Bab 11
Yoona mengetuk pintu pelan. Sesekali melirik kearah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 8 pagi. Kakinya sedikit bergetar merasa rikuh hanya untuk menunggu jawaban dari dalam.
"Masuk" Suara dalam khas milik seorang pria terdengar menyahut dingin dari dalam membuat Yoona menghela nafas lega. Sehun sudah bangun rupanya.
Ah, lupa. Kemarin malam setelah makan bersama. Sehun dan Jongin memutuskan untuk minum bir berdua dan berakhirlah dengan kedua pria itu setengah tak sadar diri masing-masing.
Yoona melangkah masuk kedalam. Ia membawakan madu dan air untuk pria itu. Retinanya dapat menangkap bahwa kini Sehun tengah sibuk memakai bajunya didepan kaca.
Mata Yoona membulat, tidak bisakah Sehun menaksir keadaan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum membiarkan orang lain memasuki kamarnya? Ia tampak tak peduli dan terus melanjutkan kegiatannya.
"Kufikir kamu masih tak sadar." Aku Yoona lirih, padahal ia membawakan madu karena takut Sehun masih terkapar diatas ranjang. Dan begitu mengejutkan bahwa pria itu masih nampak begitu sehat bahkan setelah menenggak dua botol.
"Believe or not, i'm fine."
Yoona mengangguk kecil mengiyakan. Sepertinya memang ia yang terlalu khawatir.
"Tapi terimakasih." Sehun menyelesaikan kegiatannya, mengancingkan kancing terakhirnya lalu mengenakan jas hitamnya. Ia menatap Yoona kilas dengan senyum tipisnya
Membuat keduanya terdiam sesaat saling berpandangan. Lalu mengalihkan pandangannya masing-masing dengan cepat. Sehun menelan ludahnya gugup, Yoona juga.
"Ah tunggu-" Yoona kini membuka suara, ia menatap Sehun lalu tampak berfikir kilas. Sehun menatapnya kebingungan, tampaknya gadis itu tengah mengingat sesuatu.
Yoona tersenyum penuh semangat. Ia berlari kecil keluar meninggalkan Sehun yang masih penasaran, pria itu mengedikkan bahunya tak peduli.
Tangannya meraih gagang pintu laci disamping lemari lalu mengambil dasi berwarna hitam, seingatnya memang ia masih meninggalkan beberapa barangnya disini.
Sehun menggunakan dasinya dengan cekatan. Merapikan dan membuat bentuk yang sempurna dalam beberapa gerakan saja.
"Aku ambilkan dasi untukmu-"
Suara lembut Yoona terdengar dari balik pintu, mengarah semakin dekat padanya. Memenuhi isi kepala Sehun.
Sehun memandang penampilan luar biasanya, sepatu mengkilat, celana halus, kemeja serta jas yang rapi, dan Yoona bilang apa tadi? dasi? Hey tunggu-
Secepat kilat tangan kiri Sehun menarik dasinya hingga benda itu dilepas paksa dari kerahnya. Digenggam dibalik tubuhnya tepat saat Yoona memasuki kamar. Lalu menghampirinya,
"Ini" Yoona mengangsurkan dasi berwarna biru tua polos padanya, membuat Sehun menerimanya dengan sedikit canggung. Ia masih gugup, dan diam saja.
"Kamu tak bisa memakainya?" Tanya Yoona melihat Sehun memandangnya kaku. Fikiran Sehun mengudara, beberapa saat kemudian mengangguk canggung, menorehkan tawa kecil Yoona.
Okay, sedikit berbohong mungkin tak masalah.
Gadis itu maju beberapa langkah mendekatinya, meraih dasi dari tangan Sehun dan mulai memakaikannya.
Perlahan.
Ia dapat kembali menghirup aroma mawar dari tubuh Yoona, dapat mengintip pula anak rambut halus yang terselip diantara telinganya.
Sehun menegang. Bahkan menahan nafasnya beberapa saat karena jantungnya kini malah berdetak tak karuan. Membuat Sehun rasanya ingin memaki jantungnya sendiri saja,
Oh ayolah, jangan terlalu keras. Yoona akan mendengar detakanmu.
Gadis itu nampak fokus pada pekerjaannya, berhati-hati karena takut membuat kesalahan simpul.
"Aku menemukannya dialmari bawah, kamu selalu pakai warna monokrom sih." Yoona menyelesaikan simpul terakhirnya, sudut bibirnya terangkat bangga.
"Aku fikir biru bagus padamu."
Sehun mengangguk saja. Waktu kembali berjalan fikirnya, setelah susah payah menghirup oksigen sebelumnya. Tentu saja, dengan modal raut datar yang selalu bertengger kemanapun setidaknya membantu menutupinya.
Pandangannya kembali bertemu sesaat, selalu seperti ini, seperti tenggelam dalam lautan. Yoona memutuskan kontak terlebih dahulu dan menggaruk tengkuknya canggung, ia berjalan menjauhi Sehun menjaga jaraknya.
"Sehun-ah!"
Seseorang bersuara dari luar membuat keduanya tersadar, Sehun berdehem lalu meninggalkan Yoona menuju kebawah. Itu bukan suara Jongin, bukan suara pria.
Yoona mengikuti pelan langkah Sehun, menatap pria itu yang kini menuruni tangga kelantai bawah.
Langkahnya terhenti, memandang sosok wanita lain yang berada disana dan menyambut Sehun dengan memeluknya posesif. Membuat retina Yoona menajam dibalkon atas.
Kakinya terasa bergetar, entahlah. Sehun tak menolaknya,
Yoona diam saja. Memang bukan waktunya untuk muncul, tak bisa juga menyalahkannya. Secara rasional, ini rumah Sehun. Semua orang berhak datang kemari berkunjung menemui sang pemilik.
Lalu pada menit berikutnya pandangan Sehun kembali bertemu dengan Yoona. Pria itu mendapatinya masih berdiri diatas dengan kaku. Sehun memandangnya datar diantara pelukannya,
Aneh, rasanya ada sedikit sakit.
Pagi ini. Ketika angin baru saja menyambut tengkuk Yoona lembut, lantas berubah menjadi beringas menerbangkan beberapa perasaan miliknya ke peraduan diujung kota.
Bola matanya dapat menangkap pria diantara jaraknya kini melepas pelukannya dengan perempuan lain yang namanya sama sekali tak ingin didengarnya.
"Miss you dear"
Sehun hanya meregangkan otot wajahnya, tanpa ekspresi menanggapi wanita cantik dihadapannya. Wanita yang diketahuinya adalah teman sejak ia masih berada di bangku Sekolah Menengah - Claire Hwang -datang dengan setelan gaun biru berenda putih disetiap ujungnya. Warna matanya seperti warna matahari terbenam dikolam yang berlumpur.
"Kapan kau datang?" Sehun membuka suara beratnya dipagi hari membuat wanita dihadapannya tersenyum sumringah.
"Pagi ini. Dan memutuskan langsung kemari." Bangganya lalu menyampirkan surai coklatnya dibalik telinga dengan anggun. Wanita ini, adalah satu-satunya hawa yang Sehun bersedia berbicara dengannya.
Matanya menyapu bersih rumah Sehun lalu ruas-ruas jemarinya mulai mendingin ketika ia menangkap gadis lain berdiri diatas balkon, hampir saja ia berjalan pergi sebelum suaranya menghentikan pergerakan gadis diatas sana.
"Wait!"
"Kemarilah."
Yoona menelan ludahnya, ia melirik kebawah dan melihat insan dibawah sana tengah menatapnya tajam. Perasaannya kebingungan, menyapa tamu Sehun akan menjadi hal baik atau tidak.
"You never told me." Seringainya ketus kearah Sehun. Tangannya mulai tergenggam erat. Seingatnya, Sehun tak tertarik pada wanita, dan pria itu hanya dekat dengannya. Kecuali saat ia berada di London untuk urusan pekerjaan.
Sehun menatap Yoona datar ketika gadis itu takut-takut menuruni tangga untuk menyapa teman wanitanya. Dan dapat Sehun tangkap pula raut tak suka dari Claire.
"Ah maaf." Sehun menghela nafas tak tulus melihat permohonan maaf adalah hal pertama yang keluar dari bibir mungil Yoona. Apa ia memang sesopan itu? Harusnya tidak untuk wanita menyeramkan macam Claire.
Yoona melihatnya. Wanita dihadapannya itu memiliki perawakan antara Eropa dan Korea. Ia sangat cantik dengan tubuh rampingnya. Lalu tersadar, wanita itu tak tersenyum dengan tulus padanya.
"Claire Hwang. Kekasih Oh Sehun" Mengangkat dagunya angkuh memperlihatkan bahwa ia bukan sembarang wanita yang berada dijalanan. Ia memiliki kekuasaan lalu kekayaan.
Sehun hanya menatapnya datar. Claire tak pernah berubah, selalu memperkenalkan diri sebagai kekasihnya. Wanita itu masih saja mencintainya ketika sikap dingin Sehun telah ratusan kali menjadi jawabannya.
"Im Yoona." Jawab gadis itu penuh penekanan. Setidaknya ia juga harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tak peduli dengan kalimat 'aku kekasihnya'. Sombong dengan orang yang sombong, Yoona fikir itu sepadan.
Wanita itu tertawa merendahkan.
"Apa kau salah satu jalangnya juga?" Ucapan itu bagai tusukan diantara telinga Yoona. Mencambuknya hingga ketulang sum-sum lalu meretakkan segala persendian yang membantunya berdiri tegap.
Sehun menajamkan pandangannya.
"Tutup mulutmu Claire." Hampir saja Sehun menamparnya jika tidak ingat ia adalah seorang wanita. Matanya memberikan ancaman terburuk bagi lawan bicaranya.
"Jangan melebihi batasmu."
----
August 05, 2017
07.40 pm
Yoona memutar bola matanya ketika mendapati Sehun kini berada diruang tamu megahnya. Sedikit canggung setelah 'insiden Claire' kemarin.
Dapat ditangkap pria itu tengah menatapnya datar menuruni tangga, tengah sibuk menyesap rokoknya. Dan Yoona sama sekali tak tahu bahwa pria itu termasuk perokok. Oh lupa, dengan kebiasaan tidur bersama wanita dan pecandu bir, Yoona lupa bahwa seharusnya rokok menjadi salah satunya.
"Kamu disini" Yoona membuka suara lirihnya
Sehun menghentikan kegiatannya. Mematikan puntung rokoknya begitu saja tanpa suara. Lalu detik setelahnya kembali terdiam dengan fikirannya masing-masing.
Sehun sebenarnya sangat jarang merokok. Ia tak punya waktu untuk menikmatinya seperti pagi ini di awal Agustus. Dan sepertinya itu salah karena Yoona melihatnya dengan ringisan diwajahnya.
"Bagaimana rasanya?" Yoona membuka suara, menggunakan telunjuk kecilnya untuk menunjuk bekas puntung rokoknya ragu-ragu.
Bola mata Sehun terbelalak, ia memandang bekas isapannya pada rokok yang telah mati diatas meja itu dengan raut menghakimi
"Oh, Jangan berani-berani mencobanya." Tukasnya dingin khawatir gadis itu penasaran lalu mulai mencobanya. Dan Yoona ingin mentertawakan Sehun dalam hati, ayolah ia gadis baik Tuan Oh.
Yoona menggeleng "Aku cuma bertanya rasanya"
Sehun menarik nafas lega. Bersumpah tak akan merokok lagi dihadapan Yoona bahkan, sepertinya ia punya kekhawatiran yang berlebih tiba-tiba saja.
"Manis?" Jawabnya asal.
Yoona ber-oh seadanya, yang masih disambut Sehun dengan raut kaku. Pria itu mengalihkan pandangannya lalu bangkit dari kursinya
"Oh ya, kau tahu wanita yang datang kemarin?"
"Claire?"
"Ya"
Yoona mengernyit "Ada apa?"
Sehun mengusap tengkuknya canggung, ia menimbang untuk beberapa saat apakah pantas apa yang akan ia katakan berikutnya. Menatap Yoona yang bahkan tak terlalu ingin tahu tentang wanita itu
"Dia bukan kekasihku"
Yoona terdiam. Ia menatap Sehun kali ini dengan gelombang didahinya, tak tahu reaksi macam apa yang tepat untuk disampaikan. Sehun menatap Yoona yang masih diam
"Kau tahu, aku terlalu sibuk hingga tak punya waktu berpacaran. Barangkali kau penasaran" Sehun tertawa hambar atas lelucon miliknya
Yoona menipiskan bibirnya, lalu tersenyum tipis. Benar juga, ia penasaran walau sama sekali tak berani menyuarakannya
