uang kan? Berikan padaku, sayang." Titahnya penuh intimidasi membuat Yoona tersenyum miris. Uang? Ya Tuhan. Pakaian Yoona saja dari belas kasih Sehun. Uang semacam apa yang ia inginkan?
Mencari pekerjaan bahkan hal yang sangat susah bagi Yoona. Ini semua adalah kebaikan Sehun yang telah melihatnya dengan rasa kasihan.
"Apa?" Tanyanya penasaran merasa Yoona tak memberi respon. Menatap sosok lain yang berjalan lebih cepat dibalik tubuh Junghoon yang tengah mencengkramnya kasar.
Pandangan Yoona sedikit kabur, tak terlalu jelas ketika sosok dibelakang Junghoon kini secepat kilat menarik pria itu dan memukulnya seperti orang kesetanan. Satu pukulan saja sudah lebih dari cukup membuat Junghoon terjatuh dilantai. Ayahnya mendapat satu bogem mentah yang cukup telak, dan siapa lagi pelakunya?
Tangan Sehun akan kembali mendarat diantara rahang Junghoon kasar sebelum Yoona menahannya. Gadis itu takut-takut menatapnya,
"Jangan-" lirihnya.
Sehun mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Kini dapat Yoona rasakan pandangan pria itu meneduh, tak menyala seperti sebelumnya.
"Bajingan-" Junghoon menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirnya, memaksa tubuhnya untuk berdiri walau tertatih. Ia menatap Sehun benci, namun sedetik kemudian ia tertawa, terlalu kencang bahkan.
"Coba lihat siapa yang tengah kau lindungi?" Ujarnya meremehkan membuat Sehun menaikkan alisnya. Wajahnya masih saja datar.
"Dia putriku tuan Oh." Junghoon menggunakan dagunya untuk menunjuk Yoona yang tengah berdiri disisi kiri Sehun. Pria itu masih saja memasang raut datar walau dalam hatinya terkejut mendapati ayah gadis itu berada dirumahnya.
Sehun memang telah berprasangka buruk sedari tadi saat ia memarkirkan mobil dihalaman depan dan mendengar samar suara berat seorang pria.
"Bisa kau menyingkir Tuan Oh? Aku ingin selesaikan pertemuan ringan dengan putriku dahulu." Ungkapnya tanpa rasa bersalah. Lebih tepatnya, karena sudah tahu Sehun bukan sosok seperti yang ia duga.
Rahang pria itu mengeras bersamaan deret kata yang keluar dari bibir Junghoon. Tanpa melihat saja, Sehun dapat membaca bahwa Yoona kini tengah tak nyaman.
Yoona hampir saja melangkah namun tangan Sehun kembali menahannya. Pria itu menatapnya dingin.
Untuk sesaat saja Sehun lengah. Namun pada detik berikutnya ia melepas tangan Yoona halus.
"Masuklah." Titahnya dingin. Yoona masih saja menatapnya dengan perasaan bercampur. Ragu dengan ucapan dan tindakan selanjutnya.
"Kubilang masuk." Kali ini terdengar lebih tegas penuh interupsi membuat nyali Yoona menciut. Kakinya mulai bergerak, melangkah meninggalkan Sehun yang semakin nampak jauh.
Dapat Yoona lihat sekilas. Pria itu menatapnya juga sesaat, pandangannya bertemu,
Sebelum akhirnya menutup pintu dan memutuskan berbicara diluar.
----
if love was a book
ours would be a library.
11.00 pm
Yoona menggigit bibir bawahnya untuk kesekian kali. Perasaannya bercampur menebak-nebak apa saja yang tengah terjadi dibawah sana. Detak jam berwarna coklat yang tergantung diseberang kamar mulai terdengar lebih nyaring memenuhi kepala.
Pikirannya mulai berloncatan.
'Apa yang akan pria itu lakukan pada ayahnya?'
Yoona bukan mempedulikan Junghoon. Tapi mengingat tatapan Sehun yang menyala ketika menghajar ayahnya tadi membuatnya terus menelan ludah.
CKLEK!
Derit pintu terdengar setelahnya. Menampakkan sosok pria dengan tubuh tingginya memasuki kamar dengan raut datar miliknya. Sehun menghampiri Yoona yang masih duduk ditepi ranjang ketika pandangannya bertemu pada detik ketiga.
Gadis itu menelan ludah mendapati Sehun kini berdiri disampingnya.
"Dia tidak akan bisa kemari lagi." Hanya deretan kata itu yang meluncur dari bibir Sehun disusul dengan mengalihkan pandangannya. Yoona menatapnya lamat
"Terimakasih." Ungkap Yoona pelan. Walau hatinya penasaran apa saja yang sudah Sehun lakukan tadi, tapi bibirnya selalu urung tiap kali melihat sorot mata pria itu.
Sehun memajukan tubuhnya mendekati Yoona, melangkah lebih dekat membuatnya menatap dengan pandangan penasaran.
Ia mendekati Yoona dan kini ikut duduk ditepi ranjang.
"Kemarikan-" perintahnya datar membuat Yoona mengangkat alisnya kebingungan.
Tangan kirinya meraih jemari Yoona pelan. Sejurus kemudian tangan kanannya yang memang telah membawa handuk basah tadi kini mulai mengusapnya perlahan diantara pergelangan tangan Yoona yang memerah akibat cengkraman ayahnya.
Yoona menggigit bibir bawahnya ketika rasa perih mulai menjalar diantara tubuhnya. Tak berani bersuara sedikitpun. Ia menatap Sehun dan mendapatinya begitu serius mengusap handuk basah pada tangannya. Ia mungkin tak akan ingat bahwa tadi tangannya terasa sakit jika Sehun tidak melakukan ini.
"Aku tidak memukulnya lagi." Jelasnya lirih merasa Yoona pasti berfikir ia tadi hilang kendali. Gadis itu menatapnya, dengan ringisan.
"Baiklah." Jawabnya pelan.
"Kau tak marah padanya?" Yoona mengulum senyum simpulnya.
"Amarah tak pernah menyelesaikan persoalan dengan baik." Ungkap Yoona membuat jantung Sehun kini berdetak lebih cepat. Sehun menyetujuinya.
Hening berkuasa. Suasana canggung benar-benar menyeruak mengingat hanya ada mereka saja dikamar sebesar ini. Ah ralat- mungkin hanya Yoona saja yang berdebar. Sehun teramat fokus pada pekerjaannya.
"Kau belum sebutkan namamu-"
Sehun membuka suara disela pekerjaannya, ia menatap Yoona kilas membuat gadis itu ikut terperangah. Benar juga, selama ini mereka tak tahu nama satu sama lain. Hanya 'kamu' atau 'kau' saja. Dan ini sudah terlalu lama sejak awal pertemuannya.
"Im Yoona." Jawab gadis itu jelas yang sama sekali tak dapat respon dari lawan bicaranya. Baiklah, terserah saja.
Sehun menyelesaikan pekerjaannya telaten beberapa detik setelahnya.
"Kalau kamu?" Sehun menoleh.
"Bagaimana menurutmu?" Kilahnya balik bertanya membuat Yoona berpura berfikir.
"Si raut datar?" Candanya membuat Sehun terkekeh. Yang benar saja, Sehun fikir ekspresinya tak sedatar itu.
"Baiklah, maaf-maaf" Yoona menutup mulutnya yang tengah terkikik geli. Ia tak ingin membuat suasana disekitar Sehun selalu beraura gelap, sedikit bercanda mungkin tak buruk mengingat pria itu sempat terkekeh kilas.
"Oh Sehun." Ujarnya membuat Yoona mengangguk mengerti, lalu amat pelan menggumamkannya.
"Itu bagus, aku menyukainya" Puji Yoona tulus seraya tersenyum manis. Sehun kini menatapnya. Jika diingat, ia tak pernah menyukai nama yang diberi sang ayah tersebut. Bahkan tak pernah menganggapnya istimewa.
Lalu, harusnya Yoona tak bilang ia menyukai namanya. Yang kini membuat untuk pertama kalinya Sehun menyelipkan perasaan lebih bangga memilikinya. Senyum tipisnya perlahan terukir,
dan Yoona dapat menangkapnya walau diantara cahaya temaram kamar, membuat gadis itu ikut mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Hey, kamu akhirnya tersenyum-"
