Bab 7
Sejenak, sejenak saja. Tiba-tiba tempat ini menjadi sangat hening baginya.
"Apa?" Yoona mengulang pertanyaannya merasa pria itu tak kunjung berbisik, kepalanya menoleh kesisi kiri tepat dimana Sehun kini tengah menatapnya dengan perasaan tak karuan.
Pandangannya bertemu.
Iris mata hitam Yoona beradu dengan hazel milik Sehun. Jika dikatakan dengan naif, Sehun ketahuan tengah menikmati paras cantik Yoona. Pria itu cepat membuang pandangannya datar, menelan ludah lalu mempertegak posisi tubuhnya.
"Cepat selesaikan dan pulang"
----
Chanyeol tersenyum.
Jemarinya menyentuh lamat lembaran uang yang tertumpuk rapi diatas meja megah miliknya, memang tak pernah sia-sia bermain dengan Oh Sehun.
"Park Chanyeol?!"
Seorang pria paruh baya dengan penampilan acak-acakan. Jaket jeans yang sobek dibeberapa bagian dengan tato yang hampir kelihatan dilengan kirinya tiba-tiba saja datang setelah membuka pintu ruangan Chanyeol dengan kasar. Pria itu mengangkat alisnya angkuh
"Wow, pelan-pelan Tuan Im. Kau membuat uangku hampir berhamburan karenamu." Ujarnya retoris. Im Junghoon melirik kilas pada lembaran harta Chanyeol diatas meja lalu mulai menenangkan diri.
"Dimana putriku?"
Chanyeol mengukir seringainya kali ini. Menggunakan dagunya untuk menunjuk tumpukan uang diatas meja.
"Lihat apa yang putrimu hasilkan untukku."
"Seseorang membelinya dengan harga 70 juta dollar. Gila bukan?" Chanyeol tertawa sendiri, merasa sangat ingin bersorak kegirangan bahkan. Im Junghoon memanas, rupanya putrinya sudah tak ada disini.
"Berani sekali kau menjualnya-" Ungkapnya penuh intonasi geram membuat Chanyeol tak kalah jengkel. Ia membenarkan letak kerah kemejanya kemudian berdiri dari balik kursi kebanggaannya.
"Berani? itu hakku Im Junghoon. Sejak kau menjual putrimu sendiri, gadis itu sudah menjadi hakku sepenuhnya." Ungkapnya berdiplomasi dengan tatapan tajam nan angkuh. Benar juga, ia sudah menjadi ayah bejat sejak menjual Yoona.
"Kenapa? Apa kau ingin membuat gadis itu menghidupimu lagi?" Sindir Chanyeol telak, ia meraih gelas minuman keras disisi kanannya kemudian menenggaknya dengan puas.
"Bajingan-" Im Junghoon mengumpat diantara nafasnya membuat Chanyeol kini tergelak. Ia meraih kerah jaket ayah Yoona dengan tatapan tajam.
"Dengar, tapi kurasa sekarang putrimu pasti tengah bersenang-senang karena jauh dari ayahnya yang brengsek ini. Menurutmu mengapa?"
Matanya bersitatap dengan iris mata hitam penasaran Junghoon.
"Dia telah dibeli oleh pria paling berpengaruh di Korea."
----
Sehun menatap lapar beberapa makanan yang tersaji rapi diatas meja. Uap mengepul dari beberapa mangkuk kaca berisi udang dan sayuran yang masih hangat.
Yoona menatapnya ragu.
"Tenang saja. Aku pernah bekerja dibeberapa restoran." ujarnya meyakinkan pria dihadapannya. Beberapa saat kemudian tangannya meraih sendok dan sumpit diatas meja lalu memulai sarapan paginya. Sebelumnya melahap sup pengar buatan Yoona singkat, kemudian beralih mencoba makanan lainnya.
"Kau tidak?" Tanyanya singkat merasa Yoona masih bergeming menatapnya. Gadis itu menggeleng pelan dengan senyumnya, sedang tangan Sehun kini beralih menyodorkan semangkuk nasi kearahnya.
"Makanlah. Melihatku tidak akan membuatmu kenyang." Ujarnya datar. Lagi-lagi ia kembali ketahuan menatap Sehun yang tengah makan. Tapi siapa yang bisa melewatkannya? Yoona meringis malu.
"Maaf." Lagi-lagi berujar polos membuat Sehun menahan tawanya dalam hati.
"Lain kali aku nggak akan melihatmu lagi." Lanjutnya, membuat pria itu kini mengangguk setuju.
"Bagus."
Perasaan Yoona berdebar lebih cepat. Harusnya tak menatap Sehun dengan tatapan begitu kentara, tapi jika difikirkan, ia penasaran apa pria itu tak memiliki ekspresi lain diwajahnya selain raut datar?
"Kau pernah tersenyum?" Yoona melahap suapan pertamanya. Sehun menghentikan aktivitasnya, sejurus kemudian membuat fikirannya mengudara. Tersenyum? Tentu saja. Hanya tak terlalu yakin kali terakhir mengukirnya.
"Jangan."
Yoona mengernyit.
"Nanti kau jatuh cinta." Gadis itu tertawa garing diantara kegiatannya. Sehun bisa bercanda rupanya.
"Mana ada yang jatuh cinta hanya dengan senyuman?"
Ada. Sehun contohnya. Jantungnya harus bekerja lebih keras tiap kali melihat sudut bibir Yoona terangkat. Catat itu- tiap kali. Sehun terdiam, apa itu bisa dikatakan jatuh cinta?
Suasana canggung tiba-tiba saja menyergap. Hening dari Sehun bagai jawaban bahwa ia tak setuju dengan hipotesis Yoona.
"Kau tak rindu keluargamu?" Sehun bersuara.
Yoona mengulum senyum mirisnya kemudian menggeleng pelan. tangannya menaruh sumpit diatas meja. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu saja membuatnya kian lemah.
"Keluargamu kacau?" Tanya Sehun dingin, selera makannya juga ikut hilang mengikuti alur ucapannya. Menatap gadis dihadapannya yang kini lebih sayu. Tapi, Sehun harus menanyakannya. Ia tak bisa membiarkan gadis tak jelas asal-usulnya lebih lama tinggal disini begitu saja.
Yoona mengangguk lesu. Pikirannya mengudara, slide-slide bagai bermunculan dibalik retinanya. Membawanya pada masa lalu yang tak seharusnya diingat.
"Ayahku selalu bertengkar. Membuat ibu melarikan diri bertahun-tahun lalu. Aku juga tak sudi merindukannya." Jawabnya nanar. Ingatan-ingatan buruk mulai menggerogoti otaknya. Tapi Yoona hanya tersenyum tipis, seolah tak ada apapun yang menganggu pikirannya.
"Saudaramu?" Kembali mengajukan pertanyaan. Ah, Im Changmin. Yoona juga tak tahu dimana kakak laki-lakinya itu berada sekarang.
"Ayah membawa kakak laki-lakiku saat ia masih SMP, aku tak pernah bertemu lagi setelahnya." Cicitnya putus asa. Tentu saja, Yoona amat merindukan sosok pria itu selama ini. Sosok kakak laki-laki yang sudah lama hilang dari jangkauannya.
Sehun menelan ludahnya, ikut merasa kasihan pada nasib gadis itu.
"Temanmu?"
Cih, Yoona hanya dapat berteriak dalam hati. Andai saja ia punya seseorang yang dapat ia panggil dengan sebutan 'teman.' Pasti sangat menyenangkan.
Sehun mengalihkan pandangannya. Lalu kalau benar ia menyuruh gadis itu pulang, harus kemana ia? dimana ia akan tinggal? Oh ayolah Sehun, buka sedikit rasa kemanusiaanmu. Tapi maksudnya ia bukan badan perlindungan negara yang harus lakukan tugas kemanusiaan. Sekarang yang ia ingin lakukan hanyalah memperlakukan Yoona dengan baik.
Entah bagaimana caranya.
"Tenang saja." Yoona berujar. Air mata yang tadinya bersiap menerjuni tebing pipinya kini kembali coba ia tarik kedalam. Ia tak ingin terlihat menyedihkan, mencoba membuang perasaan iba pada dirinya yang diam-diam ia tanam.
Diusahakannya tawa lirih yang penuh kebijakan
"Anggap saja kamu tak pernah mendengarnya."
----
25 July 2017
02.00 pm
Sudut bibirnya terangkat lebih bersemangat. Punggung miliknya membungkuk 90 derajat memberi tanda hormat pada sosok dihadapannya.
Yoona bersyukur. Pagi ini ada panggilan dari sebuah hotel yang bersedia menerima jasanya sebagai cleaning service. Okay, itu tak buruk. Usahanya mencari pekerjaan untuk mencicil seluruh hutangnya pada pria itu setidaknya kini ada jalan. Ia bahkan tak terlalu terkejut dengan ini semua, punya banyak pengalaman karena pernah mencoba macam-macam pekerjaan membuatnya piawai dalam tugas semacam ini.
"Kau bisa mulai bekerja besok." Han Soyou selaku kepala bagian disana tersenyum keibuan pada Yoona, mungkin sekarang wanita itu telah mencapai kepala 4 melihat postur tubuh serta helaian uban yang mulai nampak diantara anak rambutnya.
Yoona mengangguk sopan, ia mengucapkan terimakasih setelah akhirnya berjalan pergi meninggalkan ruangan.
"Yoong-"
Gendang telinga Yoona menajam. Rasanya itu bukan panggilan asing lagi baginya. Bahkan selalu sukses membuat kakinya berhenti tiap kali bergerak. Selalu suara lembut itu juga yang menyuarakannya, Yoona memutar tubuhnya beberapa detik kemudian.
Suho berdiri tak jauh darinya dengan tatapan sendu. Kemeja putih begitu cocok pada tubuh rampingnya, rambutnya disisir lebih rapi bahkan. Penampilan pria itu selalu saja luar biasa. Tapi tidak dengan perasaannya, terlalu berantakan diantara tiap nafasnya.
Yoona benci ini, ia benci ketika Suho menatapnya seperti ini. Selalu macam tengah berusaha menarik Yoona pada masa lalu mereka.
Sama seperti angin yang memaksa daun berguguran bersamanya. Sama seperti laut yang memaksa anak sungai bermuara padanya.
