Bab 14
August 09, 2017
08.50 am
Pandangannya memastikan sekelilingnya. Memperlihatkan bagian dapur mewah yang hening tiap paginya. Masih bersih sama seperti terakhir kali Yoona membersihkannya.
Mungkin Sehun telah pulang?
Pria itu sudah tak ada saat ia membuka kelopak matanya pagi ini. Yoona melangkah santai kearah kompor, bersiap membuat sarapan bagi dirinya sendiri.
Menguncir rambutnya dan mulai berkutat pada bungkus mie dihadapannya. Omelet tak buruk pagi ini.
"Sudah bangun?"
Yoona hampir saja menjatuhkan telur yang dipegangnya karena tersentak. Suara dalam pagi hari rasanya tepat dibelakang tengkuknya.
Yoona memutar tubuhnya dan mendapati Sehun berdiri dibelakangnya dengan raut datar, pria itu menjulurkan tangannya meraih cangkir gelas dari rak tepat diatas Yoona, membuat tatap gadis itu bertabrakan langsung dengan dada bidang Sehun yang beberapa cm saja dari jaraknya.
Permisi Tuan Oh?
Sepertinya Sehun tak terlalu paham dengan posisi mereka sekarang yang teramat dekat dan,
Menyesakkan.
Pandangan Sehun turun ketika melihat Yoona tengah memandang kearah lain dengan kikuk. Ayolah, ini lucu.
"Wajahmu memerah. Kau sakit?" Goda Sehun berpura serius menatap Yoona. Gadis itu menggeleng cepat setelah matanya membulat sempurna sebelumnya.
Pria itu mentertawakannya tulus dalam hati. Sehun juga menjaga ucapannya, ia menjaga gadis itu hingga pagi, benar-benar duduk disebelahnya tanpa rasa kantuk semalaman. Namun berakhir memutuskan pergi ketika merasa Yoona akan segera terbangun dari tidurnya.
"Tidak kok." Kilahnya.
Bisakah kau mundur saja?
Sehun memundurkan tubuhnya merasa tak sopan, atau memberi kesempatan bagi Yoona bernafas.
"Apa aku kelihatan menakutkan?"
Yoona menelan ludahnya mati-matian. Ayolah, jika difikir lagi dengan posisi mereka sebelumnya, adakah wanita yang bisa berfikir jernih? Coba angkat tangannya.
"Eum. Banyak psikopat tampan hari ini?" Yoona mengutarakan pendapat polosnya lagi-lagi membuat Sehun ingin mengacak rambutnya. Sepertinya gadis itu punya penilaian tersendiri untuknya. Sehun terkekeh, membuat Yoona mendongakkan kepalanya kebingungan.
"Apa yang lucu?"
"Kamu?"
Wajah Yoona memanas. Rasanya seperti berjalan diatas bara api diantara musim salju. Akan memalukan jika ia melihat wajahnya sendiri dalam cermin sekarang.
"What is goin on here?"
Claire memasuki dapur dengan langkah tegapnya. Sehun mengubah raut wajahnya, sepertinya kedatangan wanita itu bukan saat yang diinginkannya. Ia berjalan kearah Sehun, memberikan kecupan singkat padanya. Membuat Yoona mendelik dan berbalik badan.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun membuka suara.
"Hanya merindukanmu. Tak boleh?"
"Sudah kubilang jangan kemari."
Tepat disaat itu pula Jongin memasuki dapur dengan terengah, ia menatap Sehun dengan pandangan.
Aku-tak-bisa-menghentikan-wanita-itu!
Sehun menghela nafasnya berat. Claire masih saja wanita keras kepala.
"Bisa buatkan aku dan Sehun sarapan?" Claire mengetuk pundak Yoona dan mengatakan hal yang tak seharusnya dikatakan. Membuat Sehun menatapnya masam.
"Dia bukan pesuruh disini. Jaga sikapmu." Desisnya membuat Claire tertawa tak percaya, Sehun bukan tipe pria yang membela gadis manapun semenjak ia mengenalnya.
"Kau sedang membandingkanku?" Jawab Claire tak mau kalah.
"Apa itu masih jadi harapanmu? Menjadi kekasihku?" Tegasnya dingin membuat suasana makin canggung. Dan ketahui saja, Inilah kali pertama Sehun menyangkal ucapan Claire. Membuat wanita itu tak percaya karena Sehun selama ini akan membiarkannya mendeklarasikan pada siapapun bahwa pria itu adalah miliknya. Tapi sekarang?
Yoona menggigit bibirnya, tak ingin memutar tubuh untuk sekedar mengintip dua orang yang tengah bersiteru dibelakangnya.
"Kau diam saja selama ini saat aku mengatakannya!" Claire hampir saja mengumpat, namun mengingat Yoona juga disana membuatnya urung bertindak kasar. Sehun terkekeh tak percaya.
"Lalu kau anggap artinya ya?"
"Aku tak menyukaimu Claire." Sehun tersenyum tipis.
"Kau sangat payah diranjang, aku tak bergairah dengan gadis semacam itu."
----
3.15 pm
Sehun membolak-balik dokumen dengan raut datar miliknya. Sesekali mencoret beberapa bagian yang salah pada pekerjaan yang ditinjaunya.
"Kurasa plan B lebih baik digunakan dalam ekspansi proyek kita." Pria lain dihadapan Sehun membuka suaranya setelah sekian lama ikut berkutat juga walau pekerjaannya tak serikuh Jongin dan sekertarisnya. Kyle mengernyit melihat Sehun menghela nafasnya.
"Apa anda masih belum memahami? Plan A adalah langkah pertama sebelum langkah lainnya akan digunakan sebagai alternatif, Tuan Kyle." Ujar Sehun tak ingin kalah menekan pada nada terakhirnya. Jongin menatapnya gelisah, lagi-lagi mereka akan kembali bersiteru jika bertemu.
"Rencana A yang dibuat tim manajemen anda memiliki beberapa kekurangan dalam presentase keuntungan"
"Anda sangat ambisius dalam keuntungan" Sindir Sehun dingin. Ia menutup berkas ditangannya.
"Lalu untuk apa kita bekerja sama jika tidak mencari keuntungan, Tuan Oh?"
Jongin dan sekertaris Kyle, Nam Dohyun. Hanya dapat kembali bersitatap tegang melihat kedua atasannya akan kembali berperang jika salah satu dari mereka mulai membuka mulutnya.
"Kufikir pengalaman dan kinerja harus dimaksimalkan agar keuntungan lebih potensial didapat?"
Demi Tuhan! Mengapa mereka harus bekerja sama jika selalu seperti ini?! Jongin selalu ingin naik keatas meja, menendang seluruh berkas dan menyuarakan sumpah serapah pada keduanya.
Baiklah, tapi ia hanya sekertaris.
"Kau naif Tuan Oh"
"Lalu aku harus memanggilmu apa Tuan Kyle? Serakah?"
----
August 11, 2017
7.10 pm
Yoona baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan pulang kerumah malam ini. Pekerjaan dihotel memang sukses membuat tulangnya remuk. Membersihkan 2 lantai sekaligus membuatnya dan Junwoo ingin mati saja, kasihan pemuda itu.
Ia meregangkan tangannya lalu memijatnya perlahan, memberikan beberapa gel pereda nyeri pada ototnya. Yoona fikir rasanya ia sudah semakin tua karena mulai mengenakan obat semacam ini.
Sehun mungkin tak datang. Kali terakhir saat ia bersiteru dengan Claire dan berakhir dengan pria itu pergi mengendarai motornya tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya ia memang bukan kekasih Sehun. Hey, Yoona fikir sangat melegakan mendengar kenyataan Sehun ternyata bukan kekasih Claire.
Fikirannya kembali mengudara, mengingat ketika Sehun mengatakan ia tak menyukai gadis yang payah diranjang. Yoona fikir pria itu sangat frontal, ia punya banyak ucapan otoriter dan diplomasi kuat untuk sekedar memenangkan diri.
Yoona gadis baik. Dan tentu tak pernah melakukan hal semacam itu, kalau begitu artinya ia juga tak berpengalaman. Dan itu juga tak masalah baginya. Ia tak bisa menanam perasaannya yang kini serasa makin liar pada sosok Sehun.
Harusnya tidak. Pria itu sangat baik padanya, membuat Yoona selalu merasa rendah diri tiap kali menatap sorot matanya. Merasa tak pantas hanya untuk sekedar menyukainya.
Ting!
Suara bel pintu utama berbunyi membuyarkan lamunan konyol miliknya. Yoona bangkit berlari kecil untuk membukakan pintu, ia sudah memikirkan hal yang terlalu jauh rupanya.
Suara derit pintu terdengar nyaring bersamaan menampakkan sosok paruh baya lain yang berdiri dengan setelan jas hitam elite-nya. Keriput sama sekali tak menutupi ketampanannya, bahkan bau harum khas orang berkuasa menguar menyentuh indra penciumannya.
Kening Yoona berkerut, ia melirik beberapa orang yang berjas rapi pula dibelakang sosok tersebut, dengan deretan tiga mobil mewah yang berjajar rapi dipekarangan. Mungkin mereka bawahannya?
"Selamat malam" Yoona membungkuk sopan ragu menyapa tamu yang berkunjung malam ini. Pria dihadapannya itu tersenyum tipis mendapati sikap Yoona.
"Malam" Jawabnya sekenanya. Ia menganggukkan kepalanya membuat Yoona tersenyum canggung.
"Sehun ada?" Pria paruh baya itu membuka suara dalamnya.
"Ah, aku ayahnya. Oh Taeho" Bagai mengerti apa yang difikirkan lawan bicaranya, ia kembali memperkenalkan dirinya. Yoona mengangguk canggung, ada beberapa letupan kecil yang bergejolak dalam hatinya. Ayah Sehun tiba-tiba saja datang sekarang, apa yang harus dikatakannya?
"Ah, silahkan masuk dahulu?" Tawar Yoona sopan, ia menyingkirkan badannya membiarkan ayah Sehun melewatinya masih dengan senyum diantara raut wajahnya.
Rasanya Yoona ingin memanggil Sehun sekarang. Ia kebingungan bagaimana cara menemuinya. Ayolah Im Yoona! Kau sangat payah dalam berfikir jika keadaan memburuk.
Kaki kecilnya melangkah kearah dapur membuat secangkir teh hangat untuk tamunya. Lalu mengangsurkannya dengan sopan beberapa saat setelah membuat ayah Sehun menunggunya.
"Aku merepotkanmu ya" Ujarnya menerima cangkir teh buatan Yoona membuat gadis itu menggeleng cepat.
"Ah tidak" Kilahnya tersenyum canggung. Yoona mati-matian menelan ludahnya. Ini sangat sulit untuk sekedar membuka suara. Ia memilin jari-jarinya gelisah membuat ayah Sehun terkekeh kilas.
"Santai saja, ...?"
"Im Yoona"
"Ah ya, Im Yoona"
Yoona tersenyum tipis, bukankah harusnya pria itu marah melihat ada gadis lain yang berada dirumah puteranya?
"Sebenarnya, Sehun-ssi sedang tidak ada disini."
"Benarkah?" Yoona mengangguk pelan. Ia menggigit bibir beberapa detik setelahnya. Mungkin sekarang dahinya sudah dipenuhi puluhan tetes keringat dingin. Ayah Sehun lebih seperti pejabat besar dalam pemerintahan, dan Yoona hanya titik kecil diantaranya.
Taeho nampak mengangguk puas setelah mengisap teh buatan Yoona. Gadis itu sangat baik dalam membuat minuman, rasanya sangat pas ditenggorokan saat cuaca makin dingin, seperti malam ini.
"Kau disini?" Suara lain membuyarkan keheningan. Memecah beberapa percakapan yang harusnya diluncurkan dengan aman. Lalu mengoyak beberapa kerut tipis senyum yang harusnya diukir oleh ayahnya, Oh Sehun benar-benar datang.
Yoona berdiri dari duduknya mendapati kedatangan Sehun. Pria itu berdiri diseberangnya dengan tatapan intens, tajam menuju sang ayah.
"Wah, kau datang rupanya." Taeho tersenyum menutupi keterkejutan atas tibanya Sehun.
"Pergi dari sini." Tandas Sehun sarkatis.
"Mengapa kau bukakan pintu untuknya?" Tanya Sehun dingin pada Yoona membuat gadis itu kebingungan. Lagipula ia memang tak mengetahuinya, bahkan jika Sehun sepertinya tak menyukai kedatangan ayahnya sendiri.
"Jangan menyalahkannya-" Tukas Taeho mendapati jawaban tak menyenangkan dari putranya. Sehun justru memanas, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat. Ia tak suka ayahnya datang kemari lalu mengetahui adanya Yoona.
Ia ingin menenangkan diri dengan menemui Yoona malam ini, tapi sangat luar biasa melihat orang paling tak diinginkannya justru datang kemari. Teh panas dengan uap mengepul diatas meja membuatnya sedikit lega, mungkin Taeho belum menghabiskan waktu lama dengan Yoona.
Sehun memandang sorot mata Taeho. Ia gusar, tak ingin ayahnya itu mengetahui bahwa ia akan saja lemah, karena sosok gadis disebelahnya.
"Pergi dari sini."
"Kubilang pergi Oh Taeho!"
