5. Rumah, Omelan, dan Garis Paralel
Matahari sudah benar-benar tenggelam saat CBR milik Valerie berbelok memasuki pekarangan rumahnya. Begitu mesin motor dimatikan, suasana rumah terasa sunyi yang mencekam. Valerie menghela napas panjang, bersiap mental menghadapi badai yang sudah pasti menunggunya di dalam.
Begitu pintu depan dibuka, ibunya sudah duduk di sofa ruang tamu dengan melipat tangan di dada. Wajahnya ditekuk sedalam palung laut siap menelan kapal yang melintas.
"Bagus ya. Jam segini baru pulang. Kabur dari acara, ninggalin si Rian sendirian, terus HP dimatikan. Mau jadi apa kamu, Valerie? Bikin Mama malu?" suara ibunya terdengar bergetar, perpaduan antara kesal dan sedih.
Valerie melepas helmnya, menaruhnya di meja dengan pelan. Dia mendekat, lalu duduk di samping ibunya. "Ma, sori. Tapi Rian beneran nggak cocok sama aku. Baru ketemu bentar aja dia udah ngatur-ngatur hidup aku."
"Dia itu anak baik-baik, Val! Sopan, jelas asal-usulnya. Mama ini cuma pengen ada yang jagain kamu," air mata sang ibu mulai menetes, senjata andalan yang selalu membuat pertahanan Valerie runtuh. "Kakakmu yang cowok sudah mapan, sudah punya keluarga sendiri di luar kota, jarang bisa pulang. Ayahmu juga sudah nggak ada... Mama cuma tinggal punya kamu."
Valerie terdiam, hatinya agak mencelos. Dia tahu betul beban ibunya sejak sang ayah—seorang pensiunan PNS—meninggal dunia dua tahun lalu. Untungnya, uang pensiunan bulanan almarhum ayah masih mengalir untuk mencukupi kebutuhan pokok sang ibu, jadi Valerie tidak terlalu terbebani masalah finansial rumah tangga. Tapi urusan kesepian dan kekhawatiran seorang ibu tunggal, itu hal lain.
Valerie menggeser duduknya, lalu merangkul pundak ibunya yang mulai ringkih. "Iya, Ma, sori ya. Aku janji gak bakal matiin HP lagi. Tapi kalau buat cari pendamping... jangan dipaksa ya, Ma? Biar mengalir sendiri aja gitu..."
Ibunya menyeka air mata dengan ujung daster, lalu menatap wajah anaknya dalam-dalam. "Mama bukannya mau mengekang, Val. Mama cuma takut... kalau nanti Mama sudah benar-benar nggak ada, siapa yang bakal kasih kamu pengingat? Siapa yang bakal nungguin kamu pulang kalau kamu capek kerja?"
Valerie merasakan dadanya sesak. Dia menempelkan keningnya di bahu sang ibu, menghirup aroma minyak kayu putih yang selalu lekat di sana. "Ma, selama ada aku, aku bakal terus usaha buat bikin Mama nyaman. Aku memang bukan tipe yang bisa duduk manis di pengajian atau masak setiap hari, tapi aku janji, aku nggak akan pernah lupa jalan pulang ke rumah ini. Apapun yang terjadi di luar sana, rumah ini tetap prioritas aku."
Sang ibu terdiam sejenak, mengusap rambut Valerie dengan gerakan lembut yang penuh kasih sayang. "Kamu itu keras kepala, persis banget sama almarhum Bapak. Dulu, Bapak juga kalau sudah pegang kunci motor, nggak ada yang bisa melarang. Tapi dia selalu tahu kapan harus berhenti dan kembali."
Valerie tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca. "Makanya, Ma. Berarti darah petualang ini memang warisan Bapak. Jadi jangan terlalu khawatir, ya? Aku bisa jaga diri kok. Kalaupun nanti harus ada yang jaga aku, aku maunya dia yang bisa nerima aku apa adanya, bukan cuma karena aku 'anak baik-baik' di matanya, tapi karena dia tahu gimana serunya bongkar karburator bareng aku di hari libur."
Ibunya tertawa kecil di sela isakannya, sebuah tawa yang terdengar jauh lebih ringan dari sebelumnya. "Ada-ada saja kamu. Ya sudah, kalau memang belum ketemu yang 'nyambung', Mama pelan-pelan coba ngertiin. Tapi, tolong ya... jangan sampai kelamaan sendiri. Mama cuma ingin lihat kamu bahagia dengan orang yang benar-benar menghargai kamu, bukan cuma menuntut."
Valerie mengangguk mantap, mempererat rangkulannya. "Makasih ya, Ma, sudah mau dengarin aku. Besok, aku bakal bantu Mama beres-beres rumah sampai kinclong, janji. Nggak pakai protes."
Malam itu berakhir dengan kedamaian yang rapuh, disertai syarat dari sang ibu bahwa Valerie harus membantu membersihkan seluruh rumah keesokan harinya sebagai hukuman—sebuah hukuman yang, entah mengapa, kali ini terasa seperti sebuah bentuk kasih sayang yang tulus.
***
Hari Senin pun tiba. Pagi jam delapan lewat, atmosfer Gedung Arta Logistik sudah kembali sibuk.
Valerie berjalan terburu-buru melewati lobi lantai satu dengan map dokumen di tangannya. Dia harus segera ke ruang fotokopi di ujung lorong sebelum naik ke Lantai 2 untuk memulai rutinitas mingguan input data Excel.
Tepat saat Valerie masuk ke dalam ruangan fotokopi dan pintu kayunya tertutup rapat, denting lift eksklusif di lobi berbunyi.
Ting.
Arland melangkah keluar dari lift dengan langkah tegap, dikawal oleh Ratih, sekretarisnya, yang sibuk membacakan agenda kerja pagi itu melalui tablet. Langkah kaki Arland yang panjang membawanya berjalan melewati lorong yang sama, tepat di depan ruang fotokopi tempat Valerie berada.
Arland sempat melirik sekilas ke arah pintu ruang fotokopi yang tertutup karena mendengar suara mesin pencetak yang berisik dari dalam, namun dia tidak berhenti. Pikirannya terfokus pada rapat koordinasi yang akan dimulai sepuluh menit lagi.
Hanya selisih lima detik setelah Arland melangkah menjauh menuju lobi utama, pintu ruang fotokopi terbuka. Valerie keluar dari sana sambil menepuk-nepuk kertasnya yang masih hangat, lalu berjalan berlawanan arah menuju lift karyawan.
Mereka berdua berjalan saling memunggungi, terpisahkan oleh jarak dan waktu yang meleset sangat tipis. Dua garis paralel yang berada di satu gedung yang sama, bergerak di bawah takdir yang masih suka bermain petak umpet.
Valerie mendudukkan diri di kursi kubikelnya di Lantai 2, meletakkan tumpukan kertas hasil fotokopi tadi dengan hentakan pelan. Dia mengembuskan napas, lalu menyalakan komputernya.
Meskipun penampilannya serampangan jika dibandingkan dengan karyawan lain tentunya, urusan pakaian sering seadanya ya anggap aja gitu, karena Val juga nyaris tanpas make up hanya pelembab atau bedak tipis, dan hobi bawa motor sport gede, Valerie sama sekali bukan pegawai yang bodoh atau malas. Sebaliknya, otak Valerie encer sekali. Jari-jarinya bergerak super cepat di atas keyboard, mengetik rumus VLOOKUP dan Pivot Table tanpa perlu melihat panduan. Di saat staf admin lain butuh waktu seharian buat kelar satu laporan logistik, Valerie biasanya bisa menyelesaikan semuanya sebelum jam makan siang.
Sambil menunggu data loading, Valerie menopang dagunya, menatap layar monitor yang menampilkan baris angka. Pikirannya mendadak melayang ke masa beberapa tahun lalu.
Sebenarnya, ruang kubikel ber-AC dengan tumpukan kertas administrasi ini bukanlah masa depan yang dia impikan. Waktu lulus SMP dulu, Valerie membuat ibunya senewen akut karena nekat mendaftar ke SMK jurusan Otomotif. Ibunya menangis tiga hari tiga malam, histeris membayangkan anak perempuannya pulang sekolah dengan kuku hitam kena oli. Tapi berkat pembelaan almarhum ayahnya yang waktu itu masih hidup, Valerie aman. Sang ayah selalu mendukung apa pun yang membuat anak perempuannya itu bahagia.
“Biarin aja, Ma. Anak kita pinter, dia tahu apa yang dia mau,” kalimat sang ayah waktu itu selalu terngiang di kepala Valerie.
Sayangnya, benteng pertahanan Valerie runtuh saat dia mau masuk kuliah. Sang ayah meninggal dunia tepat sebelum pendaftaran jalur kuliah dibuka. Valerie yang bersikeras ingin mengambil jurusan Teknik Mesin langsung dihadapkan pada kenyataan pahit. Tanpa ada ayah yang membela, ibunya menggunakan senjata pamungkas: mengancam akan bunuh diri kalau Valerie nekat masuk ke jurusan yang isinya cowok semua itu.
Ibunya menangis tersedu-sedu sambil memegangi dadanya. “Mama cuma pengen liat kamu kerja rapi di gedung-gedung tinggi, Valerie! Pakai baju bersih, wangi. Mama gak mau liat kamu kerja belepotan oli dan bau asap seumur hidup!”
Demi kesehatan mental ibunya yang baru saja kehilangan suami, Valerie akhirnya mengalah. Dia membuang brosur Teknik Mesin, lalu mengambil jurusan Administrasi yang lurus-lurus saja. Dan di sinilah dia sekarang, menjadi wanita karier kantoran di gedung tinggi, persis seperti yang diimpikan ibunya.
Tok! Tok!
Lamunan Valerie buyar saat Bu Santi mengetuk sekat kubikelnya. "Valerie, laporan rekap logistik jalur Pantura buat minggu ini sudah selesai? Soalnya dari lantai atas udah minta data cepat."
Valerie berkedip, lalu tersenyum tipis. "Udah beres dari setengah jam yang lalu, Bu. Ini tinggal saya send ke email sekretariat direksi."
"Duh, kamu emang andalan! Makasih ya, Val," puji Bu Santi lega sebelum kembali ke kubikelnya sendiri.
Valerie mengklik tombol send. Dia menatap email yang terkirim ke alamat sekretaris CEO tersebut. Dia sama sekali tidak sadar, bahwa laporan super cepat dan rapi yang baru saja dia kirimkan itu akan langsung dibuka oleh pria kaku berkemeja hitam yang tempo hari mengobrol dengannya di tanggul pantai sambil membahas masalah visi-misi hidup.
-To Be Continue-
