2. Di Bawah Lampu Merah yang Sama
Valerie melangkah keluar dari lift Lantai 25 dengan perasaan agak asing. Berbeda dengan Lantai 2 yang bising oleh suara mesin printer dan obrolan staf admin logistik, lantai ini sunyi senyap dan berlantai marmer mengilap. Aromanya saja wangi kopi mahal dan pengharum ruangan premium.
Dia berjalan menuju meja sekretaris yang terletak persis di depan pintu ganda kayu jati besar—ruangan sang CEO. Di balik meja, seorang wanita karier berpenampilan sangat anggun dan perfeksionis sedang sibuk mengetik dengan cepat.
"Permisi, Mbak. Saya Valerie dari Divisi Administrasi Lantai Dua. Mau mengantarkan laporan rekapitulasi vendor yang diminta Pak Arland," ucap Valerie sopan, sambil menyodorkan map tebal yang dia bawa.
Sekretaris itu menengadah, menghentikan ketikannya sejenak, lalu menghela napas lega. "Oh, syukur deh langsung diantar. Sini saya terima. Pak Arland dari tadi pagi sudah sepet banget mukanya gara-gara jadwalnya padat sekali hari ini. Untung laporan ini datang tepat waktu sebelum rapat internal," bisik sekretaris itu pelan.
"Sama-sama, Mbak. Saya permisi dulu," pamit Valerie santai.
Dia berbalik dan melangkah kembali menuju lift karyawan dengan perasaan lega karena tugasnya selesai dengan cepat tanpa harus berurusan langsung dengan CEO yang katanya menyeramkan itu.
Tepat tiga puluh detik setelah pintu lift yang membawa Valerie tertutup dan bergerak turun ke Lantai 2, pintu ruangan CEO terbuka.
Arland berjalan keluar dengan langkah tegap. Jasnya sudah terpasang rapi, wajahnya datar, tegas, dan tatapan matanya tajam menusuk khas seorang pemimpin yang tidak suka membuang waktu.
"Ratih, mana laporan dari Divisi Administrasi yang saya minta?" tanya Arland, suaranya berat dan dingin.
"Ini, Pak. Baru saja diantarkan oleh staf dari Lantai Dua," jawab Ratih cekatan sambil menyerahkan map tebal milik Valerie tadi.
Arland menerima map itu, membukanya sekilas dengan gerakan efisien untuk memastikan kelengkapan data Excel di dalamnya. Setelah melihat semuanya beres, dia menutup kembali map tersebut tanpa riak apa pun di wajahnya.
"Siapkan ruang rapat, lima menit lagi kita mulai," perintah Arland pendek.
"Baik, Pak."
Arland berbalik masuk kembali ke ruangannya untuk mengambil tablet kerjanya. Pikirannya saat itu sepenuhnya terfokus pada presentasi pemegang saham dan angka-angka logistik yang harus dia audit. Kejadian mobil mogok dan montir perempuan berhelm full-face tadi pagi sudah dia kesampingkan ke sudut memorinya, menganggapnya hanya sebagai intermeso sial di jalanan ibu kota.
Sementara itu, jauh di Lantai 2, Valerie sudah kembali duduk nyaman di kubikelnya. Dia membuka bungkus kopi instan, menuangkan air panas, dan siap melanjutkan ritual harian menginput data nota bensin truk dengan santai. Tiga lembar uang seratus ribuan hasil keringatnya tadi pagi sudah tersimpan rapi di dalam dompet.
Mereka berdua benar-benar kembali ke rutinitas masing-masing. Arland dengan urusan miliaran rupiah di lantai teratas, dan Valerie dengan tumpukan kertas administrasi di lantai bawah. Sama sekali tidak menyadari bahwa takdir baru saja mempertemukan mereka dengan cara yang paling tidak terduga.
***
Jam dinding kantor akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Valerie buru-buru mematikan komputernya, merapikan meja kerja, dan mengambil tas ranselnya. Hari ini energinya lumayan terkuras karena harus bolak-balik berurusan dengan dokumen logistik yang menumpuk.
Begitu sampai di basement, Valerie memakai kembali jaket kulit hitam tebalnya. Dia melepaskan kunciran rambutnya sejenak, membiarkan rambut sebahu hasil kompromi dengan ibunya itu terurai, lalu memasukkannya dengan rapi ke dalam helm full-face hitamnya. Setelah memastikan kantong perkakas aman di bawah jok, dia menyalakan mesin CBR-nya dan melesat keluar menembus kemacetan sore Jakarta yang luar biasa.
Di sisi lain gedung, sebuah Mercedes-Benz hitam yang radiatornya sudah sehat walafiat juga baru saja keluar dari lobi utama. Di balik kemudi, Arland menyandarkan punggungnya dengan lelah. Matanya menatap bosan ke arah deretan lampu rem mobil di depannya yang memerah. Macet total. Dia keluar kantor lebih cepat hari ini, karena ia sudah memiliki janji dengan rekan bisnis.
Arland menghela napas, melonggarkan sedikit kerah kemejanya. Pikirannya yang tadi penuh dengan angka-angka saham perlahan mulai rileks. Namun, saat mobilnya tertahan di sebuah perempatan lampu merah besar yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari kantor, pandangan Arland tidak sengaja tertuju pada kaca spion kirinya.
Sebuah motor sport hitam tangguh menyelip di antara celah-celah mobil dengan sangat lincah, lalu berhenti tepat di samping pintu kemudi Arland.
Arland menurunkan sedikit pandangannya. Sosok itu... jaket kulit hitam tebal, helm full-face, dan postur tubuh yang ramping.
“Montir jalanan tadi pagi?” batin Arland, matanya menyipit fokus.
Arland memperhatikan detail motornya. Benar, itu motor sport yang sama yang berhenti di depan kap mesinnya tadi pagi. Di balik kaca visor helm yang agak gelap, Arland samar-samar bisa melihat siluet wajah perempuan itu yang sedang menatap lurus ke depan, sesekali mengetuk-ngetukan jarinya di setang motor, tampak menikmati sisa sore.
Arland melirik jam di dashboard mobilnya. Pukul 17.30.
Pria itu terdiam, otaknya yang taktis langsung memproses informasi secara otomatis. Jalur jalanan ini searah dengan rute kantornya. Jam pulang mereka pun hampir bersamaan.
“Berarti... bengkel tempat perempuan ini bekerja tidak jauh dari area ini?” pikir Arland berspekulasi.
Dia menyimpulkan kalau perempuan tomboy ini pasti punya bengkel mandiri atau bekerja di salah satu bengkel motor/mobil di sekitar kawasan bisnis ini. Makanya dia bisa muncul cepat tadi pagi dan pulang lewat jalur yang sama sore ini. Arland agak terkesan; jarang ada perempuan muda yang memilih profesi sebagai montir, bahkan sampai punya insting secepat itu di jalanan.
Lampu hijau menyala.
Valerie langsung menarik gas motornya, melesat duluan membelah kemacetan, meninggalkan mobil Arland yang baru bisa merayap pelan di belakangnya. Arland hanya menatap punggung berjaket hitam itu sampai hilang di kelokan jalan.
Sambil melajukan mobilnya perlahan, Arland kembali memikirkan kejadian tadi pagi. Sebuah senyum tipis yang sangat jarang terjadi muncul di sudut bibir sang CEO tegas itu.
Tiga ratus ribu rupiah. Angka yang sangat murah, bahkan terlalu murah untuk ukuran perbaikan instan di pinggir jalan dalam kota. Arland tahu persis, kalau dia sampai harus memanggil mobil derek resmi dan membawa Mercedes-Benz miliknya ke bengkel resmi, biaya yang dikeluarkan pasti jauh lebih besar dari itu. Belum lagi kerugian waktu karena harus melewatkan rapat penting pemegang saham yang bernilai miliaran.
Perempuan itu tidak hanya sekadar montir. Kerjanya sangat cepat, taktis, dan langsung tahu titik masalahnya hanya dalam sekali lihat. Insting mekaniknya benar-benar tajam.
“Perempuan yang menarik,” batin Arland.
Dia menyimpulkan kalau perempuan tomboy ini pasti mengelola bengkel mandiri yang cukup bagus atau merupakan mekanik andalan di sekitar kawasan bisnis ini. Arland agak terkesan; di tengah kerasnya ibu kota, ada perempuan muda yang punya keahlian se-andal itu dan tidak memanfaatkan situasi untuk memerasnya dengan harga selangit.
Arland terus melaju membelah sore, menganggap montir jalanan itu sebagai intermeso paling unik di harinya. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa 'montir mandiri' yang sedang dia puji di dalam hati itu, besok pagi akan kembali duduk manis di Lantai 2 gedungnya sendiri, sibuk menginput nota bensin dengan kemeja admin yang rapi.
Sementara itu di depan sana, Valerie terus memacu motornya membelah kemacetan untuk segera pulang ke rumah dan istirahat. Dan juga menghadapi omelan ibunya tentu saja. Ceramah tadi pagi, tidak akan selesai begitu saja. Saat ia sampai nanti pasti akan kembali dilanjutkan.
-To Be Continue-
