Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13

Yoona baru saja menyusuri ruang tamu pagi ini menuju dapur ketika perutnya telah protes ingin diisi. Ia tak makan semalaman.

Lalu bola matanya memandang kearah benda lain diatas meja. Tergeletak dan seperti terlupa oleh sang pemilik.

Rokok dan pemantiknya.

Ia menggigit bibirnya ragu. Lalu mulai meraihnya, leher jenjangnya menoleh ke kiri dan kekanan.

Lalu sudut bibirnya terangkat, ia melihatnya! Tempat sampah.

Oh ayolah, jangan berfikir buruk juga layaknya Sehun yang mengira Yoona akan mencobanya.

Ia akan membuangnya.

Mendekati tempat sampah kecil diujung dinding lalu memasukkannya dengan tulus. Yoona akan menyelamatkan Sehun dari yang satu ini. Biar saja pria itu kebingungan mencarinya, Yoona menangkupkan kedua tangannya mendoakan Sehun agar pria itu berhenti merokok.

Tanpa sadar bahwa sudut bibir sepasang mata diatas sana terangkat. Memperhatikan gerak-gerik gadis yang terlihat tengah berhati-hati membuang benda miliknya.

Sehun terkekeh.

----

02.30 pm

Telah sampai didalam restoran mewah tempatnya menghabiskan sepiring English Pheasant atau Fricassee yang masih saja menarik bahkan ketika disantap sepanjang tahun.

Sehun merogoh saku bagian dalam jas kanannya. Menghabiskan waktunya sebentar untuk merokok akan menghiburnya.

Lalu tak ada apapun didalam sana. Kecuali beberapa bungkusan kecil, Sehun meraihnya penasaran dan mendapati 2 bungkus permen berwarna pink soft melapisinya.

Rasa strawberry?

Sehun mengernyit tak paham. Ah benar, Yoona membuang rokok dan pemantiknya pagi ini. Dan ia sedang berpura tak mengetahuinya.

Lalu gadis itu menggantinya dengan memasukkan dua buah permen ini untuknya? Astaga. Sehun bukanlah tipe macam itu. Bahkan Taman Kanak-kanak adalah waktu terakhir ia memakan permennya.

Tangannya kembali meraih kertas kecil yang berada didalam saku-nya. Membaca deretan kata kecil yang ditulis dengan pena hitam.

'Kufikir yang ini lebih manis ^^'

Kemudian Sehun mengingatnya, ketika ia berbicara bahwa rokoknya juga memiliki rasa yang manis.

Sudut bibirnya terangkat.

Dan pada senyum milik Yoona, Sehun dapat melihat sesuatu yang lebih cantik daripada tebaran bintang.

Ia terkekeh. Membuka bungkus permen lalu menelannya dengan bibir tak ingin berhenti mengukir senyum.

Mungkin, strawberry siang hari pada awal Agustus adalah rasa yang sempurna.

----

12.12 am

"Yoona?"

Gadis itu menolehkan leher jenjang kearahnya. Menghentikan langkahnya dan menatap Sehun lekat.

Ada cairan bening yang ingin menerjuni tebing pipinya sekarang, kemana perginya tatapan teduh itu? Sehun sama sekali tak berhasil menangkap diantaranya.

Yoona membawa tas besarnya.

"Kau akan kemana?!" Sergah Sehun kasar, ia berlari menghampiri Yoona yang hampir saja berada diambang pintu rumahnya. Gadis itu meringis kesakitan, membuat cengkraman Sehun justru menguat.

"Sehun-ssi," Ucapannya terpotong ketika suara dentum pintu terbuka dengan kasar. Menampakkan sosok Chanyeol berdiri dengan dua orang suruhannya. Sungguh gaya klise untuk orang yang berperan antagonis.

"Wow, apa ini? Sedang menangisi perpisahan kalian?" Ejeknya disambung tawa renyah membuat rahang Sehun mengeras, ada perasaan kalut dalam nadinya sekarang.

Apa Yoona akan direnggut darinya? Lalu sungguh bahwa ia tak bisa membiarkannya pergi pada brengsek macam Chanyeol. Bahkan jika Yoona sendiri telah bersedia,

Maka Sehun tidak.

Ia menarik tubuhnya mendekati Chanyeol lalu memukul rahangnya dengan tinju yang keras. Membuat pria itu tersungkur cukup telak. Dan Sehun kembali pada dirinya, ia tak segan menghabisi lawannya.

"Sialan" Chanyeol mengumpat kesal.

Matanya berkilat.

Amarahnya terlalu besar hingga lupa bahwa Chanyeol memiliki pesuruhnya. Dengan gerakan tangan dari tuannya saja, tindakan selanjutnya ialah memukul Sehun dengan tinju yang sama pula kuatnya.

BUGH!

Sehun terhuyung. Pandangannya menjadi kabur ketika pukulan kasar kembali menghunus rahangnya. Membuat kesadaran motoriknya menurun lebih cepat.

"Sehun-ssi!" Yoona memekik keras, berlari kearah Sehun ingin meraihnya.

"Berhenti. Apa kau lupa aku datang untuk menjemputmu, sayang?" Chanyeol menarik kasar lengan Yoona, menyeret pada daerah kekuasaannya. Menyeringai melihat raut wajah ketakutan gadis disisinya tersebut.

"Ucapkan salam perpisahan." Chanyeol terkekeh menatap Sehun penuh ejekan.

Tidak, bukan keselamatannya sekarang. Yoona yang terpenting. Matanya masih berusaha terbuka ketika melihat tangan Chanyeol menyeret kasar gadisnya.

Sialan! mengapa ia jadi sama sekali tak berdaya

Menjauh meninggalkannya yang masih terkapar tak berdaya. Dapat ia lihat samar sorot mata Yoona,

Masih tertuju padanya dengan tangis yang memecah sunyi pagi ini.

....

....

....

Im Yoona?

Sehun membuka matanya cepat. Mendapati diri kini dalam keadaan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin telah membasahi tengkuk dan seluruh tubuhnya.

Persetan mimpi buruknya!

Sehun masih saja mengatur deru nafasnya. Rasanya hampir sangat nyata, ketika ia hampir saja lengah dan kehilangan Yoona. Pandangannya menyapu ruangan, ia berada di hotel sekarang.

Tangannya meraih kunci motor yang tergeletak diatas meja kecil disamping ranjang.

Ia butuh menemui Yoona.

----

01.42 am

Sehun mengendarai motornya secepat mungkin pada jalanan lengang dimalam hari. Ujung-ujung jaketnya beterbangan beradu dengan angin malam yang kasar.

Beberapa kali menukik rendah pada tikungan dihadapannya. Kemudian mengganti manuver memutar kemudinya tak sabar.

Tak lama pandangannya mulai mengakses keberadaan rumahnya, Sehun menghentikan motornya dipekarangan, menajamkan pandangannya. Ada perasaan lega melihat bahwa yang dikhawatirkan tengah baik-baik saja, namun kembali berubah ketika mendapati Yoona berdiri ditaman didepan rumah.

Sehun mengumpat keras.

Pada detik berikutnya mengalihkan perhatian Yoona, dapat ia lihat seseorang mengendarai motornya memasuki pekarangan dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa wajah dibalik kemudi tengah kalap.

Sehun turun dari kemudinya dengan tatapan yang tajam. Ah tunggu,

Sangat tajam.

Keningnya mengernyit penasaran, namun tiba-tiba saja dapat dirasakan aura hitam menguar dari balik tubuh Sehun.

"Kau gila?" Desisnya tajam menerkam pergelangan Yoona kasar membuat gadis itu tersentak kebingungan.

"Masuk kedalam" Titahnya tanpa membuat Yoona membuka bibirnya menanyakan alasan. Gadis itu terdiam sesaat, namun akhirnya memilih melangkahkan kakinya meninggalkan taman dengan perasaan gelisah.

Yoona fikir ia tak buat kesalahan sejak pertemuan terakhirnya dengan Sehun. Sangat aneh melihat tiba-tiba saja pria itu datang dini hari dengan amarah yang tercetak jelas diantara urat lehernya.

Sehun bahkan mengikutinya hingga Yoona benar-benar memasuki kamarnya, pria itu berjalan dibelakangnya dengan deru nafas beradu yang dapat Yoona curi dengar diantaranya.

"Sehun-ssi"

"Tidur sekarang." Sehun menggunakan dagunya untuk menunjuk ranjang besar dibelakang Yoona, membuat nyali gadis itu kembali menciut untuk bersuara.

"Perlu kuseret?" Tawarnya dengan nada rendah yang nyaris saja membuat Yoona bergidik ngeri. Tawaran mengerikan yang didengarnya, dan tentu dengan segala kesadarannya gadis itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan kearah ranjang.

Satu detik...

Dua detik...

"Kenapa kau marah?" Lirih Yoona penasaran memutar tubuhnya menghadap Sehun, lalu merutuki diri karena kini sorot mata Sehun justru menyala.

"Kenapa? Apa kau sudah gila berkeliaran diluar saat malam begini?! Bagaimana jika Chanyeol kembali menangkapmu?! Apa kau bisa menghubungiku untuk meminta bantuan?! Kau fikir kau sangat kuat ya?" Tegasnya hampir tanpa jeda. Nafasnya beradu dengan sorot mata tajam menusuk.

Mata Yoona membulat. Ia menarik nafas gelisah, ingin menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin jalan-jalan saja. tapi Sehun nampak tak main-main dengan ucapannya. Entahlah, justru perasaan Yoona menghangat mendengar ungkapan Sehun.

"Kalau begitu, jangan marah lagi." Cicitnya.

Mengernyit bingung melihat Yoona kini justru menggunakan jemarinya untuk menunjuk Sehun.

"Apa?" Sehun tak mengerti.

"Kau sudah disini. Bukankah harusnya aku sudah aman?" Tanyanya polos. Sialan, Sehun justru ingin tertawa dalam hati melihat tingkah polos Yoona.

"Kau bukan anak kecil lagi." Cibirnya membuat Yoona mengernyit mendengar ejekannya.

"Kalau begitu harusnya tak perlu mengkhawatirkanku?" Skakmat. Rasanya Sehun ingin menghilang saja dari bumi dengan rasa malunya ini. Ia memang terlalu bekerja keras kemari memastikan Yoona hanya karena mimpi buruknya malam ini.

"Kubilang tidur."

Dalih Sehun mengalihkan pembicaraan yang membuat Yoona hanya dapat menelan ludahnya, melangkah kearah ranjang dan menarik selimutnya.

Pandangannya mengintip Sehun menunggunya keluar, namun nihil. Pria itu justru duduk ditepi ranjang tepat disisi kirinya. Tangan Sehun meraih lampu tidur untuk mematikannya.

"Jangan-" Jemari Yoona menahannya tepat sebelum pria itu menekannya.

"Aku tak bisa tidur jika gelap."

"Aku disini." Jawabnya dingin lalu menekan tombol dan membuat lampu padam dalam beberapa detik saja. Yoona mendengus kecil dalam hati, Sehun tiba-tiba saja jadi keras kepala.

Empat menit...

Lima menit...

Enam menit...

"Sehun-ssi" lirih Yoona setelah menunggu beberapa saat karena kantuk tak jua menyerangnya.

"Itu,"

"Aku tak bisa tidur" Aku Yoona ragu jika Sehun akan kembali marah layaknya beberapa menit yang lalu. Sehun mengernyit sesaat.

"Ketukkan jarimu dilenganku hingga hitungan keseribu." Mata Yoona membulat, itu perintah paling aneh yang didengarnya malam ini. Dan kembali lagi, rasa penasaran membuat Yoona akhirnya melakukannya.

Tangan kirinya mengetuk lengan Sehun perlahan dan menghitung dalam hati.

Sehun masih saja pada raut datarnya. Merasakan jemari Yoona yang beradu pada lengannya dengan lembut.

Yang semakin lama melemah, hingga pada detik berikutnya berhenti lalu beringsut jatuh tepat dari lengan menuju pada jemarinya. Sehun dapat merasakannya, gadis itu berhenti pada hitungan ketiga puluh dua.

Sehun tersenyum tipis, Yoona telah terlelap.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel