Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Kita adalah bagian-bagian luka yang bertemu.

Kamu dan aku.

Tapi segala yang terjadi adalah,

Kau memikatku pada cara yang tidak seorangpun jiwapun bisa.

13 July 2017

01.56 am

"Jangan menyentuhnya"

Terdengar begitu dingin. Penuh penekanan pada setiap nada rendah yang keluar dari mulutnya.

Siapa yang tak terkejut? Seluruh manusia didalam ruangan bahkan menautkan alisnya tak percaya karena ucapan Oh Sehun. Tak ada yang memberikan penyangkalan, para pesuruh Chanyeol bahkan memutuskan tak menyentuh Yoona.

"Apa kau baru saja memerintahku, Tuan Oh?"

Chanyeol penasaran. Setahunya, sosok dihadapannya itu sama sekali tak tertarik dengan wanita. Sehun mendengus, ada amarah dihatinya. Entah karena tak menyukai Chanyeol, atau-

Perasaan tak terima?

"Itu ancamannya."

Chanyeol terkekeh. Karena gadis itu meminta tolong pada Sehun lalu dengan rendah hati benar membantunya? Lelucon yang konyol.

"Kurasa kau tak mengerti, tapi aku telah membelinya dengan harga mahal. Jadi dia akan menjadi pekerja dibarku." Penuh semangat nada ejekan beruntun keluar dari mulut pria itu. Chanyeol menatap Yoona remeh.

Manik gadis itu sedikit membola. Bekerja dibar? Yang benar saja, bung. Tak pernah ada pekerjaan yang baik ditempat semacam ini.

"Dan sebelum mulai bekerja. Terlebih dahulu, aku sendiri yang akan memberinya pelatihan diranjang." Seringai Chanyeol penuh kemenangan, membuat bulu kuduk Yoona berdiri, pria itu merendahkan dan membuatnya benci hingga berapi.

Memandang Yoona dengan tatapan 'Habis kau malam ini-'

"Berapa?"

Alis sebelah Chanyeol kembali terangkat.

"Berapa harga saat kau membelinya?"

Iris matanya berkilat.

Chanyeol menyeringai. Sehun akan membeli gadis kecil ini darinya? Haha, mungkin sedikit bermain dengannya akan menyenangkan. Dilihat dari sisi manapun, Sehun adalah tambang emasnya. Segala aspek padanya hanyalah kesempurnaan dan kesempurnaan. Uang tak ada arti baginya?

Berfikir sejenak sebelum memutuskan berbicara, Chanyeol tersenyum.

"70. 70 Juta dollar"

Sarat matanya penuh kemenangan. Itu harga yang fantastis. Bahkan jika untuk pengusahawan sukses macam Sehun. Tentu saja, Chanyeol memang berniat memerasnya.

Yoona tercekat. Walau harga dirinya lebih tinggi daripada nominalnya. Itu adalah jumlah yang gila.

Memberi harga ratusan kali lebih mahal daripada tanah yang akan dijualnya. Chanyeol yakin Sehun akan segera pergi tanpa kata.

"Pergi main dengan jalangmu yang lain."

Tapi ia salah besar-

Sehun sama sekali tak gentar. Nafasnya masih teratur. Bahkan menulis cek 70 juta dollarnya dengan rapi. Menghempasnya tepat kearah dada bidang Chanyeol, dengan seringai kejam disudut bibirnya sebagai plakat 'Apa aku baru saja jadi pemenang?'

Sehun baru saja berniat menarik Yoona pergi.

Tapi tak perlu. Jemari kecil milik gadis itu rupanya masih bertengger pada lengan jasnya, mengeratkan seolah berniat tak akan melepasnya.

Senyuman tipis sekilas muncul dari sudut bibir Sehun.

Menyentuh lengan kurusnya. Membawanya pergi dari sana.

Tanpa tahu, segala pilihnya malam ini akan memengaruhi hidupnya nanti.

Jatuh dan tenggelam lebih dalam padanya.

----

Pandangannya menelisik.

Penuh tanya dan ingin tahu. Bola matanya kembali berotasi menjelajahi sudut-sudut ruangan dimana ia berada.

'Sangat mewah.'

Menghentikan pandangnya ketika sesosok pria kini menaruh segelas air dihadapannya. Sehun mendudukkan diri pada sofa didepan Yoona, dapat ia tangkap semburat gelisah dari tubuhnya. Tangan pucatnya bergetar pertanda masih saja ketakutan.

Yoona menggigit bibir bawahnya, ragu siapa dahulu yang akan mulai berbicara.

"Sebenarnya..." Memberanikan diri menatap celah manik pria itu. Namun kembali terhenti ketika mendapati pandangan Sehun juga tengah menatapnya. Bola matanya benar-benar sejernih tetes embun dipagi hari.

"... aku punya rumah"

Kembali ragu, pria itu menatapnya tanpa jawaban.

"Jadi kurasa, aku pulang saja." Lanjutnya kembali. Tentu saja, Sehun membawa gadis itu dirumah besarnya. Bahkan masih bergeming, sama sekali tak dapat respon. Apa pria itu marah padanya?

"Tentang uangmu-"

"Tinggal dulu disini." Sehun bersuara. Memotong ucapan Yoona yang akan membahas masalahnya.

Yoona terkejut- tinggal disini? Itu konyol.

"Jangan salah faham, aku tak disini juga. Aku akan kembali kehotel." Sehun bersuara datar memberi kejelasan. Dapat ia dengar Yoona menghela nafas lega. Hey? Apa ia baru saja berfikir yang tidak-tidak tentangnya?

Yoona kian tenang. Mungkin pria dihadapannya ini tak seburuk yang ia duga. Apalagi dengan kemungkinan ia aman dirumahnya.

"Jangan coba berkeliaran, orang-orang Chanyeol bisa kembali menangkapmu."

'Dan aku tak sudi bayar 2 kali' Batin Sehun dengan dengusan kecil didalam hati.

Sehun berdiri akan pergi. Namun sedetik kemudian langkahnya terhenti, ia membuka jas hitam mahal miliknya. Berbalik dan menyodorkannya pada Yoona tanpa suara.

Yoona tampak kebingungan, ragu akan maksud pria itu. Bola mata Sehun beralih pada paha mulusnya, menatapnya dengan tatapan tak peduli seolah dengan embel-embel 'Tutupi-dengan-ini'.

"Ah-" Yoona meringis. Menerima jas hitam Sehun dan segera menutupinya.

"Terimakasih."

----

08.50 am

"Aku tidak tahu anda punya rasa tanggung jawab yang kecil tuan Oh."

Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jasnya tampak berdecih kesal. Alisnya bertaut seolah tak mengerti, rasa marah tetap mendominasinya.

Sosok lain yang duduk dihadapannya hanya diam tanpa penjelasan. Sehun tahu ia bersalah.

"Walau hanya ditunda 2 minggu, presentase keuntungan dalam proyeknya akan berkurang. Saya yakin anda juga mengetahuinya." Kembali berjengit. Ia menatap lawan bicaranya tajam. Bagaimana bisa, Sehun dengan tenangnya mengatakan telah meminjam 20 juta dollar biaya keperluan proyek untuk kebutuhannya, benar-benar seenaknya.

"Akan saya kembalikan minggu depan. Saya mohon maaf tuan Kyle." Sehun berdiri dari tempat duduknya, membungkukkan badannya 90 derajat pada mitra kerjanya.

Tak ada jawaban. Hanya helaan nafas berat Kyle yang didengarnya. Sehun dapat melihat dari ekor matanya, pria itu berdiri dan melangkah pergi, dari ruangannya.

Ia mendengus dalam hati. Melonggarkan dasinya yang terasa terlalu kencang dan menghempaskan tubuhnya begitu saja disofa. Ingin sekali mengumpat. But not now- ia bersalah. Ia yang harus menerima konsekuensinya.

"Kau benar-benar telah gunakan 20 juta dollarnya?" Seorang pria dengan kulit eksotisnya memasuki ruangan, tangannya menenteng beberapa lembar kertas. Kini langkahnya mendekati Sehun dan duduk dihadapannya.

-Kim Jongin- sekertaris utama Presdir Oh Company.

Tak ada jawaban. Sehun terkekeh sekilas melihat raut wajah gusar Jongin.

"Kebutuhan apa yang benar-benar mendesak hingga pinjam uang perusahaan juga?" Tanyanya kembali. Jongin memang terkejut dengan insiden ini. Oh Sehun yang profesional selama hidupnya kini melakukan kesalahan juga?

"Hoejangnim-" Panggil Jongin pelan, ia mengusap pelipisnya penat. Sehun masih saja tak berniat menjawabnya. Bahkan masih saja begitu, sangat misterius dan ambisius.

Sejujurnya. Ia sendiri kebingungan dengan dirinya, begitu yakin dan bersedia melakukan hal yang tak pernah difikirkannya. Bahkan tanpa berfikir panjang. Terlalu bodoh memang,

Tapi tangan yang malam itu menahannya. Membuatnya ingin melakukan hal lebih.

Melampaui batas yang seharusnya tidak pernah.

----

15 July 2017

12.38 am

Retinanya menajam.

Kakinya mulai menapaki lantai dingin. Ini telah larut malam. Tapi tenggorokannya benar meronta karena kekeringan. Baiklah, ambil segelas air lalu tidur.

Yoona menggigit bibir bawahnya, desain interior rumah ini sangat menakjubkan. Bahkan sekali lihat, siapapun tahu ini lebih layak disebut hotel daripada rumah.

Tapi malam begini, seluruh lampunya telah mati. Samar dan temaram. Mungkin saja dirinya bisa menabrak pajangan mahal, memikirkannya saja membuat Yoona bergidik ngeri.

Langkahnya terhenti.

Sesosok pria tampak duduk dikursi pada bar kecil disamping dapur dengan sebotol wine menemani keberadaannya. Yoona hanya dapat melihat punggung kokoh yang membelakanginya.

Bahkan seluruh lampu dapur tak menyala, didalam sana gelap. Hanya cahaya bulan yang menerobos masuk dari kaca jendela besar didepannya, bak lampu sorot yang jatuh tepat pada tubuhnya.

Bahkan bayangan miliknya sempurna.

Yoona berfikir, haruskah ia pergi saja? Belum sempat menyelesaikan keputusannya, pria itu telah menoleh dan mendapatinya berdiri disana.

Pandangannya bertemu.

Yoona tahu. Ia pria yang menolongnya, pemilik rumah ini. Pria itu tak pernah kembali sejak sehari yang lalu menyuruhnya tinggal. Dan kini Yoona bertemu dengannya pada keadaan yang meragukan.

"Ah- kurasa aku tersesat" Yoona menyunggingkan senyum kikuknya. Berbohong seolah ia baru saja tak tahu arah.

"A- aku akan kembali kekamar." Lanjutnya kembali karena tak ada jawaban. Canggung dan ingin cepat-cepat pergi saja dari sana. Memutar badannya tegang,

Sehun menatapnya lamat,

"Duduklah" Akhirnya membuka suara. Sehun tahu gadis itu pasti takut berhadapan dengannya. Apalagi ini telah larut.

Ia pasti hanya bisa mengenakan satu lemari penuh kemeja hitam milik Sehun. Tapi tak buruk, itu menutupi separuh pahanya. Dan Sehun juga tak peduli. Dapat ia lihat kaki Yoona bergetar menghampirinya.

Duduk dikursi bar tepat disampingnya.

Yoona menatap Sehun. Memperhatikan caranya menyesap wine dari gelas. Ah tidak, mungkin bukan caranya. Tapi bagaimana dengan jelas bentuk sempurna parasnya.

Walau kalah oleh gelap. Sinar rembulan yang jatuh pada separuh sosoknya dapat menyakinkan Yoona bahwa ia sangat tampan.

Dulu, ibunya sering bercerita tentang kisah para putri kerajaan sebelum ia tidur, dan jika diingat kembali. Mungkin sosok disampingnya ini pastilah definisi tepat dari sang pangeran.

Bibir seranum apel. Rambut sehitam malam. Kulit seputih salju. Iris mata secoklat hazel, dan ketika berbicara, suaranya sedalam dan semisterius lautan.

'Tapi sang putri bukanlah aku.'

Jangan terlalu lama Im Yoona- kau akan tersesat dalam pesonanya.

"Kau-" Yoona mencicit, mengeluarkan suara kecilnya yang masih dapat didengar jelas.

"Kau baru saja keluarkan ratusan jutamu, hanya untuk seseorang yang bahkan pertama kali kau temui? Kenapa?" Terdengar ragu, ia bertanya dengan hati-hati padanya. Namun sungguh, Yoona amat penasaran dengan keadaan yang diputar balik oleh pria ini.

Sehun mengguncang gelas wine yang kini tinggal berisi seperempat. Kemudian menaruhnya diatas meja bar setelah sebelumnya menenggak dengan sekali sesapan.

"Apa aku harus punya alasan untuknya?"

Yoona terperangah mendengarnya, benar lucu jika ia tak punya alasan untuk keputusan sebesar itu.

Diam beberapa saat. Yoona memutuskan berujar. Mengatakan apa saja yang benar.

"Ayahku."

"Ayahku yang menjualku."

Sehun tersentak dalam gemingnya. Iris matanya terasa melebar sekarang. Apa yang Yoona coba katakan, jadi ayahnya yang menjual gadis itu pada Chanyeol?

Menjual putrinya sendiri? Dunia sudah gila.

Dapat ia lihat dari ekor matanya, Yoona tengah tersenyum getir sekarang. Masih mencoba menahan air mata yang sudah berebut ingin keluar dan menghela nafas berat.

Tapi Sehun tak tahu-

Sungguh tak tahu. Ia bersifat keras dan begitu angkuh. Apa yang ia tahu hanyalah bagaimana menghabisi lawan dengan ambisi, bukannya dedikasi untuk menggugurkan segala duka pada isi hati. Sungguh ironis.

Mungkin benar jika hatinya memang sudah terlalu lama mati.

Apalagi untuk seorang perempuan.

"Kau-"

"Ingin pelukan?" Penuh urat ragu. Sehun terdengar begitu bodoh dengan nada suaranya yang terdengar begitu kaku.

Masa bodoh. Ia pernah tak sengaja mengintip drama dalam laptop Jongin sebulan yang lalu. Dan perempuan menyukai ucapan semacam itu kan?

Yoona terkekeh.

"Tidak. Aku terlalu dewasa untuk itu." senyuman kilas muncul pada sudut bibir Yoona. Walau ada hati yang sudah sangat hancur disana, tapi ia tak ingin menunjukkannya pada siapapun.

Sehun berfikir. Apa ia baru saja ditolak? Baiklah yang benar saja, ternyata tidak semua perempuan suka.

Yoona memang tak mengatakannya. Tapi ia lupa bahwa matanya dapat berbicara. Dan Sehun pandai dalam membacanya.

Sehun menghela nafasnya, mensejajarkan tubuhnya pada Yoona. Menatapnya sebelum akhirnya menarik pelan tangan gadis itu dan merengkuh pada tubuh paling berharga miliknya.

Yoona tersentak. Aroma harum tubuh Sehun menguar memenuhi hidungnya. Bukankah ia sudah bilang tidak?

Sehun menegang. Ia yang memeluknya, mengapa jadi tubuhnya sendiri yang terasa kaku. Yoona bahkan bergetar terasa,

"Kau- boleh menangis juga."

Yang benar saja Oh Sehun, kembali melampaui batasmu sendiri?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel