Pustaka
Bahasa Indonesia

The Unplanned Destiny

53.0K · Ongoing
Srustandi
40
Bab
79
View
9.0
Rating

Ringkasan

Pagi itu menjadi awal hari yang paling kacau bagi Arlan Dirgantara. Di saat ia harus menghadiri rapat pleno yang sangat penting sebentar lagi, mobil mewah yang dikendarainya sendiri mendadak mogok di pinggir jalan. Di tengah kepanikan Arlan, sebuah motor sport CBR hitam-merah tiba-tiba berhenti di dekatnya. Sang pengendara, Val atau Valerie, seorang gadis tomboi dengan jaket kulit dan rambut diikat setengah, menawarkan bantuan untuk memperbaiki mesin mobil tersebut—tentu saja dengan tarif profesional. Karena terdesak waktu, Arlan terpaksa menyetujuinya meski ia sendiri tak yakin. Dengan kemampuan mekaniknya yang luar biasa, Val berhasil membuat mobil Arlan kembali menyala dalam waktu singkat. Arlan mengira itu hanyalah pertemuan kebetulan yang melibatkan transaksi bisnis instan. Namun, yang tidak disadari oleh sang CEO, gadis montir jalanan yang baru saja menyelamatkan harinya itu sebenarnya adalah bawahannya sendiri di kantor. Selama ini, karena perbedaan status jabatan yang terlampau jauh bagai bumi dan langit, mereka tidak pernah bertemu atau saling tahu. Pertemuan tak terduga di pagi hari itu rupanya menjadi awal dari benang merah yang mengikat takdir mereka berdua, menyeret mereka ke dalam pusaran takdir keduanya tanpa mereka sadari.

RomansaMetropolitanKehidupan SosialModern

1. Radiator dan Tiga Ratus Ribu

"Perempuan itu harusnya lemah lembut, Valerie! Bangun siang, bukannya bangun pagi terus bantu-bantu dulu, tuh kan sekarang mau langsung pergi aja! Mana semalem pulang malem naik motor sport segede gaban begitu. Mau jadi apa kamu—"

Valerie hanya mendengus dan langsung memutar gas Honda CBR-nya begitu gerbang rumah terbuka, memotong rentetan ceramah pagi ibunya yang sudah dia hafal di luar kepala. Suara knalpot bawaan pabrik yang sengaja tidak dia modifikasi agar tidak terlalu bising, toh tetap sukses meredam suara sang ibu.

Melihat putrinya pergi begitu saja membuat Sarah atau ibunya Valerie misuh-misuh sendiri. Ia bertolak pinggang, “Anak itu ya, dasar!” kesalnya sambil kembali ke dalam rumah.

Sambil melaju, Valerie membenarkan posisi rambutnya yang menyembul dari bawah helm. Rambutnya panjang sebahu, tidak terlalu panjang, tapi juga tidak pendek. Potongan rambut itu adalah hasil kompromi berdarah dengan ibunya.

Kalau Valerie nekat memotongnya jadi undercut atau pixie cut seperti keinginannya, sang ibu mengancam akan mogok makan sampai masuk rumah sakit. Demi kedamaian rumah tangga, Valerie akhirnya hanya bisa mengalah.

Dia melirik jam digital di spidometer. Masih jam 06.30 pagi. Sengaja dia berangkat ekstra awal demi menghindari sarapan penuh petuah "cara menjadi wanita anggun". Sebagai staf administrasi di perusahaan, penampilan Valerie yang dibalut jaket kulit hitam tebal, celana bahan, dan sepatu Kets membuat dirinya lebih kelihatan mau balapan ketimbang input data Excel. Di kantornya memang tidak terlalu ketat apakah karyawan wanita harus memakai rok dan high heels. Yang penting rapi dan sopan, rok atau celana panjang, high heels atau kets. Yang terpenting adalah kinerja mereka, yang jelas kemeja atau blouse itu wajib, tidak ada t-shirt dan jeans di kantor.

Jalanan belum terlalu padat pagi itu. Namun, sekitar tiga kilometer sebelum gedung kantornya, Valerie melihat sebuah sedan Mercedes-Benz hitam legam terparkir di bahu jalan dengan lampu hazard menyala. Kap mesinnya terbuka, mengepulkan sedikit asap tipis.

Di samping mobil, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan mahal tanpa dasi. Kemeja putihnya yang digulung sampai siku memperlihatkan jam tangan kelas atas yang Valerie yakini harganya bisa buat beli tiga motor sport miliknya. Pria itu sedang menelepon dengan wajah super sepet, alisnya menukik tajam. Ya seperti mau makan oranglah…

"...saya tidak mau tahu. Panggil derek sekarang! Saya ada meeting jam delapan," desis pria itu, suaranya berat dan penuh penekanan. Dingin, tegas, dan jelas sedang menahan amuk.

Valerie memperlambat laju motornya, lalu berhenti tepat di samping mobil tersebut. Dia mematikan mesin motor, menurunkan standar samping, lalu turun tanpa melepas helm maupun jaketnya, hanya membuka kaca visor-nya penuh.

Dia berjalan ke bagian belakang motornya, membuka jok, dan mengambil pouch kecil berisi peralatan mekanik standar yang selalu dia bawa, lalu berjalan mendekati pria yang baru saja menutup teleponnya dengan kasar.

Pria itu menoleh, menatap Valerie dari atas sampai bawah dengan tatapan mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah berkata, Jangan macam-macam atau saya habisi kamu.

Bukannya takut, Valerie malah menatap langsung ke mata elang pria di hadapannya melalui celah helm yang terbuka.

"Bos, tiga ratus ribu, gue benerin ya?" tanya Valerie santai, nadanya tawar tanpa beban.

Pria itu mengernyitkan dahi. Dia melihat seseorang berhelm full-face dan berjaket kulit yang dari suaranya jelas seorang perempuan—tiba-tiba menawarkannya jasa montir jalanan sambil memegang pouch perkakas.

"Kamu tahu ini mobil apa?" tanya sang CEO, suaranya dingin, meremehkan. "Jangan asal sentuh kalau cuma modal nekat."

Valerie mendengus di balik helmnya. "Mercedes C-Class, radiatornya overheat gara-gara selang bypass-nya longgar atau ada sumbatan kecil. Kalau nunggu derek, lu bakal telat meeting jam delapan, Bos. Gimana? Tiga ratus ribu. Anggap aja ongkos kopi."

Pria itu terdiam, menatap sosok misterius berhelm di depannya, lalu melirik jam tangannya. Waktu terus berjalan, dan harga dirinya taruhannya jika telat di rapat pemegang saham.

"Sepuluh menit," ucap pria itu tegas, suaranya tidak menerima bantahan. "Kalau dalam sepuluh menit tidak beres, saya tidak akan bayar sepeser pun."

"Deal," sahut Valerie cepat.

Dia langsung melepas helmnya dan menaruhnya di motor. Rambutnya sebahunya agak berantakan, ia mengikat asal setengah rambutnya. Wajahnya tak terlihat karena dia pakai masker, meski helm full face tapi debu jalanan jahat, jadi dia pakai masker sekali pakai juga. Ia kemudian menyingsingkan lengan jaket kulitnya yang tebal sampai batas siku, menampilkan pergelangan tangannya yang ramping namun cekatan.

Tanpa membuang waktu, Valerie langsung membungkuk di depan kap mesin yang panas, mulai mengutak-atik bagian radiator dengan peralatan dari motornya, mengabaikan fakta bahwa pria galak di sampingnya terus mengawasi setiap gerakannya dengan tatapan menyelidik.

Tepat pada menit kedelapan, Valerie menegakkan tubuhnya. Dia menyeka keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangan, lalu mengencangkan kembali tutup radiator yang baru saja dia eksekusi.

"Coba starter, Bos," suruh Valerie sambil menepuk kap mesin mobil.

Pria itu menatap Valerie skeptis selama satu detik sebelum akhirnya masuk ke kursi kemudi. Begitu tombol engine start ditekan, mesin Mercedes-Benz itu langsung menderu halus. Indikator suhu di dashboard yang tadinya berwarna merah menyala, perlahan turun ke batas normal.

Pria itu keluar dari mobil, wajah ketatnya sedikit mengendur, walau tatapan matanya tetap sedingin es. Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan dompet kulit super tipis, lalu menarik tiga lembar uang seratus ribuan.

"Kerja yang bagus," ucap pria itu pendek, menyerahkan uangnya dengan gerakan tegas.

Valerie menerima uang itu dengan mata berbinar. "Nah, gini kan enak. Mobil beres, meeting aman, dompet gue terisi. Duluan ya, Bos!" Valerie mengangkat jempolnya.

Tanpa menunggu balasan dari pria kaku itu, Valerie langsung berbalik, memasukkan kembali peralatan tempurnya ke bagasi motor, dan memakai sarung tangan dan helmnya. Dia memutar gas Honda CBR-nya, melesat membelah jalanan pagi yang mulai padat, meninggalkan sang CEO yang masih berdiri menatap knalpot motornya dengan kening berkerut.

“Perempuan yang aneh,” batin pria itu sebelum akhirnya masuk ke mobil dan melaju menuju kantor pusat.

Sepuluh menit kemudian, Valerie sudah memarkirkan motor sport-nya di basement khusus karyawan Gedung Arta—sebuah perusahaan raksasa tempatnya bekerja selama setahun terakhir.

Dia melepas helmnya, membuat rambut panjang sebahu yang dijaga ketat oleh ancaman mogok makan ibunya itu terurai berantakan. Valerie buru-buru merapikannya menjadi kunciran kuda yang praktis. Jaket kulit tebalnya dilepas dan digantung di motor, menyisakan kemeja kerja putih dan celana bahan yang sedikit ternoda oli di bagian lengan bawah.

"Mampus, kena oli dikit," gumam Valerie sambil buru-buru berjalan menuju lift karyawan.

Sebagai staf administrasi di Lantai 2, tugas Valerie hanyalah berkutat dengan nota bensin truk, laporan retur barang, dan Excel yang tidak ada habisnya. Dia tidak pernah punya urusan dengan jajaran direksi di Lantai 25 yang terkenal eksklusif dan punya lift khusus sendiri. Baginya, pemilik perusahaan ini hanyalah nama fiktif di slip gajinya setiap bulan: Arland Dirgantara.

Valerie menempelkan kartu absensinya tepat jam 07.45 pagi. Aman. Dia langsung duduk di kubikelnya, menyalakan komputer, dan berniat menyeduh kopi instan.

Namun baru saja dia mau berdiri, Bu Santi, kepala divisinya yang terkenal hobi panik, berlari mendekati kubikel Valerie dengan wajah pucat pasi.

"Valerie! Kamu sudah beresin laporan rekapitulasi vendor bulan lalu yang saya minta kemarin?" tanya Bu Santi dengan suara setengah berbisik tapi panik.

"Udah, Bu. Tinggal di-print. Emang kenapa?"

"Tolong print sekarang juga, tiga rangkap! Terus kamu bawa naik ke Lantai 25 sekarang!"

Valerie mengernyit bingung. "Lantai 25? Bukannya itu area direksi ya, Bu? Biasanya kan lewat sekretaris."

"Sekretaris CEO baru aja telepon, Pak Arland minta audit mendadak pagi ini karena ada selisih data di bagian logistik lapangan! Pak Arland itu terkenal galak dan kaku banget, Valerie. Jangan sampai kita telat serahin laporan atau kepala kita semua yang melayang!" Bu Santi mendesak sambil menyerahkan map. "Buruan, Val!"

Valerie menghela napas pasrah. Dengan malas, dia mengambil map tersebut. Pikiran Valerie cuma satu: semoga si CEO galak itu tidak melihat noda oli kecil di lengan kemejanya.

Dia sama sekali tidak tahu, bahwa pria jangkung pemilik mobil mogok yang dia mintai uang tiga ratus ribu rupiah tadi pagi, sedang duduk di kursi kebesarannya di Lantai 25 dengan wajah dingin, siap menguliti siapa saja yang bekerja tidak becus hari ini.

-To Be Continue-