Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12

flashback

August 04, 2017

01.12 pm

Sehun menutup lembaran berkasnya. Mengakhiri rapat dengan seluruh kepala bagian dimanajemen satu, agaknya rapat tersebut membuatnya sedikit lelah. Pasalnya mereka semua adalah wanita.

Dan mereka lebih memperhatikan wajahnya daripada lembaran dokumen.

Fikirannya kembali mengudara ketika sepatu mahalnya menapak keluar dari ruangan besar berwarna cokelat tersebut. Dan Im Yoona masih saja menjadi objeknya.

Oh Sehun bukanlah tipe pendiam. Ia hanya berbicara saat ia berfikir dia harus bersuara. Dan kali ini ia menjadi lebih lengang akibat fikirannya dan segala rahasia perasaan yang tak kunjung mendapat jawaban.

Matanya menatap jendela kaca dari lorong yang dilewatinya. Menampakkan warna jingga sore hari yang menunjukkan bahwa matahari akan kembali pada peraduannya.

Ia ingin menemui Yoona. Menatapnya walau sebentar tak jadi masalah, itu cukup baginya.

Mengapa tiba-tiba perasaannya menginginkan hal sedemikian? Menjadi hal yang seharusnya seorang Oh Sehun tidak.

"Hoejangnim!"

Sebuah suara menginterupsi langkah Sehun berhenti sejenak untuk menolehkan leher putihnya.

Jongin tersenyum lebar menyamai langkahnya. Dan Sehun bukanlah tipe yang akan mempermasalahkan jarak antara langkah atasan dengan bawahannya. Dia fikir kinerja sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah pemilik jabatan tertinggi, lalu jangan lupakan pula bahwa dialah orang yang menggaji dirinya sendiri.

"Wow, look at you! I mean, blue?" Jongin menutup mulutnya yang menganga melihat warna dasi Sehun. Ini adalah penampilan yang terlihat mencolok untuk pria yang dikenal selama ini memiliki selera fashion dalam dua warna saja, hitam dan putih.

"Apa?"

"Kau tidak merasa telah salah ambil dasi?" Sehun menunduk melihat benda yang terkait diantara kerahnya. Yoona tak buruk juga dalam mengikat dasi.

Ia membuang pandangannya gugup yang sialnya dapat ditangkap Jongin.

"Eyy, ini pasti karena Yoona?" Tebaknya seolah ahli ramal membuat Sehun semakin ingin memecatnya.

"Unexpected" Cibir Jongin disusul gelak tawa renyahnya. Sudah bisa dideteksi bahwa atasannya itu kini tengah tersipu karena mengingat Yoona. Sehun berdehem lebih tajam, memberi tatapan 'diam atau kupecat'

Jongin menelan ludah. Ini pertama kalinya ia menggoda Sehun dengan nama gadis yang diyakininya membuat pria itu berdesir. Dan rasanya sungguh luar biasa.

Untuk sesaat saraf ditubuh Sehun berpacu lebih cepat. Sore ini rasanya seperti berlari dijalanan ditengah gurun, panjang dan tak berujung. Entah bagaimana menegaskannya, Sehun fikir ada yang salah dengan cara kerja tubuhnya.

Jantung yang mengubah frekuensinya, lalu bola mata yang tahu pasti apa yang paling ingin dipandang.

"Jongin-ssi."

Jongin yang tadinya bersiul pelan kini menutup mulutnya rapat. Atasannya itu pasti tengah terusik dengan senandung kecilnya. Lalu mungkin tidak, Sehun kini tampak berfikir lebih keras.

Mata hitamnya yang mengkilat, alis hitamnya yang beradu serta garis rahang tegas yang nampak membuat Jongin mengernyit penasaran.

"Bagaimana itu, perasaan jatuh hati?"

flashback end

----

August 07, 2017

08.57 pm

Saat ini malam telah kembali. Dan Yoona kembali memutar kedua bola matanya pelan didepan jendela berbingkai putih yang dengan kaca besarnya menampakkan pemandangan dihalaman rumah mewah yang lengang.

Ia berharap Sehun kemari. Setidaknya, punya teman untuk berbicara ketika pria itu datang, walaupun sebenarnya mereka berdua hanya akan diam dan membuang pandangannya.

Kini mengalihkan pandangannya. Tak ada bintang yang mengunjungi serambi langit malam ini.

Cepat atau lambat hujan akan turun. mulanya berupa rintikan, disusul menjadi tetesan besar. lalu membentuk tirai berat yang membasahi kerai-kerai rumah yang bergaris dan membanjiri saluran air.

Yoona masih pada posisinya, menarik tubuhnya untuk menjauh dari jendela. Tak ada pemandangan yang memuaskan sejauh ini.

Lalu dengan selang waktu sepuluh menit suara bel berbunyi. Membuatnya kembali menjejakkan kaki penuh semangat diantara lantai marmer putih yang dengan adanya membuat rumah ini menjadi salah satu desain kelas atas di Korea.

Jemarinya membuka pintu dan mendapati pria lain disana. Ayahnya.

Yoona menelan salivanya kuat. Bagaimana bisa ia masuk kemari? Seingatnya Sehun bilang pria ini tak akan dapat kemari lagi? Ia sedikit kedinginan dengan hawa malam yang menguar. Lalu beberapa tetes air nampak sedikit melekat diantara ujung jaketnya.

"Im Yoona."

"Masuklah." Yoona datar tanpa meminta jawaban. Ia melangkahkan kakinya lebih dahulu kearah ruang tamu yang berada diseberang. Bagaimanapun berbicara diambang pintu dengan hujan deras bukan hal yang patut.

Pria paruh baya itu mengikuti langkah kecil Yoona. Memandang sikap tubuh putrinya yang kini telah dewasa, ia mengusap rambutnya kasar beberapa saat setelahnya.

"Jika masalah uang. Percayalah aku juga tak punya." Yoona telah bersuara lebih dahulu dengan pita suara lembutnya yang kini lebih terdengar tegas. Ia duduk disofa lain yang berada diseberang ayahnya.

"Tidak. Bukan." Junghoon menegaskan. Ia kembali lagi menjadi dirinya, yang angkuh dan berfikir menguasai segalanya atas Yoona. Hening menyelimuti mereka sejenak. Junghoon yang kembali menelan ludahnya sebelum berbicara.

"Aku ingin kau menikah dengan Chanyeol." Yoona menajamkan pendengarannya. Tak percaya dengan rentetan kata yang baru saja meluncur dari mulut ayahnya.

----

Sehun memutuskan kerumahnya. Dan hotel tidak menjadi tempat yang semenyenangkan dahulu. Alih-alih, kini rumahnya memiliki kemenarikan yang mampu membuatnya lebih bersemangat.

Malam ini hujan, walau harusnya tidak karena ramalan cuaca mengatakan sebaliknya. Sehun mengumpat kesal dalam hati, karena rintikan air hujan mulai membasahi beberapa bagian rambut dan ujung jasnya.

Tangan pucatnya membuka pintu lalu mulai memasukinya.

"Aku ingin kau menikah dengan Chanyeol." Sehun menghentikan langkahnya. Ia mendengarnya. Cukup jelas mengingat ia masih memiliki pendengaran yang sehat. Retinanya menajam melihat sosok pria paruh baya duduk diruang tamunya bersama gadis yang dengan adanya membuat Sehun bersedia berkendara diantara derasnya hujan malam hanya untuk melihat sorot mata teduhnya.

"Apa maksudmu? Tak mungkin." Tolak Yoona parau dengan tatapan bencinya.

"Dia akan menghidupimu. Dia akan menjagamu Yoon" Rahang Sehun mengeras mengingat sebajingan apa Chanyeol untuk dipromosikan dengan baik didepan Yoona. Dan ketika gadis itu sudah mengetahui pula seberapa bejat pria pemilik bar tersebut.

"Chanyeol sudah menyetujuinya. Lalu datang saja padanya," Tukas Junghoon tak ingin kalah. Kini putrinya itu sudah berani menatapnya tajam dan bahkan melawannya. Dia sudah benar dewasa.

"Berhenti Tuan Im." Sehun bersuara. Menampakkan dirinya diantara keterkejutan yang masih ada. Suara hujan hampir saja tak terdengar mengingat telah kalah oleh tegasnya suara Sehun.

Menghampiri lalu duduk disamping Yoona.

"Aku rasa kau telah melewati batasmu."

"Lalu siapa kau berani mengklaim Yoona tanggung jawabmu?"

Sehun memanas, rasanya ada sensasi gunung meletus didalam tubuhnya. Bagaimana bisa Yoona mendapat seorang ayah yang sedemikian bejatnya?

"Dia tidak akan menikah dengan Chanyeol." Ujar Sehun yang lebih mirip seperti perintah. Kali ini ego-nya harus bermain. Ia tak bisa melepaskan Yoona begitu saja, dan semua yang ada dalam hatinya telah membara. Kembali bekerja setelah sekian lama dihantam sunyi.

Yoona memandang Sehun lekat. Ada begitu banyak ketegasan diantara caranya berbicara.

Junghoon tergelak.

"Jangan ikut campur urusanku Tuan Oh." Sehun tersenyum masam. Belum pernah menganggap nama baiknya terasa begitu tak berguna.

"Lalu kau telah berbicara dengan orang yang salah. Aku punya kepedulian terlampau besar hingga tak bisa abaikan urusanmu." Tandas Sehun tajam hampir tanpa jeda. Membuat Yoona meringis takut-takut. Setiap ucapan Sehun bagai pelengkap malam ini, sebagai petir diantara derasnya hujan.

Sehun berujar final "Yoona berada dalam kuasaku. Dan tentu saja, berada dalam pengawasanku."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel