Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Efek Perang

Bab 8 Efek Perang

Ketika hari berganti, malam telah mereka lewati. Terdengar kabar bahwa istana Timur kalah. Bhre Wirabhumi dipenggal kepalanya oleh Bhre Narapati atau biasa disebut Raden Gajah. Kemudian kepala itu dibawa ke pusat kerajaan Barat, diberikan pada Wikramawardhana.

Ketiga orang itu berterima kasih telah mendapatkan tumpangan.

“Terima kasih sudah mau memberikan tempat kepada kami,” kata Rara diakhiri senyuman. Pemuda itu mengangguk, mempersilakan ketiganya pergi.

“Hati-hati. Meski tersiar kabar itu, aku belum yakin Kotaraja sudah aman. Jadi masih banyak bahaya yang menghadang di luaran sana.”

“Terima kasih, Kisanak.”

Jalanan masih sepi, Rara menoleh meihat Kevin yang tetap dalam tampangnya tak peduli. “Kamu menemukan apa saja kemarin?” tanya Rara mengusik gendang telinga Kevin. Pun juga Tapa yang sedang melamun, dia menoleh menatap Rara.

Menghela napasnya dengan berat, mereka mulai menceritakan kabar-kabar yang baru saja di dengar. Entah dari kedai yang terpaksa buka untuk menghidupi anak mereka, atau beberapa pasar yang pedagangnya bisa dihitung jari sebab suasana tegang yang terjadi.

“Banyak!” kata Kevin tak ingin menjelaskan. Tapa menahan tawanya dengan keras, lalu berdehem sebentar.

“Tapa!”

“Istana Timur memang kalah, Paregreg itu perang setahap demi setahap. Kadang Timur menang, kadang Barat yang menang. Tapi terakhir kali perang ini, Istana Barat mengirim Bhra Narapati. Langsung menyerang, tidak seperti biasanya. Istana dikepung, perang pecah dan Wirabhumi kalah.

“Dia dipenggal di tempat perang oleh Raden Gajah atau Bhra Narapati itu. Lalu dibawa ke istana Barat. Entah sudah sampai sana atau belum, tapi tentu aja suasananya tetap baru selesai perang. Penjarahan terjadi, juga tempat-tempat dibumi hanguskan, banyak bandit berkeliaran. Kita tetap dalam keadaan bahaya. Apalagi Prajurit yang berjaga juga banyak yang melakukan hal di luar tugasnya, sama seperti bandit yang tidak punya ilmu dan adab.”

Rara mengangguk mulai mengerti. Mengingat Paregreg membuatnya merasa takut. Ini adalah titik paling krusial yang membuat Majapatih runtuh ke depannya.

Dari sebuah derita sejarah, ketika Hayam Wuruk masih sehat dan memimpin, keadaan masih segan. Saling menghormati dan mengumbar kasih sayang yang entah murni atau hanya karangan guna dicontoh para rakyat Wilwatikta. Meninggalnya Wijayarajasa membuat cucu menantunya mengantikannya. Anak selir Hayam Wuruk itu pindah ke istana timur bersama sang istri, Narendradewi.

Ketika pada akhirnya Hayam Wuruk meninggal dan memberikannya pada putri Mahkota Kusumawardhani. Anak permaisuri meski perempuan itu naik tahta bersama suaminya. Jadilah Wikramawardhana yang menjadi raja Majapahit kala itu, menduduki istana barat. Mulai dari sana, Bhre Lasem yang diberikan kepada Kusumawardana ternyata juga diberikan kepada Narendradewi oleh ibunya sendiri.

Perselisihan sering terjadi meski tak terang-terangan diperlihatkan. Pada tahun 1400 ketika kedua Bhre Lasem akhirnya mangkat, makin berani pula perang dingin ini ditunjukan. Membuat hari rakyat gelisah sebab istana Timur diduduki oleh keturunan langsung raja terdahulu, dan raja yang sekarang hanyalah seorang menantu.

Perselisihan penjadi perang, Paregreg dimulai dari satu tahun setelah mangkatnya Bhre Lasem. Entah dengan perselisihan, perang dingin atau serangan. Kadang kala Istana Timur yang dipimpin oleh Wirabhumi mendapatkan kemenangan, kadang kala Wikramawardhana yang mengenyam kemenangan itu.

Kerajaan kacau, rakyat yang biasanya diperhatikan kini mulai diacuhkan. Fokus raja hanya pada iparnya, takut jika memperluas kuasa dan memberontak pada Kerjaan Majapahit. Maka dengan gegabah ditambah banyaknya mulut yang membuat telinga panas, dia mengutus Bhre Narapati untuk menyerang langsung istana Timur, memerintahkannya membawa kembali kepala Wirabhumi.

Siapa sangka hal itu benar-benar dilakukan, Bhre Wirabhumi beserta seluruh istana Timur terguncang, mereka menerima kekalahan telak. Pemimpin mereka mati dipenggal, kepalanya dibawa sebagai persembahan. Kepala itu yang nantinya membuat Paregreg bubar. Wikramawardhana merasa tenang. Ia mencandikan kepala Wirabhumi Lung bernama Girisa Pura.

“Habis ini pasti Majapatih kalap,” komentar Rara mengingat kejadian itu dari guru sejarahnya.

Kevin hanya menganguk saja. Tapa? Dia memandang langit bersih yang kadang kala dilewati burung gagak.

“Banyak istana kecil di bawah Majapahit yang bakalan lepas. Rakyat juga pastinya kurang segan lagi dengan raja sekarang.”

“Kita lewat hutan,” kata Kevin. Matanya menatap pasar yang kemarin ia singgahi, sekarang tak bisa lagi sebab Rara ikut serta. Pakaian Rara terlalu mencolok. Wajahnya yang seharusnya tak dihiraukan saja kemarin menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang.

“Iya betul apa yang dikatakan Kevin. Kita lewat hutan saja, jangan lewat keramaian.”

“Ayo!” ajak Rara.

Rara bisa melihat semua itu, efek dari peperangan yang terjadi di Majapahit sungguh luar biasa. Beberapa mayat di hutan ditemukan, ada tumpukan tanah yang ia yakini sebagai tempat pengumpulannya. Tak semuanya dibakar, tak semuanya dikembalikan pada keluarga. Entah apa yang mereka perbuat itu termasuk manusiawi. Rara hanya bisa menelan salivanya dan berusaha tetap tenang dalam keadaan kacau seperti ini.

“Kita ke mana?” tanya Rara setelah cukup jauh memasuki hutan.

“Cari air dulu,” kata Kevin.

“Nah, kalau sudah nemu kita bisa istirahat sekalian bersih-bersih. Nanti kita cari tepat buat salat Dhuhur dan Ashar dijamak dulu. Kalau nemu sungai lebih sip lagi, jadi kita punya petunjuk biar tidak tersesat.”

Hutan ini cukup lebat, pohonnya tinggi-tinggi dengan kerapatan yang tak menentu. Jalanan di hutan tak terlihat, sebgaian besar tanah tertutup oleh dedaunan kering juga ranting yang patah. Angin yang mengusik mereka membawa nada mengerikan dari gesekan antar dahan dan ranting. Matahari tak sanggup melesatkan cahayanya dengan sempurna ke dalam hutan. Rimbun, tenang, nyaman, teduh, hanya suara-suara aneh yang tampak mengerikan yang membuat Rara takut.

Sampai akhirnya Kevin menepuk pundaknya. Rara hampir berteriak ketika Tapa menutup mulut dengan kencang. “Jangan berisik.”

“Apa apa?” tanya Rara tak paham.

“Ada air!” kata Kevin, lalu menajamkan telinga. Setelah beberapa waktu, dia menarik tangan Rara, pun Tapa yang dengan cepat mengikuti. Jalan mereka cepat, tak peduli pada banyaknya semut yang diinjak atau terbang masuk ke dalam kaki mereka. Tak peduli juga beberapa semak belukar yang kadang berduri menyabet mereka, atau membawa daun gatal.

“Haish!” Hanya Rara yang sesekali mengeluh. Hingga akhirnya derasnya sebuah sungai terlihat. Sangat jernih tepinya, tetapi sungguh terlihat kelam di tengah sana. Bisa dipastikan oleh Tapa, tengah sana sangat dalam, mungkin ada hewan besar seperti ular atau bahkan buaya yang menempatinya.

Sungainya tak begitu lebar, bisa diperkirakan hanya empat sampai lima meter. Namun derasnya tak terkira, arusnya sangat cepat. Di tepinya yang jernih bisa dilihat ikan kecil-kecil dan kecebong. Ada pula ikan besar yang Rara sendiri tak tahu namanya, intinya sih bukan lele.

“Kita bersih-bersih dulu terus istirahat.”

“Hmm.”

“Yes!” Rara duduk di tepian, ada beberapa batu lebar yang tersebar di sepanjang sungai. Sebagai tenggelam jauh ke dalam sungai, yang berada di tepi hanya separuh dan sebagian kecil yang terendam. Rara menempatkan diri di salah satu batu, mengambil air dengan tangkupan kedua tangannya lalu diraup ke wajah.

“Ini benar-benar segar,” ujarnya girang.

Kegiatan itu diikuti oleh Kevin dalam keterdiamannya, pun Tapa yang menampakan senyuman lebarnya.

“Ini kita tidak mimpi jalan-jalan ke Majapahit kan, sayang banget ya tidak di jamannya Gadjah Mada. Padahal aku ingin ketemu!”

“Mau apa kamu ketemu Gadjah Mada, Ra?” tanya Tapa merasa sikap Rara kekanakan, masih untuk ke tempat yang sedikit membumi di telinga dan mata mereka. Bagaimana jika tersesat di suku pedalaman yang tak bisa kompromi di ajak dan komunikasi, presentase mereka musnah lebih besar.

“Sttt!” Kevin mendesis, matanya melirik ke arah jalan di belakang mereka. Rara dan Tapa ikut menoleh, mata mereka terbelalak mendapati tiga ekor kuda yang berderap mendekat. Mereka turun dari kuda dan berjalan setelah jaraknya dari Rara hanya berkisar sepuluh sampai lima belas meter.

Rara hanya bisa menelan salivanya. “Itu mereka bawa senjata. Kalau mati sekarang, tidak bisa pulang bagaimana sama Mama di Kalimantan?” katanya tegang.

Tapa hanya bisa mendelik sebab keluhan itu tak berguna. Kevin menghela napasnya berpikir, bagaimana bisa kabur dari tiga orang yang nyatanya memang tak sepadan dengan mereka. Sialnya, posisi Kevin ada di posisi inferior, mudah ditindas. Pada masa lalu penindasan bukankah bisa dan biasa mengambil nyawa? Dia menghembus napas kasar sambil berpikir.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel