Bab 3
Dapatkah kita menjadi lebih dari yang sekedar kira?
16 July 2017
09.26 am
"Ada yang bisa saya bantu?"
Kelopak matanya kembali mengerjap, keningnya berkerut dan perasaannya penuh tanya.
Pagi ini pemuda dingin itu memutuskan untuk mengantar Yoona pulang kerumahnya. Tapi sungguh diluar duga, ia malah mendapati seorang pria asing membuka pintu untuknya.
Sehun baru akan pergi, meninggalkan Yoona yang telah diantarnya. Tangannya hampir menyentuh bibir mobil sebelum sebuah suara merayap memasuki gendangnya. Kakinya urung, kepalanya menoleh dan mengamati dua orang manusia tak jauh darinya.
"Anda, siapa?"
"Ah, maaf sebelumnya. Saya Do Kyungsoo, pemilik baru rumah ini, apa anda tetangga saya?" Pria itu melempar senyum ramahnya pada Yoona. Gadis itu hampir saja terkulai jatuh, ini rumahnya, kenapa ada orang lain disini?
"A- aku, juga pemilik rumah ini-" lirih Yoona takut, suaranya mulai serak. Otaknya mulai dipenuhi pemikiran-pemikiran buruk.
"Tapi aku telah membelinya seminggu lalu nona. Sertifikasi tanahnya bahkan sedang proses balik atas namaku dinotaris. Im Junghoon yang menjualnya." Nampak pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Kyungsoo tersebut menjelaskan dengan hati-hati.
Yoona bagai disambar petir pagi hari. Udara yang tadinya cerah terasa penuh mendung sekarang. Nafasnya memburu. Ayahnya juga telah menjual rumah mereka? keterlaluan.
"Kalau begitu, bisa kuambil barang-barangku dahulu, didalam?" Berusaha menenangkan dirinya. Yoona menahan air mata yang sudah berada diujung kelopak. Suaranya begitu bergetar penuh urat tak kuasa.
Setidaknya ia bisa mengambil barang-barang dan uang tabungannya yang tak sekira dilaci meja belajarnya.
Ia harus tetap hidup kan?
"Ah boleh saja, tapi sejak pindah kemarin, seluruh ruangan rumah ini telah kosong."
"Anda baik-baik saja nona?-"
Sehun melihatnya. Juga mendengarnya. Retinanya kembali menangkap sosok lemah Yoona. Tangan gadis itu memucat bersaing dengan warna putih dinding rumah dihadapannya.
Yoona bergeming. Mau berteriak dan menangis pun tak ada gunanya. Sudut bibir kecilnya tersenyum miris. Ia lupa satu hal, jika anaknya sendiri bisa dijual, kalau hanya rumahnya, kenapa tidak?
Pemikirannya begitu rancu. Satu hal baru untuk Yoona, ia tak punya apa-apa sekarang.
Sebuah tangan menyentuh jemarinya, memberi sensasi dingin bagi tubuh Yoona. Bola matanya tak begitu yakin,
Tapi itu tangan Sehun.
Menariknya kasar menuju mobil. Tunggu- pria itu masih disini sedari tadi? Yoona melepas cengkraman kasar Sehun dari jemarinya. Yang benar saja, itu lumayan ngilu untuk gadis sepertinya.
"Ayo pergi" ucapnya datar penuh penekanan, bola matanya sama sekali tak menatap lawan bicaranya. Ia membuka pintu mobil dengan kencang
"Kembali kerumahmu? tidak." tolak Yoona parau. Matanya telah sesak oleh air mata, bahkan jatuh lebih cepat dari kiranya.
"Lantas kau akan tetap disini?"
----
Yoona memutar pandangannya kebingungan. Alih-alih pergi pulang, Sehun justru membawanya kesebuah cafe sekarang. Tempat itu cukup sepi, tinggal beberapa pelanggan disudut ruangan, cat warna coklat pada permukaan dinding menyeruak memasuki retina miliknya.
Sehun menatap Yoona datar. Gadis itu masih berdiri saja.
"Apa kau tak tahu fungsi mengapa manusia membuat sebuah kursi?" Desisnya membuyarkan lamunan Yoona.
Gadis itu meringis malu, tangannya menarik kursi disisi kirinya, kemudian mendudukkan tubuhnya disana. Ini sudah lama bagi Sehun, terakhir kali ia makan dan minum ditempat umum adalah tiga tahun lalu. Selebihnya, ia akan pergi kerestoran mewah yang amat sepi. Ia tak suka keramaian.
Dan kini, ia kembali memasukinya untuk pertama kali. Membawa seorang gadis pula. Yang Sehun tahu dari menonton drama dalam laptop Jongin, disana biasanya manusia normal pergi ketempat seperti ini. Sehun berdiri, melangkahkan kakinya.
"Kau-"
"Mau pergi?" Tangan Yoona menahannya, jemari mungil gadis itu memegang ujung kemeja putihnya. Sehun dapat melihat iris mata gusar miliknya, bagai anak kecil yang takut akan ditinggal orang tuanya.
"Aku mau pesan minum." Jawabnya datar lagi-lagi membuat Yoona meringis malu. Ia melepas cengkraman kecilnya dari lengan Sehun lalu menunduk dengan perasaan lega. Sehun tak meninggalkannya.
Sehun terheran dalam hati sembari melangkah pergi. Seingatnya, ucapan gadis itu tadi pagi seakan segan bersamanya?
"Yoona?"
Ucapan seseorang kembali menyadarkannya. Yoona menoleh dan mendapati sosok lain dari yang ia duga. Bukan Sehun yang ia tunggu, matanya membola melihat seorang pria tengah berdiri disampingnya.
'Suho?'
"Apa yang kamu lakukan disini? Tunggu- kamu habis menangis?" Pria itu menghujaninya dengan pertanyaan miliknya, ia juga tampak terkejut dengan keberadaan Yoona.
Dapat ia lihat sudut matanya telah sembab.
Dengan sigap, ia duduk dihadapan Yoona. Tangannya bergerak ingin menyentuh pipi mulus gadis dihadapannya, namun dengan sopan Yoona menepisnya.
"Tak apa."
"Bohong. Im Junghoon lakukan sesuatu lagi padamu?"
Iris mata gadis itu nampak berkilat, bersama air mata yang masih ditahan. Suho memang paling mengerti dirinya. Seluruh pertanyaan pria itu serasa menghujamnya dengan kasar.
'Dia menjualku Suho-ya! Dia menjual anak gadisnya sendiri dibar!' Suara-suara pemberontakan muncul memenuhi hati Yoona. Ingin sekali ia memeluk dan menangis dalam dekapan pria itu sekarang, meraung dan mengadu padanya
Tapi Yoona tak bisa.
"Katakan sesuatu- ceritakan segalanya padaku Yoong"
Langkah miliknya terhenti,
Sehun menautkan alisnya, tangan dinginnya masih memegang 2 gelas capuccino hangat sekarang. Matanya mencoba mengakses seorang pria asing yang duduk dengan Yoona saat ini, tapi Sehun juga tak mengenalnya.
Beruntungnya, Yoona dalam posisi memunggunginya. Sehun menarik kursi lain, duduk tepat dibelakang Yoona. Menaruh capuccino-nya dengan tenang tanpa gadis itu tahu.
"Tak terjadi apapun. Tenang saja."
"Dengar- datanglah kerumahku Yoong, kau tahu aku masih mencintaimu-"
"Suho-ya. Berhentilah." Yoona jengah, ia menurunkan pandangannya kearah meja dari kayu yang berperan sebagai penghalang diantara mereka, mencoba tak menatap pria dihadapannya.
"Kau sudah punya istri. Jadi berhenti bersikap seperti ini." Suho memutar bola matanya frustasi. Yoona sudah melupakan sosoknya semudah ini ternyata.
Ia memang bersalah, meninggalkan Yoona untuk menikah dengan gadis lain pilihan kedua orang tuanya. Tapi sungguh, jika dunia dapat berbicara, maka ia akan bersaksi betapa pria itu masih mencintai Yoona dalam hatinya.
Sedang Sehun masih bergeming. Sama sekali tak berniat menegur atau bahkan menyapa pria asing disamping gadis itu. Ia dapat mendengar jelas seluruh percakapan 2 orang dibelakangnya saat ini. Namun sekali lagi, semuanya masih saja abu.
"Yoong, aku yakin kau tahu jelas. Aku masih saja menginginkanmu."
----
01.56 am
Helaan deru nafas berhembus lebih tenang.
Yoona kembali memijit betisnya yang terasa pegal, mensejajarkan kedua kaki jenjangnya diatas ranjang besar yang tengah ditempatinya.
Cahaya lampu temaram menyergap seluruh sudut ruang mulai terbiasa memasuki retina miliknya. Dulu, Yoona sama sekali tak menyukai penerangan yang samar. Tapi untuk sekarang, ia tak mempedulikannya lagi.
Akhirnya, ia kembali lagi dirumah besar nan mewah milik pemuda dingin itu. Setelah ada kenyataan baru bahwa ia sama sekali tak punya apapun didunia sebesar ini.
Bahkan barang dasar seperti pakaian? Yoona hanya tersenyum miring menatap kemeja hitam Sehun yang masih setia membalut tubuhnya. Mungkin tak masalah jika meminjamnya, dan lagi ia menemukan ratusan didalam lemari pemuda itu juga.
Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi lagi ia masih tak dapat memejamkan matanya. Bagaimana bisa ia tidur pulas dengan kenyataan esok masih penuh tanya.
Kakinya mulai menapaki lantai dingin dimalam hari. Membuka pintu dan kembali berjalan diantara lorong megah dalam rumah besar yang kini ditempatinya. Jangan lupakan juga bahwa seluruh lampu disana telah padam, gadis itu memang memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Menghafal denah rumah mungkin?
Matanya mulai menelisik, beradu dengan cahaya temaram dari lampu remang yang menggantung beberapa pada dindingnya.
Bersumpah dengan sebal bahwa rumah ini terlalu mewah bahkan dengan keadaan segelap ini.
"Ah- ehmm"
"Hun-ahh"
Langkahnya terhenti,
Telinganya dapat mengakses jelas, menusuk membelah udara dan suasana hening malam. Itu suara seorang wanita.
Sayup-sayup terdengar riuh rendah. Tangan Yoona mengepal kuat, ia berjalan penuh ragu kearah balkon didalam rumah.
Suara wanita yang terengah. Mendesah, lalu mengerang penuh nikmat.
"Ugh-"
Lenguhan terdengar lebih jelas baginya. Membuat Yoona takut-takut untuk mengintip, tapi ia yakin jelas bahwa itu berasal dari lantai satu.
Retinanya menajam dan,
'Oh tidak-'
Matanya masih sangat sehat. Bahkan cukup jelas untuk sekedar melihat pemandangan dilantai bawah.
Pemuda dingin itu tengah menggagahi seorang wanita.
Ia tak asing dengan punggung sempurna pria yang tampak tengah menindih wanita dibawahnya, sedang bercinta pada sofa megah ruang tengah. Dapat Yoona lihat, wanita itu meremas penuh gairah pada rambut sehitam malam pria diatasnya.
Ini gelap, tapi Yoona yakin sosok dibawah sana adalah pemuda yang menolongnya. Ah maaf- mungkin lebih pantas disebut seorang pria sekarang?
Matanya memanas. Suara desahan gadis dibawah sana lebih jelas menusuk-nusuk telinga Yoona. Astaga, tolonglah! Ini adalah pertama kalinya Yoona melihat adegan seperti ini secara langsung.
Ia masih gadis suci diumurnya yang ke dua puluh satu tahun ini.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena apa-apa, Yoona ketakutan akan segala sesuatunya. Ia memang tak tahu pasti sosok seperti apa pria yang telah menolongnya tersebut. Tapi sungguh, jika ia berani bersumpah, pria itu sudah sangat baik padanya.
'Itu istrinya?'
Tak peduli, sungguh. Yoona lebih ingin pergi jauh saja sekarang.
