Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Bencana Nasional?

Valerie memacu motornya membelah jalur arteri menuju arah Jakarta Utara. Bodo amat dengan omelan ibunya nanti malam, yang penting sekarang dia butuh lepas dari atmosfer  (tertekan) gara-gara si Rian alim tadi.

Mengingat di dompetnya ada uang tiga ratus ribu rupiah hasil 'ngompir' mobil bos galak tiga hari lalu, Valerie memutuskan untuk sedikit hedon. Dia melipir ke sebuah gerai kopi waralaba internasional drive-thru, memesan segelas besar Iced Caramel Macchiato ukuran Grande plus camilan—sesuatu yang jarang dia lakukan dengan gaji adminnya.

"Makasih ya, Bos Galak. Uang lu bermanfaat banget hari ini," gumam Valerie geli sambil menaruh cup kopinya di holder setang motor yang sengaja dia pasang.

Tujuan Valerie adalah area tanggul pantai di kawasan pesisir utara Jakarta yang masih sepi. Di sana, dia memarkirkan motor sport-nya menghadap langsung ke laut lepas. Valerie melepas helm, duduk di atas pembatas beton, lalu menyesap kopi mahalnya sambil menikmati angin laut siang yang berembus kencang, menerbangkan rambut sebahunya yang tadi sempat disisir rapi demi Rian.

Sementara itu, sekitar dua ratus meter dari tempat Valerie duduk, sebuah Mercedes-Benz hitam legam baru saja terparkir di depan gerbang proyek pembangunan dermaga dan pergudangan logistik baru.

Pintu kemudi terbuka, dan turunlah sosok pria jangkung dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi, kacamata hitam bertengger di hidungnya. Arland Dirgantara.

Arland datang hari Sabtu ini untuk meninjau langsung progres lapangan proyek perluasan distrik logistik miliknya. Namun, begitu turun dari mobil, sapuan pandangan matanya yang tajam tidak sengaja menangkap siluet sebuah motor sport CBR hitam yang terparkir di dekat tanggul pantai, lengkap dengan seorang perempuan berkaos oblong hitam yang sedang duduk santai di atas beton pembatas.

Arland menghentikan langkahnya sejenak. Alisnya menukik di balik kacamata hitam. “Motor sport hitam... jaket kulit hitam di atas tangki... dan seorang perempuan?”

Jarang sekali ada perempuan yang mengendarai motor sport sebesar itu di Jakarta. Ingatannya langsung otomatis berputar ke kejadian tiga hari lalu di pinggir jalan, di mana seorang perempuan berhelm full-face dengan postur dan motor yang identik berhasil membenarkan radiator mobilnya dengan sangat cepat. Rasa penasaran langsung terusik di benak sang CEO.

Namun, Arland adalah pria yang profesional dan logis. Dia tidak mau membuang waktu kerjanya hanya demi memuaskan rasa penasaran. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke area proyek. "Kita selesaikan pekerjaan dulu," gumamnya tegas pada dirinya sendiri.

Hampir empat puluh menit Arland menghabiskan waktu di dalam area proyek, memeriksa cetak biru bangunan dan berdiskusi singkat dengan kepala kontraktor. Begitu semua urusan pekerjaannya beres dan dia berjalan kembali ke mobil, Arland melirik lagi ke arah tanggul pantai.

Perempuan itu ternyata masih ada di sana, masih asyik dengan cup kopinya dan tatapan menghadap laut.

Didorong rasa penasaran yang rupanya belum hilang, Arland memutuskan untuk berjalan mendekat. Dia ingin memastikan apakah perempuan ini benar-benar 'montir jalanan' yang menguras dompetnya tiga ratus ribu atau bukan. Dia melangkah tegap di atas jalan setapak beton, mengantongi kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata elang yang tegas.

Langkah kaki Arland yang mendekat membuat Valerie otomatis menoleh. Begitu melihat wajah pria jangkung yang berjalan ke arahnya, mata Valerie langsung membelak. Dia mengenali wajah kaku, tegas, dan galak itu dengan sangat jelas, wajah pria yang mobilnya dia benerin tiga hari lalu.

Bukannya canggung, Valerie malah menurunkan kakinya dari pembatas beton dan menyapa dengan nada santai andalannya.

"Loh, Bos... gimana mobilnya, udah oke kan? Enggak ngadat lagi?" tanya Valerie langsung, ekspresinya polos tanpa beban.

Pertanyaan spontan itu langsung menjawab semua spekulasi di kepala Arland. Tebakannya seratus persen benar. Perempuan berkaos oblong hitam, bercelana jins belel robek-robek, dengan rambut sebahu yang berantakan ditiup angin laut ini adalah montir misterius di jalanan waktu itu.

Arland berhenti tepat tiga langkah di depan Valerie. Dia tidak membalas pertanyaan Valerie dengan senyuman, melainkan menatap wajah perempuan itu lekat-lekat, merekam setiap detail wajah modern Valerie yang ternyata tampak jauh lebih muda tanpa helm atau masker.

"Mobil saya aman," jawab Arland, suaranya berat, dalam, dan tetap sedingin es, namun matanya tidak lepas dari Valerie. "Ternyata kamu sering berkeliaran di daerah sini."

Valerie mendengus geli, melirik cup kopi mahal di tangannya. "Lagi nyari angin aja, Bos. Ngomong-ngomong, makasih ya kopinya. Ini dibeli pakai uang servis radiator lu tiga hari lalu."

Arland hanya menaikkan satu alisnya, memperhatikan cara bicara Valerie yang sangat santai dan sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan galaknya. Di bawah terik matahari pantai siang itu, mereka berdua mengobrol singkat sebagai dua orang asing yang kebetulan dipertemukan takdir di jalanan, sama sekali tidak membahas pekerjaan formal, dan sama sekali tidak tahu bahwa status asli mereka adalah seorang CEO raksasa dan staf administrasi kelas bawah di gedung yang sama.

Arland melirik ke arah motor sport hitam milik Valerie, lalu beralih ke cup kopi mahal yang isinya tinggal setengah. "Uang tiga ratus ribu kemarin langsung kamu pakai buat beli kopi borjuis begini?"

Valerie terkekeh, hampir tersedak Iced Caramel Macchiato-nya. Dia kembali bersandar di pembatas beton dengan santai. "Ya enggaklah, Bos. Ini namanya self-reward setelah sukses lolos dari bencana nasional."

"Bencana nasional?" Arland mengernyitkan dahi. Nada bicaranya masih terdengar seperti sedang menginterogasi karyawan, tegas dan minim intonasi.

"Iya. Dijodohin sama cowok pilihan nyokap yang lurusnya ngalahin penggaris besi. Sumpah, baru ngobrol lima belas menit berasa lagi dikurung di ruang sidang skripsi. Makanya gue kabur ke sini," curhat Valerie tanpa beban. Dia bahkan lupa kalau pria di depannya ini adalah orang asing yang baru dia temui dua kali. Lagian, angin laut terlalu mendukung untuk tempat mengeluh.

Arland terdiam sesaat. Ada kilatan geli yang terlintas sangat cepat di matanya, walau ekspresi wajahnya tetap sedingin es. "Jadi kamu kabur dari orang tua hanya karena malas mengobrol?"

"Bukan malas mengobrol, Bos. Tapi visi-misinya udah beda. Masa dia bilang kalau nanti nikah, gue gak boleh pegang kunci pas lagi dan harus fokus ikut pengajian lingkungan? Lah, terus motor gede gue siapa yang mau ngerawat? Dia? Pake kemeja kotak-kotak klimis begitu, yang ada motor gue mogok dia malah nelpon derek kayak lu kemarin," cerocos Valerie panjang lebar, diakhiri dengan cengiran tanpa dosa.

Arland mendengus pelan. Sindiran halus perempuan ini tentang kejadian radiator tiga hari lalu tepat sasaran. "Setidaknya, dia memikirkan masa depan yang teratur. Daripada perempuan yang hobi keluyuran siang-siang di tanggul pantai pakai kaos oblong."

"Heh, kaos oblong gini nyaman tahu," bela Valerie sambil menepuk dadanya sendiri. "Lagian, Bos sendiri ngapain ke sini hari Sabtu begini? Pakai kemeja rapi tapi lengannya digulung, muka ditekuk sepet dari jauh. Enggak punya libur ya? Kasihan amat, hidup lu isinya cuma kerja doang kayaknya."

Pertama kali dalam hidupnya, ada orang asing—seorang perempuan muda pula—yang berani mengasihani hidup seorang Arland Dirgantara. Biasanya orang-orang akan menatapnya dengan pandangan segan, takut, atau memuja hartanya.

"Saya punya urusan di sekitar sini," jawab Arland pendek, sengaja tidak menyebutkan kata 'proyek' atau 'perusahaan' agar privasinya tetap terjaga. "Dan kerja bukan hal yang buruk kalau kamu tahu apa yang kamu incar."

"Iya deh, si paling sibuk," sahut Valerie sambil meminum habis kopinya hingga terdengar suara sedotan kosong yang nyaring. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam lima sore. Angin laut makin kencang dan awan mulai menggelap. "Wah, udah mau magrib. Gue harus balik, Bos. Sebelum nyokap gue beneran mogok makan jilid dua gara-gara gue kabur dari kencan buta."

Valerie turun dari beton pembatas, menyambar jaket kulit hitamnya di atas tangki motor, lalu memakainya dengan gerakan cekatan. Dia memasukkan rambut sebahunya ke dalam helm full-face hitam, lalu mengklik pengait helmnya.

Sebelum menaiki motor, Valerie menoleh ke arah Arland yang masih berdiri tegap mengawasinya.

"Duluan ya, Bos Galak! Semoga mobil lu gak ngadat lagi. Kalau ngadat, cari gue aja di jalanan, tarif masih sama tiga ratus ribu!" seru Valerie dari balik kaca helmnya yang dibuka setengah.

Arland tidak menjawab, hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya, menatap Valerie dengan pandangan dalam.

Valerie menghidupkan mesin CBR-nya. Suara raungan mesin motor sport itu memecah sunyinya tanggul pantai. Dengan satu lambaian tangan santai, Valerie memutar gas dan melesat pergi, hilang di balik tikungan jalan raya pesisir.

Arland masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat, menatap aspal kosong tempat motor itu terparkir tadi. Dia baru sadar satu hal. Sampai akhir percakapan mereka yang cukup panjang tadi, dia tidak tahu siapa nama perempuan itu, dan perempuan itu pun hanya memanggilnya 'Bos'.

-To Be Continue-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel