Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

17 July 2017

06.33 am

Sehun menuang air pada gelas tinggi miliknya dipagi hari.

Tubuhnya terasa pegal-pegal sekarang setelah melakukan aktivitas malamnya. Menenggak segelas air putihnya dengan sekali hentakan,

Namun, kini ekor matanya menangkap kehadiran sosok lain diambang pintu.

Yoona berdiri disana. Namun gadis itu nampak terkejut setelah mendapatinya juga berada didapur, membuat ia cepat berputar pergi. Sungguh, ia bagai gadis kecil yang ketakutan.

"Kau sudah bangun?" Suara berat Sehun pagi hari menginterupsi langkah kecil Yoona untuk berhenti. Ia nampak bergetar. Huh, ada apa sih- lagipula Sehun kan tidak telanjang. Tapi gadis itu menatapnya penuh ragu,

"Ehm" jawabnya kilas mengiyakan.

Yoona kembali memutar badannya untuk pergi, namun lagi-lagi pria itu membuka mulutnya.

"Kufikir kau mau ambil sesuatu?"

Benar juga, Yoona terlalu nampak menghindari adanya Sehun saat ini. Ia hanya menyunggingkan ringisan malu dan perlahan memasuki dapur, untuk minum.

Tapi memang, ia canggung untuk bertemu pria itu sekarang, merutuki diri yang memilih keluar kamar untuk mengambil minuman. Apalagi setelah mengintipnya semalam?

Sehun mendudukkan dirinya pada kursi kayu didepan meja panjang dapur. Mencuri pandangnya pada sosok Yoona yang kini menuang air dengan cepat-cepat.

"Tidurmu nyenyak semalam?"

Waw- pertanyaan macam apa itu Oh Sehun. Yoona sama sekali tak mengerti maksudnya. Ia sungguh tidak bisa tidur semalaman setelah melihatmu kemarin, pria bodoh.

Ayolah, gunakan sedikit saja otakmu.

Yoona hanya meringis, ia memegang gelasnya lebih erat.

"Tentu-" jawabnya lirih, namun masih saja terdengar jelas oleh sang lawan bicara. Syaraf getaran bahkan dapat Sehun rasakan sekarang.

Baiklah, teguk airnya lalu pergi. Yoona hanya tersenyum kilas pada sudut bibirnya. Sama sekali tak berminat untuk menatap sosok pria disampingnya.

"Bahkan setelah melihatnya?"

"Uhuk-"

Yoona tersedak. Sungguh lebih cepat air itu memasuki tenggorokannya karena birama ucapan Sehun. Ia menarik gelas dari sudut bibirnya lebih cepat

"A, aku tidak tahu maksudnya"

Bagus Im Yoona. Kau selalu berbohong saat gugup. Pandangnya kini beralih kearah Sehun, menatap sorot mata paling meneduhkan dipagi hari.

Waw, ternyata Sehun memiliki wajah yang luar biasa. Ia memiliki garis rahang yang kuat dan setiap lekuk pada paras yang sempurna. Ini pagi yang menyenangkan.

Tunggu, baiklah ini bukan waktunya.

Jemari mungil miliknya mulai bergetar sembari memegang gelas. Mungkin akan jatuh jika ia tak lagi waspada.

Sehun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau, melihat apa yang kulakukan semalam kan?"

Aliran darahnya terasa lebih cepat sekarang, menjalari seluruh tubuh dan mempersempit nadinya. Pertanyaan pria itu lebih tepat disebut sengatan listrik untuknya.

Yoona menelan ludahnya gusar. Ia tak tahu jika pria itu ternyata menyadari keberadaannya semalam.

"A- aku tak bermaksud lancang-"

Sehun membuang pandangannya tak peduli membuat Yoona menggigit bibir bawahnya khawatir. Apa ia marah karena Yoona melihatnya?

"Aku hanya ingin jalan-jalan semalam, jadi-"

"Tenang saja, aku tak akan melakukannya lagi." Potong Sehun membuat Yoona sedikit terlonjak.

Rasa hausnya bahkan sudah hilang sekarang. Yoona menggenggam lebih erat gelas ditangannya dan kini menaruhnya diatas paha kecil miliknya.

"Tak, tak apa- kau tak perlu menghindarinya karena ada aku" ucapnya perlahan penuh ragu.

Sudut bibir Sehun terangkat membentuk senyum kilas, Yoona kedengaran begitu polos mengatakannya. Bahkan ia jadi penasaran, berapa sebenarnya umur gadis yang tengah duduk disampingnya tersebut.

Beberapa saat berlalu begitu saja membuat Yoona lebih was-was. Merutuki bibirnya sendiri yang berbicara tanpa waspada.

"Menghindari apa?"

Yoona menautkan alisnya, pertanyaan Sehun hanyalah dalih untuk mentertawakannya saja dalam hati. Pria itu pasti sudah tahu apa maksudnya.

"Itu-"

"Apa?"

Sialan, apa Yoona harus mendeskripsikannya dahulu baru ia mengerti? Ini bukan topik yang bagus untuk dibicarakan.

Ayolah, Yoona masih saja gadis polos

"Yang kamu lakukan semalam dengan istrimu?"

Sehun terkekeh kilas. Dapat ia lihat wajah sempurna milik gadis itu khawatir karena ucapannya.

"Dia bukan istriku." Jawab Sehun enteng.

Yoona mengangkat alisnya tak percaya, matanya membola dan detak jantungnya berpacu lebih cepat. Setahunya, yang seperti 'itu' kan hanya bisa dilakukan suami istri saja. Jika pria itu mengatakan wanita semalam bukanlah istrinya, lantas apa ia berasal dari bar malam? Mungkin Yoona telah mendapat jawabannya, one night stand.

Ini terasa membuat nafasnya lebih terbatas sekarang. Apa ia jenis pria yang membeli wanita untuk memuaskan gairahnya? Jika itu benar, tamatlah hidupmu Im Yoona.

Ekor matanya mengikuti arah gerak Sehun, pria itu berjalan meninggalkannya begitu saja tanpa kata. Menyisakan penuh tanya dan semburat gusar.

Pria itu memiliki auranya sendiri kini, abu-abu yang tak mampu dibaca oleh sosok Yoona.

----

Jongin tersenyum antusias setelah menutup panggilan pada ponsel pintarnya, tangannya bergerak meraih pena berwarna hitam lalu menulis beberapa angka dan tulisan diatas kertas-kertas putih diatas meja.

Sehun hanya menatapnya datar, pria itu kini duduk berhadapan terpaut meja selebar 70 cm diantara keduanya.

"Anda beruntung Hoejangnim, produktivitas penjualan pada divisi satu benar-benar meningkat bulan ini" Jongin tersenyum sumringah memberikan laporannya pada Sehun. Tangannya beringsut mengangsurkan sejumlah kertas pada atasannya tersebut.

Sudut bibir Sehun terangkat, ia mengangguk puas atas kinerja seluruh pegawainya. Baguslah, ia memang tak membayar mereka untuk duduk dan bersantai saja. Jongin hanya tersenyum malas, rasanya wajah tampan Sehun memang sudah mati rasa.

Ia tak pernah memuji atau bahkan melempar senyum. Paras sempurnanya benar-benar tak bisa mengekspresikan emosi dalam lubuk hati.

"Segera kelola uangnya untuk progres proyekku dengan Kyle." Ujarnya menginterupsi. Jongin tersenyum rikuh, walau tahu apa saja jawaban yang akan keluar dari bibir ranum Sehun.

"Tentu. Sudah kulakukan" Jongin berapologi. Sorot matanya bangga menunjukkan bahwa ia mampu bekerja tanpa diaba-aba.

Jongin melanjutkan pekerjaannya. Kembali memilah beberapa berkas lalu memberikannya untuk ditinjau Sehun, lantas dia sendiri memeriksa bagian lainnya. Mereka berdua tenggelam didalamnya, larut dalam hening dan kesibukannya masing-masing. Pada ribuan deret kata yang tercetak rapi pada tiap lembarnya.

"Aku menebus seorang gadis"

Untaian kalimat keluar begitu saja dari sudut bibir Sehun. Membuat Jongin menghentikan kerjanya, matanya yang tadinya berkonsentrasi lantas buyar begitu saja.

"Dia dijual dibar. Jadi aku menebusnya." Sehun kembali beringsut bersuara. Bola matanya masih saja menatap lembar dihadapannya, walau nyatanya fikirannya telah mengudara.

"Eh, ya?" Jongin ragu, ia menatap Sehun dengan sorot mata penasaran

"Aku menebus seorang gadis"

"Baiklah" Jongin mengangguk seadanya, tapi sedetik kemudian pria itu kembali menatap Sehun penasaran "Tapi kenapa?"

Sehun mengernyit. Ia fikir ia juga tak mengerti mengapa ia melakukannya. Orang yang dikenal selalu rasional dan hanya mengambil keputusan yang menguntungkan baginya. Tapi yang diingatnya adalah tatapan sendu, jemari yang dingin dan deru nafas yang hangat.

"Aku juga sedang mencari jawabannya"

Jongin gelagapan. Bisakah seseorang menamparnya sekarang? Kenyataan ini sangat rikuh untuknya. Jongin penasaran. Bukan- bukan tentang siapa gadis yang ditebus oleh Sehun? Atau berapa banyak uang yang ia habiskan untuk menebusnya?

Tapi sejak kapan sosok Oh Sehun bersedia membuka mulutnya lebih lama hanya untuk bercerita padanya?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel