Bab 9 Lari!
Bab 9 Lari!
Ketiga prajurit itu membawa tombak di tangan mereka, ketika jarak makin dekat, dua orang naik lagi ke kuda dan berderap mengepung lebih dekat ketiganya.
“Kita dikepung,” ujar Rara lirih. Napasnya sudah memburu ditambah adrenalin yang meningkat membuat jantungnya berdetak kencang. Membuat otaknya berpikir untuk segera lari dan juga ketakutan yang mendera. Membuat kakinya sangat berat.
“Tenangkan diri dulu,” kata Kevin. Dia bisa melihat wajah pucat Rara yang sudah menggambarkan betapa takutnya gadis itu. Riak air makin besar ketika dua kuda akan mengepung dari kanan dan kiri mereka, satu orang di tengah tersenyum miring. Membuat Rara di atas batu segera berlari memasuki air, lalu mendekati Tapa dan Kevin yang sudah berdiri di sana. Berusaha tetap tenang dan berusha tetap bisa melindungi Rara di belakang mereka.
Mata tajam Kevin menelah sekitarnya, ia menunduk, memandangi arus sungai yang beriak berlawanan. Bukan hanya dari kuda itu tentunya. Matanya melirik ke samping, ditunjukan ke tengah sungai, seekor buaya muncul. Senyum miring terbit di wajahnya.
“Peluang!” bisik Kevin pada Tapa. Tangannya menyentuh tangan Rara yang sedari tadi memegang lengan atasnya. “Jangan takut,” kata Kevin pada gadis itu.
“Siapa kalian?” teriak mereka, padahal jaraknya sudah tak terlalu jauh.
“Siapa kami menjadi tak terlalu penting, apa yang akan terjadi pada kalian itulah yang paling penting!” teriak Tapa. Dia ikut tersenyum, meski ini sebab jarak mereka dengan buaya pun tak jauh, tetap saja peluang prajurit itu akan berisiko mendapatkan kemalangan atau kabur menjauh lebih besar.
“Apa maksud kalian?” tanya salah seorang prajurit. Kevin memberanikan diri maju, menarik paksa Rara yang kakinya kaku. Tentu saja hal itu diikuti oleh Tapa. Jika mereka tak maju maka musuh mereka yang maju, jika itu terjadi maka celaka bagi semua orang. Olehkarena itu resiko ini berani mereka ambil.
Dengan penuh pertimbangan mereka sudah sampai di tepian sungai, sudah menjauh sedikit dan bergerak lebih dekat dengan seorang lelaki bergaya prajurit tetapi sungguh tingkah mereka jauh dari seorang pelindung rakyat. Lebih pantas dikatakan pecundang dan sampah negara.
Kuda yang dipacu berjalan santai, hendak mencemooh Kevin yang memilih maju. Mereka masuk air, lebih mengusik keberadaan buaya yang sedang tidur. Rara tak menyadari sama sekali sebab dua temannya tak memberi tahu.
Lalu, selang waktu tak lama, buaya itu muncul membawa teriakan prajurit itu. Gerakannya begitu cepat. Saat Rara menoleh, si Prajurit sudah tumbang jatuh ke air, kudanya bergerak liar tetapi Buaya itu tak sendirian, mereka melahap rakus tak tertahan. Keduanya mati, membawa ketakutan satu kuda lainnya yang masih sulit dikendalikan sang pemilik. Kuda yang dipegang tali kekangnya oleh orang yang di depan mereka pun mengetahui penderitaan temannya, berusaha lepas dan tak ingin ikut campur pada kemalangan hari ini.
Jika reflek kuda itu cepat membuat penunggangnya kalap, reflek Tapa dan Kevin pun sama cepatnya. Kevin dengan cepat meraih lengan Rara, menangkupnya dan membawanya lari memasuki hutan.
“Lari!” Sentak Kevin kepada keduanya.
“Mereka mati!” bisik Rara dengan napasnya yang tercekat sakit, ia sama sekali tak bisa menjelaskan bagaimana takutnya. Di depan matanya sendiri dirinya melihat buaya besar itu begitu ganas melahap manusia juga kuda.
“Stt! Tenang dulu,” ucap Kevin berusaha menenangkan Rara.
Mereka terus berlari tak memedulikan semak. Sampai akhirnya dirasa cukup jauh dari dua orang yang bernasib sial harus mengurus kuda, lebih sial teman mereka yang menjadi santapan buaya. Mereka memilih berhenti, mengatur napas yang sudah pendek-pendek sebab terlalu jauh berlari.
“Tadi, tadi itu ....”
Rara tak bsia menjelaskan. Kevin meraih bahunya, membawa kepala itu ke dalam pelukannya. Tapa hanya bisa menggeleng tak kuasa melarang, sebab Rara begitu pucat dan membutuhkannya. Matanya yang tak nyaman beralih, tak ingin melihat sesuatu yang menurutnya kurang pantas.
“Kita bisa terus jalan ke depan.”
“Jangan seperti tadi, aku takut. Banyak semak berduri,” kata Rara dengan lirih. Kadang dibarengi isakan tangis Rara.
“Jangan menangis, nanti mereka dengar.”
“Hah?” Matanya sudah penuh dengan genangan air mata.
“Kita tidak bisa nunggu lagi, aku buka jalan saja biar lebih aman.” Tapa berinisiatif, mulai membuka jalan dengan menepikan ranting besar dan sesekali menumbangkan semak agar lebih pantas menjadi jalan.
Mereka mulai berjalan cepat, mempertahankan zona aliran sungai, beberapa kali Tapa harus menajamkan telinga juga matanya guna tetap dalam zona itu.
“Ak-aku!” Rara berjalan lebih lambat. Kevin melihat itu, wajah pucat dan berantakan dengan jilbab yang sudah tak tahu lagi bentuknya seperti apa. Juga jejak air mata yang makin membuat Rara makin terpuruk.
Tapa menghela napasnya melihat sepupunya seperti itu. “Tapi kita tidak bisa berhenti, mereka pakai kuda dan kalau sudah berhasil mengendalikan kuda itu pasti bakalan menyusul kita. Apalagi kalau mereka pendendam dan keras kepala. Merasa kalau teman mereka yang mati itu karena kita. Kita bakalan jadi buronan dua orang itu, Ra.”
“Humm!” Rara melihat kakinya, Kevin pun turun melihat Rara yang menengok kakinya. Kaki itu bengkak, beberapa kemerahan muncul sebab gatal dan tak terasa digaruk.
“Kamu bisa jalan?”
“Bisa kalau dipaksa, ayo!” kata Rara berusaha menahan isakannya.
Kevin menghela napasnya lelah, dia mendekati Rara lalu jongkok di depan gadis itu.
“Ada apa?” tanya Rara yang tak mengerti dengan sikap Kevin yang seperti ini. Melihat ke bawah penuh dengan banyaknya daun kering membuatnya kasihan jika Kevin terus jongkok.
“Naik!” titah Kevin cepat. Rara menatap Tapa.
“Sudahlah ... naik saja. Kamu juga kelihatan sekali gembelnya, Ra!” kata Tapa dibarengi cengirannya yang menyebalkan.
“Ekhm!” Rara mengalungkan tangannya di leher Kevin dan mulai menaiki punggung laki-laki itu. Terasa nyaman dan terlindungi. Ketika Kevin berdiri, Tapa sudah memimpin jalan dan membuat jalan agar lebih manusiawi untuk dilewati.
Kewaspadaan tetap meningkat meski tak melihat lagi orang aneh yang membawa tombak juga orang jahat yang mungkin berkeliaran di hutan ini.
Di gendongan itu Rara tak bisa lagi menahan tangisannya, ingatannya suka berkelana bagaimana punya tersenyum. Bagaimana jika Rara tak bisa lagi pulang ke masa depan.
“Sudah Ra, jangan menangis terus,” kata Tapa. Dia menoleh melihat Rara digendongan temannya itu.
Rara mengangguk dan berusaha menghentikan tangisannya, meski susah ia tetap saja berusaha. Isakan tangisnya mulai mereda.
“Mereka tidak mengejar kita kan?” tanya Rara merasa takut.
“Sudah terlalu jauh, semoga saja tidak.”
“Kenapa mereka mau menyerang kita?” tanya Rara merasa tak nyaman.
“Mungkin untuk kesenangan semata, Ra.” Tapa tersenyum, merasa Rara lebih baik suasana hatinya. Dia memandang langit yang menghampar luas tanpa awan, kadang keteduhan hutan yang tadi mencengkam bisa menenangkan.
Mereka menajamkan telinga agar tetap mendengarkan aliran sungai. “Mau mendekati sungai?” tawar Tapa, dia berbalik menatap Rara yang tidur dalam gendongan Kevin. Mendengkus dengan menahan kekehan, matanya menunjuk keadaan Rara.
Kevin menoleh, melirik sedikit menurunkan pandangannya. Ia melihat dagu Rara yang menjadikan bahunya tempat nyaman untuk menutup mata. “Dia kelelahan,” kata Kevin. Dia turut serta menatap langit yang beberapa waktu tadi sudah dilihat Tapa.
“Aku salah mengajak kalian ke sini?” tanyanya lebih kepada diri sendiri. Menggumam meski Tapa mendengarnya.
Tapa berdehem sebentar. “Kamu kan hanya ingin tahu mesin itu berguna apa tidak, bisa ke masa lalu atau tidak. Kita sudah setuju, berarti kesalahan ini bukan hanya ada di kamu saja, Vin. Aku juga, Rara juga, kita bertiga salah.”
Kevin tak yakin, tetapi ia mengangguk saja.
“Ayo kita lebih dekat ke aliran sungai. Aku yakin mereka sudah tidak mengejar kita, tapi, tidak tahu kalau ketemu lagi nanti.” Kevin menyetujui.
Ia menjunjung Rara, berusaha menggendongnya dengan baik agar tak melorot dan membuat Rara merasa tak nyaman. Gadis itu bahkan tahan dan tak bangun dengan gerakan brutalnya.
Kevin tersenyum miring dengan singkat, dia menghela napasnya dan mulai mengikuti Tapa. Menghiraukan beberapa hewan hutan yang sudah mulai berperang adu suara.
Tapa sendiri hanya bisa menebas ranting memberi jalan dengan rapalan doa yang tiada hentinya. Terus berjalan.
***
