Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Prediksi Cuaca dan Kesehatan

Valerie mematikan mesin motornya tepat di depan garasi. Begitu dia melepas helm, aroma masakan rumah langsung menyambut indra penciumannya, bersamaan dengan sosok sang ibu yang sudah berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.

"Nah, jam segini baru sampai. Perempuan kok pulangnya magrib terus, naik motor laki pula," sambut ibunya, langsung menyalakan radio ceramah harian begitu Valerie melangkah masuk ke rumah. Sesuai dugaannya bukan?

Valerie hanya menghela napas lelah, mencium tangan ibunya dengan takzim. "Macet, Ma. Kan Val kerja di kantor tinggi sesuai kemauan Mama kan. Lah ini kan motor Val. Masa Val harus pake motor matic Mama yang buat ke pasar itu?" tunjuknya ke motor yang terparkir di sebelah motor sportnya. “Emangnya kalau Mama mau ke pasar motor maticnya aku pake, Mama mau pake motor sport Val?” balasnya.

Ibunya hanya mendelik kesal. Ya, di rumah ini hanya ada dua motor. Yang tentu saja ia juga tak bisa pakai motor sport-kan? Coba nanti gimana mau bawa belanjaan?

"Iya, iya. Tapi…” Ibunya menyerah membahas motor sport lagi. “Pikirin itu penampilan, umur kamu sudah dua puluh tiga, Valerie! Rambut sengaja Mama suruh panjangin biar kelihatan anggun, tapi kelakuan masih aja kayak preman terminal," omel ibunya panjang lebar sambil mengikuti Valerie yang berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Valerie meneguk air putih dingin dari kulkas, membiarkan ibunya menyelesaikan ritme omelannya sampai mereda. Namun, kalimat berikutnya dari sang ibu langsung membuat Valerie tersedak kecil.

"Oh ya, weekend nanti kamu kosongkan jadwal, ya. Ikut Mama," ucap ibunya dengan mata berbinar-binar penuh rencana.

Valerie menyipitkan mata curiga. "Ke mana?"

"Anak temen arisan Mama namanya si Rian baru kelar kuliah. Ganteng, Val! Anaknya penurut, rajin ke masjid, pokoknya tipikal menantu idaman banget deh. Kamu harus ikut Mama buat kenalan sama dia."

Valerie langsung mendengus malas. Dia memutar bola matanya, lalu berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat lunglai menuju kamarnya. "Nggak bisa, Ma. Aku sakit."

Ibunya mengernyitkan dahi bingung, lalu mengekor di belakang Valerie. "Hah? Sakit apa? Orang kamu seger bugar begini baru pulang kantor!"

"Kan weekend nanti, Ma," sahut Valerie santai sambil membuka pintu kamarnya.

Ibunya makin melongo kesal. "Lho, kan acaranya masih beberapa hari lagi, kok kamu jawabnya sekarang sudah tahu kalau bakal sakit?!"

Valerie berbalik di ambang pintu, menatap ibunya dengan wajah tanpa dosa. "Ya... perkiraan cuaca dan kesehatanku untuk akhir pekan nanti begitu, Ma. Kayaknya hari Sabtu jam sepuluh pagi, imun tubuhku mendadak drop karena alergi perjodohan."

"Valerie!!!" pekik ibunya kesal.

Blam.

Valerie buru-buru menutup pintu kamarnya sebelum omelan babak kedua dimulai. Dia melemparkan ranselnya ke kasur, lalu merebahkan diri dengan posisi telentang.

Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan hasil "ngompir" mobil mewah milik bos misterius tadi pagi. Valerie tersenyum puas melihat uang itu.

"Mendingan dapet tiga ratus ribu dari cowok galak tadi pagi, daripada ketemu si Rian-Rian pilihan Mama yang palingan ujung-ujungnya bakal ceramahin baju gue," gumam Valerie geli.

***

Beberapa hari kemudian. Tepatnya sih hari Sabtu.

Prediksi cuaca dan kesehatan Valerie terbukti gagal total di hadapan senjata pamungkas ibunya: air mata tiruan dan ancaman tidak mau menyentuh nasi sampai hari Senin. Akhirnya, di sinilah Valerie sekarang. Duduk di salah satu kafe estetik pilihan ibunya pada Sabtu siang.

Penampilan Valerie hari itu benar-benar definisi pemberontakan diam-diam. Di saat ibunya sudah heboh menyuruhnya pakai gaun atau minimal tunik feminin, Valerie datang hanya dengan kaos oblong (t-shirt) hitam polos, celana jins belel robek-robek, dan sepatu kets kanvas andalannya. Satu-satunya hal yang terlihat 'perempuan' di dirinya hanyalah rambut sebahu yang terpaksa dia sisir rapi.

Begitu sosok bernama Rian itu datang bersama ibunya, Valerie langsung membatin, 'Sumpah, demi apa pun... ini bagai langit dan bumi.'

Rian adalah tipe anak baik-baik yang lurusnya melebihi jalan tol. Rambutnya dipotong rapi klimis dengan minyak rambut, memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang yang dikancing sampai ke leher, celana kain hitam gosokan rapi, dan senyum yang sangat sopan. Bahkan cara duduknya pun tegak sempurna, tipikal cowok yang tidak pernah melanggar peraturan seumur hidupnya.

"Halo, Valerie. Saya Rian," sapa cowok itu, suaranya lembut dan teratur.

Dia melirik penampilan Valerie, khususnya kaos oblong hitam dan sepatu ketsnya, dengan kilatan terkejut yang berusaha dia sembunyikan di balik senyum santunnya.

"Valerie," jawab Valerie pendek, menjabat tangan Rian sekilas sebelum kembali bersandar santai di kursinya.

Baru saja Rian hendak duduk, kedua ibu mereka—Bu Ratna, ibunya Rian, dan Bu Sarah, ibunya Valerie—yang baru kembali dari toilet, langsung menimpali. Bu Ratna, yang sejak awal kedatangan Valerie terus memandangi kaos oblong dan sepatu kets gadis itu dengan tatapan menilai, akhirnya tidak bisa menahan diri.

"Valerie, ya? Rian ini anaknya sangat disiplin, lho. Dari kecil tidak pernah main kotor-kotoran," ujar Bu Ratna sambil menatap Valerie dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih ke Bu Sarah dengan senyum tipis yang terasa merendahkan. "Memang gaya berpakaian anak muda zaman sekarang unik ya, Bu Sarah? Tapi, apa tidak lebih baik kalau sedikit... lebih feminin? Agar Rian juga lebih nyaman saat melihatnya."

Bu Sarah tersentak. Tatapannya langsung menajam ke arah Valerie. Dia memberikan kode keras dengan melotot, seolah berkata, 'Jaga sikapmu atau kamu habis setelah ini.'

Meski jengkel melihat penampilan anaknya yang jauh dari kata "menantu idaman", naluri protektif Bu Sarah tetap muncul. Dia merangkul bahu Valerie dengan cengkeraman cukup kuat, memaksa putrinya duduk lebih tegak.

"Anak saya memang apa adanya, Bu Ratna. Tapi dia pekerja keras. Daripada cuma diam di rumah, Valerie ini tulang punggung yang sangat mandiri," balas Bu Sarah dengan nada yang berusaha tenang, meski matanya masih menghunus tajam ke arah Valerie, memberi peringatan agar tidak membantah.

"Oh, begitu," Bu Ratna tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering. "Ya, yang penting memang harus dibimbing, supaya arahnya tidak melenceng. Ya sudah, Bu Sarah, mari kita pindah ke meja pojok sana? Kebetulan teman-teman arisan kita sudah menunggu. Biarkan anak-anak ini lanjut mengobrol di sini agar mereka lebih saling mengenal."

"Ide bagus," sahut Bu Sarah cepat. Sebelum beranjak, dia menunduk sedikit ke arah telinga Valerie, berbisik dengan desis tertahan, "Jangan bikin Mama malu. Ngobrol yang sopan, atau kunci motor kamu Mama sita sebulan."

Begitu kedua ibu itu beranjak ke meja lain di sudut kafe, meninggalkan mereka berdua, suasana di meja Valerie justru berubah menjadi semakin menyesakkan. Rian memperbaiki letak kacamata dan kemejanya, lalu menatap Valerie dengan tatapan yang kini terasa lebih berwibawa—seolah dia baru saja mendapat "lampu hijau" dari para ibu untuk mulai mendikte Valerie.

"Dengar, Valerie," Rian memulai dengan nada yang lebih kaku. "Ibu saya memang orangnya teliti, tapi beliau benar. Mungkin kamu perlu mulai memikirkan untuk mengubah hobi dan penampilanmu agar lebih pantas jika kita melangkah ke tahap selanjutnya. Lagipula, saya sudah punya rencana masa depan yang matang, dan saya butuh pasangan yang bisa mengikuti arahan saya, bukan yang malah sibuk dengan dunia sendiri."

Valerie menahan dengusan kuat-kuat. Rian mulai membuka percakapan dengan topik yang membuat Valerie ingin segera pura-pura pingsan.

"Valerie kerjanya di bidang administrasi ya? Bagus ya, pekerjaannya rapi dan terstruktur. Tapi kalau nanti sudah menikah, kalau saya pribadi sih lebih suka istri yang fokus di rumah, mengurus anak, dan menjalin silaturahmi dengan pengajian lingkungan," ucap Rian dengan nada menceramahi.

Valerie melirik jam tangannya. Baru lima belas menit, tapi rasanya sudah seperti dikurung di dalam ruangan penuh petuah.

"Oh, gitu ya? Tapi gue kalau weekend biasanya bongkar pasang karburator atau keliling kota naik motor sport, sih. Gimana tuh?" tanya Valerie sengaja memancing, sambil menopang dagunya dengan tangan.

Wajah Rian langsung berubah sedikit pias. Dia berdeham canggung, lalu meminum teh hangatnya dengan gerakan kaku. "Ah... itu... hobi yang agak tidak biasa ya untuk seorang wanita baik-baik."

‘Wanita baik-baik dengkulmu,’ batin Valerie gemas.

Begitu ada kesempatan, Valerie langsung menegakkan tubuhnya. Dia meraih tas ranselnya yang ditaruh di lantai.

"Rian, sori banget nih. Perkiraan cuaca gue kayaknya beneran kejadian, mendadak migren gue kumat. Gue duluan ya. Tolong sampein ke nyokap gue," ucap Valerie tanpa menunggu jawaban.

"Eh? Tapi Valerie, ini belum selesai—"

Sebelum Rian menyelesaikan kalimatnya yang lurus itu, Valerie sudah melangkah lebar keluar dari kafe dengan langkah cepat. Dia mengembuskan napas lega begitu hawa panas jalanan menerpa wajahnya. Bebas.

Valerie memakai helm full-face-nya, menyalakan CBR-nya, lalu memacu motornya pergi entah ke mana. Dia hanya ingin berkendara, menjauh dari kafe, menjauh dari obrolan perjodohan, dan membiarkan angin siang menghapus rasa kesalnya. Dia butuh tempat untuk mendinginkan kepala sebelum pulang dan menghadapi mogok makan ibunya jilid dua.

-To Be Continue-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel