Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu

Bab 10 Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu

“Sudah sore,” kata Tapa menyadari mereka telah berjalan begitu lama. “Kita salat dulu, dijamak dengan Dhuhur tadi.”

Semuanya setuju, ketiganya bergantian salat dan berjaga. Takut dalam hati ketika salat ada yang datang dan menyerang mereka. Langit sudah dilihat gelap berulang kali, ini hari ketiga mereka hidup mengembara di tanah orang. Tanah yang mereka pijaki secara paksa, karena mesin itu tentunya.

Duduk sejenak memandang langit, hewan-hewan yang hidup pada petang hari mulai menunjukan dirinya. Jenteret sudah berisik membuat pekak telinga, beberapa kali didapati tokek yang mengalun merusak nada hewan itu. Ditambah katak-katak di kejauhan yang berteriak. Rara yakin di balik deretan rapat pohon di sampingnya ada hamparan hijau sawah.

“Ra!” Kevin memanggil membuat Rara menoleh. Kini semuanya sudah selesai melaksanakan salat. Tapa sedang membuat persiapan agar malam nanti bisa istirahat dengan nyaman. “Dui bu qi!”

Rara menahan gelak tawanya, wajah bersalah Kevin sangat menyenangkan untuk dilihat. “Sudah berapa kali kamu bilang maaf hari ini, Vin? Dui bu qi, mianhae, sorry, punten, hampura. Aku yang mengajak kalian dan masuk bareng ke sini. Malam sebelumnya kita sudah setuju. Jangan minta maaf terus, Vin.” Kalimat itu diakhiri dengan senyuman yang menular pada Kevin. Girang sudah hati Rara melihatnya.

“Soalnya muka kamu kasihan banget, Ra. Seperti gembel.” Tapa ikut menginterupsi, mengambil duduk paling depan guna menyiapkan api. “Cerah sedikit jangan apa-apa mengeluh.”

“Dih! Gembelan juga kamu.”

Tapa menengok Rara, lalu menyilakan kaki di depan gadis itu dan Kevin. “Seriusan! Baju kamu sudah tidak pantas lagi untuk salat.”

Rara menunduk, menyadari bahwa pakaiannya memang kurang layak. Sudah ada beberapa sobekan di bawah betis, juga bentuknya yang boleh dikata memang mirip gelandangan di jalan raya. Rara berpikir sebentar, memandang pakaian Kevin yang sudah mirip penduduk, juga Tapa yang memakai pakaian sama. Mereka mengenakan celana rakyat biasa, hitam legam di bawah lutut dengan bentang yang lebarnya terlalu kecil di perut mereka. Pakaiannya pun merakyat, Kevin tak mengikat pakaiannya dengan tali, sebagian dadanya terlihat. Tapa merasa malu jika melakukan demikian meski pusarnya tak terlihat, ia lebih rapi, mengikat dengan kain di pinggang hingga baju itu lebih manusiawi di mata Rara.

“Terus bagaimana?” gumam Rara kebingungan.

“Aku tadi ambil beberapa kain, niatnya untuk pakaian ganti kita sama tempat tidur. Tapi hutan juga bahaya, besok kita jalan ke pemukiman penduduk. Biar lebih bisa beradaptasi. Kabar di luaran sana juga bisa kita dapatkan, bisa untuk pertimbangan ke mana lagi kita pergi.” Usulan Tapa itu diangguki Kevin.

“Tapi aku tidak bisa pakai itu, terus nanti rambutku bagaimana?” keluh Rara, dia juga tak mau jika harus mengenakan pakaian terbuka.

“Tenang aja Ra, kalau orang-orang luar sudah datang berarti pakaiannya juga sudah tidak terlalu terbuka. Maksudnya kalau kamu tidak pakai kemben yang hanya menutup dada saja sudah dianggap sedikit wajar. Tapi, memang pakaian kamu sekarang tidak normal di mata mereka. Kain itu kamu pake, ada baju sama seperti punyaku di sana, nanti kain satunya untuk kerudung kamu.”

“Besok saja ya? Sekarang kan untuk tidur.” Tapa hanya bisa mendengkus, Rara malas berganti pakaian. Mungkin selain susah tempat juga susah memakainya. Jika tak bisa tak ada yang membantu. Tapa akhirnya mengangguk.

Malam beranjak, setelah mereka melakukan salat Isya dibarengi Maghrib, kini Tapa sudah menyalakan api unggun kecil dengan umbi yang di bakar di dalamnya.

“Umbi seperti itu enak tidak?” tanya Rara penasaran.

“Kamu kemaren makan apa aja Ra?” Merasa bingung Tapa, kemarin pasalnya mereka juga mencari umbi sebagai makanan.

“Aku? Ambil jambu di tengah hutan. Jambu biji, tapi bijinya putih kekuningan gitu. Manis,” cerita Rara senang. Saat itu Tapa pergi menemui warga hingga mendapatkan kain, sedang Kevin sedang mengambil atau lebih tepatnya mencuri umbi yang ditanam rapi oleh penduduk setempat.

“Coba saja, ini enak!” kata Kevin.

Langit malam sudah mendominasi, taburan bintang terlihat menerangi, dibarengi bulan sabit yang cukup memperelok jubah biru yang kelam di atas sana.

“Aku akan cari jalan keluar agar kita bisa pulang secepatnya.” Perkataan Kevin menyita perhatian Tapa dan Rara.

“Tidak usah merasa ini tanggung jawab kamu sendiri, Vin. Kita juga bertanggung jawab kok. Hidup mengembara seperti ini cukup baik. Kemarin kita berhasil bermalam di hutan, dua hari lalu di kursi panjang pemuda itu, sekarang pun kita bisa tidur di sini. Hidup di sini.”

“Eh di sini ada penginapan tidak ya?” tanya Rara teringat drama kolosal China yang sering ia tonton. Kadang para pengelana tidur di penginapan khusus yang cukup nyaman.

“Mungkin ada, tapi uangnya tidak ada.”

Kesal Rara dibuatnya, gelangnya sudah ia tukar untuk tidur di malam pertama mereka di Majapahit. Sekarang tak mungkin ia mengorbankan benda lainnya, siapa tahu ke depannya ada hal yang lebih mendesak.

“Besok kita pikirkan lagi saja.”

Kevin mengangguk menyetujui, Tapa melempar umbi yang panas itu. Umbinya menggelinding mendekati Kevin dan Rara. “Ambilnya pakai daun, makan yang benar jangan lupa berdoa.”

Rara terkekeh dan mematuhi titah Tapa.

*

Hidup mereka sudah seperti mengembara yang miskin juga tak memiliki nilai guna. Selain mencari makan untuk bertahan hidup, tidak ada motivasi besar untuk membumi di Majapahit, mereka bertahan untuk pulang. Hati Tapa sebenarnya sangat pilu ingat kedua orang tuanya. Apakah waktu berlalu sama di sana? Atau terhenti?

Pakaian Rara sudah berganti, celana hitamnya dipadu dengan pakaian panjang jaman dahulu. Sebelum berpakaian ia sudah mengenakan kemben. Dia mengikat menyatukan pakaian itu dengan sebuah kain di pinggang, menutup dadanya dengan kain lalu mengenakan kerudung lagi guna menutupi rambut hitam.

“Ribet sekali, panas bro!”

“Lepas saja kain yang di dada, Ra. Lagi pula kamu kan sudah pakai kemben, pakai baju juga kerudung. Apalagi kainnya tidak tipis, selain ribet juga yang melihat jadi gerah. Seperti nenek-nenek.”

“Tapa! Kalau bicara jangan terlalu jujur kenapa sih?!”

“Nih!” Kevin datang memberikan sebuah caping untuk Rara.

“Untuk apa?”

“Kainnya kamu tidak nutup rapi rambutnya. Kamu lebih leluasa kalau pake caping ini.”

Rara menurut, dia melepas kain penutup dadanya, mengenakan kerudungnya dengan benar dan menutupnya lagi dengan caping. Kevin juga pakai caping. Tapa mengernyit mendapati dirinya sendiri yang tak memakai.

“Kamu tidak cari untukku, Vin?” tanyanya mempertegas pemikirannya.

Kevin menggeleng. “Wajahmu sudah cukup membumi di sini Tapa.”

Rara tergelak dibuatnya. Meski cemberut, dalam hati Tapa cukup tenang. Dia mengucap hamdalah dibarengi langkah mereka yang santai. Mereka siap menengok keadaan.

Rasanya tak elok jika bergantian keluar, meninggalkan Rara di hutan. Kadang dijaga bergantian. Meski Rara tak keberatan, jika begitu terus sakan ada banyak bahaya yang menghadang. Untungnya selama perjalanan mereka menghindari warga, tak ada kaum Brahmana atau Ksatria yang ditemui di hutan. Belum ada padepokan perguruan pencak silat yang mereka temui. Ini cukup membuat lega ketiganya.

“Kaki kamu sudah tidak apa-apa?” Rara menjawab dengan gelengan.

Memasuki pemukiman, banyak ayam yang berkokok saling melirik berebut ayam betina. Ada kucing yang berlarian liar dengan beberapa hewan yang tumbuh nyaman. Orang-orang sudah berlalu lalang. Pertanda tidak setakut dua hari lalu, mungkin karena peperangan yang sudah usai.

“Perbatasan desa dibakar!” kata seseorang membuat langkah mereka terinterupsi. Mereka minggir, ikut duduk di sebuah kedai yang ramai orang.

“Setelah Bhre Wirabumi di bawa ke Istana, dengar-dengar pasukan Jalayuda ada yang membangkang. Mereka bukannya pulang ke pondok prajurit, malam mampir merayakan kemenangan. Satu desa hampir hangus.”

Dilihat beberapa orang geleng kepala. Mungkin tak mengira Majapahit sekacau ini.

“Ya Gusti! Itu Prajurit bukannya sadar diri bantu rakyat malah buat sengsara!” Seorang ibu turut memberikan pendapatnya.

“Mungkin saja hanya ingin memperingati, mungkin saja penduduk di sana sudah kosong.”

“Masa satu desa pindah, Ki.”

Ternyata setelah peperangan usai, Majapahit dilanda kekacauan. Seperti kata pepatah, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu. Perang seperti ini tidak ada manfaatnya. Apalagi dicetuskan sebab perselisihan saudara. Korbannya banyak, kerugian pun melanda. Para bandit merajalela. Bhayangkara tak kuasa menahan seluruh Wilwatikta. Keamanan tidak ada, kemakmuran terus merosot terus dirasa. Rakyat mengeluh banyak kurang pangan dan kurang aman. Alun-alun kosong, tidak ada yang berani lagi menemui raja mereka untuk mengadu kesengsaraan seperti pada masa Hayam Wuruk dahulu. Sebentar lagi, tinggal menunggu waktu akan ada banyak kerajaan kecil di bawah Majapahit yang melepaskan diri.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel