Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

05.02 pm

Sehun menatap datar rumah besar dihadapannya, walau sebenarnya ada gunung api yang meletus didalam hatinya.

Rumah ini telah kosong semenjak sepuluh tahun lalu. Sehun tak pernah sudi menempati mendiang rumahnya tersebut, dan lebih memilih tinggal dihotel daripadanya. Kemari hanya untuk memuaskan nafsunya pada para jalang yang disewanya, agar mereka tak mengetahui dimana tempat tinggal Sehun yang sebenarnya, dan tak bisa datang untuk menganggunya.

Hanya pekerja yang ia tugaskan untuk membersihkan rumah tersebut tiap minggunya.

Ia tak suka berada disini, terlepas dari semegah apapun rumah tersebut. Semua yang ia tatap dari tiap sudutnya hanya bermuara pada rasa sakit tak berdasar. Hanya mengingatkannya pada masa lalu yang tak pernah binasa untuk dibenci.

Tapi kali ini ia kembali, bahkan mengizinkan seseorang untuk menempatinya. Memaksa segala pilu untuk beringsut mengoyak tiap bagiannya.

Bola matanya berotasi, menerawang halaman luas yang memadati seluruh kawasan rumah dihadapannya. Cahaya jingga sore hari bagai latar belakang yang menyesakkan mata, Ia ingat selalu berlarian disini dahulu tiap pulang sekolah dasar. Sialan, ia jadi bernostalgia.

Sosok lain keluar dari sana. Seorang gadis membuka pintu utama, tangan pucatnya menutup pelan handle pintu. Kemeja hitam miliknya bahkan sudah nampak terlalu familiar ditubuh kecilnya. Ia berjalan pelan disekitar area rumah.

Dia pasti tak pernah ganti baju? Sehun menggelengkan kepalanya pelan, tangannya menyentuh pintu mobil dan kini keluar dari kuda besi miliknya. Langkahnya tertata, tubuh angkuhnya melewati jalanan megah yang menghubungkannya pada pintu utama.

Yoona terkesiap. Retinanya dapat menangkap tepat sosok Sehun yang tengah berjalan kearahnya dengan tatapan datarnya.

Kini tubuh Sehun telah berada 4 atau 5 langkah dihadapannya. Berdiri diatas rumput hijau yang menghiasi taman didepan rumah. Tangannya mengangsurkan paper bag dengan ukuran lumayan besar berwarna putih padanya

Yoona sedikit ragu, ia menatapnya dengan tatapan tanya seolah mengatakan 'apa?' yang tak mendapat respon. Diakhiri dengan jemarinya meraih paper bag tersebut.

"Kau perlu ganti baju kan?" Sehun membuka suaranya. Yoona meringis,

"Syukurlah. Kufikir kamu nggak bisa bicara" Ejek Yoona membuat Sehun menaikkan sebelah alisnya,

"Apa?" Tanyanya berpura tak mengerti. Yoona menggeleng,

"Lupakan" Ia melempar senyum tipisnya pada Sehun, bagaimanapun pria itu telah berniat baik dengan datang untuk memberinya sebuah baju.

Tangannya bergerak membuka paper bag dihadapannya. Baiklah, Yoona benar-benar semangat, ia tak perlu pakai seluruh kemeja hitam besar milik Sehun lagi dilemari. Matanya memicing tak percaya.

Beberapa pasang pakaian dalam wanita berada didalamnya. Tertata rapi dan dalam beberapa warna berbeda.

Cepat-cepat Yoona menutupnya, memeluk bingkisannya dengan sigap. Ia menggigit bibir bawahnya malu. Kalau semacam ini yang diberikan, apa ia harus berkomentar betapa manis atau bagus sekali warnanya? ugh. memalukan.

Ia mencuri pandangannya pada Sehun yang kini tengah menatap taman dihadapannya, dengan datar. Tak mempedulikan Yoona yang tengah berdebar tak karuan. Ya Tuhan, apa ia juga langsung membelinya di toko dengan casing wajah tampannya itu? Baiklah, siapa peduli.

"Tenang saja. Ukurannya sudah kupastikan benar." Yoona terlonjak, jantungnya serasa melompat keluar begitu saja. Ucapan Sehun selalu bagai sengatan listrik yang membuatnya meringis malu. Ukuran apa coba?

"huh?" Yoona kebingungan, ia menatap Sehun penuh tanya. Jangan-jangan pria ini pernah menyentuhnya tanpa sepengetahuannya?

"15 juli. Setengah 1 dini hari saat purnama. Aku memelukmu?"

Sialan, Yoona mengingatnya juga. Saat memergoki pria itu tengah menyesap wine nya digelap malam dapur. Memeluknya dan mengatakan ia boleh menangis juga disana. Jadi saat itu, ia mengukurnya?

"Mesum!" Umpat Yoona lirih tak terima

"Terserah. Tapi aku memang langsung tahu begitu saja ketika memeluk seorang gadis." Sehun berdiplomasi. Berusaha membela diri yang malah membuatnya lebih kelihatan seperti pria hidung belang. Wah, itu pasti juga salah satu kelebihannya.

Yoona menatapnya tak percaya. Ia mengalihkan pandangnya dari Sehun, dapat ia rasa pria itu masih saja menatapnya datar tanpa rasa bersalah.

"Pakaian lainnya ditumpukan bawah."

----

Dari atas balkon kamarnya Sehun mengamati langit yang mulai redup. Semburat senja akan menjadi penutup tenggelamnya matahari seperti hari yang selalu berulang. Menyisakan garis cakrawala yang tak pernah terbendung ujungnya.

Ia akan pulang sedikit terlambat ke hotel hari ini.

Seperti malam ini. Ia minum segelas vodka yang dituangkan cukup banyak kedalam gelas berisi es batu. Menikmatinya sambil memandang langit yang berangin lembut menelisik anak rambut halusnya, menerbangkan beberapa yang membuat wajah tegas miliknya semakin berkharisma.

Vodka membuat lehernya terasa seakan-akan baru saja menenggak obor, tetapi itu tak masalah. Ia sedang mencoba menghanguskan apa yang ada dalam fikirannya dan mematikan seluruh indranya.

Sehun menilai dirinya sebagai manusia yang ada untuk bekerja. Merambah seluruh dunia dan menusuk segala kejinya. Ia tahu segala dunia malam, mengoyak dan bermain tikam dengan para musuhnya. Sudah bukan hal baru baginya untuk berkelahi walau diperusahaan ia adalah sosok paling disegani.

Semua orang penting atau tidak ada yang penting. Itulah yang selalu difikirkannya. Membuatnya hebat dalam setiap kerja dan apa yang ia lakukan tetapi hal itu juga yang membuatnya rapuh.

Sehun mengguncang es batu dan vodkanya, kemudian kembali menenggaknya sampai habis. Bagaimana sesuatu yang sedemikian dingin membakar sedemikian panas saat mengalir kedalam perutnya?

Kepalanya menoleh memeriksa, ia berharap memiliki jeruk lemon atau limau untuk diteteskan kedalam minumannya. Tangannya kembali menuang sebotol vodka, kembali akan menenggaknya sebelum iris matanya melihat sosok gadis tengah berjalan dihalaman bawah.

Yoona telah mengubah penampilannya. Dress putih broklat selutut begitu manis pada tubuhnya, itu lebih baik daripada kemeja bodohnya. Ia berjalan disekitar taman dengan tatapan menerawang. Walau dari lantai dua, mata Sehun masih cukup baik dalam mengakses keberadaan gadis itu.

Bola mata Sehun bergerak-gerak, seiring dengan arah pergerakan Yoona yang perlahan melangkah. Sama sekali tak ada senyum dibibir mungil gadis itu, hanya berjalan dan menikmati angin yang berkendara udara. Bahkan kali ini, tetes air mata mulai menerjuni tebing pipinya. Sehun tak tertarik lagi pada minumannya, ia terus menatap pergerakan gadis dibawah sana. Mengamatinya.

Ada luka disana, ia tahu jelas. Ada banyak pilu yang tertahan. Ada banyak tangis yang ingin disampaikan dan begitu banyak keluh yang tak sempat diucapkan. Haruskah ia tahu, bahwa Sehun juga?

Fikiran Sehun mengudara, beberapa slide bagian hidupnya nampak begitu jelas dihadapannya, terulang dan seolah membuka luka lama. Memperlihatkan seluruhnya. Sehun tersadar, ia sudah terlalu jauh, menolerir seseorang untuk memasuki hidupnya.

Gadis itu tak boleh berada didekatnya.

Ia sudah bertekad tak akan membiarkan siapapun turut masuk lebih dalam lagi padanya. Sama seperti sangkar yang tak pernah dibuka pintunya, sama seperti tebing jurang yang tak boleh terinjak jatuh.

Ayolah, Sehun tengah berusaha memperbaiki benteng kokohnya yang telah dibangun bertahun-tahun.

Harusnya, ia tinggalkan gadis itu dijalan saja setelah menebusnya. Bukannya membawanya kemari, bukannya merengkuh dalam peluknya, atau bahkan membiarkannya mengetuk bagian hati yang seharusnya tidak?

Tapi apa-apa yang terjadi,

Ia terlanjur, terlanjur membawanya kemari, terlanjur merengkuhnya, atau bahkan, terlanjur membuka bagian hatinya?

Ia terlanjur.

----

24 July 2017

03.28 pm

Pria disudut ruang kuasanya tersebut kini tengah sibuk menekuri lembaran kertas yang tertumpuk rapi. Memilahnya menjadi 2 bagian dan memasukkannya pada map biru dan merah yang terlihat mengkilat.

Semilir udara dingin memasuki celah kemeja biru lautnya. Membuat perasaannya turut mendadak lebih tergesa. Suara ketukan pada pintu kayu berjarak 25 m membuatnya tersadar, sesosok pria dengan setelan jas datang dengan raut wajah gusar. Ia tahu, ada yang tak beres.

"Saya sudah memeriksanya Tuan."

Alis sempurna Kyle terangkat, cukup untuk mewakilkan pertanyaan 'selanjutnya apa?'

"Tak ada gadis dengan nama Im Yoona disana. Kurasa dia sudah pindah beberapa minggu lalu." Lapor pria dihadapannya, wajahnya rikuh menandakan rasa bersalah karena tak memberikan hasil kerja yang memuaskan.

Sudut bibir Kyle terangkat putus asa, ia tahu, sudah terlambat untuk mencarinya.

Untuk menyelamatkannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel