Alam bawah sadar
"Kasihan Elmira, aku ikut sedih melihat kondisinya." Tutur Caca sambil menatap sedih Elmira yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Rose, apa ini gara-gara kembang yang kita curi kemaren? Sehingga yang punya marah lalu mengutuk Elmira."
"Sssstthh...jaga ucapan mu, Ca. Kalau kedengaran Tante Sinta. Dia bisa marah besar." Bidik Rose.
"Habisnya, kamu pakai nyuri kembang bekas di kuburan segala." Gerutu Caca kesal dengan ide Rose.
"Saat itu kondisinya lagi terdesak, Elmira juga minta nya buru-buru. Mana sempat kita nyari-nyari nya."
"Aku kenapa tiba-tiba merinding ya, ditambah lagi Elmira tidak seperti orang koma pada umumnya."
"Kamu jangan macam-macam deh Ca." Rose ikutan meraba tengkuknya.
"Kalian berdua kenapa dari tadi terus berbisik-bisik?"
"Ngggg...kita cuma lagi ngobrol-ngobrol biasa kok Tante, teringat cerita tentang keseruan dengan Elmira sebelum kecelakaan, sehingga kami berdua masih syok dengan kejadian ini." Ucap Rose.
"Kita harus berdoa demi kesembuhan Elmira, nak. Karena disaat seperti ini hanya itulah yang bisa kita lakukan" ucap Sinta, pada Caca dan Rose yang terlihat ikut terpukul dan sedih.
"Ya Tante."
Rose menuntut mama Sinta duduk dikursi ruang tunggu, sampai Tim dokter yang menangani Elmira keluar dari ruangan tindakan.
Tidak ada yang mengeluarkan suara, larut dalam kesedihan dan pikiran masing-masing.
Tidak lama tim dokter keluar, semua berdiri berjalan mendekati dokter.
"Bagaimana dengan kondisi putri saya, dok?" Ucap mama Sinta seraya mengusap air mata yang terus mengalir.
Dokter menarik nafas dalam-dalam,
melihat wanita paruh baya yang sangat bersedih dihadapannya, dokter pun mulai menjelaskan, jika saat ini kondisi Elmira tengah kritis, sedangkan pihak Rumah Sakit belum menemukan golongan darah yang cocok dengan Elmira yang sedang membutuhkan banyak darah.
"Dokter, ambil darah saya saja." Caca mengajukan diri, begitu juga dengan mama. namun setelah dilakukan pemeriksaan, darah mereka tidak ada yang cocok dengan Elmira.
"Bagaimana ini, jika kita tidak menemukan darah yang cocok, kondisi El akan semakin menurun." Mama Sinta kembali menagis.
"Saya harap ibu bisa bersabar dan berdoa, saat ini pihak rumah sakit tengah mengusahakan untuk mendapatkan darah yang cocok untuk putri ibu."
"Terimakasih Dokter, saya sangat mengagungkan harapan kepada anda."
Besoknya, kondisi Elmira belum juga menunjukkan perubahan berarti, sedangkan darah yang mereka dapatkan hanya sedikit, sehingga Elmira masih membutuhkan stok darah yang banyak.
"Tante, mungkin daerahku cocok dengan Elmira." Ucap Rose memberanikan diri, meskipun semula dia sangat takut jika darahnya diambil.
"Baik, kita akan melakukan pemeriksaan pada darahmu terlebih dahulu." Terang dokter.
Setelah diperiksa, darah Rose sangat cocok untuk Elmira. maka perawat segera bertindak cepat untuk mengambil darah Rose yang selalu memejamkan matanya untuk melawan rasa takutnya, apalagi melihat darah.
"Terimakasih nak Rose, kamu begitu baik." ucap Mama Sinta disela-sela isak tangisan nya, dia memeluk Rose dengan kasih sayang.
"Ngak papa kok Tante, bagaimana pun El adalah sahabatku." terang Rose.
Setelah mendapatkan darah yang cukup, kondisi Elmira mulai menunjukkan perubahan. Meskipun dia masih belum sadarkan diri.
Semua mengerutkan keningnya bingung, Elmira yang terlihat koma bisa seperti orang tersenyum ngak jelas di alam bawah sadarnya.
"Kira-kira Elmira sedang ngapain ya dialam bawah sadarnya?" Bisik Caca ketelinga Rose.
"Iya, bahkan diaterlihat seperti orang yang sedang tersenyum saja." Mereka berdua bisik-bisik sambil terus memperhatikan Elmira.
Dialam bawah sadarnya, Elmira merasa tubuhnya ringan dan melayang-layang, bagai kapas. semua terlihat gelap ketika dia memasuki lorong yang semakin lama semakin panjang. tubuh wanita cantik itu terhempas dalam sebuah rumah sederhana.
"Aku dimana?"
Elmira mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang terlihat sederhana, Elmira memandangi dirinya yang tengah mengenakan pakaian kesayangan para mak-mak, yaitu daster longdress dengan motif kuntum bunga-bunga mawar tak jadi. Sedangkan rambutnya diikat asal.
"Mama pulang."
