Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Ia terbangun dari tidurnya lalu duduk sejenak pada tepi ranjang. Cahaya matahari menyelinap dibalik kaca, menerpa wajah tegasnya dengan lamat.

Paras tampannya masih saja datar saat ia berjalan menuju kamar mandi. Lantai granit berwarna hitam memberi kesan mewah pada setiap sudutnya.

Sehun melirik kilas pada bathtup tak jauh darinya, tak pernah menggunakannya untuk berendam. Alih-alih demikian, ia lebih suka mengguyur tubuhnya dengan kucuran deras air shower. Membuatnya lebih merasakan sensasi dingin pada tiap tetes yang menghujani punggung miliknya.

Sehun mematut dirinya didepan cermin yang berada diseberang pintu kaca kamar mandi. Perlahan jemarinya mengusap kumis tipis yang bermunculan dibalik rahang tegasnya.

Membuatnya selalu tampak lebih dewasa dan berkharisma. Siapa peduli, Sehun lebih suka wajahnya yang bersih. Tangannya meraih electric shaver yang berada diatas rak kecil dihadapannya, kemudian mulai berkutat untuk mencukur.

Ingatannya kembali berlompatan pada mimpinya semalam, tentang gadis itu.

Sehun telah menghindarinya. Selama seminggu ini tak pernah datang kerumahnya untuk menilik keberadaannya. Ia lekas pulang kehotel setelah bekerja. Ingin kembali membangun bentengnya, benteng kokoh dalam dirinya yang tak boleh dimasuki siapapun. Bahkan Yoona.

Paras gadis itu tiba-tiba saja muncul dibalik bunga tidurnya. Memberi senyum paling sempurna. Walau kilas Sehun masih sangat jelas mengingatnya. Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali memimpikan seseorang.

Keinginan untuk membuang jauh kepeduliannya bahkan masih diperhitungkan.

----

06.09 pm

Yoona menelan ludahnya kecewa. Memberi jeda antara tarikan nafas dan hentakan langkah dijalanan lengang sore hari.

Sang surya bahkan mulai menenggelamkan tubuhnya pada garis cakrawala dan meninggalkan senja diambangnya. Hari sudah mulai berganti, tapi dirinya sama sekali belum dapat pekerjaan.

Ah, berbicara tentang pekerjaan, Yoona telah menyerahkan 4 lamaran kerja hari ini. Tapi 2 toko langsung saja menolaknya tanpa memberi kesempatan interview. Maklum, kalau hanya untuk lulusan SMU macam dirinya, pertimbangan masih saja sangat berat.

Ayolah, ia harus dapatkan setidaknya satu pekerjaan. Yoona tak bisa terus-menerus berada dirumah besar pemuda itu, bahkan makan dan minum darinya juga. Sebenarnya, kemarin ia telah mendatangi cafe tempatnya terakhir kali bekerja, dan mendapati ada gadis lain yang telah menempati posisinya sebagai kasir disana. Singkatnya, ia dipecat.

Jika ditanya, sebenarnya iapun ingin melanjutkan kuliah. Tapi keadaan keluarganya yang memburuk malah membuatnya menjadi tulang punggung bagi ayahnya dan dirinya sendiri.

Tangannya meremas pelan berkas lamarannya, hatinya berdetak lebih cepat tiap kali mencoba mengingatnya, sedang hari sudah mulai gelap.

Langkahnya bergegas.

----

01.15 am

Tap.. tap.. tap..

Yoona mempercepat langkahnya ketika suara gedoran pintu kembali menghantam gendang telinga. Sepertinya seseorang diluar sana tengah marah dan tak sabar ingin dibukakan.

Tapi siapa dimalam larut begini?

Beruntungnya, tinggal beberapa hari disini Yoona telah mengenalkan seluk beluk rumah ini pada seluruh indranya, menemukan jalan tak lagi jadi perkara sesusah dahulu. Walau yah, kau tahu lah tetap ada masalahnya, cahaya temaram.

DUK!

Jantung miliknya hampir saja melompat keluar ketika suara diseberang sana kini tak lagi mengetuk, tapi menendang pintu (?) Tangannya jadi tergesa membuka kunci.

Jemarinya ragu membuka handle pintu. Suara khas derit pintu mewah besar dihadapannya menghujam pendengaran.

Bola matanya membola ketika mendapati pemandangan dihadapannya. Seorang wanita dengan balutan gaun merah sepaha miliknya kini berdiri dengan tatapan tajam, bibirnya merah karena polesan lipstick yang tebal, rambut coklat ikalnya dibiarkan terurai dibelakang. Membiarkan belahan dadanya menjadi pemandangan yang menggiurkan bagi kaum adam.

Dan, oh tidak-

Sehun berdiri terhuyung disebelahnya. Pria itu memejamkan matanya dengan bau alkohol yang amat menusuk hidung, 2 kancing teratas kemeja navy-nya telah terlepas, ada juga semacam robekan dibagian bawah diatas sabuknya, mungkin ia baru saja berkelahi. Dengan tangan yang tergeletak diantara pundak wanita disebelahnya, ia tak kuat hanya untuk berdiri. He must be crazy!

"Pelayanmu sangat lamban, sayang" ejek wanita itu sarkatis menatapnya tajam. Sedang Yoona kini hanya bisa mematung bagai orang bodoh, jantungnya bergedup lebih cepat.

"Menyingkir-" sergah wanita itu kembali, lengannya menyenggol tubuh Yoona kasar membuat gadis itu otomatis bergeser beberapa langkah kekiri, memberi jalan padanya untuk membopong tubuh Sehun kedalam.

Apa ini yang Sehun maksud? Ia menyewa wanita one night stand lagi dan akan kembali memainkannya? Bersiap diranjang, menerkam mangsanya lalu berganti posisi.

Yoona melemas. Akan melarangpun memang ia siapa? Ini rumah Sehun, ia hanya menumpang. Seharusnya tak boleh ikut campur. Apalagi ini adalah kali pertama sejak seminggu yang lalu pria itu tak pernah kemari, mungkin ia hanya datang untuk urusan semacam ini?

Tangannya menutup pintu dengan perasaan bercampur, mungkin sekarang ia harus segera berlari terbirit, menuju kamar lalu menutup telinganya dengan bantal semalaman.

----

05.36 am

Sehun mengerjapkan matanya dengan rasa pusing yang menjalar pada seluruh kepala. Tubuhnya terasa lelah, seperti biasanya.

"Sudah bangun sayang?"

Sehun berdecih, seorang wanita baru saja memberikan ciuman pada pipinya, meninggalkan jejak merah lipstick disana.

"Menyingkir dariku-" Perintahnya dingin, tangan kekar Sehun menepis tubuh wanita dihadapannya agar menyingkir dan sukses membuatnya terhuyung, sejurus kemudian mendengus kesal.

Sehun memastikan dirinya, ia terbangun diatas sofa megah miliknya. Benar, ia memang tak pernah membawa jalangnya kedalam kamar. Ruang tengah saja lebih dari cukup untuk mereka.

Tangannya meraih dompet kulit berwarna hitam diatas meja didepannya. Mengambil beberapa lembar uang lalu menaruhnya diatas meja.

"Ambil dan cepat pergi." tegasnya datar.

Memang selalu begitu. Bagi Sehun, hubungan mereka tak pernah lebih dari jalang dan pembeli. Jika urusan sudah selesai maka 'enyahlah dariku' adalah sesuatu yang harus mereka tahu.

"Yang benar saja? Begini caramu memperlakukanku?" Wanita itu bersuara serak, ia mengumpat kesal karena Sehun menjadi ratusan kali lebih menyebalkan.

Sehun terkekeh. Jalang tak tahu malu.

"Bukankah kau menjual diri padaku juga hanya untuk lembaran kertas ini?" Tandasnya sarkatis dengan pandangan melirik kearah beberapa lembar uang diatas meja dengan remeh.

Wanita itu tersenyum tak percaya. Ternyata Sehun yang tampan memiliki mulut yang pedas dan kata-kata yang sarkatis. Ia meraih gaunnya lalu mulai mengenakannya, beberapa saat kemudian mengambil uang milik Sehun dan kamasutra diatas meja dengan kasar.

"Kau bisa memanggilku kembali jika perlu."

"Aku tak akan tidur 2 kali dengan jalang yang sama." Suara dingin Sehun masih saja menyebalkan. Wanita itu meliriknya dongkol, apa? jalang? Sialan. Ia pergi dengan menghentakkan heelsnya lalu membanting pintu depan dengan amarah membuncah.

Sehun meremas rambutnya kasar, rasanya saat ini kepalanya seperti tengah dipelintir dan rasa mual pada tubuhnya mulai menguasai keadaan. Beruntunglah, ia bisa mulai bekerja pada siang hari ini.

Pandangannya kearah lain. Mengikuti sosok yang berada tak jauh darinya, berdiri dibelakang tiang. Gadis itu tengah menatapnya dengan pandangan bercampur, ragu dan lebih banyak segan.

Pandangannya bertemu pada detik kedua.

"Kau akan berdiri saja disana?"

Sehun bersuara, membuat sosok pendengar melangkah mundur karena terkejut. Yoona menggigit bibir bawahnya, ia salah karena kemari. Sehun telah mengetahui keadaannya yang diam-diam baru saja menatapnya.

Perlahan gadis itu melangkah mendekatinya, hingga berjarak 3 langkah dari tempatnya duduk. Tangan pucatnya menyodorkan sesuatu padanya, membuat pria itu menaikkan alisnya penasaran.

Kini Sehun bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitamnya.

"Kufikir bajumu robek?" Yoona ragu mengingat kejadian semalam. Apa peluhnya sudah sebesar biji jagung sekarang? Sungguh, ia hanya ingin berniat baik.

Sehun menatapnya, kemudian beralih pada kemeja hitam yang disodorkan padanya. Benar juga, tangannya meraih pemberian Yoona lalu mulai mengenakannya.

Bola mata gadis itu tak sengaja menatap tubuh sempurna milik Sehun, dada bidang dengan beberapa otot yang memperlihatkan betapa luar biasa dirinya. Tuhan, selama ini mata Yoona bisa melihat tubuh pria sixpack hanya dari drama korea dan foto idol miliknya saja. Ternyata melihat barang aslinya jauh lebih mendebarkan.

"Apa aku tak usah pakai baju saja?" Ucap Sehun datar yang sibuk mengancingkan kemejanya. Yoona menelan ludahnya kemudian cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Hell, ia ketahuan! Memalukan sekali.

"Maaf-" Ujar Yoona polos. Sehun terkekeh, bukankah harusnya ia bilang saja 'aku tak lihat kok!' atau 'aku tak bermaksud' dan malah mengucapkan permintaan maaf yang membuatnya secara tak langsung mengakui, ia melihat tubuhnya. Sehun tertawa dalam hati.

"Akan kubuatkan sup pengar" tawar Yoona berusaha mencairkan suasana.

"Tak perlu." Tolak Sehun datar, membuat hati Yoona kembali menciut. Ugh, pria itu tak pernah membuatnya merasa lebih nyaman.

Yoona bersiap melangkah pergi dengan tergesa, namun tangan Sehun mencegahnya.

"Maaf-" kini berganti Sehun yang mengucapkannya. Permintaan maaf yang terdengar jauh berbeda, dengan intonasi dan ekspresi yang berbeda pula. Ekspresi datar Sehun seolah telah menjelaskannya. Yoona tertawa garing,

"Tentu-"

"Maaf karena aku kembali melakukannya. Membawa seorang jalang kemari." Yoona tersentak. Maaf dalam konteks lain rupanya. Sehun juga tak tahu mengapa ia harus mengatakannya? Itu bukan masalah atau sesuatu yang membuatnya harus meminta maaf. Ia hanya merasa tak enak hati pada gadis itu. Mungkin ia tak nyaman?

Tapi kenapa harus mengkhawatirkan perasaannya juga?

Yoona meringis, ia tertawa hambar "Kan sudah kubilang-"

"Tak perlu menghindarinya karenaku." Yoona gelagapan. Sehun melempar senyum kilat setelah mendengarnya. Ia melepas tangannya dari lengan Yoona.

"Buatkan aku sup pengar." Perintahnya membuat Yoona kebingungan.

"Kufikir kamu tak ingin?" Alis Yoona terangkat.

"Sekarang aku ingin."

----

Yoona mengeratkan pegangannya pada pinggang Sehun. Kini mereka tengah mengendarai motor sport hitam milik pria itu. Sehun ingat, kemarin ia datang dengan taksi. Jadi ia tak bawa transport.

Dan lagi ternyata dirumahnya sudah tak ada bahan makanan apapun. Membuat Yoona tak bisa memasak sup seperti yang Sehun perintahkan. Lalu, memutuskan untuk mengajak Sehun membelinya disupermarket yang sebelumnya sempat ditolak karena Sehun tak menyukai tempat umum.

Kini Sehun bersedia bukan karena ingin sup buatan Yoona,ia juga tak membutuhkannya. Ia hanya merasa bersalah pada gadis itu.

Sehun ingat, terakhir kali ia mengendarai sepeda motor ini saat ia masih SMU. Lalu sampai sekarang ia biarkan didalam garasi rumah besarnya.

"Kita kepasar saja-" Yoona sedikit berteriak karena Sehun mengendarai dengan kecepatan cukup tinggi.

"Pasar?" Sehun bergumam. Itu tempat umum kan, exactly no!

"Kita bisa dapatkan bahan dengan harga murah dan kualitas lebih segar. Oh ayolah, belok kanan!" Interupsi Yoona membuat Sehun berdecih malas lalu membelokkan motornya dengan cepat dan kembali membuat Yoona mengeratkan pegangannya. Sehun dapat merasakannya, ini lucu.

Dan disinilah Sehun berdiri, diantara orang-orang yang tengah sibuk dengan aktivitasnya. Baik menjajakan atau membeli barang dagang yang ada. Suara bising dan riuh memenuhi telinganya kembali setelah sekian lama.

Yoona telah menenteng sebungkus sayuran ditangannya. Gadis itu nampak puluhan kali lebih bersemangat setelah Sehun menyerahkan tiga lembar uang padanya untuk dibelanjakan.

Beberapa kali ia menutupi wajahnya malu ketika Yoona menawar dengan harga yang lebih murah. Tangannya gatal ingin melemparkan uang saja lalu mendapatkan barangnya. Tapi gadis itu terlalu gigih menawar hingga ia dapatkan sayurnya.

"Ayo pulang" Sehun bersuara membuat Yoona memandangnya dengan tatapan 'apa?'

"Pulang sekarang-" Yoona masih saja kebingungan, gadis itu tampaknya tak mendengar ucapannya.

"Disini terlalu bising, mendekatlah" ujar Yoona penasaran. Sehun memajukan tubuhnya, mendekat pada Yoona yang berjarak beberapa meter darinya.

Namun, Yoona juga. Mendekatkan telinganya agar tepat berada disamping bibir Sehun. Yoona hanya ingin mendengar ucapan Sehun supaya lebih jelas saja. Hanya itu.

Tapi sepertinya Sehun tidak.

Memandang paras Yoona dari dekat jutsru membuatnya jantungnya bekerja lebih extra. Aroma mawar dari tubuh Yoona jelas menguar menusuk hidungnya. Tengkuk putih dan jenjang bahkan terlalu jelas diantara retinanya.

Sejenak, sejenak saja. Tiba-tiba tempat ini menjadi sangat hening baginya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel